Tabedo – Bagian 44
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Di sana, ada Iwan dan Man Keluk. Melihat Vitlan datang, Man Keluk menggeser duduknya memberikan tempat kepadanya. Vitlan mengeluarkan rokok, sembari duduk di sampingnya. Man Keluk mengambil bungkus rokok itu. Di lihatnya di dalam bungkus itu tinggal sebatang, ia mengurungkan niatnya mengambil rokok tersebut.

”Ambiak selah. Ambo masih ado ko” kata Vitlan, sambil mengangkat tangannya yang memegang rokok.

”Mokasih,” kata Man Keluk, sembari menyulutnya. 

”Ka maa rencana waang, satalah tamat ko?” tanyanya.

”Alun tahu lai, Man. Masih pikia-pikia,” jawab Vitlan.

”Jangan lupa, tayang pukul lima sore ini. Sebuah film spy yang dibintangi oleh aktor kawakan, Sean Connery,” teriak Iwan Kribo, melalui megaphone, memberitahu film yang akan main sore dan malam nanti, sambil menirukan suara tembak-tembakan, sebagaimana adegan yang terjadi di dalam film, membuat perbincangan mereka terhenti.

Iwan Kribo meneriakan iklan film-film yang akan tayang, sambil berjalan menyusuri jalan-jalan yang ada di kota Sawah Lunto. Ia sangat mahir, menirukan adegan-adegan yang ada dalam sebuah film. Bila film yang diiklankannya film koboi, ia akan menirukan derap langkah kuda diiringi suara ringkikannya, suara kereta api beserta bunyi pluitnya dan suara tembak-tembakan. Bila film silat, ia akan menirukan adegan silat. Begitu juga bila yang diklankannya film drama, ia akan menirukan suara rayuan, tangisan hingga suara desahan.

”Nonton yok, nanti malam!” ajak Iwan.

”Ayok,” balas keduanya.

”Ajak yang lainlah,” kata Man Keluk.

”Pastilah. Salero kito kan samo,” sela Vitlan.

”Kito nonton film nan terakhir yo,” kata Iwan.

”Sembaranganlah. Film terakhir jadi juo,” balas Vitlan.

” Kalau baitu, aden ikuiklah,” sela Indra.

”Berati lah barampek kito ma. Ambo pulang dulu di,” sambung Iwan, sambil meninggalkan mereka.

”Ambo pulang juolah,” sambung Man Keluk.

”Samolah. Ambo pun pulanglah,” kata Vitlan.

Sampai di rumah.

”Lan, iko ado titipan untuak waang,” sapa bu May, pemilik rumah, dari jendela.

”Mokasih, Buk,” jawab Vitlan setelah menerima titipan itu. Sebuah amplop berwarna kuning kecoklatan, seperti amplop dinas ukuran besar.

Tiba di kamar, Vitlan menghidupkan lampu dan menimbang-nimbang serta membolak-balik amplop tersebut. Ia mereka-reka isinya, karena isinya sedikit agak tebal, dari hanya sekadar surat. Dari bu Tina, gumamnya, setelah membaca nama pengirim. Di sudut kiri bawah amplop, ada tulisan dengan tanda seru digaris bawahi. ”Bukalah setelah kamu sampai di tujuan!!!” Vitlan mengurungkan niatnya untuk segera membuka amplop tersebut, kemudian mema-sukannya ke dalam kopernya.

Dalam hati, ia bertanya-tanya, apalah isinya, kok sampai ada pesan seperti itu. Ingin hatinya, untuk segera ke rumah bu Tina. Tapi niat itu diurungkannya. Sambil makan malam, pikirannya tetap tertuju pada pesan di amplop itu. Vitlan membiarkan piring dan periuk, di tempatnya. Saat itu, tidak ada keinginannya untuk segera mencucinya, sebagaimana biasanya ia lakukan setiap selesai makan.

Ia menyulut sebatang rokok dan mengunci pintu kamar, lalu berjalan ke pasar baru. Di jenjang kelok S, ia berpapasan dengan Armen, yang juga akan ke sana. Vitlan mengeluarkan bungkus rokok dan menawarkannya pada Armen. Ia mengambil sebatang dan menyalakannya dengan puntung rokok Vitlan.

Di depan kedai Indra, sudah berkumpul teman temannya. Ada sekitar sepuluh orang jumlahnya. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan lewat seperempat. Mereka secara beramai-ramai, membantu Indra mengemasi barang dagangan dan menutup kedainya. Setelah itu, mereka bergerak ke bioskop yang hanya berjarak dua bangunan dari tempat itu. Sampai di dalam bioskop, mereka memilih tempat di sebelah depan. Ekstra film yang segera tayang, sudah mulai diputar. Satu dua, penonton masih ada yang masuk.

Film sudah diputar. Mereka ikut mereaksi jalannya cerita. Tiba pada adegan intip-intipan antara anak mudanya dengan bandit, mereka ikut memberi aba-aba, ”awas, di sebelah bela-kangmu” atau ”awas, di balik bangunan” bila banditnya sedang berada di belakang atau di balik dinding. ”Asyiiik,” kata mereka bila melihat adengan percintaan. Begitu juga bila melihat adegan-adegan seru lainnya. Suara mereka, hampir-hampir mengalahkan suara sound bioskop. Penonton lain hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah pola mereka.

Efek dari film yang ditontonnya, membuatnya semakin bertekad untuk menghadapi tantangan yang mungkin akan dihadapinya sendirian di hari-hari, setelah ia mengambil keputusan akan hari depannya. Dalam kesendiriannya malam itu, Vitlan mencoba meneguhkan hatinya, sehingga dapat tidur sambil tersenyum.

Setelah berkemas, ia menemui ibu kosnya untuk pamitan, sembari menyerahkan kunci kamarnya. Kemudian ia melangkahkan kakinya ke stasiun bus di pasar baru. Di sepanjang jalan, Vitlan berpapasan dengan bus dan truk, yang hari itu memadati ruas jalanan ke inti kota. Lebar jalan yang tidak begitu besar, membuat kendaraan berjalan lambat. Tiba di kelok S, Vitlan melihat di jalan sebelah bawah, dari deretan kendaraan itu ada beberapa bus. Satu di antaranya bus ALS. Ia bergegas dengan berlari mendekati bus tersebut dan melambaikan tangan ke stoker yang ada di pintu belakang. Bus segera menepi di seberang jembatan dan stokernya turun.

”Ke mana, Bang?” tanyanya

”Ke mana busnya, Bang?” Vitlan balik bertanya.

”Ke Medan,” katanya.

”Ikut, Bang,” kata Vitlan, terus naik ke atas bus.

”Kok lewat sini busnya, Bang?” tanya Vitlan, setelah duduk di sebelah stoker dan meletakan barangnya di balik sandara tempat duduk, yang biasa digunakan oleh supir untuk istirahat.

”Ada jalan rusak, putus menjelang Solok,” jelas stoker.

”Bang, berapa ongkos ke Medan, Bang,” tanya Vitlan.

”Tiga ribu sembilan ratus,” jawab stoker.

”Uangku cuma ada seribu lapan ratus, Bang,” kata Vitlan, sambil mengeluarkan uang yang ada di kantong celananya.

”Tak ada lagi uangmu, masak segini kau kasih ongkosnya,” kata stoker itu, menatap Vitlan.

”Ia, Bang. Itulah cuma uangku. Nanti kubantu-bantulah, Abang. Aku ingin sekali ke Medan, Bang,” harap Vitlan.

”Ada saudarmu rupanya di sana?” tanya stoker itu, dengan logat Mandailingnya.

”Ndak ada, Bang,” jawab Vitlan.

”Berani kali, kau. Tak ada saudara yang kau tuju,” lanjut stoker itu.

”Beranilah, Bang. Karena ndak saudaralah, makanya aku ingin merantau ke sana. Aku bisa mandiri, dalam mengerjakan apa saja, yang penting bagiku, halal,” jelas Vitlan.

”Hebat kali, kau. Siapa namamu?” tanyanya.

”Vitlan, Bang. Biasa dipangil Alan. Nama abang siapa?” kata Vitlan.

”Panggil saja aku, Sunan atau Unan,” jawabnya.

Bus bergerak meninggalkan Sawah Lunto menuju Batu Sangkar. Ruas jalan yang kecil, membuat bus tidak dapat melaju dengan maksimal. Menjelang tengah hari, bus tiba di sana, kemudian berbelok arah ke Padang Panjang terus ke Bukit Tinggi. Setelah menaikan beberapa penumpang, bus pun langsung meninggalkan Bukit Tinggi.

Keluwesan dalam bergaul disertai kecekatannya dalam bekerja, membantu Sunan mengangkat dan menyusun barang-barang bawaan penumpang, membuat Vitlan langsung dapat simpati dan segera menyatu dengan kru bus. Iapun langsung diajak makan bersama satu meja dengan mereka. Selain makan, Vitlan juga mendapat suguhan kopi dan puding telur setengah masak serta rokok. Suguhan seperti ini, terus didapatkannya setiap kali bus berhenti untuk beristirahat makan dan menunaikan ibadah, disepanjang perjalanan, hingga bus tiba di Medan.

Setelah membantu menurunkan semua barang bawaan penumpang, Vitlan berpamitan kepada bang Samin, bang Sutan dan bang Sunan.

”Makasih ya Bang, sudah memberi tumpangan padaku,” kata Vitlan dengan mata berkaca-kaca menyalami satu persatu dari mereka.

”Sama-sama Lan. Bila kau balik ke Bukit (Bukit Tinggi, red), jumpai kami saja ya,” kata bang Sutan.

”Ini sekadar beli rokok kau,” kata bang Samin, sembari menyelipkan sesuatu ke kantong bajunya.

”Makasih Bang,” katanya, kembali memeluk bang Samin.

 Perlahan Vitlan melangkah meninggalkan stasiun ALS dan berjalan menyusuri jalan Sisingamangaraja yang teduh oleh rindangnya pepohonan yang berada di kanan kiri jalan. ”Benar kata Besra. Medan ini dijuluki Paris van Sumatera,” katanya membatin.

Padanan kata:

Ambiak    = Ambil,     Selah   = Sajalah,        Pikia    = Pikir

bersambung

Bagikan:
Tabedo – Bagian 43
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Bu Tina segera bangkit mendekat ke pintu lalu membukanya. Ia menyongsong bu Lela dan membantu mengangkat barang bawaannya. Vitlan berdiri menyusul ke teras, ikut membantu.

”Selamat ya, Lan. Berhasil masuk kelompok siswa berprestasi,” sapa bu Lela menyalami Vitlan. 

”Makasih, Bu,” balas Vitlan.

”Ibu dengar, dapat prioritas masuk ke Ombilin ya?” tanya bu Lela, lagi.

”Iya Bu.” jawab Vitlan.

”Enaklah ya. Lulus ujian, langsung dapat tawaran kerja,” sambung bu Lela.

”Ya Bu. Tapi Alan masih ingin lenjut kuliah dulu, Bu,” jawab Vitlan.

”Ya, kalau bisa lanjut, bagus lanjut dululah pendidikannya. Nanti dapat kerjanya juga lebih baik,” katanya lagi.

”Teruskanlah ngobrolnya. Ibu masuk dulu,” lanjutnya, sembari beranjak ke bagian dalam rumah.

”Jadi kamu mau kuliah dulu, Lan? Bagaimana dengan tawaran kerja itu?” tanya bu Tina.

”Iyaaalah masak cuma tamat STM. Calonnya saja sarjana,” jawab Vitlan, sambil mengedipkan matanya pada bu Tina, yang membuatnya tersipuh.

”Kamu ingin kuliah di mana?” selidik bu Tina.

”Di mana bagusnya ya? Di Bandung apa di Jogja?” goda Vitlan.

”Jangan jauh-jauhlah Lan. Di Padang sajalah. Kan ada,” rengek bu Tina.

”Jurusan teknik terbaik itu, ada di Jawa,” sambung Vitlan.

”Jadi kamu mau pergi ke Jawa, Lan?” cemas.

”Bagaimana ya?” jawab Vitlan.

”Di Padang sajalah, Lan. Kan ada juganya jurusan teknik di FKIT-IKIP,” kata bu Tina.

”Tapi …” Vitlan belum sempat melanjutkan.

”Jangan tinggalkan akulah, Lan. Di Padang sajalah ya. Aku dapat mengunjungimu sesering mungkin,” kata bu Tina, menjangkau dan menggenggam erat tangan Vitlan.

Vitlan menangkap keseriusan di mata bu Tina. Untuk beberapa saat, ia terpaku di tempat duduknya, tanpa berusaha melepaskan genggaman bu Tina. Bu Tina meremas-remas tangan Vitlan, kemudian  menempelkan ke dadanya. Ia takut sekali, bila Vitlan pergi jauh darinya. Vitlan merasakan gemuruh di telapak tangannya. Kemudian tangannya beralih memegang kedua pipi dan menatap mata Vitlan dalam-dalam. Vitlan membiarkan tangannya dan tangan bu Tina, tetap berada di tempat.

Ia mencoba mencari sesuatu, di bola mata yang mulai berair itu. Ia menangkap keseriusan dan kecemasan yang mendalam di sana. Vitlan berusaha mengusap air mata yang membasah di pipi bu Tina. Bu Tina mengambil tangan itu dan menempelkan ke mulutnya lalu mengecupnya lamat-lamat. Suasana menjadi hening dan sahdu.

Pelan, Vitlan menarik tangannya, kemudian menyadarkan kepalanya di sandaran kursi, sambil menatap langit-langit. Sementara itu, bu Tina beran-jak ke dalam. Beberapa saat berlalu, ia kembali lagi. Ia menghampiri Vitlan dan membelai rambutnya, lalu mengecup keningnya.

Suara adzan maghrib terdengar berkumandang dari radio. Vitlan bangkit dan merapikan pakaiannya, lalu berjalan ke pintu. Bu Tina mengiringi sambil memeluk pinggangnya.

”Lan, jangan tinggalkan ibu ya? Kamu kuliah di Padang saja, di FKIT-IKIP. Kamu dapat jadi guru teknik,” kata bu Tina, melepaskan pelukannya ketika mereka sudah sampai di depan pintu.

”Nanti Alan pikirkan masak-masak, mana yang terbaik,” kata Vitlan, terus melangkah keluar.

”E e, kapan kamu mau pergi?” tanya bu Tina, me-nahan tangannya.

”Lihat dulu, satu dua hari ini,” Lanjut Vitlan, sambil melangkah meninggalkan rumah tersebut.

Vitlan bergegas ke rumah kosnya. Sumarno didapatinya sedang menggosok pakaian.

”Banyak gosokanmu, No?” tanyanya

”Masih ado duo pasang lai,” jawab Sumarno.

”Jaan dimatikan, yo. Ambo mau menggosok pulo. Sabanta, ambo mandi dulu,” kata Vitlan, terus mengambil handuk dan bergegas ke sumur.

Selesai shalat maghrib, ia bawa gosokan itu keluar, guna membuang abunya dan me-nambahkan sedikit arang tempurung. Dengan menggunakan buku tulis, ia kipas-kipas arang tempurung itu, hingga menyala. lalu dengan menggunakan batang besi kecil, yang satu ujungnya dibengkokan, sebagai pegangan, ia ratakan sebaran bara yang berada di dalam gosokan tersebut, agar panas yang ditimbulkannya jadi merata, di dasar gosokan.

Satu jam kemudian, seluruh pakaiannya sudah siap digosok dan dimasukan ke dalam koper. Vitlan melayangkan pandangannya ke sekeliling kamar, mencari kalau-kalau masih ada yang belum dimasukan. Semua sudah masuk dan tidak ada yang tertinggal sama sekali. Ia menyulut sebatang kreteknya dan duduk lega di atas difan, selesai shalat Isya, ia keluar ke pasar Baru, cari makan malam dan  ngumpul di tempat biasa teman-temannya nongkrong, di depan kedai Indra.

Di sana, sudah berkumpul: Gedek, Bahrum, Gito, Ical, Anto, Armen dan lainnya.

”Hai Lan,” sapa mereka serentak.

”Hai juga,” jawab Vitlan, sambil menghenyakan pantatnya di bangku kayu.

”Selamatlah Lan, tamat sekolah langsuang dapek karajo,” kata Gedek memulai percakapan.

”Selamatlah ya Lan,” kata Anto, Armen, Indra dan Ison.

”Dapek karajo di maa, Lan?” tanya Indra

”Si Alan ko, masuak 5 besar siswa terbaik STM. Dapek tawaran dari Ombilin, untuak bakarajo di sinan,” kata Bahrum.

”Oi mak. Baruntuang bana waang yo Lan. Salamat-lah sakali lai,” kata Anto dan Armen, bangkit mengulurkan tangan mereka.

”Bilo acara selamatannyo, Lan?” sambung Indra.

”Alun lai. Ambo masih pikia-pikia,” jawab Vitlan, menyambut uluran tangan kedua temannya itu.

”Apo juo ka dipikiakan lai,” sela Indra lagi.

”Ambo dimintak urang gaek jo uda ambo untuak kuliah dulu. Soal karajo, urusan mereka mancarikannyo,” jelas Vitlan.

”Di maa kuliahnyo, Lan?” timpal Indra.

”Uda ambo mintak di Jakarta,” jawab Vitlan.

”Lamak bana, hiduik waang, Lan. Bilo ka sinan?” lanjut Indra.

”Alun tantu lai, Ndra. Caliak babarapo hari ka muko ko dulu,” jawab Vitlan.

.

Selesai ngobrol ngalar ngidul ke sana ke mari, bersamaan pula dengan usainya bioskop, mereka ikut membubarkan diri dan kembali ke rumah masing-masing. Di ujung jembatan, Gedek dan Bahrum memisahkan diri. Vitlan dan Indra berjalan beriringan berdua, menuju tempat tinggal mereka di Kubang Sirakuak.

Tiba di kamar, setelah berganti pakaian, Vitlan membaringkan tubuhnya di dipan. Ia menyulut kreteknya yang masih panjang. Pikirannya mengembara dari, tawaran kerja, kuliah, bu Tina dan Emi yang pergi meninggalkannya begitu saja. Lain dari itu, ia ingin pergi sejauh-jauhnya dari keluarganya. Vitlan menyalakan ji sam soenya sebatang lagi. Malam semakin larut. Pikirannya pun larut dalam kebingungan dan angan-angan. Ia tak ingin kekecewaan, sakit hati, dendam menumpuk di dalam dada dan kepalanya. Vitlan ingin membawa kegalauan hati dan derita jiwanya, sejauh-jauhnya ke satu tempat di mana ia dapat mengubur semuanya dan mulai membangun kehidupan baru.

Dalam kelelahan jiwa, raga dan pikiran, akhirnya Vitlan terkulai tidur dengan puntung rokok masih menempel di sela jarinya. Ia baru terbangun, tatkala pintu kamarnya digedor-gedor dari luar, dan namanya dipanggil-panggil. Ia segera bangun menuju pintu lalu membukanya.

”Masuk, Bes. sebentar ya,” katanya beranjak ke kamar mandi.

”Apa yang kau kerjakan tadi malam, makanya jam segini baru bangun, kau?” tanya Besra, teman sekelasnya.

”Tak ada. Cuma mataku yang tidak mau tidur, tadi malam,” jawab Vitlan, sambil duduk bersandar ke dinding di atas difan.

”Apa yang kau pikirkan rupanya?” tanyanya lagi dengan logat Bataknya.

”Tak ada. Cuma bingung saja,” jawab Vitlan.

”Apa rupanya yang kau bingungkan. Tamat sekolah pekerjaan sudah menunggu. Apalagi,” tandas Besra.

”Itulah masalahnya, Bes. Aku masih ingin kuliah. Cuma aku bingung, mau kuliah di mana. Mama, kakak dan udaku, nyuruh aku kuliah di Jakarta. Sementara aku ndak ingin dekat dengan saudara. Aku ingin mandiri, jauh dari keluarga, sehingga aku bebas melakukan apa saja, sesuai kemauanku,” jelas Vitlan.

”Kalau di Padang, tidak uji kau kuliah?” tanya Besra.

”Di Padang lagi. Sedang di Jakarta saja aku ndak mau. Lagi pula, jurusan teknik Cuma ada di IKIP,” bela Vitlan.

”Kalau begitu, kau kuliah di Medan saja. Di sana ada USU dan ITS. Satu negeri satu swasta,” kata Besra.

(Vitlan tercenung, kemudian manggut-manggut) ”Betul juga yang kau katakan itu, Bes. Medan ya. Di sana ndak ada saudaraku, memang. Aku pernah ingin ke sana,” kata Vitlan.

”Medan itu, kotanya indah, jalan-jalan utamanya dipenuhi pohon rindang, sejuk, sampai di gelar Paris van Sumatera,” papar Besra.

”Kau pernah tinggal di Medan rupanya?” tanya Vitlan.

”Aku tinggal di Tarutungnya. Cuma aku pernah ke sana beberapa kali,” bela Besra.

”Kau sendiri, selesai dari sini, ke mana?” tanya Vitlan.

”Tergantung ito akulah. Ke Medan katanya, ke Medan aku. Di sini katanya, di sini aku,” jawab Besra.

”Kok gitu katamu,” tanya Vitlan.

”Iyalah. Aku ke sini kan dibawa itoku.. jadi ke mana ia pergi, ke situ pula aku,” jelas Besra.

”Ooo, gitu,” kata Vitlan.

”Sudah ya, Lan. Aku permisi dulu,” kata Besra mohon diri.

”Mau ke mana kau, Bes?” tanya Vitlan.

”Mau ke pasar dulu. Ya Lan, kalau jadi ke Medan kasih tahu aku ya?” kata Besra, sambil berlalu.

:Baik, nanti kukabari,” jawab Vitlan, melambaikan tangan.

Sepeninggal Besra, Vitlan berandai-andai sendirian. Andai kuliah di Jakarta, banyak saudara dan kerabat. Ndak bisa bebas. Andai kuliah di Padang, dekat dengan kampung dan keluarga, juga ndak bebas. Bekerja di Ombilin dan kawin dengan bu Ti-na. Punya keluarga, punya anak dan jaminan hidup. Tapi ndak mungkin dapat restu dari orang tua. ”Aku harus pergi jauh dan menghapus masa laluku,” katanya membatin. Medan, ya Medan. Satu-satunya tujuan untuk menghindari semuanya.

Vitlan tersenyum, telah mendapat jalan keluar, untuk masa depannya. Ia melirik kompor dan memeriksa minyaknya, ada. Ia segera memasak nasi sekenanya, karena temannya, Sumarno telah pulang ke kampung tadi pagi. Siap masak nasi, Vitlan pergi ke pasar baru untuk membeli lauk.

Siang itu, Vitlan dengan lahap. Nasi yang ia masak untuk dua kali makan, hampir habis disantapnya. Selesai makan, ia pantik sebatang rokok dan keluar duduk di bangku di bawah rambutan di halaman rumah induk. Sebatang habis lalu disambung dengan batang kedua. Hembusan angin sepoi-sepoi, membuatnya beberapa kali menguap. Tak tahan diserang kantuk, Vitlan beranjak ke kamar dan merebahkan badannya di atas dipan. Sebentar kemudian, ia langsung tertidur dengan lelapnya.

Suasana gerah di dalam kamar, membuat Vitlan terbangun. Ia lantas mencuci muka ke sumur, kemudian mengganti baju dengan kaos katun putih bertuliskan Levi’s. Melalui jalan belakang rumah yang teduh oleh rerimbunan pohon, Vitlan melangkahkan kakinya ke pasar baru. Di atas jembatan di sisi rel kereta api, ia berhenti memandangi jernihnya air sungai Lunto, mengalir membelah kota. Beberapa ikan kecil, terlihat dengan jelas, berenang di dalam air. Ia terus berjalan menuruni tangga, masuk ke dalam pasar yang kosong karena telah usai. Deretan kios tertutup satu persatu dilewatinya, hingga kemudian sampai di depan kios Indra.

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (40)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

MENJAGA KESEHATAN DIRI

Jarak/rentang antara satu shalat dengan shalat lainnya berbeda-beda. Bila diperhatikan de-ngan seksama, jarak/rentang waktu shalat dari Shubuh hingga Isya, maka terlihat rentang waktu antara masing-masing shalat tersebut semakin mengecil.

Jarak antara shalat Shubuh dengan shalat Zhuhur begitu panjang, lebih dari 7 jam. Jarak antara shalat Zhuhur dengan shalat Ashar menurun drastis menjadi sekitar 3 jam saja. Jarak anta-ra shalat Ashar dengan shalat Maghrib lebih pendek lagi menjadi sekitar 2,5 jam, sementara jarak antara shalat Maghrib dengan shalat Isya hanya 1 jam lebih sedikit saja.

Jumlah rakaat masing-masing shalat dari 5 shalat wajib berbeda-beda antara satu dengan lainnya. Shalat Subuh memiliki 2 rakaat, shalat Zhuhur 4 rakaat, shalat Ashar 4 rakaat, shalat Maghrib 3 rakaat, dan shalat Isya 4 rakaat. begitu juga shalat sunat rawatib yang mengiringi masing-masing shalat wajib. Sunat Subuh 2 rakaat sebelumnya, sunat Zhuhur 4 rakaat, 2 rakaat sebelum dan 2 rakaat sesudahnya, sunat  Ashar tidak ada, sunat Maghrib 2 rakaat sesudahnya, dan sunat Isya 2 rakaat sesudahnya. 

عَنْ عائشة رضي الله عنهاقَلَتْ، كَانَ أَوَّلَ مَا افْتُرِضَ عَلَى رَسُوْلُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَلصّلاَةُ رَكْعَتَانِ رَمْعَتَانِ إَلاَّ المَغْرِبَ فَإِنَّهَا كَانَتْ ثَلاَثًا ثُمَّ أَتَمَّ اللهُ الظُّهْرَ وَالعَصْرَ وَلعِشَاءَ الأَخِرَةَ أَرْبَعًا فِى الحَضَرِ وَأَقَرَّ الصَّلاَةَ عَلَى فَرْضِهَا الأَوَّلِ فِى السَّفَرِ (رواه أحمد وإبن حبّان و بيهقى وإبن هزيمة)

Dari Aisyah r.a. katanya: Dulu awal diwajibkannya ibadah shalat kepada Rasulullah SAW adalah dua rakaat dua rakaat (di Makkah), kecuali shalat Maghrib dari dulu tiga rakaat. Lalu Allah sempurnakan shalat Zhuhur, Ashar dan Isya yang terakhir menjadi empat rakaat pada saat hadir di tempat (muqim) dan menetapkan shalat wajib di awal pada saat safar.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: حَفِظْتُ رَسُوْلُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرَ رَكَعَاتٍ؛ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الظُّهْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَهَا وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ المَغْرِبِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ العِشَاءِ وَرَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الصُّبْحِ (متّفق عليه)

Dari Ibnu Umar r.a. katanya: Aku hafal dari Rasulullah SAW 10 rakaat (shalat sunnat) yaitu: 2 rakaat sebelum shalat Zhuhur dan dua rakaat sesudahnya, dua rakaat sesudah shalat Maghrib, dua rakaat sesudah shalat Isya dan dua rakaat sebelum shalat Shubuh.

Rentang waktu antara shalat Subuh dengan shalat Zhuhur adalah 7 jam 22 menit, dan ren-tang waktu antara shalat Zhuhur dengan shalat Isya adalah 7 jam 13 menit. Sementara jumlah ra-kaat shalat antara dua rentang waktu tersebut jauh berbeda. Dari waktu Shubuh hingga menje-lang masuk waktu Zhuhur hanya ada 2 rakaat shalat Shubuh, sementara dari waktu Zhuhur ke waktu Isya ada 15 rakaat shalat yang terdiri dari 4 rakaat shalat  Zhuhur + 4 rakaat shalat Ashar + 3 rakaat shalat Maghrib + 4 rakaat shalat Isya. Bila ditambahkan dengan shalat sunat rawatib, maka jumlah rakaat shalat dari waktu Shubuh hingga menjelang masuk waktu Zhuhur menjadi 2 rakaat sunat sebelum Subuh + 2 rakaat Subuh = 4 rakaat. Jumlah rakaat shalat dari Zhuhur hing-ga Isya menjadi (2 rakaat sunat sebelum Zhuhur + 4 rakaat Zhuhur + 2 rakaat sunat sesudah Zhu-hur) + 4 rakaat Ashar + (3 rakaat Maghrib + 2 rakaat sunat sesudah Maghrib) + (4 rakaat Isya + 2 rakaat sunat sesudah Isya) = 25 rakaat.

Hubungan Rentang Waktu dan Jumlah Rakaat Shalat Dengan Kebugaran Tubuh

Gerakan-gerakan shalat itu terdiri dari:

  • Gerakan tubuh yang dilakukan ketika berdiri, rukuk, berdiri bangkit dari rukuk (I’tidal) su-jud, duduk antara dua sujud, sujud, kemudian dilanjutkan dengan berdiri atau duduk tahyat.
  • Gerakan tangan yang yang dilakukan ketika mengangkat tangan tatkala takbiratul ikram dan takbir-takbir yang mengantarai perpindahan posisi rukun-rukun shalat, melipat tangan waktu berdiri,  meletakkan tangan (bertelekan) di lutut waktu rukuk, meletakkan tangan (bertele-kan) waktu sujud, posisi tangan waktu duduk antara dua sujud dan tahyat.
  • Gerakan kepala yang dilakukan ketika mengggerakkan kepala ketika rukuk, sujud dan ber-paling ke kanan dan ke kiri ketika salam.

Gerakan-gerakan yang bersifat fisikal di atas memiliki empat makna penting bagi bagi kesehatan pisik, psikis/mental dan kerja otak, yakni:

  1. Gerakan-gerakan pisik yang terjadi selama shalat berlangsung, merupakan gerakan senam  yang memberikan rangsangan terhadap otot, urat dan syaraf  di seluruh rubuh.

Gerakan mengangkat tangan ketika takbiratul ikram dan takbir-takbir perpindahan rukun shalat, memberikan efek terhadap urat, otot dan syaraf yang berada di tangan dan di sekitar bagian atas tubuh seperti rusuk, dada dan bahu.

Gerakan tubuh ketika rukuk memberikan efek kepada urat, otot dan syaraf yang terdapat di seluruh tubuh, terutama bagian belakang kepala, tengkuk, punggung, pinggang sampai ke tumit.

Gerakan tubuh ketika sujud, memberikan efek terhadap urat, otot dan syaraf yang terdapat di kepala, tangan, pinggang dan pinggul, lutut, telapak kaki dan ujung jari-jari kaki.

Gerakan tubuh ketika duduk antara dua sujud dan duduk tahyat, memberikan efek terhadap urat, otot dan syaraf yang terdapat di pinggang dan pinggul, paha, betis, telapak dan pung-gung kaki, pergelangan dan ujung-ujung jari kaki.

  • Gerakan pisik yang dilakukan pada saat shalat, akan dipengaruhi oleh dan memberikan efek bagi ketenangan jiwa yang melaksanakannya. Ketenangan jiwa/batin, akan menuntun gerakan-gerakan shalat menjadi terarah, terkontrol dan teratur dengan baik (khusuk). semen-tara kegalauan jiwa/batin, akan membuat gerakan-gerakan shalat menjadi kacau dan tidak terarah. Oleh karena itu shalat yang baik (khusuk) dan memberikan efek positif, haruslah di-bangun di atas ketenangan jiwa/batin. Shalat yang dilaksanakan secara terburu-buru, tidak akan memberikan hasil selain sekadar penunaian kewajiban belaka.
  • Kesiapan jiwa/batin guna melaksanakan shalat, tidak saja akan menuntun gerakan-gerakan terarah, teratur dan terkontrol, tapi juga akan melahirkan konsentrasi pada setiap ucapan yang keluar dari mulut orang yang melaksanakan shalat, sehingga dengan demikian shalat yang dilaksanakan tersebut benar-benar bisa dinikmati dan memberikan kenikamatan tersen-diri bagi yang melaksanakannya.
  • Gerakan-gerakan shalat akan menjamin kestabilan peredaran dalam tubuh, terutama peredar-an darah dan oksigen ke otak. Darah akan mengalir secara alami ke otak pada dua kondisi yakni:

Pertama: ketika rukuk, dimana pada saat itu posisi otak sejajar dengan posisi jantung yang membuat darah dengan mudah dapat mengalir dari jantung ke kepala (otak).

Kedua:  ketika sujud, dimana pada saat itu posisi kepala berada lebih rendah dari posisi jan-tung, yang membuat darah dan oksigen akan mengalir dengan cepat ke kepala (otak).

  • Efek tambahan yang diterima tubuh ketika shalat adalah aktifnya seluruh sel dan syaraf tu-buh ketika seseorang mengeraskan bacaan shalatnya, sehingga membuat tubuhnya menjadi panas dan mengeluarkan keringat. Kondisi panas dan berkeringat ini membuat seseorang merasa menjadi bugar.

Rentang waktu antara shalat Shubuh dengan shalat Isya  secara umum digunakan oleh ma-syarakat untuk bekerja (waktu kerja). Sedangkan waktu setelah shalat Isya hingga menjelang shubuh secara umum digunakan untuk beristirahat dan tidur. Meski tidak sedikit orang yang menggunakannya untuk bekerja.

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاساً وَالنَّوْمَ سُبَاتاً وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُوراً (الفرقان:٤٧)

Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. (QS.25:47)

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُواْ فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِراً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ (يونس:٦٧)

Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (men-jadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar (QS.10:67)

Begitu selesai shalat Shubuh, saat berikutnya pagi menjelang dan aktifitas hidup sehari-haripun dimulai. Matahari terbit, suasana perlahan mulai menghangat, kemudian meningkat menjadi panas, hingga mencapai teriknya kira-kira pada pukul tiga siang. Kemudian secara per-lahan suhu panas itu turun.

Seiring naiknya suhu pada siang hari, maka sebaliknya terjadi penurunan kondisi kebugar-an pada tubuh manusia, yang tidak saja disebabkan oleh naiknya suhu lingkungan tersebut, akan tetapi juga disebabkan oleh faktor lain seperti; beban kerja, kelelahan dan lain sebagainya.

Semakin siang, semakin menurun pula kondisi kebugaran tubuh manusia, terutama setelah lewat tengah hari sampai menjelang sore. Kondisi ini tentu saja membuat kinerja dan tingkat produktifitas seseorang menjadi menurun pula. Untuk membantu mengembalikan kebugaran tersebut, diperlukan aktifitas yang bersifat relaksasi.

Jawabannya adalah shalat. Berhenti sejenak dari rutinitas kegiatan sehari-hari, setelah be-kerja sekitar 4 sampai 5 jam, dari pagi hingga tengah hari. menciptakan rasa sejuk pada beberapa bagian penting tubuh dengan berwudhuk, kemudian tegak mengatur dan menenangkan jiwa, lalu berkonsentrasi, dan seterusnya melantunkan bacaan-bacaan shalat yang diiringi gerakan-gerakan tubuh, akan membuat tubuh menjadi bugar kembali.

Gerakan-gerakan rukuk dan sujud yang dilakukan berulang-ulang, tentu saja akan membu-at peredaran dan pergantian darah ke otak akan berjalan secara alami. Gerakan-gerakan rukuk dan sujud ini secara sistematis akan membantu menguruangi kerja jantung dalam memompakan darah dan oksigen ke otak, karena pada saat rukuk posisi jantung sejajar dengan otak. Sementara pada waktu sujud posisi jantung lebih tinggi dari posisi otak.

Perlu diketahui bahwa, hidupnya tubuh manusia itu semata-mata dikendalikan oleh darah dan organ tubuh yang yang paling banyak membutuhkan darah itu adalah otak.

إِنَّ فِى الجّسَدِ مُضْغَةِ، فَـإِذَا صَلَحَتْ صَلَحَتِ الجّسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَتِ الجَسدُ كُلُّهُ، أَلَى وَهِيَ قَلْيٌ (متّفق عليه)

Sesungguhnya pada tubuh manusia itu ada segumpal darah. Apabila darah itu baik, maka baiklah seluruh tubuh itu, dan apabila darah itu kotor/buruk, maka kotar/buruk pulah seluruh tubuh itu. Segumpal darah itu adalah hati.

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 42
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Teriakan piket melalui megaphone, membuat mereka terbangun. Petugas memberi aba-aba agar segera mandi dan berkemas. Pukul setengah enam sore, semua siswa sudah siap dan berbaris di lapangan. Vitlan melakukan absensi dan dua orang di antara mereka tidak hadir. Ketua kelompok melaporkan bahwa kedua siswa tersebut, beristirahat karena mengalami sakit kepala dan mimisan.

Selesai makan malam bersama, acara dilanjutkan dengan malam Temu Pisah. Masing-masing perwakilan sekolah mengharapkan aga pertemuan ini tidak hanya sampai di sini. Akan tetapi senantiasa berlanjut di masa-masa yang akan datang. Persabatan antara kedua sekolah, diharapkan semakin kuat dan dan berkembang pada kegiatan-kegiatan lain.

Setelah acara formal, malam temu pisah dilanjutkan dengan acara hiburan, yang dibuka dengan penampilan vocal group tuan rumah. Dua lagu (Bila Hari Telah Senja & Aiga) mereka bawakan dengan apik, dilanjutkan dengan sebuah puisi. Tak kalah dengan tuan rumah, tamu pun tampil dengan vocal groupnya, membawakan lagu Koes Plus, Angin Laut & Kapan Kapan. Penampilan mereka dilengkapi oleh Vitlan dengan iringan gitar akustik oleh seorang siswa tuan rumah membacakan sebuah puisi yang berjudul:

Datang dan Berlalu

Fajar muncul di ufuk timur

Membawa kehangatan dan harapan

Rumput dan dedaunan menampakkan keceriaan alami

Di terang pagi.

Kehangatan masih terasa seiring meningginya sang mentari.

Namun …

Tanpa diduga dan dinyana

Senyum dan tawa, hilang seketika

Tatkala mendung datang, tiba-tiba

Ditiup angin tiada sebab kerana

Diri terhuyung dan terhempas ke bumi (sambil menjatuhkan diri)

Nanar tidak berdaya

dan …

Semua menjadi sepi.

Melihat kejadian tak diduga itu, sebagian penonton ada yang menjerit dan ada pula yang membelalakkan mata sembari menutup mulut. Vitlan bangkit membungkuk memberi peng-hormatan kemudian kembali ke tempat semula.

Penampilan mereka berdua yang aktraktif tersebut, tak pelak mendapat aplus yang meriah seluruh  penonton. Tepuk tangan dan suitan, menambah kemeriahan malam temu pisah tersebut. Tiba-tiba, secara spontan, beberapa orang siswa, bangkit dan menyongsong mereka ke depan panggung, guna menyalami mereka berdua. Melihat suasana tersebut, siswa yang lain ikut bangkit memberikan ucapan selamat.

Acara ditutup pukul 11.00 malam dan selanjutnya, mereka menghabiskan malam itu hingga setengah satu dini hari dengan mengobrol, berkelompok. Suasana acara bebas ini, tambah hangat dengan datang panitia konsumsi membagikan gorengan (ubi kayu, ubi rambat, sukun dan pisang kepok) serta teh dan kopi manis panas.

Pagi harinya, setelah selesai sarapan pagi bersama, rombongan studi wisata STM Sawah Lunto, dilepas oleh wakil kepala sekolah  STM negeri Payakumbuah. Selesai bersalaman, mereka menuju ke Kapalo Banda Taram, terus ke Lembah Harau hingga tengah hari.

Selepas makan siang dan shalat jamak qasar, Zuhur dan Ashar, rombongan meninggalkan lokasi, untuk seterusnya kembali ke Sawah Lunto. Menjelang maghrib, rombongan tiba di halaman sekolah mereka. Mereka langsung membubarkan diri, kembali ke rumah masing-masing. Rasa puas dan bahagia, terpancar dari wajah mereka.

Vitlan, Sumarni, Bahrum dan Siswo, pulang belakangan, setelah semua siswa pulang. Mereka jalan beriringan dengan bu Tina dan bu Lela. Selain memanggul tas kainnya, Vitlan juga menjinjing tas bu Tina. Sementara Sumarno membantu membawakan tas bu Lela. Mereka mampir ke rumah kedua guru pembina OSIS tersebut. yang memang tinggal di tempat yang sama, untuk menyinggahkan barang bawaan mereka berdua. kemudian  melanjutkan langkah mereka ke rumah masing-masing.

Tiba di tempat kos, Vitlan langsung mengeluarkan handuk, dari ranselnya dan segera ke sumur untuk mandi. Selesai bersalin, ia menyulut sebatang Ji Sam Soe lalu merebahkan tubuhnya di difan. Tak berapa lama antaranya, ia langsung tertidur pulas. Sementara puntung kreteknya, jatuh ke samping dipan dalam keadaan sudah tidak menyala lagi.

Kondisi serupa dialami Sumarno. Ia bahkan tidak sempat mandi, karena begitu sampai di kamar kos dan menunggu Vitlan mandi, ia merebahkan badannya di atas tikar yang dibentangkannya, di lantai dan langsung tertidur dengan handuk masih melingkar di pinggangnya. Melihat temannya itu tertidur pulas, Vitlan tidak sampai hati untuk membangun-kannya dan membiarkannya terus tertidur.

Lewat tengah malam, Vitlan terbangun. Ia menggeliatkan badannya ke kanan dan ke kiri, kemudian duduk di tepi dipan. Sumarno masih tergeletak di tikar. Vitlan menggeser badannya secara pelan, agar tidak menyentuh tubuh temannya itu. Ia meraih tasnya dan mengambil bungkusan dari koran pemberian bu Tina dan membukanya.

Tiga kotak karton kecil dikemas dengan rapi, masing-masing dibungkus kertas kado. Vitlan membuka satu persatu. ”Waouw” gumamnya setelah melihat isinya. Satu kotak, kacang tojin, satu kotak kue bawang dan satu kotak lagi berisi kue bunga durian. Vitlan meraih muk air minum dari atas meja belajar dan meneguk beberapa teguk.

Satu persatu makanan itu dicobanya. Kemudian mengutip sisa rokoknya dari lantai dan menyalakannya. Sembari kue dan kacang tojin, asap rokoknya mengepul ke udara dan pecah di langit-langit kamar. Tangan kanannya tak henti-hentinya bergerak ke kotak makanan dan ke mulutnya. Sementara tangan kirinya asyik mempermainkan rokok.

Sebatang rokok habis diisapnya, Vitlan meneguk beberapa teguk air, kemudian menutup kotak makanan dan merebahkan badannya kembali di atas difan dan tidur lagi sampai pagi. Ia baru terbangun menjelang pukul delapan. Itupun setelah dibangunkan Sumarno.

#####

Saat ujian akhir sekolah sudah mendekat. Setiap siswa mesti melengkapi syarat administratif sekolah agar dapat mengikutinya.Vitlan mesti berangkat ke kota Padang guna menggandakan salinan ijazah dengan memfotocopinya. Karena pada saat itu, layanan fotocopi baru ada tersedia di sana.

Pagi-pagi sekali, ia bergegas menuju terminal di pasar baru guna membeli tiket bus. Kira-kira pukul 10, ia tiba di Padang dan segera mencari tempat fotocopi sebagaimana arahan guru di sekolah. Seperempat jam kemudian, proses penggandaan ijazah selesai. Vitlan kembali ke Sawah Lunto dan keesokan harinya langsung menyerakan berkas kelengkapan tersebut, ke tata usaha sekolah.

  Hasil ujian akhir sekolah Vitlan, cukup bagus, dengan nilai rata-rata, 76 (tujuh puluh enam). Namun yang membesarkan hatinya adalah hasil ujian prakteknya, sangat memuaskan. Karena itu, ia langsung ditawari untuk bekerja di Ombilin (PN. Tambang Batubara Ombilin). Vitlan menolak tawaran tersebut, karena ingin melanjutkan sekolahnya ke jenjang yang lebih tinggi.

Sepekan kemudian, Vitlan menerima ijazah, sebagai bukti telah menematkan sekolahnya dengan baik. Ia segera berkemas untuk segera meninggalkan kota itu. Sore itu, ia datang ke rumah bu Tina, untuk pamitan. Bu Tina segera menggamit tangannya dan membawanya duduk berdampingan di kursi tamu.

”Kamu mau dibuatkan kopi apa teh manis, Lan?” sapa bu Tina.

”Kopi manis saja,” jawab Vitlan.

Bu Tina beranjak ke belakang. Sejenak kemudian, ia kembali ke depan dengan secangkir kopi panas dan duduk di samping Vitlan. Vitlan menuangkan kopi manisnya ke alas cangkir dan menyerumputnya pelan-pelan.

”Lan, kapan kamu akan melamarku?” kata bu Tina, kembali meraih lengan Vitlan dan mempererat pelukannya..

Mendapat pertanyaan tak terduga tersebut, Vitlan merubah posisi duduknya menghadap bu Tina. Ia menatapnya, kemudian kembali ke posisi se-mula. Tapi bu Tina malah merangkul kepala Vitlan ke dalam dekapannya. Hawa panas tubuhnya, membakar  seluruh tubuh dan menerjang-nerjang kelelakian Vitlan. Ia mengangkat wajahnya berhadapan dengan wajah bu Tina. Bu Tina merapatkan mulutnya ke mulut Vitlan. Ia melumat bibir Vitlan dengan penuh gairah dan Vitlan mencoba mengimbanginya.

Beberapa saat mereka bergumul dalam kemesraan badani. Kejantanan Vitlan meronta-ronta, mengeras seperti sebatang besi yang siap menembus celananya. Gejolak asmara badani itu, semakin memuncak dan akhirnya membuat bagian dalam celana Vitlan basah oleh cairan kelelakiannya. Pelan-pelan bu Tina melepaskan pelukannya, begitu mendengar bunyi derit pintu pagar besi halaman dibuka orang.

Vitlan bangkit kembali ke tempat duduknya semula. Ia meraih gelas kopi manis yang sudah mulai dingin, lalu menghirupnya sedeguk, lalu merapikan rambutnya yang sempat acak-acakan.

Bu Tina segera bangkit mendekat ke pintu lalu membukanya. Ia menyongsong bu Lela dan membantu mengangkat barang bawaannya. Vitlan berdiri menyusul ke teras, ikut membantu.

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (39)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

MENJAGA KESEHATAN DIRI

Shalat

Shalat adalah salah satu ibadah khusus dari beberapa ibadah khusus yang terdapat dalam sistim peribadat-an Islam. Ibadah shalat adalah perpaduan antara gerak pisik, psikis/kejiwaan, dan pikiran manusia.

Gerakan pisik adalah gerakan yang menggunakan pisik/tubuh yang terdiri dari gerakan tu-buh, gerakan tangan dan jari, gerakan kepala, dan gerakan kaki.

Aktifitas psikis adalah ikut sertanya kejiwaan secara menyeluruh dalam setiap gerakan pi-sik dan bacaan shalat. Keikutsertaan kejiwaan ini akan menentukan tingkat kekhusukan/keserius-an seseorang dalam melaksanakan shalatnya.

Pikiran adalah proses berpikir yang mengiring setiap bacaan, pemilihan surah dan ayat yang akan dibaca dan gerakan shalat.

Aktifitas Keseharian Manusia

Secara teori, pada umumnya manusia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berkerja dan beraktifitas pada waktu siang hari. Meskipun begitu banyak juga yang bekerja dan berakti-vitas pada malam hari. Rentang waktu yang digunakan oleh manusia untuk bekerja dan berakti-vitas adalah sepanjang siang hari, hingga datangnya malam.  

Menurut konsep Islam, secara teoritis tersedia 17 (tujuh belas) jam setiap hari untuk berak-tivitas bagi manusia. Waktu sebanyak itu dapat digunakan untuk berbagai keperluan seperti; me-menuhi kebutuhan diri dan keluarga, mengurus rumah tangga, mengasuh anak, mencari ilmu, meningkatkan kapasitas intelektual dan keterampilan diri, serta melakukan kegiatan sosial kema-syarakatan,

Berbagai macam dan jenis aktifitas dan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya.  Petani dengan kegiatan mencangkul, menanam, menyiang, memupuk sampai mama-nen di sawah dan ladangnya. Nelayan mendayung, mengail, menjaring, sampai menyortir dan menjual tangkapannya di sungai, danau dan laut. Saudagar menawar, memilih, membeli sampai menjual barang dagangannya di pasar, sampai mencari pelanggan sebanyak mungkin.   Atlit de-ngan berbagai aktifitas olahraga, seperti: lari, senam, jalan cepat, marathon, berenang, dasa lom-ba,  dan permainan (bulutangkis, sepakbola, basket, tenis meja, bola volli, sepak takraw, terjun payung, dan sebagainya).

Pegawai dengan pekerjaan mengetik, manandatangani, mengarsipkan surat, mengola data, mengadakan pertemuan, dan lain-lain. Guru dan dosen, menysiapkan bahan ajar, mengajar, membuat soal, mengadakan tes dan ujian, memeriksa hasil ujian, mengevaluasi dan lain-lain. Tukang dengan pekerjaan menggergaji, mengetam, memahat, mamaku, menyemen, mengecor, memasang tiang, memasang atap dan lantai, membuat pagar dan lain-lain. Montir dengan peker-jaan membuka dan mengunci, mengelas, membubut, menyolder, mengetes dan lain-lain.

Dokter dan Perawat dengan pekerjaan memeriksa dan mendiagnosa, membersihkan dan memasang perban, menyuntik, mengoperasi dan lain-lain.

Polisi dengan pekerjaan mengayomi rakyat, menangkap dan menginterogasi pemjahat, me-nahan dan memberikan rasa aman kepada masyarakat. Serdadu dengan pekerjaan berlatih, men-jaga dan membela Negara, berperang, melakukan pengintaian dan intelijen, memasang ranjau, menerbangkan pesawat tempur, memimpin armada perang dan lain-lain. Dan masih banyak pekerjaan lain dengan segala tetek bengek yang menyertainya.   

وَهُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِبَاساً وَالنَّوْمَ سُبَاتاً وَجَعَلَ النَّهَارَ نُشُوراً (الفرقان:٤٧)

Dialah yang menjadikan untukmu malam (sebagai) pakaian, dan tidur untuk istirahat, dan Dia menjadikan siang untuk bangun berusaha. (QS.25:47)

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُواْ فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِراً إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَسْمَعُونَ (يونس:٦٧)

Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (men-jadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar (QS.10:67)

Peningkatan Suhu Udara dan Menurunnya Tingkat Kebugaran Tubuh

Sejak seseorang bangun menjelang waktu Shubuh atau pagi hari dan mulai melakukan ak-tifitas hariannya, hingga berhenti  diwaktu sore hari, maka ada empat hal terjadi secara beriring-an yakni:

  1. Naiknya suhu udara

Dari Shubuh hingga matahari terbit, suhu udara boleh dikatakan masih stabil. Namun ketika matahari mulai merangka naik, suhu udarapun ikut merangkat naik, hingga mencapai puncak suhu di siang hari sekitar pukul 3 sore. Kemudian suhu udara tersebut perlahan mu-lai menurun kembali seiring merendahnya matahari ke ufuk barat dan kemudian tenggelam. Kehangatan suhu udara masih terasa hingga saat mega merah di langit menghilang. Seterus-nya terus turun hingga mencapai suhu terendah pada dini hari (sekitar pukul tiga dini hari).

 

       

  • Berkurangnya enerji dalam tubuh

Secara perlahan enerji yang ada dalam tubuh seseorang berangsur-angsur berkurang, yang membuat tenaga dan daya pikir ikut berkurang dan melenah. Berkurangnya enerji ini disebabkan oleh beban kerja, suhu udara dan tentu saja juga karena berjalannya waktu, kare-na bagaimanapun juga bekerja atau tidak bekerja, enerji di dalam tubuh tetap akan berkurang seiring berjalannya waktu.

  • Menurunnya tingkat kebugaran tubuh

Meningkatnya suhu udara ditambah beban kerja akan membuat tingkat kebugaran tubuh menjadi berkurang.

  • Kelelahan

Seterusnya, kelelahan akan menghinggapi tubuh dan kejiwaan.

Rentang Waktu dan Jumlah Rakaat Shalat

عن عبدالله بن عمرو بن العاص رضي الله عنه: أَنَّ رَسُوْلُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: وَقْتُ الظُهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ وَكَانَ ظِلُّ الرَّجُلِ كَطُوْلِهِ، مَالَمْ يَحْضُرِ العَصْرُ، وَوَقْتُ العَصْرِ مَالَمْ تَصْفَرِّ الشَّمْسُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ المَغْرِبِ مَالَمْ يَغِبِ الشَّفَقُ، وَوَقْتُ صّلاَةِ العِشّاءِ تِصْفِ اللَّيلِ الأَوْسَطِ، وَوَقْتُ صَلاّةِ الصُّبْحِ مِنْ طُلُوْعِ الفّجْرِ، مَالَم تَطْلُعِ الشَّمْسُ، فَإِذَا طَلَعَتِ الشَّمْسُ، فَأَمْسِكْ عَتِ الصَّلاَةِ، فَإِنَّهَا تَطْلُعُ بَيْنَ قَرْنَيِ الشَّيْطَانِ (رواه مسلم)

Dari Abdullah bin Amru bin Ash r.a. sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: Waktu Zhuhur adalah  tatkala matahari telah condong sedikit ke barat hingga bayangan seseorang telah menyamai panjang orangnya, waktu Ashar adalah selama matahari belum menguning, waktu Maghrib adalah selama mega merah belum menghilang, waktu Isya hingga separoh malam yang tengah, dan waktu Shubuh adalah sejak terbit fajar hingga terbit  matahari (selama matahari belum terbit). Apabila matahari telah terbit, maka janganlah kamu lakukan shalat, karena matahari itu muncul di antara dua tanduk syetan.

Berdasarkan hasil perhitungan hisab yang dibuat oleh para ahli hisab, maka diperoleh jarak atau rentang waktu antara satu shalat dengan shalat yang lain sebagai berikut: 

  1. Jarak/rentang  waktu shalat  Shubuh dengan shalat  Zhuhur adalah: +/- 7 jam, 22 mnt,
  2. Jarak/rentang  waktu shalat Zhuhur  dengan shalat  Ashar adalah: ­+/- 3 jam, 24 mnt,
  3. Jarak/rentang  waktu shalat Ashar dengan shalat Maghrib adalah: +/- 2 jam, 37 mnt,
  4. Jarak/rentang  waktu shalat Maghrib dengan shalat  Isya adalah: +/-1 jam, 12 mnt, dan
  5. Jarak/rentang  waktu Isya dengan shalat Shubuh adalah : +/- 9 jam, 25 mnt.

Jarak/rentang waktu antara satu shalat dengan shalat berikutnya diatur oleh Rasulullah SAW sedemikian rupa bukan tanpa maksud  dan makna. Pengaturan jarak/rentang waktu ini tentulah memiliki arti dan maksud tertentu.

Semoga bermanfaat

Bagikan: