Tabedo – Bagian 14
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

!!!
Vitlan duduk, ia mencoba menduga-duga apa yang akan terjadi dan yang akan dilakukan aparat Koramil tersebut kepada dirinya. Dua orang aparat masuk dan mengambil posisi duduk di depan dan sebelah kanan Vitlan. Aparat yang duduk di depan Vitlan memulai percakapan, tepatnya interogasi.

”Nama lengkap?” tanyanya kepada Vitlan.

”Vitlan Gumanti,” jawab Vitlan.

”Tempat dan Tanggal Lahir?”
”Tanah Datar, 26 Mei 1957” jawab Vitlan.

”Di mana itu Tanah Datar?” tanyanya
”Sumatera Barat,” jawab Vitlan
”Ooo” senyumnya sinis.
”Pekerjaan?”
”Mahasiswa ITS, Institut Teknologi Sumatera,”
”Hubungan dengan ibu Sukma?”
”Ibu angkat,”
”Jadi ibu Sukma itu bukan ibu kandung saudara,” sela aparat yang satu lagi.
”Bukan, itu ibu angkat saya,”
”Sudah berapa lama tinggal bersama ibu Sukma,”
”Kira-kira sudah 4 tahun,”
”Kenapa saudara begitu getol ikut mengurusi hal yang bukan urusan saudara?”
”Maksudnya apa Pak,” tanya Vitlan, mengerinyit.

”Di pertemuan beberapa hari lalu, saudara begitu lantang menentang rencana pembangunan yang akan dilaksanakan pemerintah,”
”Ooo …, saya tidak menentang rencana pemerintah Pak, saya cuma menyampaikan aspirasi masyarakat,” bela Vitlan.

”Kalau bukan menentang, apa namanya, sehingga warga serentak menolak rencana pembangunan yang disampaikan pemerintah,” sergahnya.

”Tidak, saya tidak menentang pemerintah, saya tidak menentang pembangunan, saya hanya ingin tanah dan bangunan milik masyarakat diberi ganti rugi, itu saja,” elak Vitlan.

”Sikap dan cara bicara saudara mengesankan saudara anti pemerintah. Kata-kata saudara sangat provokatif dan menghasut. Gara-gara bicara saudara di pertemuan kemarin, rencana pembangunan yang sudah dicanangkan pemerintah jadi berantakan,” katanya dengan nada tinggi.

”Saya tak bermaksud merintangi …”
”Ketepraaak, praak,” suara Vitlan terhenti, terdengar suara benturan keras dari ruang sebelah. Jantung Vitlan berdebar keras, rona wajahnya berubah. Ada perasaan kecut merayap dalam dadanya. Vitlan mencoba menenangkan diri.

”Astaghfirullahal ’azhim,” bisiknya dalam hati berulang kali.
”Apa yang mau saudara sampaikan tadi,” tanya aparat.
Vitlan berusaha menenangkan diri sebelum memberi penjelasan.
”Saya dan juga masyarakat sama sekali tak bermaksud menghalang-halangi pembangunan …” jelas Vitlan.
”Kalau bukan menghalangi pembangunan, jadi apa namanya itu,” potong aparat yang duduk di depan Vitlan.

”Bukan, mereka bukan menghalangi pembangunan. Yang mereka minta rumah mereka diberikan ganti ruginya, itu saja,” bela Vitlan.

”Saudara kok begitu anti sekali sama pemerintah,” sergah aparat yang di samping Vitlan.

”Saya tidak anti …” suara Vitlan terhenti. Terdengar suara ketukan pintu, dan aparat yang duduk di depan memberi isyarat dengan matanya kepada yang di samping Vitlan untuk membukakan pintu. Seorang perwira menengah masuk.

”Selamat sore,” sapa yang baru masuk.
”Selamat sore Pak,” balas kedua aparat tersebut serentak sambari memberi hormat ala militer.

Vitlan memalingkan wajah ke samping dan ia berusaha menyapa ketika ia tahu siapa yang datang, namun tidak jadi dilakukannya, karena mendapat isyarat dari sang perwira. Sang perwira menggamit aparat yang duduk tadi ke luar ruangan, dan tak berapa lama kemudian aparat yang memeriksa Vitlan tadi masuk lagi.

”Untuk sementara pemeriksaan hari ini selesai dan akan dilanjutkan lagi nanti. Sekarang saudara boleh pulang,” jelas aparat.

”Terima kasih Pak, permisi,” kata Vitlan sembari keluar dari ruangan tersebut.
Vitlan berusaha menolak tawaran aparat untuk mengantarnya pulang dengan mobil jip yang membawanya tadi, dan memilih naik becak dayung saja.

”Cak!, becak!” teriak Vitlan memanggil sebuah becak dayung yang berjalan di seberang jalan.

Becakpun datang menghampirinya.
”Simpang Halat Bang,” kata Vitlan sembari langsung melompat ke atas besak tersebut.

Vitlan mengeluarkan bungkus rokok dari sakunya, mengambilnya sebatang dan menyulutnya.

”Merokok bang,” sapa Vitlan pada tukang becak, sembari menyodorkan bungkus rokoknya.

Tukang becak mengambil sebatang.
”Apinya bang,” pintanya pada Vitlan. Ia menyodorkan rokoknya.

”Makasih bang”, kata tukang becak sembari mengembalikan rokok kepada Vitlan.

Vitlan menghisap dalam-dalam asap rokoknya untuk menutupi kegundahan dan kegalauan pikirannya setelah diperiksa oleh aparat Koramil tadi.

”Sudah sampai Bang,” sapa tukang becak.

”Oohh ya …, berapa Bang,” tanyanya kepada tukang becak begitu turun dari becak.

”Terserah Abang sajalah, biasanya berapa,” jawab tukang becak.

Vitlan mengambil uang pecahan Rp.100,- dan menyerahkannya kepada tukang becak, sembari berkata,
”Ambil saja semua,” kata Vitlan.
”Makasih Bang,” balas tukang becak.

Vitlan bergegas ke rumah, dan sesampainya di depan rumah, dilihatnya Mak sedang bercakap-cakap dengan Mayor Sihombing. Begitu melihat Vitlan, Mak langsung berdiri menyongsong dan memeluk Vitlan.

”Syukurlah Waang sudah pulang Lan,” kata Mak, sambil mengusap-usap kepala Vitlan.
”Awak maghrib dululah ya Mak, Bang,” pinta Vitlan kepada Mak dan Mayor Sihombing, sambil berlalu ke dalam.

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (11)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

Kewajiban Lain Terhadap Tubuh

1. Khitan

Khitan atau biasa dikenal dengan istilah Sunat Rasul, adalah memotong bagian ujung yang biasa menutupi kemaluan laki-laki, dan bagian tertentu dari kemaluan perempuan. Khitan merupakan sesuatu yang wajib bagi laki-laki.

Di bagian ujung kemaluan laki-laki terdapat lapisan kulit yang menutupi seluruh permukaan kemaluan. Lapisan kulit ini dapat membuka dan menutup. Ia akan membuka bila kemaluan mengeras dan membesar, dan akan menutup kembali bila kemaluan melunak dan mengecil. Kondisi seperti ini dibawa sejak lahir.

Dalam kondisi tertutup, ujung kemaluan akan senantiasa berada dalam keadaan lembab, bahkan cenderung basah. Seringkali terjadi, sisa-sisa air kencing tertinggal di bagian dalam ujung kemaluan tersebut. Selain itu, di bagian tersebut, juga banyak tersimpan kotoran, seperti daki yang menempel di ujung kemaluan dan dinding bagian dalam kulit penutup kemaluan. Kondisi seperti ini tentu saja rawan terserang penyakit yang biasa menyerang kemaluan.

Dilihat dari sisi kesehatan, paling tidak ada dua alasan mendasar yang mewajibkan orang untuk berkhitan yakni:

  • Berkhitan menjadikan ujung kemaluan selalu terbuka, sehingga ujung kemaluan tersebut akan selalu berada dalam kondisi kering,
  • Berkhitan menjadikan ujung kemaluan terbebas dari kondisi lembab dan kotoran yang tadinya menempel padanya, sehingga perawatannya menjadi mudah.

عن أبي هريرة رضي الله عنه، عَنِ النَبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلفِطْرَةُ خَمْسٌ (أَوْ خَمْسٌ مِنَ أَلفِطْرَةِ) : أَلخِتَانُ، وَالإسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيْمُ الأَظْفَارِ، وَنَتْفُالإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW, be-liau bersabda: Fithrah itu ada lima (lima hal termasuk fithrah) yaitu khitan, menggunting/memangkas rambut, memotong kuku, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan menggunting kumis.

2. Memangkas Rambut

Rambut adalah bulu yang tumbuh menutupi kulit kepala. Rambut berfungsi melindungi kulit kepala dari teriknya cahaya matahari, dinginnya cuaca, hembusan angin dan dari cidera.

Rambut tumbuh secara alami mengikuti perjalanan hidup manusia. Rambut dapat tumbuh panjang melampaui panjang tubuh orang yang memilikinya..

Agar rambut terpelihara bersih dan sehat, maka rambut tersebut harus terawat dengan baik. Salah satu jenis perawatan rambut adalah dengan memangkasnya secara teratur. Rambut tidak boleh dibiarkan terlalu panjang dan juga tidak mesti dicukur gundul.
Rasulullah SAW memberikan contoh batasan panjang rambut laki-laki Muslim. Sebagaimana yang diterangkan oleh para sahabat , panjang rambut Rasulullah SAW itu ke belakang adalah mencapai kedua bahunya. Sementara panjang rambutnya ke samping hingga pertengahan telinganya.

عن أنس رضي الله عنه، أَنَّ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَضْرِبُ شَعُرُهُ مَنْكِبَيْهِ (متّفق عليه)
Dari Anas r.a., katanya; Sesungguhnya Rasulullah SAW, rambutnya sampai bahu/pundaknya.

عن أنس رضي الله عنه قال:كَانَ شَعْرُ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَى أَنْصَافِ أُذُنَيْهِ (متّفق عليه)
Dari Anas r.a., katanya; Rambut Rasulullah SAW (bagian samping) sampai pertengahan telinganya.
Guna menampakkan kerapian dan keindahan sekaligus pemeliharaan kebersihannya, maka Rasulullah SAW menganjurkan rambut itu dipangkas secara berkala atau bila panjangnya telah melampaui bahu/pundak.

عن أبي هريرة رضي الله عنه، عَنِ النَبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلفِطْرَةُ خَمْسٌ (أَوْ خَمْسٌ مِنَ أَلفِطْرَةِ) : أَلخِتَانُ، وَالإسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيْمُ الأَظْفَارِ، وَنَتْفُالإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، (رواه مسلم)
Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW, beliau bersabda: Fithrah itu ada lima (lima hal termasuk fithrah) yaitu khitan, menggunting/memangkas rambut, memotong kuku, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan menggunting kumis.

3. Memotong Kuku

Kuku yang terdapat di ujung-ujung jari tangan dan jari kaki dapat tumbuh panjang bila dibiarkan terus tumbuh. Ada orang masuk Guiness Book or Record hanya karena memiliki kuku yang sangat panjang, lebih dari satu meter.
Jari yang memiliki kuku yang panjangnya melebihi ujungnya cenderung menyimpan masalah kebersihan dan kesehatan. Jari yang memiliki kuku panjang:

  • Cenderung terlihat kotor, karena biasanya disela-sela kukunya sering tersimpan debu dan kotoran lainnya. Kondisi yang lembab di sela-sela kuku, akan memudahkan kuman dan bakteri berkembang biak.
  • Cenderung menghalangi atau paling tidak menghambat pergerakan seseorang dalam mengerjakan suatu pekerjaan.
  • Bagi yang telaten merawat kuku-kuku panjangnya, biasanya orang tersebut akan menghindari diri dari mengerjakan pekerjaan tertentu, yang berisiko akan mengotori jari dan membuat kuku jarinya patah.

Memotong kuku secara teratur, akan membuat jari senantiasa rapi dan mudah dibersihkan, sekaligus dapat mengerjakan pekerjaan apa saja, tanpa harus takut kukunya kotor dan patah.

عن أبي هريرة رضي الله عنه، عَنِ النَبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلفِطْرَةُ خَمْسٌ (أَوْ خَمْسٌ مِنَ أَلفِطْرَةِ) : أَلخِتَانُ، وَالإسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيْمُ الأَظْفَارِ، وَنَتْفُالإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW, beliau bersabda: Fithrah itu ada lima (lima hal termasuk fithrah) yaitu khitan, menggunting/memangkas rambut, memotong kuku, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan menggunting kumis.

”.

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 15
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Vitlan merasakan kesejukan yang dalam ketika air wudhuk menyentuh wajah dan anggota wudhuk lainnya, seakan-akan ini kali pertama ia berwudhuk. Apalagi ketika ia mengusap kepalanya hingga ke tengkuk dengan jemari yang basah oleh air.

Dengan suasana hati yang bercampur baur antara was-was, takut, gundah, dan senang, Vitlan mulai mengangkat takbir. Lantunan lafaz demi lafaz dari bacaan shalat secara perlahan mulai menenangkan hatinya. Perasaan Vitlan benar-benar plong ketika bacaan hamdallah mengakhiri do’anya.

Selesai shalat maghrib, Vitlan kembali ke meja di mana Mak dan Mayor Sihombing duduk.
”Cam mana ceritanya tadi tu Lan,” tanya Mak.

Vitlan mengeluarkan rokok ji sam soe dari kantong celananya, mengambil sebatang lalu menyulutnya.

”Tadi waktu awak pulang kuliah sama Iskandar, awak dicegat aparat Koramil di depan makam pahlawan itu, terus awak diseret naik ke atas jip dan dibawa mereka ke kantor Koramil. Sampai di sana awak dibawa masuk ke satu ruangan dan di sana awak diinterogasi oleh dua orang tentara. Yang satu duduk di depan meja di depan awak dan yang satu lagi berdiri di samping kanan awak,” Jelas Vitlan.

”Apa saja yang ditanyakan sama Waang,” selidik Mak.

”Macam-macam Mak, mulai dari nama, tanggal lahir, asal, kerjaan sampai soal pertemuan beberapa hari yang lalu di kantor lurah,” jelas Vitlan.

”Mak cemas kali tadi Lan, sebaik temanmu bilang Waang diangkat Koramil. Hati Mak sudah tak tenang, Mak takut kaliiilah Lan, kalau terjadi yang tidak-tidak padamu. Mak jadi ingat si Awai, si Cecep dan siapa lagi tuh yang mukanya tak berbentuk lagi setelah keluar dari tahanan Kodim,” kata Mak sambil matanya berkaca-kaca.

”Untunglah Pak Hombing ini datang menenangkan Mak dan bilang Waang segera pulang,” lanjut Mak.

Mayor Sihombing, sudah mendengar banyak dari Mak, tentang kira-kira yang menjadi sebab musabab, Vitlan di ciduk aparat. Sambil memegang dan mengusap-usap pundak Vitlan, Mayor Sihombing bilang.

”Begini Lan, situasi sekarang sedang tidak menguntungkan. Siapa saja sekarang ini, yang dianggap jadi penghalang dan penentang kebijakan pemerintah, dapat dianggap sebagai musuh pemerintah. Dan orang semacam kau ini, dianggap salah satu orang yang berbahaya kalau dibiarkan terus bertindak seperti yang kau lakukan di kantor lurah itu bagi kelangsungan program pembangunan. Mereka sangat tidak suka dengan orang-orang yang kritis dan bisa membangkitkan semangat perlawanan masyarakat. Orang-orang seperti kau ini harus dibungkam Lan …,” jelas mayor Hombing.

”Tapi Bang …,” sela Vitlan.
”Lan, kau dengarlah dulu Abang bicara,” potong Sihombing.
”Ya Bang,” sahut Vitlan.
”Lan, bagi abang, kau ini tidak hanya sebatas kawan, tapi sudah abang anggap sebagai adik sendiri. Karakter kau ni, cocok sama abang. Lan, kau masih muda, perjalanan hidupmu masih panjang. Masih banyak cara cerdas untuk memperjuangkan sesuatu yang kau anggap benar. Kau tak harus korbankan dirimu Lan. Ingat Lan pepatah Minang dalam menyelesaikan masalah. Rambuik tak putuih, tapuang tak tumpah.” lanjut Hombing.

”Abang mengerti juga rupanya pepatah itu,” sela Vitlan.
”Lan, Abang ini lama bertugas di tanah Minang (sambil meletakkan tangan di dada). Isteri Abang juga orang Minang, putri seorang datuk di luhak Limo Puluah Koto,” jelas Sihombing.
”Jadi apa yang harus aku lakukan Bang,” lanjut Vitlan.
”Begini saja Lan, untuk sementara waktu kau menjauh sajalah dulu. Abang khawatir kau akan ditahan lagi, karena kau diincar terus sekarang ini,” jelas Sihombing.
”Maksud Abang?” tanya Vitlan.
”Sudahlah Lan, Kau turuti sajalah kata-kata Abang. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk berjuang seperti yang kau inginkan. Percuma Lan, percuma. Masih untung kau baru sampai di Koramil Lan, Abang masih bisa jemput Kau. Coba kalau Kau sudah dibawa ke Jalan Ghandi, Abangpun tak mungkin bisa lagi menyelamatkanmu,” lanjut Sihombing.
”Betul apa yang dikatakan Pak Hombing itu Lan, kau lihat kan si Cecep, si Awai, kek mana bentuknya waktu keluar dari tahanan Kodim,” timpal Mak.
”Jadi, untuk sementara Kau menjauh saja dulu Lan,
kalau Kau mau, Kau bisa tinggal di rumah abang,” sambung Sihombing.
”Makasih Bang,” jawab Vitlan sambil mangut-manggut.
Beberapa saat suasana diam. Vitlan beberapa kali menengadahkan wajahnya ke langit-langit sembari menghembuskan asap rokoknya ke udara.
Sesaat kemudian.
”Abang balik dulu ya Lan, Buk balik Buk,” pinta Sihombing, sambil melangkah ke depan ke keretanya
”Kek mana janji kita, Bang”, tanya Vitlan, mengikutinya bersama Mak.
”Istirahat sajalah kau dulu, biar tenang pikranmu itu,” jawab Mayor Sihombing.
”Ya Bang, makasih Bang,” kata Vitlan.
”Makasih Pak,” kata Mak.
Mayor Sihombing mengengkol keretanya dan berlalu. Vitlan beranjak ke kedai Mak Etek. Emak kembali ke dalam kedai.
”Rokok sabungkuih Mak Etek,” kata Vitlan.
”Sia tadi tu Lan,” tanya mak Etek kepada Vitlan sembari menyodorkan rokok yang diminta Vitlan.
”Bang Sihombing, kawan awak mak Etek,” jawab Vitlan.
”Lah tuo ambo caliak, kawan baa pulo tu Lan,” selidik mak Etek.
”Tuo jo mudo, gadang jo ketek, sadonyo harus dipakawani mak Etek,” balas Vitlan sembari menerima kembalian.
”Hebat Waang ma Lan, tentara nan bapangkek saroman tu bakawan jo Waang,” decak mak Etek.
”Yok mak Etek,” lanjut Vitlan sambil beranjak.
”Yoo… Lan,” balas Mak Etek.
”Lan, istirahatlah Waang dulu,” sapa Mak begitu melihat Vitlan datang.
”Ya Mak,” jawab Vitlan sambil berlalu ke dalam.
Vitlan masuk ke kamar, dia biarkan jendela tetap terbuka. Angin bertiup perlahan. Dia duduk di kursi dengan posisi tengadah menghadap jendela dan kaki diselonjorkan ke atas meja. Matanya menerawang jauh ke langit, Kepulan asap rokok berbentuk bulatan-bulatan silih berganti keluar dari rongga mulutnya. Sebatang habis, dilanjutkan dengan batang rokok kedua. Lamunannya kembali menguak kejadian yang dialaminya tadi sore di-tangkap Koramil. Jantungnya berdebar kencang begitu mengingat kembali bunyi benturan keras di ruang sebelah ruangan tempat ia diperiksa. Vitlan teringat kembali cerita-cerita tentang orang-orang yang pernah diperiksa dan ditahan di Kodim dan di jalan Ghandi. Bulu kuduknya bergidik dan nya-linya menciut. Dipejamkannya matanya dan menarik nafas dalam-dalam. Vitlan gusar dan pikiran-pikiran buruk mulai merayap ke relung hatinya, dan ia membatin.

”Hmm, bagaimana ya, seandainya tadi sore Bang Hombing tak datang, barangkali aku sudah ditahan dan dijebloskan ke dalam penjara. ’Bagaimana pula bila aku dibawa ke jalan Ghandi, bakal tak jadi oranglah aku lagi,” pikirnya merinding.
Terngiang kembali kata-kata Sihombing tadi.

”Lan, Kau masih muda, masih banyak cara cerdas untuk memperjuangkan sesuatu yang Kau anggap benar. Kau tak harus korbankan dirimu Lan. Ingat Lan, pepatah Minang, dalam menyeleaikan masalah: Rambuik tak putuih, tapuang tak tumpah.”

Padanan kata:
Kek = bagai/kayak
Kereta = motor
Rambuik = rambut
Putuih = putus
Tapuang = tepung
Sia = siapa
Sabungkuih = sebungkus
Baa = bagaimana
Tuo = tua
Jo = dan
Mudo = muda
Gadang = besar
Ketek = kecil
Sadonyo = semuanya
Dipakawani = diperkawani/dipertemani
Saroman = serupa/seperti

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (12)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

Kewajiban Lain Terhadap Tubuh

Mencabut/menghilangkan Bulu Ketiak

Bulu ketiak adalah bulu yang tumbuh di bawah ketiak. Bulu ketiak mulai tumbuh begitu usia seseorang menanjak baligh. Bulu ketiak tumbuh beriringan dengan tumbuhnya bulu-bulu lain seperti kumis, bulu dada, bulu tangan, bulu kaki dan bulu kemaluan.

Tumbuh di tempat yang tersembunyi di bawah ketiak, membuat kondisinya menjadi lembab, dan ada juga yang selalu basah oleh keringat. Kondisi lembab seperti ini, ditambah dengan suhu di atas suhu rata-rata bagian tubuh yang lain, membuat ketiak rawan terhadap tumbuh kembangnya jamur, kuman dan bakteri.

Oleh karena itu, guna menjaga ketiak tetap bersih, sehat, dan tidak berbau, serta terhindar dari penyakit, maka Rasulullah SAW menganjurkan agar bulu ketiak itu dicabut atau dicukur.

عن أبي هريرة رضي الله عنه، عَنِ النَبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلفِطْرَةُ خَمْسٌ (أَوْ خَمْسٌ مِنَ أَلفِطْرَةِ) : أَلخِتَانُ، وَالإسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيْمُ الأَظْفَارِ، وَنَتْفُالإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW, beliau bersabda: Fithrah itu ada lima (lima hal termasuk fithrah) yaitu khitan, menggunting/memangkas rambut, memotong kuku, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan menggunting kumis
Rasulullah SAW memberikan batas waktu paling lambat untuk mencabut atau mencukur bulu ketiak yakni 40 hari.
عن أنس بن مالك قال: وَقْتَ لَنَا رَسوُلُ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ قَصِّ الشَّارِبْ، وَتَقْلِيْمِ الأَظَفَارِ،وَخَلْفِ العَانَةِ، ونَتْفِ الإِبْطِ: أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا (رواه مسلم وابن ماجة)

Dari Anas bin Malik r.a. katanya: Rasulullah SAW telah menentukan waktu bagi kita dalam masalah memotong kumis, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, dan mencabut bulu ketiak, agar kamu tidak membiarkannya lebih dari 40 hari.

Memangkas Kumis

Kumis adalah bulu yang tumbuh di atas bibir. Kumis mulai tumbuh begitu usia seseorang menanjak baligh. Tumbuhnya kumis biasanya beriringan tumbuhnya bulu-bulu lain seperti bulu ketiak, bulu dada, bulu tangan, bulu kaki dan bulu kemaluan.

Kumis dapat tumbuh lebat dan panjang. Kumis menampakkan keindahan, menambah ketampanan, kegagahan dan wibawa seorang laki-laki dewasa. Banyak perempuan yang terpikat kepada seorang laki-laki karena penampilan kumisnya.

Besarnya peran kumis dalam mempengaruhi penampilan seorang laki-laki, maka sebahagian masyarakat dunia membuat kontes kumis dengan berbagai macam corak tatanan dan tampilannya.

Dalam hal perawatan, Islam lebih menekankan perawatan kumis tersebut tidak saja dari sisi kerapian dan keindahannya, akan tetapi juga pada masalah kebersihannya. Bahkan perawatan pada sisi ini lebih ditonjolkan. Rasulullah SAW memberikan aturan perawatan agar panjang kumis tidak boleh melebihi garis luar bibir atas. Kumis tidak diperbolehkan menutupi bibir atas apalagi menutupi mulut. Apabila panjang kumis telah melewati garis bibir tersebut, maka sudah harus dipotong.

عن أبي هريرة رضي الله عنه، عَنِ النَبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: أَلفِطْرَةُ خَمْسٌ (أَوْ خَمْسٌ مِنَ أَلفِطْرَةِ) : أَلخِتَانُ، وَالإسْتِحْدَادُ، وَتَقْلِيْمُ الأَظْفَارِ، وَنَتْفُالإِبْطِ، وَقَصُّ الشَّارِبِ، (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi SAW, beliau bersabda: Fithrah itu ada lima (lima hal termasuk fithrah) yaitu khitan, menggunting/memangkas rambut, memotong kuku, mencabut/menghilangkan bulu ketiak, dan menggunting kumis.

Sama seperti perawatan terhadap bulu ketiak, Rasulullah SAW juga memberikan batas waktu paling lambat untuk memotong kumis yakni 40 hari.

عن أنس بن مالك قال: وَقْتَ لَنَا رَسوُلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ قَصِّ الشَّارِبْ، وَتَقْلِيْمِ الأَظَفَارِ،وَخَلْفِ العَانَةِ، ونَتْفِ الإِبْطِ: أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا (رواه مسلم وابن ماجة)
Dari Anas bin Malik r.a. katanya: Rasulullah SAW telah menentukan waktu bagi kita dalam masalah memotong kumis, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, dan mencabut bulu ketiak, agar kamu tidak membiarkannya lebih dari 40 hari.

Mencukur Bulu Ari-Ari/Kemaluan

Secara alamiah kemaluan manusia ditumbuhi bulu. Bulu kemaluan ini tumbuh, seiring pertumbuhan dan perkembangan seseorang anak menuju masa baligh atau masa kedewasaannya. Bulu kemaluan tumbuh bersamaan dengan tumbuhnya kumis, bulu dada, bulu tangan dan bulu kaki, dan bulu ketiak.

Terletak di selangkangan di pangkal paha, senantiasa tertutup oleh pakaian dalam, kemaluan hampir dipastikan selalu berada dalam kondisi lembab, bahkan sering basah oleh keringat.

Tumbuhnya bulu akan menambah tingkat kelembaban di sekitar kemaluan. Kondisi lembab seperti ini, ditambah dengan suhu di atas suhu rata-rata bagian tubuh yang lain, memudahkan tumbuhnya jamur dan berkembang biaknya kuman dan bakteri.

Agar daerah kemaluan senantiasa terlihat kering dan terbebas dari jamur, kuman dan bakteri, maka dibutuhkan perawatan lebih. Hal ini tentu saja membutuhkan waktu, tenaga dan biaya, yang pada akhirnya akan mengganggu pekerjaan dan aktifitas lain.

Guna meningkatkan efektifitas hidup, Rasulullah SAW memberikan cara yang mudah, murah dan efektif agar kemaluan selalu bersih dan sehat, dengan cara mencukur bulu kemaluan secara teratur.

عن عائشة رضي الله عنها قال: قال رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: عَشْرٌ مِنَ الفِطْرَةِ: قَصُّ الشَّارِبِ، وَإِغْفَاءُاللَّحْيَةِ، وَالسِّوَاكُ، وَاسْتِنْشَاقُ المَاءِ، وَقَصُّ الأَظْفَارِ، وَغَسْلُ البَرَاجِمِ، وَنَتْفُ الإِبْطِ، وَخَلْقُ العَانَةِ، وَانْتِقَاصُ المَاءِ، وَالمَضْمَضَةُ (رواه مسلم)

Dari Aisyah r.a., ia berkata; Rasulullah SAW telah bersabda: Ada sepuluh hal termasuk fithrah, yaitu: Menggunting kumis, membersihkan jenggot, menggosok gigi, menghirup/mengisap air untuk membersihkan lubang hidung, memotong kuku, membasuh ruas-ruas jari, menghilangkan bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan, dan menggunakan air (untuk istinjak), dan berkumur-kumur,”

Sama seperti perawatan kebersihan terhadap kumis, bulu ketiak, Rasulullah SAW juga menetapkan batas waktu mencukur bulu kemaluan selambat-lambatnya 40 hari.


عن أنس بن مالك قال: وَقْتَ لَنَا رَسوُلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْ قَصِّ الشَّارِبْ، وَتَقْلِيْمِ الأَظَفَارِ،وَخَلْفِ العَانَةِ، ونَتْفِ الإِبْطِ: أَنْ لاَ نَتْرُكَ أَكْثَرَ مِنْ أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا (رواه مسلم وابن ماجة)

Dari Anas bin Malik r.a. katanya: Rasulullah SAW telah menentukan waktu bagi kita dalam masalah memotong kumis, memotong kuku, mencukur bulu kemaluan, dan mencabut bulu ketiak, agar kamu tidak membiarkannya lebih dari 40 hari.

Mencuci Kemaluan Setelah Bersenggama

Bila seorang suami menyetubuhi isterinya atau bersenggama, maka terjadilah percampuran dua cairan tubuh, yakni cairan sperma (dari laki-laki) dengan cairan vagina (dari perempuan). Pada saat hubungan sekseual berakhir kedua cairan yang telah menyatu ini, sebahagiannya akan menempel pada batang kemaluan laki-laki.

Meskipun kedua cairan itu bukan najis, namun Rasulullah SAW menyuruh untuk membersihkan batang kemaluan laki-laki dari cairan sperma dan vagina yang menempel padanya. Mencuci kemaluan ini dilakukan;

Ketika mau berwudhuk setelah melakukan hubungan seksual/bersenggama, terutama ketika hendak mengulangi hubungan seksual untuk kedua kali atau seterusnya, dan

Ketika akan melakukan mandi junub (melakukan hubungan seksual/senggama)

عن عائشة رصي الله عنها قالت: كَانَ رَسوُلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إِذَااغْتَسَلَ مِنَ الجِنَابَةِ يَبْدَأُ فَيَغْسِلُ يَدَيْهِ، ثُمَّ يُفْرِعْ بِيَمِيْنِهِ عَلَى شِطَلِهِ فَيَغْسِلُ فَرْجَهُ، ثُمَّ يَتَوَضَّأُ، ثُمَّ يَأْ خُذُالمَاءَ فَيُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِى أُصُولِ الضَّعْرِ، ثُمَّ حَفَنَ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ حَفَنَاتٍ، ثُمَّ أَفَاضَ عَلَى سَائِرِ جَسَدِهِ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَيْهِ (متّفق عليه)

Dari Aisyah r.a., ia berkata; Adalah Rasulullah SAW mandi jinabat, beliau mulai dengan mencuci dua tangannya, lalu beliau menyiramkan dengan yang kanan atas yang kiri, lalu beliau mencuci kemaluannya, lalu berwudhuk, lalu beliau mengambil air, lalu beliau memasukkan jari-jarinya ke pangkal-pangkal rambutnya, lalu beliau menyiram kepalanya tiga kali siraman, lalu beliau menyiram seluruh tubuhnya, kemudian mencuci kedua kakinya”.

Semoga bermanfaat

Bagikan:
TABEDO – Bagian 13
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

!!!
Beberapa hari kemudian.

Waktu menunjukkan pukul lima sore. Tidak ada kuliah berikutnya, karena dosennya tidak datang.

”Pulang yok!” ajak Iskandar.
”Ayok,” jawab Vitlan singkat, sembari menggamit tangan Iskandar keluar ruang kuliah.
”Ke mana kalian,” tanya Syarief.
”Pulang,” jawab mereka berdua, sembari menghentikan langkah mereka.
”Jadi tidak nanti malam ke rumahku,” tanya Syarief.
”Tengok nantilah. Yok Ndar,” kata Vitlan, sembari menggamit tangan Iskandar.
”Yok,” jawab Syarief mengacungkan jempolnya.

Berdua, mereka menyusuri jalan HM Joni. Sesekali terlihat mereka ngobrol. Sampai di jalan Sisingamangaraja, di depan makam pahlawan, sebuah jip berhenti di samping mereka.

”Selamat sore, Vitlan Gumanti kan,” tanya orang yang baru saja turun dari jip, mengarahkan telunjuknya ke Vitlan.
”Ya, kenapa,” jawab Vitlan.
”Ayo ikut kami sebentar,” kata orang tersebut, sembari mendorong Vitlan ke atas jip.
”Ada apa ini,” kata Vitlan dengan sedikit berontak.
”Ayo ikut saja,” kata orang tersebut, sambil menarik tangan Vitlan ke atas mobil.
Vitlan tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti perintah orang tersebut.
”Kasih tahu Makku ya Ndar,” pinta Vitlan kepada Iskandar.
”Ya Lan,” jawab Iskandar sambil melongo melihat Vitlan berlalu dibawa jip berwarna hijau tua itu.

Iskandar kembali berjalan dengan sedikit agak bergegas.
Mak sedang membungkus nasi pesanan pembeli, ketika seorang berseragam militer datang menghampirinya.

”Selamat sore Buk,” sapanya.
”Selamat sore,” jawab Mak dengan penuh selidik.
”Apa di sini rumah Alan, maksudnya, Vitlan Buk?”
”Iya, kenapa?” jawab Mak curiga.
”Apa dia ada Buk?” tanyanya lagi.
”Ndak ada, kuliah,” jawab Mak.
”Jam berapa dia biasa pulang Buk?”
Mak tampak ragu dan tambah curiga.
”Buk, Ibuk tidak usah takut, panggil saja saya Sihombing, saya ini temannya si Alan Buk,” jelas orang berseragam tersebut meyakinkan Mak.
”Saya ke sini mau bertemu Alan, kami sudah janji kemarin jumpa di sini Buk,” lanjutnya.

Belum sempat Mak menjawab, tiba-tiba tangannya digamit Iskandar (yang datang tergopoh-gopoh) ke bagian dalam kedai.
”Buk, Alan ditangkap Koramil barusan dan dibawa pakai mobil jip arah ke sana,” lapor Iskandar pada Mak sembari memberi isyarat dengan jari telunjuk di dada, menunjuk arah Simpang Limun.

Mak tergagap spontan melirik Sihombing yang berdiri di samping steling nasi. Sekilas Si-hombing menangkap kata-kata Koramil, dan
”Alan dibawa Koramil ya Dik,” tanya Sihombing kepada Iskandar.
Dengan sedikit keraguan Iskandar mengangguk. Mak semakin curiga.
”Ada apa dia kok ditangkap,” selidik Sihombing.
”Ndak tahu Pak, tadi kami sedang jalan pulang kuliah, pas di depan makam pahlawan itu, tiba-tiba mobil jip Koramil berhenti, terus Vitlan mereka naikan ke monil jip itu,” jelas Iskandar.
”Ada apa ya?, tapi Ibuk tidak usah kuatir, saya akan ke sana dan membawa Alan pulang,” hibur Sihombing mencoba menenangkan Mak.
”Permisi Buk,” pinta Sihombing sembari berjalan ke keretanya yang diparkir di tepi jalan dan berlalu dari pandangan Mak dan Iskandar.

Mak duduk terhenyak di kursi di sudut dekat steling. Pikirannya galau memikirkan Vitlan yang ditahan Koramil. Dia mulai berpikir macam-macam tentang keadaan Vitlan. Bayangan buruk tentang penderitaan orang-orang yang ditangkap aparat, silih berganti muncul di benaknya. Wajah Awai, Cecep, Binsar, Sulung yang lembam-lembam, mata bengkak, kaki pincang akibat penyiksaan aparat kembali hadir di pelupuk matanya. Air mata mulai berlinang di pelupuk matanya.

”Buk, saya permisi Buk, pulang,” pinta Iskandar mohon diri kapada Mak.
”He’e ya, Nak. Makasih ya,” jawab Mak sedikit tergagap sontak dari lamunannya.
Iskandar berlalu, mak kembali terhenyak.

Hari semakin senja, langit mulai meredup pertanda sebentar lagi malam kan datang. Mak semakin gusar. Sebentar-sebentar ia mendongakan kepalanya ke arah simpang jalan.

Waktu berjalan terus. Azan maghrib telah terdengar berkumandang dari menara-menara masjid. Mak masih duduk di tempat semula. Vitlan belum juga pulang. Mak semakin risau. Sebatang rokok telah habis dihisapnya. Mak merogoh kantong baju, mengeluarkan bungkus rokok commodore filter dan menyulut sebatang lagi.

Herman muncul dari dalam, dan
”Mak, maghrib,” kata Herman.
”Ya, jaga kedai ya Man,” balas Mak dan berlalu ke belakang.
”Ya Mak,” jawab Herman.

!!!

Turun dari jip, Vitlan langsung digiring ke sebuah ruang di bagian dalam kantor Koramil.

”Duduk,” kata salah seorang aparat Koramil kepada Vitlan, sembari menunjuk sebuah kursi di depan meja.

Padanan kata:
Kereta = sepeda motor

bersambung

Bagikan: