Tabedo – Bagian 20
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Telah lebih sepekan Vitlan berada di Adinegoro. Dia rindu pulang ke rumah. Dengan sebuah tas sandang yang berisi beberapa buah buku dan dua stel pakaian, ia keluar ruang yang biasa digunakannya bersama teman-temannya untuk tidur, masuk ke ruang sekretariat. Tidak ada orang di sana. Terus, ia keluar ke bawah pohon Seri menemui teman-temannya yang lain, asyik main karambol.

”Mau ke mana kau Lan?” sapa Wahab.
”Aku pulang ke rumah dulu, nanti malam atau besok aku balik,” jawab Vitlan, sembari menepuk bahu Wahab, Salim, Junaidi, dan melambaikan tangan pada yang lainnya sambil berlalu meninggalkan mereka.
”Yok,” balas teman-temannya sembari mengangkat tangan.

Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore, ketika bemo yang membawa Vitlan berhenti di seberang rumahnya.

”Pinggir, Bang”, kata Vitlan kepada supir bemo.

Bemo berhenti, Vitlan turun dan membayar ongkos, kemudian berlari menyeberang jalan. Sampai di depan rumah.

”Assalamu’alaikum,” sapa Vitlan.
”Alaikum salam,” jawab Mak.
”Syukurlah Waang sudah pulang Lan. Tuh ada surat untuk Waang di laci,” lanjut Mak, sambil menunjuk steling.

Vitlan melangkah menuju steling, menarik laci dan mengambil surat tersebut, kemudian duduk di kursi dekat steling.
”Kapan datangnya Mak?” tanya Vitlan kepada Mak sambil membuka surat tersebut.
”Kemarin sore,” jawab Mak.

Vitlan membacanya.

            Medan, 9 – 11 – 80 

’Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bang Vitlan, tolong abang datang segera ke rumah. Ada masalah penting yang mau Cicik bicarakan sama Abang tentang Icha. Kondisinya sangat mengkhawatirkan Bang. Kami tunggu kedatangan Abang.
Wassalam,
Cicik

Vitlan menutup surat dan mendesah. Dia merogoh kantong celana dan mengeluarkan bungkus rokok. Mengambilnya sebatang lalu menghisapnya. Kemudian berlalu ke lantai atas. Sambil berjalan,

”Apa ya yang sedang terjadi dengan Icha?” gumam Vitlan dalam hati.

Sampai di kamar Vitlan membaringkan tubuhnya di ranjang. Asap rokok mengepul bergulung-gulung ke langit-langit kamar. Ia membatin mengira-ngira apa yang sedang terjadi dan dialami Icha.

”Allahu akbar Allahu akbar,” terdengar azan berkumandang.
Vitlan bangkit, mengambil handuk dan berlari ke kamar mandi di lantai dasar. Selesai mandi, segera kembali ke lantai dua untuk mengerjakan shalat maghrib. Selesai shalat, berpakaian, pakai sepatu, menghias wajah dengan bedak kertas yang jadi kegemarannya, mengeluarkan sisir dari kantong belakang celana lalu merapikan rambutnya yang gondrong sebahu. Kemudian turun terus ke depan.

”Mak, awak pergi sebentar ya, ke rumah Cicik di Amaliun,” pinta Vitlan sama Mak.
”Ya, hati-hati Waang ya,” jawab Mak.
”Ya Mak,” jawabnya lalu melangkah ke pinggir jalan.
”Bang, Bang,” teriak Vitlan kepada abang becak yang nongkrong dekat simpang.

Abang becak mendekat.

”Ke mana Lan,” tanya abang becak.
”Amaliun Bang,” pinta Vitlan lalu naik ke atas becak.

Sampai di alamat yang dituju. Vitlan turun dan membayar ongkos becak.
”Bang Giman, nanti kira-kira jam sembilan atau tengah sepuluh tolong jemput aku ke sini ya!” pintanya pada tukang becak yang bernama Giman tersebut.
”Ya Lan,” jawab Giman lalu pergi.

Vitlan membuka pintu pagar dan berjalan menuju pintu dan mengetuknya.

”Assalamu’alaikum,” sapanya.
”Alaikum salam,” jawab suara dalam.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dan membuka pintu.
”Eee … Nak Alan, mari masuk,” sapa ibu Cicik seraya menyambut uluran salam Vitlan.
”Makasih, Buk,” jawab Vitlan seraya masuk.
”Duduk, Nak,” kata ibu Cicik sambil berlalu ke ruang dalam.

Vitlan duduk, dan tak lama berselang ibu Cicik keluar bersama Cicik dan Raudah.

”Apa kabar, Bang,” sapa Cicik dan Raudah serempak dan bergantian menyalami Vitlan.
”Alhamdulillah Sehat, bagaimana kalian,” jawab Vitlan.
”Baik-baik saja Bang,” jawab mereka berdua, kemudian duduk di kursi tamu yang agak panjang di sebelah kiri Vitlan. Sementara ibu Cicik duduk di kursi di sebelah kanan Vitlan.
”Yod, gih bikin minuman untuk abangmu gih,” kata ibu Cicik pada Raudah, yang dipanggil Yod. Ia segera bangkit berjalan ke dalam.
”Awak pulang tadi ke rumah, lalu ada surat dari Cicik, ada apa rupanya sama Icha,” Vitlan membuka pembicaraan.
”Iya Bang, kemarin Cicik ke rumah Abang, tapi Abang tidak di rumah. Kata Mak Abang, Abang sudah lebih seminggu tak pulang. Ke mana saja Abang sampai lebih seminggu?” tanya Cicik.
”Ada kegiatan di organisasi Abang,” jawab Vitlan.
”Ooohh…., begini Bang, kira-kira dua bulan yang lalu, pengadilan menjatuhkan hukuman sama Om Mahidin, ayah si Icha, 18 tahun penjara. Dia dituduh menyelewengkan ratusan juta dana yang ada di kantornya. Di antara mereka bersaudara, Icha yang paling terpukul dengan kejadian itu. Dia shock sekali Bang, dan sekarang tak mau keluar rumah. Dia mengurung diri terus,” papar Cicik.

Vitlan tercenung, lama, suasana jadi diam. Cicik dan ibunya saling pandang. Ia keluarkan sebatang rokok, lalu menghisapnya.

Kemudian…,

”Sekarang Icha ada di mana?” tanya Vitlan.

Dengan sedikit ragu Cicik menjelaskan,

”Dia sekarang di rumah nenek di Tanjung Balai, Bang. Rumah yang di Kisaran yang selama ini mereka tempati disita Bang. Mobil dan barang-barang berharga semua ikut disita. Mereka tak punya apa-apa lagi sekarang Bang,” lanjut Cicik.
”Kami tak menduga sama sekali bakal terjadi seperti ini sama keluarga abang kami itu,” timpal ibu Cicik.
”Jadi apa yang bisa saya lakukan,” tanya Vitlan.

Raudah masuk menenteng baki berisi sebuah teko dan empat buah cangkir keramik bermotif bunga, dan meletakkannya di atas meja. Dia lalu berbalik ke dalam dan keluar lagi dengan dua piring berisi gorengan dan meletakkannya satu di depan Vitlan dan satu lagi di depan Raudah. Ada pisang kepok goreng, pisang raja goreng, sukun goreng, ubi dan tapai goreng. Cicik menuangkan teh manis panas ke masing-masing cangkir.

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (17)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

Sumber Bahan Makanan Dan Minuman

Sumber Bahan Makanan

Begitu manusia pertama ciptaan Allah (Adam) hadir di bumi, maka Allah telah meleng-kapinya dengan perbekalan yang cukup untuk hidup. Allah membekali Adam dengan ilmu pe-ngetahuan guna mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan manusia untuk menjalani hidupnya, di langit dan di bumi, di darat , di laut, dan di udara.

وَعَلَّمَ آدَمَ الأَسْمَاء كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلاَئِكَةِ فَقَالَ أَنبِئُونِي بِأَسْمَاء هَـؤُلاء إِن كُنتُمْ صَادِقِينَ (البقرة: ٣١)

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat lalu berfirman: “Sebutkanlah kepada-Ku nama benda-benda itu jika kamu mamang benar orang-orang yang benar!”(QS. 2:31)

Dengan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, manusia diharapkan dapat memahami dan menerjemahkan petunjuk-petunjuk Allah ke dalam lingkup kerja-kerja praktis, tentang apa saja yang dapat mereka manfaatkan dari apa yang diciptakan Allah guna melangsungkan dan mempertahankan hidupnya.

Guna membantu manusia mendapatkan bahan pangan, Allah memudahkan untuknya segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi, di darat dan di lautan.

وَمَا ذَرَأَ لَكُمْ فِي الأَرْضِ مُخْتَلِفاً أَلْوَانُهُ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَذَّكَّرُونَ ¤ وَهُوَ الَّذِي سَخَّرَ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُواْ مِنْهُ لَحْماً طَرِيّاً وَتَسْتَخْرِجُواْ مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُواْ مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ ¤ (النّحل: ١٣-١٤)
Dan Dia (menundukkan pula) apa yang Dia ciptakan untuk kamu di bumi ini dengan berlain-lainan macamnya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang mengambil pelajaran. Dan Dia-lah, Allah yang menunduk-kan lautan (untukmu), agar kamu dapat memakan daripadanya daging yang segar (ikan), dan kamu mengeluarkan dari lautan itu perhiasan yang kamu pakai; dan kamu melihat bahtera berlayar padanya, dan supaya kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur.(QS.16:13-14)

Pada prinsipnya semua yang Allah ciptakan di bumi ini dapat digunakan manusia sebagai sumber bahan pangan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minumnya, kecuali yang nyata-nyata diharamkan Allah baginya. Sumber-sumber bahan pangan tersebut antara lain adalah:

Biji-Bijian dan Umbi-Umbian

Secara umum sumber utama bahan pangan manusia berasal dari biji-bijian. Biji-bijian tersebut antara lain adalah padi, jagung, gandum, dan kacang-kacangan.

Pada umumnya masyarakat menggunakan padi, jagung dan gandum sebagai makanan pokok. Bahan makanan pokok ini disuguhkan secara langsung berupa nasi, ketupat, lontong, dan bubur. Selain itu bahan makanan pokok di atas dapat juga disuguhkan dalam bentuk olahan seperti roti, mie dan lain-lain.

Sementara dari kacang-kacangan dapat dibuat sebagai pelengkap makanan, makanan pendamping, dan penganan seperti bubur, kue-kue, susu dan lain-lain.

Kacang-kacangan merupakan sumber utama protein yang berasal dari tumbuh-tumbuhan atau disebut protein nabati.

Sebahagian masyarakat ada yang menjadikan umbi-umbian seperti; ubi, ketela, talas dan sejenisnya, sebagai makanan pokok.

Umbi-umbian dapat disajikan langsung dengan merebus, membakar atau menggoreng. Dan dapat pula disajikan dalam bentuk lain dengan terlebih dahulu mengolahnya menjadi tepung, gaplek, dan lain-lain.

Selain sebagai makanan pokok, biji-bijian dan umbi-umbian, dijadikan masyarakat sebagai makanan pendamping dan penganan yang dimakan di waktu senggang, atau pada acara-acara.
Biji-bijian dan umbi-umbian merupakan sumber karbohidrat. Sementara kacang-kacangan adalah sumber protein dan lemak dari tumbuh-tumbuhan atau lemak nabati.

وَآيَةٌ لَّهُمُ الْأَرْضُ الْمَيْتَةُ أَحْيَيْنَاهَا وَأَخْرَجْنَا مِنْهَا حَبّاً فَمِنْهُ يَأْكُلُونَ (فاطر: ٣٣)
Dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah bumi yang mati. Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan dari padanya biji-bijian, maka daripadanya mereka makan.(QS. 35:33)

فَلْيَنظُرِ الْإِنسَانُ إِلَى طَعَامِهِ ¤ أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاء صَبّاً ¤ ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقّاً ¤ فَأَنبَتْنَا فِيهَا حَبّاً ¤ وَعِنَباً وَقَضْباً ¤ (عبس: ٢٤ – ٢٨)
maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran (QS. 80:24 – 28)

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 19
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Hari mulai menapak gelap, karena malam telah mulai menutupi siang. Sebahagian lampu jalan tidak menyala. Kondisi jalan Skip berlobang-lubang, karena banyak aspalnya yang sudah terkelupas, menyulitkan mereka mendorong Vespa.

Di keremangan itu Vitlan dan Suprayitno secara bergantian mendorong Vespa sepanjang jalan Skip menuju tempat tempel ban yang diceritakan laki-laki tadi. Keringat mengucur di sekujur tubuh mereka.

Benar saja, tak jauh dari bioskop Mayestic, di bawah pohon asam Jawa, terlihat seseorang sedang membuka ban sepeda motor. Vitlan dan Yitno mendekat.

”Tempel ban, Bang,” sapa Yitno pada tukang tempel ban.
”Ntar Bang ya, siap ini dulu ya Bang,” sahut tukang tempel ban.
Guna memudahkan pekerjaan tukang tempel ban, Yitno membantu membuka ban depan dan ban serap Vespanya.

”Yok Yit, kita ngopi dulu,” ajak Vitlan pada Yitno sembari beranjak ke kedai kopi pinggir jalan yang ada dekat tempel ban tersebut.
”Kopi susu Bang,” pinta Vitlan pada tukang kopi.

”Kau apa Yit,” tanya Vitlan.
”Aku kopi manis, Bang,” pinta Yitno.
Sepeda motor bebek selesai dikerjakan. Yitno mendekat.
”Dua-duanya Bang,” kata Yitno pada tukang tempel ban.

Tukang tempel ban memompa ban Vespa, kemudian memeriksakannya ke dalam bak air.

”Dua lobangnya Bang, tembus,” kata tukang tempel ban memperlihatkannya pada Yitno.

Ia memberi tanda dengan menancapkan potongan korek api ke lobang bocoran ban. Kemudian dia mengambil ban yang satu lagi, memompa dan mecelupkannya ke dalam bak air.

”Yang ini bocornya satu Bang,” katanya sembari memberi tanda pada lobang bocoran ban.
Yitno kembali ke kedai kopi dan duduk.

”Tembus dibikin paku tadi Lan, jadinya dua bocornya,” jelas Yitno kepada Vitlan.

Beberapa waktu kemudian.
Tukang tempel ban telah selesai memasangkan kembali ban depan dan ban serap Vespa.

”Berapa Bang, satu kopi susu, satu kopi manis,” tanya Vitlan pada tukang kopi, sementara Yitno meranjak mendekati tukang tempel ban.

”40 Bang,” jawab tukang kopi.
Vitlan merogoh kantong dan menyerahkan selembar uang Rp.100,-
”Ni Bang,” kata Vitlan.

Tukang kopi menerima uang dan mengambil kembaliannya dari laci dan menyerahkannya.
”Makasih Bang,” kata Vitlan.
”Sama-sama, Bang,” balas tukang kopi.
”Berapa Bang,” tanya Yitno kepada tukang tempel ban.
”90 Bang,” jawab tukang tempel ban.

Yitno mengeluarkan dompet. Vitlan menyerahkan uang kembalian tadi kepada Yitno, dan Yitno mengambilnya dan menambahinya dengan tiga lembar uang Rp.10,-.

”Ni Bang, makasih ya,” kata Yitno menyerahkan upah tempel ban.
”Ya sama-sama Bang,” balas tukang tempel ban.
Vespa dihidupkan, dan merekapun berlalu.
”Di mana kita maghrib Lan,” tanya Yitno.
”Di sekretariat sajalah,” jawab Vitlan.
”Tapi masih ada satu surat lagi yang mau diantar,” ingat Yitno.
”Oh Ya ya, kalau begitu kita maghrib di jalan Makmur saja,” jawab Vitlan.
Yitno mempercepat laju Vespanya menuju tampat yang dimaksud.

Tiba di Mushalla, jamaah shalat Maghrib sudah bubaran. Mereka langsung ke tempat wudhuk. Kemudian berjalan ke dalam Mushalla.

”Bagaimana kalau kali ini kau yang imam,” kata Vitlan kepada Yitno.
”Alah … kau sajalah,” jawab Yitno.
”Kau lah, kau kan anak IAIN, calon ustadz,” goda Vitlan, sembari mendorong Yitno pelan.
”Sama sajanya itu, tapi baiklah,” jawab Yitno sambil mengambil tempat di depan.

Selesai shalat maghrib, mereka antar surat terakhir ke alamat ketua komisariat. Kemudian mereka kembali ke sekretariat.

Sesampai di sekretariat, Vitlan dan Yitno secara bergantian langsung mandi dan ganti pakaian.
Vitlan masuk ke kantor cabang. Di atas meja tamu dilihatnya terletak beberapa bungkus nasi.

”Nasi untuk siapa ini?” tanya Vitlan kepada beberapa orang yang ada di situ.
”Nasi untuk kita semuanya itu, Bang,” jawab Yuni.
”Abang mau makan?, makan saja Bang,” lanjutnya.
”Cocok kalilah,” kata Vitlan, seraya membuka salah satu bungkusan nasi tersebut.

Selesai makan Vitlan beranjak keluar sambil membawa daun pembungkus nasi tadi dan membuangnya ke tempat sampah, terus ke bawah pohon Seri dan duduk di bangku-bangku yang terdapat di bawahnya. Vitlan mengeluarkan bungkus Ji Sam Soe, mengeluarkan sebatang lalu menghisapnya.

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (16)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

Makan dan Minum

Vitamin K

Manfaat vitamin K bagi kesehatan tubuh di diantaranya adalah untuk mempercepat proses pembekuan darah saat terjadi luka pada bagian tubuh, memperbaiki susunan pertumbuhan tulang. Vitamin K banyak terdapat pada bayam, kol, produk susu, kuning telur, serta beraneka ragam jenis sayuran segar. Kekurangan vitamin K ini bisa menyebabkan darah akibat luka akan sulit atau lama untuk membeku. 

Mineral

Mineral merupakan senyawa anorganik yg merupakan bagian penting dari enzim. Mineral berfungsi mengatur berbagai fungsi fisiologis, dan dibutuhkan untuk partum-buhan dan pemeli-haraan jaringan termasuk tulang.

Jenis mineral yang yang dibutuhkan tubuh antara lain adalah:

Boron
Bermanfaat untuk kesehatan tulang, menjaga fungsi otak, anti penuaan, menjaga kesehatan seksual, mencegah kanker, mengobati penyakit alzheimer, dan nyeri otot.

Kalsium:
Menjaga kesehatan tulang, mencegah artritis, menjaga kesehatan gigi, berperan dalam penurunan berat badan, mencegah kanker usus besar, penyakit jantung, dan tekanan darah tinggi.

Tembaga:
Bermanfaat untuk fungsi otak, perawatan kulit, radang sendi, infeksi tenggorokan, kekurangan hemoglobin, kekebalan, dan penyakit jantung.

Yodium:
Bermanfaat untuk perawatan rambut, menjaga metabolisme tubuh, kehamilan, hingga kanker.

Besi:
Membantu pembentukan hemoglobin, menjaga metabolisme tubuh, mem-bantu mengatasi anemia, dan menjaga fungsi otak.

Magnesium:
Bermanfaat untuk mencegah tekanan darah tinggi, serangan jantung, kram, diabetes, asma, menjaga kesehatan tulang, dan baik untuk masa kehamilan.

Mangan:
Menjaga metabolisme tubuh, mencegah osteoporosis, kelelahan, pera-dangan, epilepsi, menjaga fungsi otal dan alat reproduksi.

Fosfor
Menjaga kesehatan tulang, fungsi otak, perawatan gigi, metabolisme tubuh dan fungsi seksual.

Kalium:
Mengatur tekanan darah, mencegah penyakit jantung, gangguan otot, kram, gangguan ginjal, radang sendi, dan menjaga ketersediaan air dalam tubuh.

Natrium:
Menjaga keseimbangan air dalam tubuh, menjaga tubuh dari sengatan sinar matahari, menjaga fungsi otak, anti penuaan, dan mencegah kram otot.

Zinc:
Untuk perawatan kulit, eksim, jerawat, penyembuhan luka, gangguan pos-trate, membantu dalam penurunan berat badan, reproduksi, perawatan mata dan rambut.

Berbagai jenis mineral dan manfaatnya dapat diperoleh dari sayur-sayuran dan buah-buahan.

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 18
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Setelah sampai di alamat.

”Halo, halo, halo Pak, halo,” teriak Vitlan berulang kali, sambil mengedor-gedor pintu pagar.
Tak ada sahutan.

Lima belas menit berlalu.
”Bagaimana ini,” tanya Vitlan kepada kedua temannya.
”Kita coba sekali lagi,” jawab Basrul, sembari mengguncang-guncang pagar rumah lebih keras.

Jendela lantai atas rumah terbuka seseorang melongokkan wajahnya, tapi kemudian menutup kembali daun jendelanya.

”Halo Halo,” teriak Basrul lebih keras.
”Ada apa Bang,” sapa petugas ronda yang datang ke tempat tersebut.
”Oh, ini mau memberi tahu ada yang kecelakaan,” jawab Vitlan sambil memperlihatkan KTP kedua korban.
Petugas ronda memperhatikan kedua KTP dengan menggunakan senter.
”Sebentar ya Bang,” pinta petugas ronda semberi berlalu.

Selang beberapa lama, petugas ronda sudah berada kembali bersama Kepala Lingkungan.
”Selamat malam, ada perlu apa ya?” tanya Kepling.
”Ini Pak, kami mau memberi tahu ada kecelakaan kepada orang di rumah ini,” jawab Vitlan, sembari menyerahkan KTP korban.

Dengan diterangi senter petugas ronda, Kepling memperhatikan KTP yang disodorkan kepadanya.
”Oh ya, memang ini rumahnya,” jelas Kepling lalu mengetok pagar beberapa kali.
”Pak A Kiat, Pak A Kiat, ini saya Kepling, tolong keluar sebentar, penting Pak,” pinta Kepling setengah berteriak.

Jendela tadi kembali terbuka.
”Siapa itu,” tanya suara dari jendela.
”Saya Kepling Pak A Kiat,” jelas Kepling lagi.
”Sebental Pak Kep,” balas A Kiat.

Tak berapa lama kemudian, pintu rumah terbuka dan A Kiat keluar membuka pintu pagar.
”Masuk Pak Kep, masuk Bapak-Bapak,” kata A Kiat.
”Begini Pak A Kiat,” kata Vitlan setelah duduk, memulai pembicaraan.
”Nama saya Vitlan, dan ini, teman saya (sembari menepuk paha Basrul) Basrul, dan ini (sambil menepuk paha Yono yang duduk di sebelah Basrul). Kami bertiga datang ke sini memberi tahu Pak A Kiat dan keluarga bahwa anggota keluarga Bapak si A Huat berdua dengan temannya si A Hong tadi belanggar, dan sekarang berada di Rumah Sakit Umum, ini KTP dan dompet mereka (sembari menyerahkan dua dompet dan dua KTP kepada Pak A Kiat). kereta anak Bapak ada di rumah saya di SM Raja simpang Halat,” jelas Vitlan, sembari mengeluarkan notes dari saku bajunya dan menuliskan alamatnya. Kemudian menyobek dan menyerahkannya kepada A Kiat.

”Bagaimana kondisinya sekalang,” tanya Pak A Kiat cemas.
”Sebaiknya pak A Kiat, segera saja ke Rumah Sakit Umum. Jadi, kami permisi dulu,” jawab Vitlan, sambil pamit.
”Ya ya, telima kasih, telima kasih,” jawab A Kiat dengan logat Cinanya.

Waktu menunjukkan hampir pukul empat pagi, ketika Vitlan dan ketiga temannya tiba kembali dirumahnya. Vitlan ke dalam dan menghidupkan lampu. Bagian dada dan tangan baju kaosnya dipenuhi bercak darah dan kotoran dari debu aspal. Bercak yang sama juga mengotori bagian depan celananya.

Vitlan segera ke kamar mandi dan mencuci pakaiannya, kemudian menjemurnya di halaman samping. Dengan hanya berhanduk, Vitlan naik ke kamarnya, berpakaian dan berkain sarung. Tidak berapa lama kemudian terdengar azan subuh. Vitlan segera shalat dan kemudian langsung rebahan di ranjang segera saja tertidur.

Pukul setengah dua belas tengah hari Vitlan bangun. Menggeliat-geliatkan badan sebentar, kemudian ke kamar mandi di lantai dasar. Setelah itu ke depan, ke steling mengambil piring, melongok-longok mengamati lauk-lauk yang ada di steling sembari mengisi piringnya dengan nasi. Mengambil sayur, sepotong ikan gembung dan cabe secukupnya. Dengan memegang gelas di tangan kiri, Vitlan melangkah ke lorong belakang, makan di sana sambil duduk berselonjor.

”Aneh, keretanya ndak apa-apa, tapi orangnya padam,” gumam Vitlan sendirian sembari terus memperhatikan kereta yang belanggar tadi malam tercagak di depannya. Tangan kirinya meraba seluruh badan kereta tersebut, sementara tangan kanannya memegang piring nasi.

”Cuma lecet sedikit-sedikit. Kok bisa ya?” lanjutnya terus bergumam sendirian.

Vitlan kembali duduk ke tempat semula melanjutkan makannya sampai selesai. Setelah itu ia masuk ke dalam rumah, sebentar kemudian kembali lagi. Duduk berselenjor kaki, mengeluarkan rokok dari saku celana dan mengisapnya sebatang.

Vitlan masih larut dalam kesendiriannya. Sebatang ji sam soe telah habis diisapnya. Dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan rokok sebatang lagi lalu diisapnya. Fahri datang dan duduk di sampingnya.

”Bang Alan, ajari Fahri berhitunglah Bang,” rengek Fahri.
”Sini, mana yang mau diajari,” jawab Vitlan.
”Bentar ya Bang,” sahut Fahri sembari berlari ke dalam rumahnya, kemudian kembali lagi dengan menenteng tas sekolahnya. Langsung duduk dan mengeluarkan buku pelajaran berhitungnya. Dia membuka halaman dan membaliknya satu persatu sambil memperhatikan isinya.

”Ini Bang,” katanya sambil menunjukkan halaman yang dimaksudnya.
”Yang mana?” goda Vitlan.
”Abang ini pun, yang ini,” rungut Fahri sambil menunjuk pelajaran yang dimaksudnya.

”Oh yang ini,” balas Vitlan.
”Pergi mintak lidi gi, sama kak Asni di depan sana,” perintahnya pada Fahri.

Fahri segera berlari ke tempat Asni yang sedang membuat sarang ketupat di tempatnya berjualan di tepi jalan di sebelah kedai mak Etek. Kemudian kembali lagi dengan sebatang lidi.

”Ni Bang lidinya,”
”Kok sebiji, mana cukup, yang banyak dikit,” kata Vitlan kepada Fahri sembari menyuruhnya kembali.

”Eee banyak,” jawab Fahri sambil garuk-garuk kening yang menjadi hobinya lalu balik berlari ke depan, dan tidak lama berselang dia telah kembali lagi, dengan segenggam lidi.
”Nii Bang,” katanya, sembari menyodorkan segenggam lidi.

”Aa itu baru paten,” puji Vitlan.
”Lina, pinjam pisaulah,” pinta Vitlan kepada gadis tetangga yang sedang duduk di ruang tamu rumah di sebelah belakang tempat Vitlan duduk.

bersambung

Bagikan: