Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (7)
Bagikan:

0leh: AR Piliang

Setelah diambil darah

Dalam perbuatan keseharian masyarakat Islam, pengambilan darah biasanya dilakukan pada waktu berbekam. Pengambilan darah seperti ini dilakukan dalam rangka pengobatan
Bekam adalah salah satu jenis pengobatan yang ada dalam ajaran Islam. Bekam dilakukan dengan melukai bagian tubuh tertentu, kemudian melakukan penyedotan darah dalam jumlah tertentu dengan menggunakan alat sedot khusus.

Saat ini, pengambilan darah tidak saja dilakukan untuk keperluan pengobatan, akan tetapi juga dalam kegiatan sosial, membantu sesama manusia melalui donor darah. Tidak seperti bekam, darah yang diambil waktu donor darah tidak dibuang, akan tetapi ditampung dalam satu wadah steril, untuk kemudian digunakan membantu pasien yang kekurangan darah akibat operasi atau pendarahan.

عن عائشة رصي الله عنها قالت: كَانَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَغْتَسِلُ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنَ الجَنَابَةِ، وَيَوْمَ الجُمُعَةِ، وَمِنَ الحِجَامَةِ، وَمِنَ الغُسْلِ المَيِّتِ (رواه أبوداود)

Dari Aisyah .a., ia berkata; Adalah Rasulullah SAW suka mandi di empat kesempatan; waktu janabat, hari Jumat, lantaran diambil darahnya, dan lantaran memandikan mayat.

Baru masuk Islam

Dalam terminologi Islam, orang yang bukan Islam dianggap kotor. Oleh karena itu bila seseorang menyatakan diri masuk agama Islam, maka kepadanya diwajibkan mandi. Kegiatan mandi itu sendiri dilakukan setelah ia mengucapkan kalimat syahadat sebagai pernyataan menerima Islam sebagai pedoman dan aturan hidupnya, sebelum ia melakukan sesuatu perbuatan atau kewajiban yang mesti ditunaikannya sebagai seo-rang Muslim.

عن أبي هريرة رصي الله عنه، فِى قِصَّةِ ثُمَامَةَ بْنِ أُثَالٍ عِنْدَمَاأَسْلِمِ وَأَمَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يَغْتَسِلَ (ؤواه عيد الرّزّاق وأصله متّفق عليه)

Dari Abu Hurairah r.a., tentang kisah Tsumamah bin Utsal tatkala ia masuk Islam, dan Nabi SAW menyuruhnya supaya mandi.

Hari Jumat

Hari Jumat merupakan hari yang memiliki kedudukan tersendiri dalam kehidupan ummat Islam. Di hari itu kaum laki-laki dewasa diwajibkan berkumpul di masjid-masjid guna mendengarkan wasiat tentang kabar gembira bagi orang yang mengikuti tuntunan Allah dan Rasul-Nya, dan ancaman bagi yang melanggar dan menentangnya, melalui khutbah yang disampaikan para khatib di mimbar-mimbar Jumat.

Hari Jumat itu, merupakan waktu untuk melakukan evaluasi terhadap kegiatan yang dilakukan selama satu minggu, sehingga seseorang mengetahui kegiatan mana saja yang sudah dilakukan dengan benar sesuai petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dan kegiatan mana saja yang belum. Dengan demikian seorang Muslim dapat memperbaharui niat dan cara melakukan kegiatan hidupnya, secara berkala setiap minggunya.

Mandi di hari Jumat merupakan mandi wajib guna memperbaharui hidup, untuk jangka waktu seminggu ke depan.

عن أبي سعيد الخدريّ رصي الله عنه، أَنَّ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: غُسْلُ يَوْمِ الجُمُعَةِ وَاجِبٌ عَلَى كُل!ِ مُحْتَلِمٍ (أخرجه السّبعة)
Dari Abu Said Alkhudriyyi r.a., bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: “Mandi hari Jumat itu adalah wajib bagi tiap-tiap Muslim yang sudah baligh”.

Setelah memandikan mayat.
Satu hal yang mesti dipahami tentang mayat adalah bahwa mayat itu adalah bangkai. Layaknya bangkai sudah barang tentu menyimpan berbagai kuman dan bakteri.

Ketika kegiatan memandikan mayat berlangsung, orang yang memandikan mayat akan menyentuh seluruh tubuh mayat tersebut. Sudah barang tentu sedikit banyaknya, orang yang memandikan mayat tersebut akan bersentuhan dengan berbagai kuman dan bakteri yang ada pada tubuh mayat tersebut.

Disamping kuman dan bakteri, boleh jadi pada tubuh mayat tersebut juga ada virus. Karena itu untuk mengantisipasi segala kemungkinan buruk yang dapat terjadi, Rasulullah SAW mewajibkan orang yang memandikan mayat untuk se-gera mandi, setelah kegiatan memandikan mayat selesai dilaksanakan.

عن عائشة رصي الله عنها قالت: كَانَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، يَغْتَسِلُ مِنْ أَرْبَعٍ: مِنَ الجَنَابَةِ، وَيَوْمَ الجُمُعَةِ، وَمِنَ الحِجَامَةِ، وَمِنَ الغُسْلِ المَيِّتِ (رواه أبوداود)

Dari Aisyah r.a., ia berkata; Adalah Rasulullah SAW suka mandi di empat kesempatan; waktu janabat, hari Jumat, lantaran diambil darahnya, dan lantaran memandikan mayat.

”.

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 10
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Ia memencet. kemudian membasuh mukanya dengan air yang dibawanya. Akan tetapi mukanya terasa semakin gatal dan perih. Icha menjerit memanggil begitu dilihatnya Vitlan muncul di kejauhan.

“Bang Alan, tolong Icha Bang,”teriaknya.

Mendengar suara yang tak asing lagi baginya, Vitlan berlari mendekat, dan
“Mukamu kenapa ?” sapa Vitlan melihat wajah Icha yang dipenuhi bintik-bintik seperti bisul mau pecah.
“Tidak tahu bang,” jawab Icha sambil menangis menatap Vitlan dalam-dalam.
Vitlan mencoba memegang pipi Icha, tapi Icha menepis tangannya sambil menjauh.

“Lho, kamu kenapa ?” sapa Vitlan heran.
Icha lari, lari dan lari menjauh.
“Cha, Icha, hei Icha, bangun,” kata Cicik mengguncang-guncang tubuh Icha.
“Jangan dekati Icha, jangan, jangan,” igau Icha.
“Hei Icha, kau kenapa?” kata Cicik lagi sambil memukul-mukul pipinya.
Icha terbangun, kebingungan. Dadanya sesak seperti orang dikejar-kejar.

Keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Cicik memeluk erat sauda-ranya itu dan mengusap keringatnya dengan penuh kasih sayang. Perlahan kesadarannya pulih.
“Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah”, ucapnya sambil mengusap-usap wajahnya.
“Kau kenapa?”, sapa Cicik lagi.
“Ambilkan air minum segelaslah”, kata Cicik kepada Raudah yang ikut terbangun.

Raudah berlalu ke luar kamar dan sebentar kemudian kembali dengan segelas air hangat yang diambilnya dari thermos air. Cicik menuntun Icha minum. Setelah Icha terlihat tenang, Cicik kembali menanyainya.

“Kau kenapa?” dengan tetap memeluknya.
“Aku mimpi buruk Cik,” jawab Icha.
“Mimpi apa kau rupanya?” selidik Cicik.
“Aku rasanya pergi ke bukit yang banyak bunganya. Waktu aku mau naik ke dangau yang ada di taman itu, aku tertusuk duri,”
“Terus, trus,” desak Cicik.
“Kak Cicik ini bagaimana, sabarlah,” sela Raudah sembari memukul pelan bahu Cicik.
“Terus setelah duri itu kucabut, mukaku terasa gatal-gatal dan keluar bintik-bintik merah keku-ningan berisi cairan bening. Aku menjerit dan bang Vitlan datang, begitu ia mau memegang pipiku, aku menolak dan menjauh,” jelas Icha.
“Aneh juga mimpimu ya,” komentar Raudah.
“Apa ya artinya,” tanya Icha heran.
“Manalah kutahu. Aku kan bukan tukang ramal,” jawab Raudah.
“Apa ya, tapi sudahlah, itu kan cuma mimpi,” balas Cicik yang cara berpikirnya lebih rasional.

Jarum jam dinding menunjukan pukul 2.15 dini hari. Icha beranjak ke belakang ke kamar mandi. Ia berwudhuk dan ke ruang shalat untuk mengerjakan shalat tahajjuj, kemudian berdoa.

“Ya Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kasihilah hamba, sayangilah hamba. Ya Allah yang Maha Pengampun, ampunilah segala dosa dan kesalahan hamba. Ya Allah Yang Maha Memberi Petunjuk, tunjukilah hamba ke jalan lurus, jalan yang Engkau ridhoi. Ya Allah Yang Maha Pelindung, lindungilah hamba dari segala mara bahaya.
Ya Allah, hanya kepada Engkau kami mengabdi dan hanya kepada Engkau kami minta tolong. Kabulkanlah doa hamba. Robbana atina fiddun ya hasanah wafil akhirati hasanah waqina azabannar. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Kembali ke kamar, didapatinya kedua sepupunya itu telah kembali tidur dengan pulas. Icha pun merebahkan badannya di ranjang, berdo’a dan sejenak kemudian tertidur pulas.

!!!

Sesampai di rumah, Vitlan mendapati Mak sudah terangguk-angguk di kursi di depan steling karena menahan kantuk, padahal waktu baru lewat pukul setengah sebelas malam.

“Mak, tidurlah ke dalam, biar Alan yang jaga kedai,” kata Vitlan menepuk-nepuk bahu Mak.

“Eeh sudah pulang waang Lan. ialah, Mak ngantuk kali memang,” jawab mak setelah tahu bahwa Vitlan telah pulang. Kemudian masuk ke kamarnya.

Vitlan merapikan letak kursi-kursi yang sudah tidak berada ditempat semestinya. Kemudian ia duduk dan menyulut sebatang ji sam soe. Belum berapa lama ia duduk datang pebelanja memesan 4 bungkus nasi goreng, 3 bungkus mie tiau dan 3 bungkus mie kuning goreng. Dengan cekatan Vitlan mulai mengolah bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak pesanan tersebut. Satu demi satu masuk ke dalam kuali. Gerakan tanggannya sangat lincah mengaduk-aduk adonan di dalam kuali, persis bagaikan penari yang berlenggak-lenggok di atas pentas. Keringat mengalir dari dahi dan tengkuknya. Sebentar-sebentar ia melap muka dan tengkuknya yang kuyup karena keringat.

Belum selesai ia menyiapkan pesanan tersebut datang lagi dua orang gadis di seberang jalan memesan 5 bungkus nasi goreng.

“Lama tak nampak, ke mana, Bang,” sapa mereka.
“Ada kesibukan sedikit, di luar,” jawab Vitlan, sambil tetap mengaduk-aduk masakan.
“Tadi, ada kelihatan tu 3 gadis sama Abang, pacarnya ya, Bang,” selidiknya.
“Biasaaa, penggemar,” seloroh Vitlan.
“Ah, Abang ini, macam betul saja,” sela seorang dari mereka.
“Yaaa, masak pacar tiga orang,” kilah Vitlan.
“Yang satu, pacar. Yang duanya, temannya. Bisa kan?” selidik si gadis.
“Anak mana, Bang?” tanya si gadis lagi.
“Mau tahu saja,” jawab Vitlan sambil senyum, seraya menyerahkan pesanan kedua gadis itu.

Pukul setengah satu malam Vitlan menutup kedai nasinya. Ia beruntung sekali, malam itu jualannya habis terjual. Selesai menutup kedai dan merapikan semua peralatan Vitlan beranjak ke luar ke kedai sebelah.

“Mak Etek, ji sam soe sabungkuihlah,” kata Vitlan kepada penjual rokok.
“Lah batutuik kadai Lan?” kata penjual rokok yang dipanggil mak Etek tersebut.
“Alah, Alhamdulillah, habih mak Etek,” jawab Vit-lan sambil menghidupkan rokoknya.
“Lah ka lalok lai waang,” lanjut mak Etek.
“Alun lai mak, sabanta lailah. Mak Etek alun tutuik lai,” balas Vitlan.
“Kok baitu ambo tutuik pulo lah,” jawab mak Etek.

Vitlan membantu mak Etek menutup kedainya, dan setelah mak Etek selesai mengunci pintu dan beranjak ke rumahnya yang terdapat di belakang kedainya, Vitlan pun masuk ke rumah dan langsung ke kamar mandi mengambil wudhuk, kemudian naik ke lantai dua shalat Isya lalu tidur.

Pukul 5 subuh Mak bangun. Selesai shalat subuh ia beranjak naik ke lantai dua bermaksud membangunkan Vitlan. Begitu dilihatnya Vitlan tidur begitu pulas ia urungkan niatnya dan mengambil kunci laci steling di atas meja belajar terus turun kembali ke lantai dasar.

Ia membuka laci dan melihat setumpuk uang. Mata Mak berbinar dan ia bergerak ke steling jajanan, membuka pintu bagian bawahnya dan melihat bahan jualannya kosong dan berarti dagangannya laku habis terjual tadi malam. Reflek didekapkannya uang dalam genggamannya ke dadanya.
“Alhamdulillah ya Allah, daganganku habis terjual tadi malam,” gumam Mak sebagai tanda syukur.

Padanan kata:
Sabungkuih = sebungkus
Lah/alah = sudah
Batutuik/tutuik = tutup
Kadai = kedai
Habih = habis
Lalok = tidur
Waang = kamu
Alun = belum
Sabanta = sebentar
Lai = lagi
Baitu = begitu
Ambo = saya/aku
Pulo = pula

bersambung

Bagikan:
Tabedo – Bagian 9
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

“Begini ceritanya Buk, setelah kami sampai di alamat, ternyata rumah bang Alan itu adalah sebuah rumah makan. Kami disambut oleh Mak abang itu. Sewaktu kami tanyakan bang Alan ada apa tidak, Maknya bilang bang Alan belum pulang kuliah. Ternyata bang Vitlan itu mahasiswa Buk,” kata Cicik.

“Terus,” kata ibu.

“Terus, Maknya bilang biasanya habis maghrib ia sudah pulang. Jadinya kami tunggu.”

“Oohh… jadi karena asyik cerita, kalian lupa pulang, begitu,” sambung ibu.

“Bukan begitu Buk, bang Alannya baru datang jam setengah Sembilan,” bela Raudah.

“Sambil menunggu bang Alan kami cerita-cerita sama Maknya, ia bilang bang Alan itu, orangnya tak pernah akrab dengan perempuan. Ia heran kok kami bisa dekat dengannya, sampai-sampai mau mengantar segala. Pada hal gadis cantik yang tinggal di seberang rumahnya sudah lama tergila-gila dan berusaha mendekatinya, tapi tak pernah digubrisnya,” jelas Cicik.

“Betul Buk, anaknya cantik sekali, anak orang kaya lagi,” timpal Raudah.
“Ah masak,” sela ibu.

“Benar Buk, Raudah percaya apa yang dibilang Mak bang Alan itu, soalnya bang Alan itu bukan anak kandung ibuk itu. Dia itu anak angkat ibuk itu,” timpal Raudah.

“Benar Cik, Ibuk itu bilang bang Alan itu sudah lebih 4 tahun tinggal di situ. Mulanya ia indekost, tapi karena ia rajin membantu semua pekerjaan, mulai dari mencuci piring, masak, membuka dan menutup kedai sampai belanja ke pajak, lama-kelamaan ia diangkat ibuk itu jadi anak angkatnya,” sambung Icha.

“Alaaa … mentang-mentang …,” goda Cicik tanpa meneruskan ucapannya.
“Kan iya gitu, dibilang ibuk itu,” bela Icha, sembari beranjak dari tempat duduknya mendekati Cicik, namun Cicik segera berdiri dan menjauh. Icha menjadi geram dan berusaha mengejar.

“Sudah sudah, kayak anak kecil saja kalian,” kata ibu sambil senyum-senyum melihat tingkah anak-anak dan keponakannya yang sudah beranjak dewasa itu.

“Iya, Anak ini bikin orang sebel saja,” kata Icha menghentikan langkahnya.
Ibu Cicik melirik keponakannya yang salah tingkah. Ia mencoba menangkap apa yang sedang terjadi padanya melalui perubahan sikap dan perilakunya sejak mengenal Vitlan. “Keponakanku sudah besar,” bisiknya dalam hati sambil senyum memperhatikan Icha, yang

“Anak-anak, sudah hampir jam sebelas, ayo tidur biar tidak terlambat bangun,” seru ibu Cicik kepada ketiga anak gadisnya.

‘Ya Bu, ya Cik’, jawab mereka bersamaan seraya beranjak dari ruang tengah.

Mereka berjalan ke belakang, Cicik masuk kamar mandi lebih dulu, lalu langsung ke ruang shalat. Icha shalat paling belakangan. Selesai shalat Cicik langsung ke kamar dan berganti pakaian dengan piyama. Tak lama berselang Raudah masuk.

Setelah agak lama Icha belum muncul juga di kamar, Cicik beranjak keluar dan mendapati Icha masih bersimpuh di atas sajadah menengadahkan tangan berdo’a ke hadirat Tuhan. Cicik menatapnya tekun. Rona wajah Icha kadang senyum dan kadang serius dalam berdo’a. Sifat usilnya muncul.

Dengan sedikit mengeluarkan suara mulutnya mulai berkomat-kamit.
“Ya Tuhan, terima kasihku kepadaMu yang telah mempertemukan daku dengan seorang pria tampan lagi baik hati. Ya Tuhan kumohon kepadaMu agar kebahagiaan yang mulai bersemi di hati hamba ini akan mekar dan berkembang selamanya.”

Icha mencoba tak peduli, Cicik menggoda lagi.“Ya Tuhanku, hamba tak menyangka akan bertemu lelaki yang telah membuat jantung hamba selalu berdebar dan tak dapat memejamkan mata meski malam telah larut. Ya Tuhanku …

“Aduh,” Cicik mengaduh begitu sebuah cubitan mampir di rusuknya. Cicik tak menyangka kalau Icha telah selesai berdo’a.

“Rasakan, mulut usil,” kata Icha geram.
Cicik balas mencubit, tapi Icha keburu lari ke kamar. Cicik mengejar sampai ke kamar. Tapi Icha telah menunggu dengan tangan digenggam dengan posisi siap mencubit.

“Ayo mendekat, biar kena ini lagi hhmm,” tantang Icha sambil menggeretakkan giginya.

Cicik tak jadi mendekat. Sambil meringis ia duduk di tepi ranjang lalu menaikkan baju piyamanya melihat bekas cubitan Icha. Sambil mengusap-usap bekas cubitan tersebut ia berucap,
“Cubitan anak ini keras kalilah, lihat nih sampai biru,” ringis Cicik sambil memperlihatkan rusuknya.

“Salah sendiri, makanya mulut itu dijaga,” kilah Icha sebal.
“Awas nanti ya,” ancam Cicik sewot.
“Oouw, ngancam ya. Boleh saja, biar biramnya mau ditambah lagi,” balas Icha enteng sambil mendekat.
“Tidak tidak, tidak jadi,” balas Cicik merendah.

Sesaat kemudian ketiganya sudah merebahkan diri di atas kasur.
Malam itu Icha bermimpi berjalan-jalan di sebuah taman di lereng bukit di mana banyak sekali bunga-bunga indah sedang mekar. Ia berjalan kian kemari dari sekuntum bunga ke kuntum bunga yang lain. Setiap ia sampai di tanaman bunga yang berbeda, dipegangnya bunga tersebut lalu diciumnya dalam-dalam sembari menengadahkan wajah sehingga kelihatan jelas lehernya yang jenjang. Ia mendaki dan mendaki hingga sampai di bagian atas bukit.

Di atas bukit tersebut terdapat sebuah dangau yang beratapkan daun nyiur dan berlantaikan batang pinang yang ditetak. Ia melangkah naik, akan tetapi sebelum sampai di atas dangau,
“Aduh,” Icha menjerit perlahan ketika ia merasa ada yang menusuk di pipinya.

Icha memegang pipinya dan mencabut tusukan tersebut. Bekas tusukan tersebut terasa perih dan gatal. Icha menggaruknya. Pipinya makin lama makin gatal dan kemudian warna pipinya yang putih kemerahan perlahan berubah menjadi merah tua. Bintik-bintik merah kekuningan dan berair mulai menyembul dari bawah kulit yang kemudian secara cepat menebar hampir memenuhi sebelah pipinya.

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (6)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

Mandi

Mandi adalah pelaksanaan bersuci pada tingkat kedua, guna memenuhi syarat untuk melaksanakan ibadah shalat. Mandi dilakukan bila seseorang berada dalam kondisi berha-dats besar yang disebabkan oleh:

Bersetubuh dengan isteri/suami,

Bersetubuh atau melakukan hubungan seks antara suami dengan isteri merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan beerumah tangga. Bersetubuh memiliki dua makna dalam kehidupan rumah tangga yakni:

  1. Bersetubuh atau melakukan hubungan seksual dalam kehidupan berumah tangga me-rupakan sarana untuk menyalurkan hasrat biologis yang secara naluriah dimiliki oleh manusia. Islam mangatur sedemikian rupa bagaimana cara manusia menyalurkan has-rat seksual tersebut, sehingga persetubuhan dapat dinikmati penuh kenikmatan dan bermartabat.
  2. Bersetubuh atau melakukan hubungan seksual antara suami dengan isteri adalah seba-gai sebuah upaya untuk mendapatkan keturunan. Untuk keperluan tersebut, Rasulullah memberi nasihat agar menikahi perempuan-perempuan yang subur, yang dapat mela-hirkan anak yang banyak.

Persetubuhan yang baik tidak saja akan menguras tenaga, yang membuat kedua be-lah pihak kelelahan. Namun di balik kelelahan pisik tersebut terselip kepuasan dan keba-hagiaan yang sempurna yang tak bisa digambarkan, yang membuat pikiran dan perasaan menjadi tenang.

Secara pisik, ada dua macam cairan yang keluar dari tubuh laki-laki, yakni cairan mani/sperma dan cairan keringat ditambah rasa lelah. Sementara pada perempuan yang keluar itu cairan vagina dan cairan keringat ditambah rasa lelah. Mandi merupakan salah satu cara yang dapat menghilangkan lelah dan kekurangan cairan tubuh.

Secara fiqih, orang yang melakukan persetubuhan dianggap dan dikategorikan ke dalam kelompok orang yang berhadats besar. Ajaran Islam mewajibkan setiap orang yang berhadats besar mandi, karena hanya dengan mandilah orang yang berhadats besar bersih dan dapat melaksanakan ibadah shalat.

Hanya saja, kewajiban mandi karena melakukan hubungan seksual tidak mesti dila-kukan seketika setelah selesai melakukan hubungan seksual tersebut, akan tetapi bisa di-lakukan setelah terlebh dahulu tidur. Yang penting sebelum masuk waktu shalat berikut-nya.

عن أبي هريرة رصي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إِذاَ جَلَسَ بَيْنَ شُعَبِهَاالأَرْبَعْ، ثُمَّ جَهَدَ هَا فَقَدْ وَجَبَ الغُسْلُ (متّفق عليه)
Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata; Rasulul-lah SAW bersabda: “Apabila laki-laki duduk di antara 4 cabang wanita, lalu ia dikerjakan, maka sungguh telah wajib baginya mandi”

Keluar mani akibat mimpi bersenggama

Seseorang baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan mandi bila ia bermimpi bersenggama. Hal yang menyebabkan ia mandi adalah kerena keluarnya cairan tubuh berupa air mani (sperma) atau cairan vagina.

Islam menganggap keluarnya cairan tubuh tersebut, sebagai sesuatu hadats besar yang mewajibkan seseorang untuk mandi, sebagaimana mandi wajib lainnya.

عن أنس رصي الله عنه قال: قَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ فِى المَرْأَةِ تَرَى فِى مَنَا مِهَا مَا يَرَى الرَّجُلُ، قَالَ: تَغْتَسِلْ (متّفق عليه)
Dari Anasr.a., ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: (tentang wanita yang mimpi apa-apa yang dimimpikan laki-laki) “Hendaklah ia mandi”


Haid dan Nifas

Haid adalah darah yang keluar dari kemaluan perempuan dalam keadaan sehat, bukan disebabkan karena melahirkan atau luka. Warnanya hitam kemerah-merahan dan terasa panas. Darah yang keluar dari rahim wanita tersebut terjadi secara alamiah tanpa ada penyebabnya. Haid merupakan sebuah siklus reproduksi yang menandai sehat dan berfungsinya organ-organ reproduksi perempuan. Haid menandakan kematangan seksual seorang perempuan dalam arti ia siap dibuahi, bisa hamil, dan melahirkan a-nak. Datangnya haid juga sebagai pertanda seorang perempuan telah memasuki usia dewasa atau baligh.
Dari sisi medis dan ilmu biologi, haid diartikan sebagai pendarahan rahim yang sifatnya fisiologik yang datang secara teratur setiap bulan. Timbulnya pendarahan tersebut sebagai akibat perubahan hormonal (esterogen dan progesterone).
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُواْ النِّسَاء فِي الْمَحِيضِ وَلاَ تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّىَ يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللّهُ إِنَّ اللّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ (البقرة: ٢٢٢)
Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci . Apabila mereka telah su-ci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesung-guhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri. (QS.2:222)


Secara spesifik Allah menyatakan bahwa darah haid itu adalah kotoran yang keluar dari rahim seorang perempuan. Disebut kotoran, karena darah tersebut mengandung ba-haya dan penyakit. Perlu diingat bahwa darah haid itu mengandung banyak sekali sel te-lur yang tidah dibuahi. Nah apabila perempuan yang sedang dalam masa haid tersebut dicampuri, peluang terjadinya pembuahan sangatlah memungkinkan.


Pembuahan dalam keadaan seperti ini tentu saja berisiko besar, karena sel-sel te-lurnya bercampurbaur dengan kotaran yang terdapat dalam darah haid tersebut. Oleh ka-rena itu Allah menyuruh menjauhi (tidak mencampuri) perempuan yang sedang haid.

عن حمنة بنت جحشى قالت: كُنْتُ أُسْتَحَاضُ حَيْضَةً كَثِيْرَةً شَدِيْدَةً فَـأَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَسْتَفْتِيْهِ، فَقَالَ: إِنَّمَا هِيَ رَكْضَةٌ مِنَ الشَّيْطَانِ، لإَتَحَيَّضِى سِتَّةَ أَيَّامٍ أَوْ سَبْعَةَ أَيَّامٍِ ثُمَّ اغْتَسِلِى، فَـإِذَااسْتَنْقَأْتِ فَصّلِّى أَرْبَعَةً وَعِشْرِيْتَ أَوْ ثَلاَثَةً وَعِشْرِيْنَ وَصُوْمِى وَصَلِّى، فَـإِنَّ ذَالِكَ يُجْزِئُكَ، كَذَالِكَ فَافْعُلِى كُلَّ شَهْرٍ كَمَا نَحِيْضُ النِّسَاءُ (رواه الخمسة إلاّ النّسائى)
Dari Hamnah binti Jahayin r.a., ia berkata istihadah yang banyak dan deras, lalu saya datang kepada Nabi SAW, meminta fatwanya, lalu sabdanya; “Yang demikian itu adalah gangguan dari syetan, maka berhaidlah kamu enam hari atau tujuh hari, kemu-dian mandi. Apabila kamu bersih, maka shalatlah 24 atau 23 hari, dan puasalah dan shalatlah, karena yang demikian itu cukup bagimu. Demikianlah kamu lakukan tiap-tiap bulan sebagaimana wanita-wanita haid.

Secara teknis Rasulullah SAW memberikan penjelasan bahwa masa haid (yang normal) itu adalah 6 sampai dengan 7 hari setiap bulannya. Selama masa haid itu seorang suami dilarang menyetubuhi isteri-isterinya. Akan tetapi demi menjaga kemesraan dan kehangatan hubungan suami isteri, pasangan suami isteri tetap bisa bermesraan selain bersetubuh.
Bila masa haid berlalu maka seorang perempuan diwajibkan mandi. Bila ia telah mandi, maka ia telah boleh melaksanakan kegiatan beribadah seperti; shalat dan puasa selama 24 atau 23 hari berikutnya, sebelum periode haid berikutnya. Begitu juga dengan aktifitas seksual dengan suaminya, selama waktu tersebut.
عن أنس رصي الله عنه قال، أَنَّ اليَهُوْدَ كَانُوْا إِذَا حَضَةِ الْمَرْإَةُ فِيْهِمْ لَمْ يُؤَاكِلُوْاهَا وَلَمْ يُجَامِعُوهُنَّ فِي البُيُوْتِ فَسَأَلَ أَصْحَابُ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَنْزَلَ اللهُ تَعَالَ وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ المَحِيْضِ فُلْ هُوَ أَذًا فَاعْتَزِلُ النِّسَاءَ فِي المَحِيْضِ إِلَى ﺁخِرِالأٰيَةِ فَقَالَ رَسوُلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَصْنَعُوْاكُلَّ شَيْءٍ إِلاَّ النِّكَاحَ (رواه مسلم)
Dari Anas r.a. katanya; Kebiasaan bangsa Yahudi, apabila perempuan datang haid (bulan), diasingkan waktu makan, tidak disetubuhi dalam rumah, maka Rasulullah SAW ditanya sahabat tentang hal ini. Berkenaan dengan itu turunlah ayat; “Engkau ditanya tentang haid, katakanlah: Haid itu penyakit, maka jauhilah mereka itu sebelum suci”. Nabi bersabda: “Perbuatlah segala sesuatu dengan isterimu di waktu datang haid (bulan), kecuali bersetubuh”.

عن ميمنة بنت الحارث، أَنَّ رَسوُلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، كَانَ أَرَادَ أَنْ يُبَاشِرَ امْرَأَةً مِنْ نَسَائِهِ وَهِيَ حَائِضٌ أَمَرَهَا أَنْ تَتَّزِرَ ثُمَّ يُبَاشِرُهَا (رواه أبوداود)
Dari Maimunah binti Al-Harits berkata; Se-sungguhnya Rasulullah SAW apabila ingin bermesraan dengan isterinya yang dalam keadaan haid, maka beliau menyuruh isterinya memakai kain, kemudian barulah Rasulullah SAW bermesraan dengannya.
Nifas atau darah yang keluar setelah perempuan mengalami persalinan juga meru-pakan siklus biologis normal yang dialami perempuan. Sama seperti haid, darah nifas juga merupakan darah kotor yang tertahan di dalam rahim selama masa kehamilan, kemudian keluar setelah melahirkan. Darah nifas ini akan terus keluar selama 40 hari.

عن أمّ سلمة رصي الله عنها قالت: كَانَتِ النُّفَسَاءُ تَقْعُدُ عَلَى عَهْدِ النّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ نِفَاسِهَا أَرْبَعِيْنَ يَوْمًا (رواه الخمسة إلاّ النّسائى)
Dari Ummu Salamah r.a.; Adalah perempuan-perempuan yang nifas di zaman Nabi SAW, duduk (tidak shalat) sehabis melahirkan, empat puluh hari.
Setelah periode nifas itu berakhir, seorang perempuan diwajibkan mandi sebagai-mana wajibnya mandi ketika ia mengalami haid. Apabila ia telah mandi, berarti ia telah pula bisa melakukan aktifitas beribadah (shalat dan puasa). Begitu juga dengan aktifitas seksual dengan suaminya, sampai datang masa haidnya.

”.

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 8
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Darah Vitlan berdesir mendengar pernyataan Cicik. Ia melirik Icha, keduanya beradu pandang. Vitlan terkesiap, jantungnya berdebar keras.

“Esok atau lusa abang datang, insya Allah,” bela Vitlan.
“Besok Icha sudah pulang kampong,” sambung Raudah.
“Oh ya,” seru Vitlan terpelongoh.
“Makanya kami datang ke sini,” sambung Cicik,

Icha mendongak, kembali mereka bertatapan. lalu menunduk mengalihkan pandangannya ke gelas yang sedari tadi dipegangnya. Vitlan mencoba memandangi wajah Icha dalam-dalam.

Di sana ia melihat keteduhan.
Keteduhan hati seorang gadis yang tulus, apa adanya. Vitlan mencoba memperhatikan gadis itu secara sungguh-sungguh. Ada simpati di hatinya, ada ketertarikan di sana.

“Icha sudah mau pulang ke kampung?” sapa Vitlan.
“Iya, rencananya besok naik kereta api,” jawab Icha sembari menatap Vitlan, kemudian tunduk.
Bisu sesaat, kemudian,
“Icha datang ke sini ingin mengucapkan terima kasih atas pertolongan Abang tempo hari kepada kami, sekaligus minta maaf bila kedatangan kami telah mengusik ketenangan Abang,” kata Icha perlahan.
“Ndak ndak, Abang senang kok kalian datang,” bela Vitlan tergagap.
“Tapi Mak Abang bilang, Abang tak…”
Refleks tangan Vitlan bergerak ke muka Icha dan jarinya menempel di mulat Icha,
“Sudah sudah sudah, jangan diteruskan,” potong Vitlan.
Icha kaget, yang lain kaget, Mak pun kaget melihat apa yang dilakukan Vitlan. Mereka terperangah, Vitlan sadar dan segera menarik tangannya.
“Maaf maaf, Abang ndak sengaja,” pintanya dengan gugup.

Waktu telah menunjukkan pukul 09.50 WIB. Malam.

“Waktu sudah mulai larut, yok Abang antar kalian, nanti ibuk kecarian,” kata Vitlan setelah dapat menguasai gejolak perasaannya.
“Ayok,” jawab mereka serentak.
Vitlan segera berjalan keluar ke trotoar dan memanggil becak yang parkir tidak jauh dari tempat ia berdiri.
“Mak Udin, Bang Ucok, sini,” kata Vitlan kepada dua abang becak yang memang sudah dikenalnya.

Kedua abang becak segera menghampirinya,
“Mau ke mana Lan,” sapa mak Udin.
“Amaliun Mak,” jawab Vitlan.
“Ngantar cewek nih Lan,” gurau Mak Udin.
“Tenanglah mak Udin,” jawab Vitlan
“Buk kami permisi pulang ya buk,” kata ketiga gadis seraya satu persatu dari mereka menyalami mak.
”Mak, Alan pergi sebentar ya,” kata vitlan pada Mak.
“Hati-hati ya,” jawab Mak sambil berdiri di depan kedai

Cicik dan Raudah segera naik ke becak bang Ucok, Icha naik ke becak mak Udin. Vitlan berdiri bengong. Ia bimbang harus sebecak dengan Icha.
“Nunggu apa, Lan?” sapa mak Udin.
“Ndak ada, Mak,” jawab Vitlan.
“Udah, ayok naik,” tegur mak Udin, yang membuat Vitlan tergagap dan segera naik ke becak mak Udin seraya berkata
“Ayok Mak,” katanya.

Jalanan mulai sepi, di atas becak hening. Dada Vitlan bergemuruh begitu hawa panas yang berasal dari tubuh Icha yang menempel rapat ke tubuh-nya, mengalir ke seluruh tubuhnya. Vitlan mencoba memejamkan mata menenangkannya, namun gemuruh itu semakin membakar dan menggoncang dada nya.

“Bang Alan, maafkan Icha ya, bila telah mengganggu ketenangan Abang,” kata Icha lirih, meme-cah keheningan.
“Ndak apa-apa kok,” jawab Vitlan gagap.
“Tapi Abang kelihatannya gusar sekali, Abang marahkan kami datang,”, balas Icha.
“Ndak ndak, bukan begitu, Abang hanya tak tahu harus berbuat apa,” bela Vitlan.
“Abang takutkan bila gadis di seberang jalan itu tahu dan marah melihat kami datang ke rumah Abang,” sungut Icha sembari memperbaiki letak duduknya, yang membuat tangannya, secara refleks berhimpitan dengan tangan Vitlan.

Vitlan membiarkan tangan itu. Icha pelan-pelan berusaha menarik tangannya dari atas tangan Vitlan. Tapi spontan Vitlan menggenggam tangan itu, kemudian membawanya ke pangkuannya. Icha diam membiarkan tangannya digenggam erat Vitlan. Ia memejamkan mata dan berusaha menikmati genggaman itu, hangat. Hatinya berbunga dan ia serasa melayang-layang di langit tinggi.
“Icha, Abang takut, Abang ndak punya siapa-siapa,” kata Vitlan sambil mencoba melepaskan genggamannya dan berusaha mencari sesuatu di mata Icha di keremangan cahaya lampu jalanan. Icha malah semakin mempererat genggaman tangannya pada tangan Vitlan. Ia tak menyangka Vitlan berkata demikian, ia merasa bersalah.
“Maafkan Icha ya Bang, kalau kata-kata Icha menyinggung perasaan Abang,” pinta Icha.
“Ndak apa-apa, Abang hanya takut nantinya Icha kecewa,” balas Vitlan.
Becak yang mereka tumpangi telah sampai di depan pintu pagar rumah Cicik. Cicik mengeluarkan uang dari dompet untuk membayar ongkos becak, tapi Vitlan mencegahnya,
“Biar Abang saja yang bayar,” kata Vitlan.
“Tidak, biar Cicik saja, kan kami yang datang ke rumah Abang,” bela Cicik sambil menyerahkan uang kepada bang Ucok dan berlalu ke depan pintu.
“Assalamu’alaikum, buk, buk,” panggil Cicik pada ibunya.
“Wa’alaikumussalam,” jawab ibu Cicik seraya membukakan pintu.
Vitlan turun dari becak diikuti oleh Icha. Ia berusaha melepaskan genggaman dari tangannya. tapi Icha malah mempererat genggamannya. Ia baru melepaskannya ketika melihat ibu Cicik membukakan pintu buat mereka.
“Masuk dulu nak Alan,” sapa Ibu Cicik ramah, begitu melihat Vitlan ada di antara mereka.
“Terima kasih buk, sudah larut, lain kali saja, permisi buk, Assalamu’alaikum,” jawab Vitlan
“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka.
“Kok lama sekali pulangnya,” sapa Ibu Cicik kepada anak-anaknya beberapa saat setelah mereka duduk.
“Panjang ceritanya Buk,” jawab Cicik.
“Sudah, kalau begitu kalian makanlah dulu, sudah malam kali ni. Nanti kalian sakit,” Sambung Ibu.
“Kami sudah makan Buk, di sana. Kami makan nasi goreng, bang Alan yang bikin. Masakannya enak sekali, dia pintar masak Bu,” kata Cicik, menyerocos.
“Ahh… yang benar, masak anak lajang pandai masak,” tangkis ibu.
“Benar Buk, si Icha saja yang biasanya makannya sikit, habis sepiring besar,” bela Cicik dengan memonyongkan mulutnya sembari mengembangkan kedua telapak tangannya dengan posisi saling berhadapan.
“Sudah, sudah, coba kamu ceritakan dari awal bagaimana ceritanya,” Sela ibu.

bersambung

Bagikan: