Tabedo – Bagian 6
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

“Bukan Nak, ia bukan anak Ibu, tapi bagi Ibu ia sudah seperti anak sendiri. Dia sayang kali sama Ibu. Ibu tidak boleh jaga kedai kalau dia ada di sini. Dia selalu bilang ‘Istirahatlah Mak, biar Alan yang jaga kedai. Dia rajin, pintar, dan taat beribadah,’ lanjut mak.

“Sudah lama bang Alan tinggal di sini Buk?” tanya Cicik lagi.

“Sudah sejak tamat STM, kira-kira… sudah 6 tahun, 5… tahun… ya… 6 tahun lah,” Jawab Mak mengira-ngira.

“Sudah lama juga Buk ya,” timpal Raudah.

Adzan maghrib telah berkumandang,
“Kalian shalat,” tanya Mak.
“Ya Buk”, jawab mereka.
Mak memanggil anak laki-lakinya yang berumur 10 tahun.
“Herman, kakak-kakak ini mau shalat, tunjukan kamar mandi dan ambilkan sajadahnya ya nak,” kata Mak kepada anaknya.
“Yok Kak,” kata Herman kepada ketiga gadis tersebut seraya berjalan ke bagian dalam.

Selesai shalat maghrib mereka tidak langsung turun ke bawah, tapi duduk-duduk di atas sajadah dan melihat-lihat foto yang terpajang di dinding dan dalam album yang terletak di bagian bawah meja. Di situ banyak sekali foto-foto keluarga Mak dan juga foto-foto Vitlan. Icha memperhatikan satu demi satu foto-foto itu dengan seksama, terutama foto-foto Vitlan. Ia semakin kagum, hatinya semakin bergetar. Dalam hati ia berharap dapat memiliki Vitlan.

“Beruntunglah kau Cha, seandainya dapat menaklukkan hati pemuda tampan seperti bang Vitlan,” gurau Cicik pada Icha.
“Aduh,” jerit Cicik begitu merasakan cubitan bersarang di pinggangnya.
“Rasakan mulut usil,” geram Icha.
“Ala pura-pura, padahal dalam hati hmm …,” celetuk Raudah, sambil menjauh dari Icha.
“Yok kita turun,” sambung Raudah, sambil berjalan menuju tangga.
“Yok,” jawab Cicik sambil meletakkan kembali album-album foto ke bawah meja
“Awas nanti ya,” ancam Icha geram, sambil meletakkan album kembali ke tempat semula.
Sampai di tempat semula.
“Kalian makan di sini ya?” tawar Mak.
“Terima kasih Buk, nanti saja,” jawab Cicik.
“Oh ya, nanti sama-sama nak Alan maksudnya,” goda Mak.
“Iyalah Buk,” sela Raudah, sembari ekor matanya melirik Icha. Icha menggeram menatap Raudah.
“Yaa sudah, nak Icha ini kok diam saja dari tadi,” tanya Mak,
“Karena belum ketemu Buk,” jawab Cicik.
“Diam-diam makan dalam tuh Buk,” sela Raudah.
“Aduh,” jerit Raudah, begitu tulang keringnya berasa kena tendang benda keras.
“Oohh… pantas,” goda Mak lagi.
Wajah Icha memerah, dia menjadi salah tingkah.

Waktu sudah menunjukan pukul setengah sembilan malam. Orang yang mereka tunggu belum juga muncul. Icha semakin gelisah, Ia menjadi kian diam. Dalam hati ia berbisik
“Mungkinkah ia tidak akan pernah lagi melihat wajah Vitlan. Mungkinkah ia tidak akan dapat lagi betemu dengan orang yang telah merebut hatinya. Oohh … seandainya memang demikian …, entahlah. Besok ia sudah harus pulang ke kampung halamannya, dan entah kapan akan kembali lagi ke Medan.”
Ia semakin gelisah, badannya terasa panas dan sedikit berkeringat.
“Apa kalian masih ingin menunggu si Alan?” tanya Mak.
Icha terkesiap, dan secara spontan ia menjawab,
“Ia Buk, biar kami tunggu sampai jam Sembilan,”
Cicik dan Raudah terpelongoh, menatap wajah Icha seakan tidak percaya dengan apa yang mereka dengar barusan. Melihat Cicik dan Raudah memandanginya seperti itu, Icha semakin salah tingkah, dan ia menundukan wajahnya begitu sadar apa yang ia lakukan.
bersambung

Bagikan:
Tabedo – Bagian 5
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

(Bagian 5)

Adzan shubuh telah berkumandang, Icha tersentak lalu memasukkan buku hariannya kembali ke dalam tas. Ia bergegas ke belakang, berwudhuk kemudian shalat di ruang shalat. Selesai berdoa Icha merebahkan diri di atas sajadah dan tertidur di sana hingga hangatnya sinar mentari pagi, yang masuk melalui jendela, menerpa tubuhnya. Ia membuka mata, bangun dan kembali ke kamar. Kedua sepupunya masih tergolek. Ia bangunkan keduanya, lalu keluar kamar. Di atas meja ruang tengah ia dapati selembar kertas bertuliskan pesan.
“Anak-anak, Ibu ke pajak, kerjakan pekerjaan kalian seperti biasa,”
Selesai mandi dan sarapan, ketiga gadis itu sudah sibuk kembali dengan pekerjaan mereka masing-masing. Mereka harus membantu ibu mereka mengelola usaha catering, karena mereka sudah tidak punya siapa-siapa lagi selain ibu yang sudah menjanda sejak ditinggal mati ayah mereka beberapa tahun yang lalu.

!!!

Hari-hari berlalu, tidak nampak perubahan pada sikap Vitlan. Ia melakukan aktifitas kesehariannya seperti biasa. Bangun shubuh lalu ke masjid, setelah itu jalan pagi, membantu Mak membuka dan merapikan kedai. Pergi kuliah, berorganisasi dan berteater, lalu pulang membantu jualan hingga tutup tengah malam.
Suatu sore, setelah kira-kira satu pekan kemudian, 3 orang gadis cantik mampir di depan kedai nasi Mak. Salah seorang dari mereka memberanikan diri bertanya.
“Assalamu’alaikum, Buk. Numpang tanya ya, apa di sini tempat tinggalnya bang Alan, maksudnya bang Vitlan?”
“Wa’aIaikumussalam, iya Nak, silakan masuk, kalian siapa?” Tanya Mak.
“Kami temannya bang Alan, Buk,” sembari memperkenalkan diri masing-masing.
“Bang Alannya ada Buk?” lanjut Cicik.
“Sebentar ya nak, silakan duduk,” balas Mak, lalu pergi ke belakang.
Sementara mereka bertiga duduk di kursi meja makan yang ada di depan steling makanan. Sejenak kemudian Mak muncul dengan membawa baki berisi tiga gelas teh manis, dan meletakkan di depan ketiga tamunya.
“Silakan diminum Nak,” kata Mak dengan ramah.
“Terima kasih Buk, bang Alannya ada Buk?” tanya Cicik lagi.
“Oh… nak Alan jam segini masih di kampus Nak, kuliah,” jawab Mak.
Ketiga gadis itu tersentak dan saling pandang
“Jam berapa dia pulang Buk?” tanya Cicik lagi.
“Ndak tentu Nak, kadang cepat kadang lambat. Apalagi kalau dia pergi ke organisasi atau ke sanggar, maulah pulangnya agak malam, atau ndak pulang sama sekali,” jelas Mak.
Mendengar penuturan Mak, ketiga gadis tersebut saling berbisik.
“Jadi bagaimana?” tanya Cicik kepada kedua saudaranya.
“Aku terserah saja, kalau kau Cha bagaimana,” balas Raudah.
“Bagaimana ya?” jawab Icha penuh kegelisahan.
“Ya kaulah, kan kau yang ingin ketemu dengan bang Alan,” sela Cicik.
“Hmm, bila tidak ke mana-mana, biasanya jam berapa bang pulang kuliahnya Buk?” tanya Cicik.
“Biasanya kalau tidak ada kegiatan lain, jam segini dia sudah pulang, paling lambat pun jam delapan lah,” jawab Mak.
Naluri sebagai orang tua, Mak melihat kegusaran begitu nyata di wajah Icha.
“Kalau begitu kami tunggu saja, Buk,” tegas Cicik.
Seterusnya mereka berempat mulai terlibat pembicaraan yang akrab.
”Sudah lama kenal nak Alan?” tanya mak kepada mereka.
“Baru seminggu, Buk,” jawab Cicik.
“Hhmm, jadi kalian yang diantar Alan malam itu?” tanya mak.
“Iya Buk, kalau tak ada bang Alan waktu itu entah bagaimana jadinya nasib kami,” sambung Cicik.
“Anak itu memang suka menolong,” sambung Mak lagi.
“Kami berharap ia akan berkunjung lagi ke rumah, tapi setelah ditunggu-tunggu tak datang-datang, makanya kami datang ke sini,” jelas Cicik.
“Si Alan itu, payah. Jangan harap dia mau berkunjung ke rumah perempuan Nak,” sambung Mak.
“Kenapa Buk?” tanya Cicik penuh selidik.
“Entah, Ibuk juga ndak tahu,” jawab Mak.
“Kok bisa begitu Buk. Bang Alan itu, orangnya kan ganteng, Buk. Anak kuliahan lagi,” timpal Raudah ingin tahu.
“Itulah, setahu Ibu, sejak tinggal di sini, Alan itu tak pernah bergaul dekat dengan perempuan. Begitu banyak anak gadis di sekitar sini, dan juga teman-teman kuliahnya mencoba mencuri perhatiannya, tak satu pun ia ladeni. Anak orang kaya di seberang itu, nah itu dia (sambil menunjuk seorang gadis cantik di teras rumah besar di seberang jalan – Mereka serentak melihat ke seorang gadis di seberang jalan. Cicik berdecak, Raudah juga. Icha timbul rasa cemburunya). sejak lama tergila-gila sama dia. Anak itu akan belanja ke sini kalau dilihatnya si Alan yang jaga, dan dia tidak akan mau membeli makanan kalau bukan si Alan yang bikin. Tapi ya itu tadi, Si Alan itu tenang-tenang saja.” jelas Mak.
“Jadi, bang Alan itu bukan anak Ibuk,” selidik Cicik.

Padanan kata:
Pajak = pasar

bersambung

Bagikan:
Tabedo – Bagian 4
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Di rumah Cicik,

Setelah melepas kepulangan Vitlan ketiga gadis itu segera masuk dan duduk kembali di kursi tamu.

“Lain kali kalian harus lebih hati-hati,” nasihat Ibu kepada mereka.

“Ya Buk, tapi kami tidak menduga sama sekali kalau sampai dijahili anak kecil itu, Buk,” timpal Cicik.

“Untung ada yang menolong kalian, dan sekarang ayo tidur, sudah larut, nanti kesiangan,” balas ibu seraya berlalu ke kamar.

Bertiga mereka membereskan dan merapikan rumah, lalu masuk ke kamar. Sembari ganti pakaian.

“Bang Vitlan itu ganteng ya?” kata Cicik.
‘Bukan hanya ganteng, tapi juga baik hatinya,’ sambung Raudah.

Icha hanya diam. Selesai ganti pakaian ia langsung naik ke atas ranjang, meraih guling dan memeluknya, terus memejamkan mata. Cicik dan Raudah melakukan hal yang sama.
Malam itu Icha tidak dapat tidur. Pikirannya menerawang, bayangan Vitlan dan kejadian-kejadian yang dialaminya bersama kedua saudaranya silih berganti muncul di pelupuk matanya. Kadang ia tersenyum bila terbayang wajah, tatapan, senyuman, dan genggaman tangan Vitlan. Di lain kesempatan ia menjadi cemas, apakah pertemuan tadi hanya akan sampai disitu saja, dan tidak akan berlanjut di hari-hari mendatang. Apakah ia akan dapat bertemu lagi dengan orang yang baru saja hadir di hatinya.

Jam dinding telah menunjukan waktu pukul 03.30 WIB dinihari. Mata Icha tak kunjung terpejam. Ia bangkit dan mengambil tas, mengeluarkan buku hariannya, dan mulai menulis.
“Hari ini merupakan hari kedua aku berada di kota Medan. Kehadiranku di Medan adalah memenuhi permintaan makcik untuk membantu pekerjaan beliau mengelola catering untuk keperluan berbagai macam pesta.Tadi pagi aku bangun pukul 05.00 WIB. Selesai shalat shubuh, aku sudah disibukan oleh pekerjaan rumah membantu makcikku di dapur. Kemudian ke pajak berbelanja. Pulang dari pajak menyiapkan pesanan, kemudian mengantarkannya. Aku letih dan lelah sekali.
Tadi sore aku hanya dapat tidur sejenak, dan aku ingin segera dapat tidur lagi begitu selesai shalat maghrib. Akan tetapi kedua sepupuku memaksaku untuk menemani mereka nonton pentas musik. Aku jadi bersemangat mendengarnya, dan aku sangat ingin untuk melihat dan menyaksikan penampilan pemusik-pemusik kota Medan beraksi.
Kami berangkat ke tempat acara, dan aku sangat menikmati acara malam ini. Aku tak menduga sama sekali kalau sampai dijahili oleh orang lain, anak kecil lagi, sebagaimana aku tak pernah menduga akan bertemu dengan seorang lelaki tampan bernama Vitlan Gumanti.
Aah, ia telah mengusik hidupku, ia telah membuatku tak dapat tidur, Ia telah membuatku tersenyum dan gelisah. Aku memikirkannya, Aku mencemaskannya, aku merindukannya, aku menginginkannya, di sisiku, di hatiku.
Ooh Ibu, mungkinkah anakmu terbakar asmara. Ooh Makcik mungkinkah aku telah jatuh cinta. Ooh sepupuku, mungkinkah kalian merasakan hal yang sama seperti halnya diriku, pada lelaki yang sama ?
Ach, apa mungkin aku hanya berkhayal?
Tapi …

bersambung

Bagikan:
Tabedo – Bagian 3
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Cicik menceritakan semua peristiwa yang mereka alami ketika menonton pentas musik tadi kepada ibunya. Sedang mereka ngobrol tersebut, Icha muncul membawa baki minuman. Cangkir minuman dihidangkan, dan Icha duduk di samping Raudah. Dengan sudut matanya ia berusaha melirik Vitlan, namun Vitlan menunduk saja.
“Silakan diminum nak,” sapa ibu Cicik.
“Terima kasih Buk,” jawab Vitlan sembari mengangkat gelas minuman itu ke mulutnya.
“Terima kasih nak, telah menolong anak-anak ibu dan bersusah-susah mengantarkan mereka pulang,” kata ibu Cicik kepada Vitlan, setelah mendengar penjelasan anaknya.
“Ndak apa-apa Buk, cuma kebetulan,” timpal Vitlan merendah.
Tak lama berselang,
“Permisi pulang Buk, sudah larut,” pinta Vitlan.
“Ya nak Alan, sekali lagi terima kasih ibu ya,” balas ibu Cicik.
“Assalamu’alaikum,” kata Vitlan sembari menyalami ibu Cicik.
“Wa’alaikum salam,” jawab ibu Cicik dan ketiga gadis itu.
Vitlan kemudian berjalan keluar rumah, diantar ketiga gadis tersebut hingga ke pintu pagar.
“Main-main ke sini ya Bang,” tawar Cicik.
”Insya Allah,” jawab Vitlan sembari menyalami mereka satu persatu.
Sekali lagi jantung Vitlan berdetak kencang, ketika bertatapan dengan Icha. Hawa panas mengalir melalui genggaman tangannya. Hati Vitlan bagai terbakar, dan darahnya terasa mengalir deras.
“Hati-hati ya Bang!” kata Icha setengah berbisik begitu Vitlan melangkah meninggalkan mereka.
Sementara Ibu Cicik memperhatikan Vitlan dengan seksama sampai Vitlan naik ke becak dan ketiga anak gadisnya kembali masuk kedalam rumah.
Vitlan pulang sendirian naik beca dayung. Ia disambut olok-olokan teman-temannya sesampai di rumah.
“Hei, paten anak Mamak ya,” canda Mak menyambut kemunculan Vitlan.
Vitlan hanya senyum kecut menyikapi candaan tersebut. Ia mengacungkan tinju kepada ketiga temannya, ia langsung ke belakang.
“Hei, hei, hei, tunggu dulu,” kata Mak sambil menggamit lengan Vitlan duduk di kursi terdekat.
“Cerita dulu sama Mamak, kek mana kisah pertemuan dua sejoli di pesta musik tadi,” goda Mak.
“Sebentar awak ganti pakaian dulu ke atas,” kilah Vitlan sembari melepaskan diri dari pegangan Mak.
Jamil, Maman, dan Surya tersenyum geli melihat Vitlan yang salah tingkah. Mak melepaskan pegangan tangannya, dan Vitlan pun berlalu. Sebentar kemudian Vitlan telah muncul kembali dengan piyama hijau lumut berbis putih dan bergambar sekuntum mawar merah jambu di dada kanannya.
Ia memang tampan sekali dan penuh pesona. Tinggi semampai, 174 cm. Rambut ikal disisir rapi, terjulai mencapai kedua bahunya. Tidak heran kalau banyak gadis-gadis yang tergila-gila padanya. Namun ia tidak pernah tertarik untuk meladeni mereka. Maka menjadi wajar saja bila Mak dan teman-temannya heran dan masygul ketika melihat Vitlan akrab dengan tiga orang gadis yang baru dikenalnya pada malam itu. Bahkan ia sampai rela menyediakan dirinya untuk mengantar ketiganya ke rumah mereka.
Vitlan duduk di depan Mak dan teman-temannya. Ia sulut dalam-dalam dji sam soenya. Ia hanya senyum simpul saja menyikapi rasa ingin tahu Mak
“Jadi bagaimana ceritanya Lan,” desak Mak.
Lagi-lagi hanya senyuman tersungging dari bibir Vitlan
“Jadi, ndak boleh Mak tahu cerita yang sebenarnya Lan,” desak Mak.
“Aah, ndak ada apa-apa kok Mak,” jawab Vitlan singkat, sambil menekankan punggungnya ke sandaran kursi, sehingga wajahnya tengadah ke langit-langit.
Ia menyulut dan menghembuskan asap rokoknya ke atas. Melihat sikap Vitlan demikian, Mak menghentikan interogasinya.
Pukul 01.00 WIB tengah malam, Jamil, Maman dan Surya mohon diri.
“Buk, kami pulang ya, yok Lan, sampai jumpa besok”, kata mereka serentak, dan berlalu.
“Ya”, jawab Mak, “Yok”’, jawab Vitlan sembari mengangkat tangannya.
Vitlan membantu mak menutup kedai, dan selanjutnya naik ke atas dan tidur.

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
DALAM KONSEP ISLAM

Mukaddimah

Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia. Pedoman yang mengatur seluruh sisi kehidupan manusia, mulai dari hal yang paling kecil dan dianggap sepele, hingga hal yang paling besar dan memerlukan keberanian untuk melaksanakannya. Shalawat beriring salam tertuju kepada Muhammad Rasulullah SAW, yang telah memberikan tuntunan dan contoh bagaimana melaksanakan ajaran yang telah diturunkan Allah SWT, dengan tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari, sehingga dengan mudah dapat ditiru dan dilaksanakan dalam kehidupan nyata.
Salah satu dari keseluruhan aturan tersebut adalah pengaturan bagaimana setiap diri dapat menjalani hidup bersih dan sehat dengan sebaik-baiknya. Perilaku hidup bersih dan sehat meru-pakan suatu tatanan perilaku yang meliputi cara berpikir dan bertindak bagaimana melaksanakan hidup bersih dan sehat dalam kehidupan sehari-hari. Perilaku seperti ini tidak saja tertuju kepada kehidupan pribadi orang perorang, akan tetapi juga bagi kepentingan hidup bersama di dalam masyarakat.
Hidup bersih dan sehat merupakan idaman semua orang. Hanya saja tidak semua orang mengetahui dan memahaminya, untuk apa berperilaku hidup bersih dan sehat, mana saja perilaku hidup bersih dan sehat, di mana saja harus berperilaku hidup bersih dan sehat, serta bagaimana cara melaksanakannya dalam kehidupan sehari-hari.
Islam memandang perilaku hidup bersih dan sehat, merupakan bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari manusia. Mencuci tangan, berkumur-kumur, menggo-sok gigi, membersihkan lubang hidung, berwudhuk, mandi, berpakaian, makan dan minum, dan beribadah, merupakan kegiatan harian yang senantiasa bersentuhan dengan perilaku hidup bersih dan sehat. Menggunting/ memangkas rambut, menggunting kumis, merapikan jenggot, mencabut bulu ketiak, mencukur bulu kemaluan, merupakan kegiatan berkala yang dianjurkan untuk menjaga hidup bersih dan sehat.
Aktifitas pergaulan suami isteri pun tidak lepas dari aturan hidup bersih dan sehat. Begitu pula halnya dengan keharusan membersihkan rumah, halaman dan lingkungan sekitar. Bahkan kegiatan yang bersentuhan dengan kehidupan sosial kemasyarakatan, seperti anjuran menjaga kebersihan rumah ibadah, tempat berkumpul orang, jalan raya, tempat-tempat berteduh, tempat-tempat mengambil air, tempat-tempat air mengalir, semua itu tidak lepas dari nilai-nilai perilaku hidup bersih dan sehat.
لاَ تَقُمْ فِيهِ أَبَداً لَّمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَن تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَن يَتَطَهَّرُواْ وَاللّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ (التّوبة:١٠٨)
Janganlah kamu shalat dalam mesjid itu selama-lamanya. Sesungguhnya mesjid yang di-dirikan atas dasar taqwa (mesjid Quba), sejak hari pertama adalah lebih patut kamu sholat di dalamnya. Di dalam mesjid itu ada orang-orang yang ingin membersihkan diri. Dan sesungguh-nya Allah menyukai orang-orang yang bersih (QS. 9:108).

Kesehatan Itu Bahagian Dari Iman

عن أبى مالك الأشعرىّ قال: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الطُّهُوْرُ ضَطْرُ الإِيْمَانِ (رواه مسلم)
Dari Abu Malik al-Asy’ari, katanya: Bersabda Rasulullahi SAW: Kebersihan itu Bahagian dari iman.

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ: حَدَّثَنَا أَبُوْ عَامِرِ العَقَدِيُّ حَدَّثَاَ خَالِدُ بْنُ إِلْيَاسَ، عَنْ صَالِحِ بْنِ أَبِي حَسَّانَ، قَالَ: سَمِعْتُ سَعِيْدَ بْنَ المُسَيَّبِ يَقُوْلُ: إِنَّ اللهَ طَيِّبِ يُحِبُّ الطَّيِّبَ، نَظِيْفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ،كَرِيْمٌ يُحِبُّ الكَرَمَ، جَوَادٌ يُحِبُّ الجُوْدَ (رواه التّرمذى)
Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, Abu Amir Al-Aqadi menceritakan ke-pada kami, Khalid bin Ilyas menceritakan kepada kami, dari Shalih bin Abi Hassan, ia berkata; Aku mendengar Said bin Al-Musayyab berkata: Sesungguhnya Allah itu baik dan mencintai ke-baikan, bersih dan mencintai kebersihan, mulia dan mencintai kemuliaan, dermawan dan men-cintai kedermawanan.
Secara konsepsi, ajaran Islam identik dengan hidup bersih dan sehat. Seluruh aktifitas hi-dup seorang Muslim, mulai dari bangun tidur hingga tidur lagi dipenuhi oleh tuntunan perilaku hidup bersih dan sehat.
Bersih adalah keadaan atau kondisi orang atau benda tidak bernoda, tidak berbercak, tidak berdebu, dan tidak berbau.
Sehat adalah akibat atau efek yang diperoleh secara langsung dari kebiasaan berperilaku bersih.
Perilaku hidup bersih dan sehat adalah di mana seseorang berada pada kondisi diri, tempat tinggal dan lingkungan yang bebas dari noda, bercak, debu, dan bau tersebut.
Muhammad Rasulullah SAW menyatakan dengan tegas bahwa hidup bersih itu bahagian dari keimanan seseorang Muslim. Artinya, tingkat keimanan seorang Muslim itu dapat dilihat, diukur dan dinilai dari perilaku hidupnya sehari-hari, apakah ia sudah menerapkan perilaku hi-dup bersih dan sehat, atau tidak.
Guna memastikannya, lihat saja penampilan pisik seseorang pada aktifitas kesehariannya:
Apakah giginya digosok setiap hari atau tidak,
Apakah rambutnya dipangkas secara teratur dan disisir rapi atau tidak,
Apakah janggutnya dirapikan atau dibiarkan awut-awutan,
Apakah pakaiannya bersih dan rapi, atau kumal,
Apakah aroma mulut dan tubuhnya segar atau bau,
Apakah tangan dan kakinya selalu tampak bersih dan kuku-kukunya dipotong atau tidak,
Apakah pakaiannya selalu diganti atau jarang,
Apakah rumah, halaman dan lingkungan tempat tinggalnya kelihatan bersih dan segar, bebas dari sampah, debu dan bau atau tidak,
dan lain sebagainya.

Seorang Muslim itu akan selalu terlihat bersih, rapi, dan segar, sehingga penampilannya menjadi menyenangkan, dan enak dipandang mata. Begitu juga dengan rumah dan lingkungan tempat tinggalnya, peralatan yang digunakannya, semua tampak bersih dan sehat.
Bila digambarkan, maka “tampilan seorang muslim itu merupakan perpaduan antara kebersihan, kerapian, dan keindahan”.

Semoga bermanfaat

Bagikan: