SAKO’s Journey ke Ganggo Hilia, Jejak Rajo Bandaro
Bagikan:

SAKO.OR.ID – Ganggo Hilia, Nagari Rajo Bandaro. Ialah rajo adat syara’ (rajo adat plus rajo ibadat) dari Rajo 4 Selo. Menarik, citra cerita Syahrial Dt. Bandaro, salah seorang pewaris Rajo Bandaro, satu di antara Rajo 4 Selo di Bonjol (dulu Alahan Panjang) Rantau Pasaman itu. SAKO’s Journey asyik mendengar ceritanya di rumah kaumnya Kampung Dalam, Padang Laweh, Ganggo Hilia Kamis sore 24 November 2022.

Dt Parpatiah berdialog dengan mamak rumah Rajo Bandaro

Team SAKO’s Journey ke Ganggo Hilia setelah acara Duduk Bersama diskusi penguatan limbago adat, sako pusako salingka kaum di Nagari Koto Rantang, Palupuh, Agam. Adalah etape berikutnya dari team SAKO’s Journey yang besoknya terus ke Nagari Pagadih. Adalah sebuah nagari di Palupuh yang berpagar pohon batang gadih oleh leluhur mereka penghulu nan-6 dalam basa-12 asal dari Kamang.

Nagari Ganggo Hilia Kaya Sejarah di Bonjol

Terkesan, Nagari Ganggo Hilia memiliki sejarah Rajo Bandaro satu di antara Rajo 4 Selo. Kaumnya di Kampung Dalam, Padang Laweh, Bonjol.

Nagari Ganggo Hilia orbitasinya di Kecamatan Bonjol, yakni satu di antara 4 Nagari di Bonjol. Luas Nagari 45,77 km persegi.

Jarak 1 km dari Kantor Wali Nagari ke Ibu kecamatan. Ke ibu kota Kabupaten, Lubuk Sikaping 21 km. Sedangkan ke Padang Ibu kota Provinsi Sumatera Barat, 152 km.

Masjid jejak sejarah Rajo Bandaro

Secara demografis menurut sensus 2018, Ganggo Hilia penduduknya 8.432 jiwa. Laki-laki 4.159 dan perempuan 4.273 jiwa.

Dari pespektif pemerintahan Nagari Ganggo Hilia punya 12 jorong. Dua belas jorong itu: (1) Kampuang Caniago, (2) Kampuang Jambak, (3) Kampuang Koto (4) Kampuang Sianok, (5) Kampuang Talang, (6) Musus, (7) Padang Baru, (8) Padang Bubus, (9) Padang Laweh, (10) Pasar, (11) Tanjung Alai, dan (12) Tanjung Bungo.

Nagari Ganggo Hilia, memiliki service centre (pusat pelayanan). Pusat pelayanan pendidikan, ada SD 8 Unit, SMP 2 unit dan SMA 1 unit. Pusat pelayanan kesehatan, 1 unit Puskesmas dan 1 unit Puskesmas Pembantu. Pusat pelayanan ibadat ada 9 Unit masjid dan 23 unit surau/ mushala.

Rajo Bandaro dan kakaknya puti di antara puti kampung dalam di dampingi Dt. Parpatiah dan Istri juga puti dalam kaum Dt Bandaro.

Bahkan untuk kawasan 4 Nagari di Bonjol kaya sejarah dan service centre. Pusat pelayanan wisata religi, ada DTW makam-makam ulama syekh, raja dan penghulu. Ada DTW peninggalan perang artefak Meriam Tuanku Imam Bonjol. Juga warisa budaya jenis wisata kuliner, khas makanan Bonjol di antaranya kipang pulut. Ada pula wisata budaya DTW kawasan pengembangan pertunjukan seni gerak Silek Sambuik Sapuluah dan yang baru ada seni tari bentuk pertunjukan Ronggeng Musus yang cukup populer.

Selain wisata religi, peninggalan perang, dan wisata budaya dan kuliner, juga kaya wisata alam dan tanaman hias kaktus. Di antara wisata alam perbukitan dengan perairan yang aliran airnya berpotensi dan berpeluang olah raga Arung Jeram. Selain itu juga ada perbukitan dikenal Bukit Benteng Bukit Tajadi, disebut sebagai bukti perang juga, yakni Benteng Pertahanan Tuanku Imam Bonjol. Ini semua bagian kekayaan alam Nagari Ganggo Hilia dan di keseluruhan 4 Nagari di Kecamatan Bonjol Kabupaten Pasaman.

Bahkan masih di Ganggo Hilia, terdapat Situs Prasasti Ganggo Hilia. Situs Prasasti dimiliki masyarakat hukum adat dipasilitasi Nagari Ganggo Hilia. Karena demikian pentingnya situs ini sudah dicatat sebagai cagar budaya di Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dengan nomor inventaris 12/BCB-TB/A/08/2007. Lokasinya di Ganggo Hilia, di Jalan Dusun, Jorong Pasar. Luas situs 115 cm x 180 cm x 96 cm terletak pada lahan seluas 120 X 130 m.

Negeri Pahlawan Imam Bonjol dan Achmad Mochtar

Nagari Ganggo Hilia bagian dari keseluruhan subkultur Minangkabau “Alahan Panjang rantau Pasaman” sekarang disebut Bonjol. Terletak di Kecamatan Bonjol sekarang, Kabupaten Pasaman, Provinsi Sumatera Barat. Rantau Pasaman ini menaruh banyak pahlawan.

Sebagai nagari pahlawan, banyak pahlawan besar lahir dari Nagari Bonjol ini. Ada pahlawan nasional Tuanku Imam Bonjol (1772- 6 November 1864). Juga ada ilmuan dunia, ialah Dokter spesialis ahli virus Prof.Dr. Achmad Mochtar (10 November 1890 – 3 Juli 1945), yang menjadi tumbal kebrutalan Kolonialism Jepang diduga berselingkuh dengan Amerika dulu menjelang Indonesia Mereka.

Nagari Rajo 4 Selo Bonjol

Selain Imam Bonjol dan Achmad Mochtar juga ada pahlawan yang dikenal dalam Masyarakat Hukum Adat dari Rantau Pasaman, ialah Raja 4 Selo. Juga ada yang melegenda, di antaranya Puti Mayang Manadu, Syekh Qalibi makamnya di Padang Bubus/ Bubuih, Syekh Maulana Ibrahim makamnya di Koto Kaciak Ungguak Batu dan Syekh Muhammad Said makamnya di Suraunya di Bonjol, dan pahlawan lainnya.

Khusus jejak kebesaran Rajo 4 Selo itu terdapat di 4 nagari Bonjol sekarang (dulu Alahan Panjang Rantau Pasaman). Empat Nagari itu: (1) Nagari Ganggo Hilia, (2) Nagari Ganggo Mudiak, (3) Nagari Koto Kaciak dan (4) Nagari Limo Koto.

Rajo 4 Selo di 4 Nagari – Bonjol itu menjadi simbol kebesaran pucuk adat Alahan Panjang Rantau Pasaman. Rajo 4 Selo itu ialah: (1) Dt. Bandaro, Suku Tanjung, Rajo di Ganggo Hilia, berpusat di Kampung Dalam Padang Laweh, (2) Dt Sati, Suku Melayu, Rajo Ganggo Mudiak, (3) Dt. Bagindo Kali Suku Melayu, Rajo Koto Kaciak, dan (4) Dt. Bagindo Rajo Limo Koto, Suku Tanjung.

Rajo Bandaro di Ganggo Hilia

Rajo Bandaro langgamnya disebut sampai ke bukit Gunung Malintang batas 50 Kota. Sedangkan Rajo Bagindo Kali disebut langgamnya sampai ke ombak nan badabua. Lebih lanjut dapat ditelusuri dari para pemangku adat di Bonjol.

Dulu Rajo Bandaro, kebesarannya sebagai raja adat syara’ (rajo adat dan rajo ibadat), raja pertamanya ialah Tuanku Tun Kayo Bandaro Langik. Makam/ kuburnya terdapat di Padang Lubuak Usa (Asal). Disebut pewarisnya Datuk Bandaro, Tuanku inilah yang pertama mancancang latiah (membuka wilayah dan meneruka) di Ganggo Hilia Bonjol yang dulu bernama Alahan Panjang.

Kampuang Dalam, Padang Laweh termasuk sub kultur adat di Kampuang nan tigo sampai kini. Kampuang nan tigo itu adalah: Musuik, Padang Laweh dan Padang Bubuih. Penghulunya Dt Pangulu Bando Putiah, ialah kamanakan Rajo Bandoro di Ganggo Hilia.

Setelah Alahan Panjang jadi nagari, Tuanku Tun Kayo Bandaro Langik balik pulang ke Pagaruyung, cerita pewarisnya Syahrial Dt Bandaro payung suku tanjung di Kampung Dalam. Balik ke Pagaruyung, tepatnya ke Ranah Ulak Tanjuang Bungo, sentra orang suku Tanjung, sebut Mak Katik Suhaimi. Tujuan balik ke Pagaruyung itu, menjemput kapanakannya tiga orang. Satu orang perempuan, terus ke Parik Batu. Dua lagi laki-laki terus ke Alahan Panjang atau Bonjol kini, cerita pewaris rajo Dt. Bandaro itu.

Kedua kemenkan Pewaris Tuanku Tun Kayo Bandaro Langik tadi memperkuat Rajo Bandaro dan penghulu adat membangun masyarakat hukum adat. Kata Syahrial Dt. Bandaro pewaris Rajo Bandaro, masih ditemukan jejak kebesaran Rajo 4 Selo di Bonjol. Khusus Rajo Bandaro di Ganggo Hilia, jejak kebesarannya masih dapat ditemukan di Kampung Dalam dan di Bonjol umumnya. Di antaranya ada ulayat, kaum suku tanjung, masjid, rumah gadang dan makam lainnya.

SAKO bertemu dan bercerita panjang dengan pewaris rajo di Ganggo Hilia Syahrial Dt. Bandaro. Sekarang ia payung suku rajo adat sara’ yakni penghulu suku Tanjung. Kaumnya di kampung rajo yakni Kampuang Dalam, di Joong Padang Laweh, Ganggo Hilia, Bonjol sekarang.

SAKO’s Journey, sebagian teamnya sempat duduk bercerita dengan Dt Bandaro pewaris Rajo Bandaro Ganggo Hilia. Di antara tim SAKO’s Journey ialah Dt. Parpatiah dan isterinya satu di antara puti-puti dalam kaum Rajo Bandaro Ganggo Hilia. Juga ada Mak Katik Suhaimi, AR Piliang, Dt Rajo Putiah lainnya. Sementara team SAKO’s Journey lainnya masih membidik Nagari Koto Rantang Palupuh, Agam. Mereka Dt. Inaro, Didi Rio Mandaro dan Afrizal.***

Bagikan:
2 Nagari di Palupuh Agam Gelar Diskusi Adat Minangkabau
Bagikan:

SAKO.OR.ID – Dua nagari di Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatera Barat menggelar diskusi adat minangkabau dengan mengangkat tema penguatan nilai-nilai adat tentang sako dan harta pusako.

Kedua nagari itu ialah Nagari Koto Rantang dan Nagari Pagadih. Di Koto Rantang, kegiatan dilaksanakan pada Kamis (24/11) di Aula Kantor Wali Nagari setempat. Sementara di Pagadih, kegiatan digelar pada keesokan harinya, Jumat (25/11) di Balai Pertemuan KAN Pagadih.

Kegiatan yang dihelat secara terpisah itu menghadirkan empat orang narasumber dari Yayasan SAKO. Keempat narasumber tersebut ialah Yulizal Yunus Datuak Rajo Bagindo, Hasanuddin Datuak Tan Patiah, Januarisdi Rio Mandaro dan Efrizon Datuak Inaro.

Wali Nagari Koto Rantang Novri Agus Parta Wijaya mengatakan, kegiatan ini digelar untuk berbagi sekaligus menyamakan pemahaman tentang nilai-nilai adat tentang gelar sako dan harato pusako.

Ia menegaskan, kegiatan ini ditujukan bukan untuk mengajari niniak mamak. Akan tetapi, untuk menguatkan dan menyamakan pemahaman serta wadah untuk belajar bersama.

Dokumentasi di Nagari Koto Rantang;

“Dengan kegiatan ini diharapkan semakin kuat pemahaman kita bersama untuk menghadapi masalah yang akan dihadapi kedepan,” kata Novri dalam sambutannya.

Dikatakan, kegiatan ini juga bagian dari untuk mewujudkan visi Nagari Koto Rantang yaitu nagari maju berdasarkan Adat Basandi Syara’-Syara’ Basandi Kitabullah.

Untuk itu, dirinya mengaku akan terus mendorong berbagai kegiatan dan program untuk mewujudkan visi yang ia bawa ketika maju sebagai wali nagari setahun silam.

“Visi ini telah menjadi visi kita bersama. Untuk itu kita akan terus mendorong lahirnya program tersebut. Kepada inyiak narasumber untuk dapat terus memberikan ilmu dan materinya di kesempatan berikutnya sebagaimana permintaan dari masyarakat tadi,” katanya.

Senada dengan itu, Wali Nagari Pagadih Aliwar menyambut baik kegiatan diskusi adat Minangkabau tersebut. Ia mengatakan, kegiatan tersebut selain sesuai dengan visi dan misi di nagari yang dipimpinnya juga sesuai dengan visi misi Kabupaten Agam.

Ia memandang, kegiatan tersebut penting dalam menghadapi tantangan kedepan. Kata Aliwar, tantangan yang dihadapi oleh niniak mamak kedepannya semakin banyak dan komplek. Oleh karenanya, kegiatan penguatan nilai-nilai adat penting untuk dilaksanakan.

Dokumentasi di Nagari Pagadih;

Dalam kesempatan itu juga, Aliwar juga menyampaikan permohonannya agar Yayasan SAKO menjadikan Nagari Pagadih sebagai nagari binaan dan percontohan di Sumbar.

Ia mengatakan, Yayasan SAKO dipenuhi oleh orang yang ahli dalam berbagai bidang. Untuk itu, katanya, binaan dari Yayasan SAKO sangat diperlukan dalam memajukan dan nagari.

“Kita meminta binaannya bukan saja dari bidang adat. Tapi segala bidang. Karena kami menilai, Yayasan SAKO ini diisi oleh orang yang ahli dalam berbagai bidang,” pungkasnya.

Bagikan:
Seminar Adat Basandi Syarak-Syarak Basandi Kitabullah dalam Pendidikan di Kota Bukittingi
Bagikan:

SAKO.OR.ID – Salah satu fokus program Yayasan SAKO Sumatera Barat adalah pewarisan nilai-nilai keminangkabau kepada generasi penerus bangsa, khsusnya di Sumatere Barat. Program ini dikembangkan dalam berbagai kegiatan yang tekait dengan penerapan kurikulum muatan lokal bagi anak sekolah, mulai dari usia dini sampai sekolah lanjutan tingkat atas.

Kegiatan-kegiatan tersebut diarahkan ke penguatan penerapan kurikulm Merdeka Belajar, khusunya muatan lokal, sesuia permendagri nomor 97 taahun 2014 tentang Kurikulum Muatan Loka dalam Kurikulum 2013, dan Perda Provinsi Sumatera Barat nomor 2 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pendidikan di Sumatera Barat.

Untuk itu, Yayasan SAKO melakukan berbagai kerja sama dengan pemerintah kabupaten/ kota se-Sumatera Barat dalam rangka percepatan penerapan kurikulum muatan lokal di seluruh Sumatera Barat.

Pada Kamis, 3 November 2022, dengan mengambil tempat di Audotirium Dang Tuangku, Hotel Pusako Bukittinggi, Yayasan Sako bekerja sama dengan PGRI Kota Bukittingi dan Dinas Pendidikan dan Kebudayan Kota Bukittingi menyelenggarakan Seminar Adat dengan tema Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah dalam Pendidikan di Kota Bukittinggi.

Seminar yang diikuti oleh guru se-Kota Bukittinggi, mulai dari taman kanak-kanak sampai sekolah menengah atas ini, menghadirkan tiga orang narasumber, H. Erman Safar, Walikota Bukitting, Drs. Januarisdi, MLIS, dari Yayasan SAKO, dan Fery Chofa, SH., LLM, dari LKAAM Kota Bukittinggi.

Dalam sambutannya, Wali Kota Bukittingi Erman Safar, yang diwakili oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi, Melfi Abrar, memaparkan berbagai kegiatan unggulan dalam sektor pendidikan, kuhususnya pendidikan karakter dan kurikulum muatan lokal.

Dalam hal kurikulum muatan lokal Sumatera Barat, Januarisdi menyampaikan bahwa kurikulum muatan lokal telah diatur dalam Permendikbud nomor 79 tahun 2014 tentang Kurikulum Muatan Lokal dalam Kurikulum 2013.

Kebijkan ini diperkuat dengan Kurikumlum Merdeka 2022 yang mengatur bahwa muatan lokal tidak hanya diajarkan melalui mata pelajar tersendiri, tapi juga masuk kedalam semua mata pelajaran secara integratif, dan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Bahkan, Pemerintah Provisni Sumatera Barat telah mengeluarkan Perda nomor 2 tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Pendidikan yang pasal 89 sampai 91 mengatur tetang Kurikulum Muatan Lokal. Pada pasal 89 ayat 2 diatur bahwa muatan lokal pendidikan di Sumatera Barat mencakup adat (kebudayaan), kesenian, Bahasa Minangkabau, dan kearifan lokal.

Ini adalah peluang yang harus dimanfaatkan oleh masyarakat Sumatera Barat untuk melakukan pewarisan nilai-nilai keminangkabauan, yang pada dasarnya adalah nilai universal yang hidup dan tumbuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Di samping menjelaskan tentang hakikata adat, dan Adat Basandi Syaraka-Syarak Basandi Kitabullah, Januarisdi, Rio Mandaro yang akrab dipanggil Mak Didi memaparkan bagaimana mengimplemtasi konsep pendidikan surau kedalam pembelajaran muatan lokal dalam setting pembelajaran hari ini. Kalau sebelum ini kita mengenal program Seniman Masuk Sekolah, pembelajaran muatan lokal harus dilakukan dengan cara berbeda.

Niniak Mamak dan pemangku kepentingan lainnya, tidak harus masuk ke sekolah-sekolah, tapi murid dan siswa yang mendatangi niniak mamak dalam lingkungan pembelajaran aktual, Nagari.

Di Nagari, telah tersedia berbagai sarana dan prasarana pembelajaran aktual, mulai dari balai-musajik, swah-ladang, pandam-perkuburan, galanggang-pamedanan, rumah gadang dan sebagainya, berserta sistem masyarakatnya.

Persoalan yang harus dipecahkan segera adalah ketersediaan guru yang bertanggung jawab menjalankan program pendidikan dan pembelajaran muatan lokal. Hampir semua sekolah di Bukittinggi belum mempunyai guru khsus muatan lokal, walaupun Pemerintah Kota Bukittinggi telah mengajukan usulan pengangkatan guru muatan lokal.

Untuk itu, Yayasan SAKO menawarkan kerja sama dengan Pemerintah Bukuttinggi untuk melakukan pelatihan guru muatan lokal, yang siap terjun kehadapan murid dan siswa dengan wawasan, sikap dan ketrampilan mapan sebagai seorang guru yang seutuhnya.

Bagikan:
SAKO Bertamu Ke Kabid Kebudayaan Padang, Ini yang Dibahas
Bagikan:

SAKO.OR.ID – SAKO adalah sebuah yayasan yang telah memiliki SK-Menkumham RI. Kata SAKO sendiri merupakan pendekan dari Saiyo Sajalan dan Sakato.

Pada Senin (24/10) siang, SAKO berkunjung ke Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Padang. Kunjungan itu dilaksanakan selepas kunjungan ke Diknas Sumbar.

Rombongan Sako disambut langsung oleh Syamdani selaku Kabid Kebudayaan di ruangan kerjanya di Kantor Disdikbud Padang.

Bersama dengan Kabid Syamdani yang juga kandidiat doktor sekaligus penulis dan youtuber sejarah itu, Sako membahas perihal proses pendaftaran Benda Cagar Budaya.

Katanya, sesuai dengan peraturan perundang-undangan, penetapan cagar budaya di kabupaten/kota dilakukan dengan Surat Keputusan Bupati dan atau Walikota.

Sedangkan Badan Pelestarian Cagar Budaya seperi juga di Sumatera Barat, melaksanakan kegiatat-kegiatan pelestarian.

Karenanya, situs-situs di nagari-nagari, baik yang ditemukan oleh masyarakat maupun oleh aktor pembangunan serta para pihak lainnya, didaftarkan ke Dinas terkait, yakni yang mengurus kebudayaan.

“Merespon laporan itu dinas terkait melakukan survey dan kalau layak, direkomendasikan untuk ditetapkan dengan SK Bupati dan Wali Kota,” kata Syamdani.

SAKO Menelusuri Asal-Usul Bertemu Situs dan yang Tersuruk

SAKO, bertamu terdiri dari GG Datuak Parpatiah, Januarisdi Rio Mandaro serta YY Dt. Rajo Bagindo dan Datuak Inaro menyampaikan temuan perjalanannya dalam agenda SAKO’s Journey.

Agenda SAKO ini, sudah menjalankan napak tilas ke nagari-nagari di Sumatera Barat. Perjalanan itu melihat dari dekat jejak-jejak asal usul dan mengunjungi situs-situs serta artefak arkeologis lainnya yang menjadi bagian bukti tersuruk dari asal usul suku/orang Minangkabau.

Terakhir, tanggal 1 dan 21-23 Oktober 2022 berjalan ke Nagari Suayan Kabupaten 50 Kota dan Pangian Kabupaten Tanah Datar, banyak hal yang tasuruak patut dicatat. Banyak situs yang patut dijadikan Cagar Budaya dan dilestarikan, kalau tidak terancam musnah.

Misalnya mejan versi menhir di Suayan, ada indikasi penghancuran. Ada yang sudah tercabut dan dijadikan batu asahan. Masyarakat melaporkan, kami tidak tahu gunanya bapak, kata mereka melaporkan kepada tim SAKO.

Fenomena seperti itu patut kita dan SAKO khususnya mendorong masyarakat dan pemerintah setempat mendaftarkan situs-situ itu, kata Sako dan Kabid Kebudayaan serentak.

Bagikan:
SAKO’s Journey: Suayan Nagari Tua Dari Menhir ke Angku Syekh
Bagikan:

SAKO.OR.ID – Beberapa kali saya ke Suayan, dua kali terakhir, tanggal 1 dan 21-23 Oktober 2022, semakin banyak hal yang patut dicatat. Mangkal singgah nginap di rumah asa Suayan. Adalah Kampuang/ Suku Jambak Datuk Putiah (M. Damris). Suayan terkesan Nagari Tua di Akabuluru 50 Koto.

Sebelumnya, beberapa kali ke kaum suku Jambak Suayan di bawah payung Datuk Marajo Nan Elok (Fauzan). Bermula meminang kemenakannya bernama Ikha Hajriani, untuk jodoh anak saya Ilhami El-Yunusiy, disusul acara pernikahan dan pesta anak minantu di Suayan beberapa tahun lalu. Sekarang merka sudah punya buah hati Khalif dan Khulfa, cucuku.

Lesung batu suayan

Nagari Tua Suayan, malam terasa dingin. Enak makan samba lado biru dan atau merah. Uok pucuak ubi. Gulai masakan tangan piawai Ibu Mis dan Ibu Ros saudara perempuan beliau M. Damris Dt Putiah payung suku Jambak Suayan Tinggi. Elok baso, dusanak Dt. Putiah. Habis makan, durian berpuluh-puluh dibuka pula. Dimakan engan ketan. Tak kuat makan habis, sambal dibungkuskannya pula, di bawa bundo-bundo ke Padang. Alhamdulillah, semoga keluar nagari ini senantiasa diberi rahmat Allah.

Nagari Tua Ulama Angku Suayan

Suayan Nagari tua, auranya terasa. Tua dengan teknologi batu, megalitik. Banyak situs tua seperti menhir, batu asahan dan lesung batu. Batu istimewa itu yang lebih menonjol menhir disebut orang nagari ini dengan “mejan”. Sama maknanya (Arab: turbah, nisan). Berarti batu istimewa itu menandai makam orang betuah dulu, mungkin tokoh adat dan mungkin tokoh agama. Juga ditemukan juga cerita dan jejak surau tua ulama Tuk Oya, Angku Syekh Suayan.

Mejan versi Menhir Suayan tercabut dan tergeletak sekitar menjid Nurul Hidayah

Dimulai dari nama kharismatik Angku Suayan. Dikabarkan GG Dt. Parpatiah diiyakan MD Dt. Putiah, S.Katik Malano dan Bundo Yapriati. Rekanan piawai rombongan SAKO’s Journey, mengetahui ada nama besar Angku Syekh Suayan. Disebut pula abad ke18, Angku Syekh Suayan itu ialah guru dari guru dari Haji Sumaniak, Haji Miskin dan Haji Piobang. Juga disebut Bundo Yap, Tuk Oyah dalam jaringan Angku Lurah dan Rajo Kudum lainnya.

Bahkan GG Dt Parpatiah mengabarkan, di Nagari Suayan ini jauh sebelumnya suda ada tinggal, salah seorang angku/ spiritual penjaga Puti Balukih (Puti Bulkis istri Nabi Sulaiman). Kemudian juga ada nama Angku Syekh Suayan. Ulama itu dimungkinkan dari/ pandai berbahasa Arab. Dari sentuhan kabar lama ini, Mak Katik menghubungkan dengan sejarah nama Suayan. Serangkaian itu menyebut tiga wilayah penting asal usul sampai ke niniaknya. Wilayah itu Kampar, Andaleh, Pangka Bumi dalam wilayah kultur Luak Bungsu 50 Koto dan Luak Tuo Tanah Data. Perlu pemetaan untuk dijalani SAKO’s Journey.

Disebut Mak Katik nama Suayan, dari Bahasa Arab “Suayan, suaiyan (سويا)”. Menambah kekayaan asal nama Suayan dari informasi Suayan “kejutan ayam terbang suuu.. ayam, menjadi Suayan”. Dalam kalimat Arab, ada dalam ungkapan, intazhir suayan huna (انتظرسويا هنا). Artinya tunggu sejenak di sini. Suwaiyan, Sawayan, Suayan berarti penantian sejenak. Apakah penantian itu sejak masa Puti Balukis istri Nabi Sulaiman yang menjadi kaba di Minang itu? Wallahu a’lam bishshawab !

Mungkin pula Suayan dari kata akar Arab Qur’ani “shirathan sawiyan” (jalan lurus,mustaqim, QS.Maryam 43). Akar katanya saui (sawi, سوي mustawi مستوي , suai, lalu Suaian, Suayan?). Ada juga kalimat Arab, sawwa l-nahhat al-timtsal (سوي النحات التمثال) artinya para pemahat memahat patung. Ada juga kalimat akar kata sawwaituhu (سويته) artinya nafakhtu fihi min ruhi (ونفخت فيه من روحي), aku memberinya ruh (ada akar kata dalam Qur’an). Ada juga dari kata sawwa bihi l-ardhi (سوي به الارض) artinya dafanahu fiha (دفنه فيها) – telah menguburkannya di tanah ini. Apakah karena itu terdapat banyak mejan (menhir) hasil pahatan sebagai teknologi megalitik di Suayan? Mejan menandai yang berkubur di Suayan? Entahlah! Wallahu A’lam bishshawab

Terlepas dari benar atau tidak kabar tentang tokoh spiritual dan ulama tua Angku Syekh di Suayan tadi dan berkaitan dengan akar kata Suayan, yang jelas sudah ada sejarah ulama dikawasan ini. Adalah fenomena perjuangan ulama menyebarkan ajaran Islam di kawasan Batuhampar dan atau sekitar Akabiluru, yang tidak bisa dilepaskan dari Nagari Suayan. Ulama itu Syekh Burhanuddin Kuntu, Kampar pada abad ke 12.

Mejan versi menhir Suayan randah

Disejarahkan dan dilansir pada berbagai buku sejarah dan wacana teks cetak dan media online lainnya, bahwa Syekh Burhanuddin selalu berpindah-pindah dalam mengajar dalam rangka mengembangkan ajaran Islam. Syekh memulai pertama mengajar dari Batu Hampar, Akabiluru tak dapat dipungkiri sampai ke Suayan. Di kawasan Batuhampar ini tahun 560 – 570 H (1141 – 1151 M). Dari Batu Hampar ke Kumpulan Pasaman (570 s/d 575H/1151 s/d 1156 M). terus ke Ulakan Pariaman (1156 – 1171 M). Setelah itu ke Kuntu sampai akhir hayatnya tahun 1171 – 1191 M.

Pertanyaan penting berpeluang penelitian, kenapa Syekh Burhanuddin Kuntu memulai mengajarkan Islam di Batu Hampar kawasan dekat Suayan ini? Kalau tak ada berada tak tempua bersarang rendah. Apa ada hubungan sejarah ulama Suayan Angku Syekh Suayan tua dan sejarah ulama tua Tuk Oyah di sana sampai ke Batu Hampar? Apakah Syekh Burhanuddin Kuntu juga pernah belajar agama di Batu Hampar, Suayan dan atau Akabiluru umumnya, lalu ia mengajar agama mulai di kawasan dekat Suayan ini? Menarik akademisi menelitinya.

Surau Lubuk Sosai Suayan

Disebut Kawasan Sosai tak jauh dari aliran sungai, di situ dulu Surau Angku Suayan. Apakah di sini sentra pengajaran Islam awal di Akabiluru? Surau ini mempunyai Tabuah (Beduk) panjangnya sebatang kayu 30 meter. Lokasi sekitar kebun pinang Fikri suku Caniago sekarang. Ada tanda di sini yakni Batu Tandinai. Tak jauh dari sini ada pula surau suluk tarekat naqsyabandi. Pernah dipimpin angku Imam Keramat.

Surau di Sosai runtuh masih ada jejak sejarah bekas pondasi. Pindah ke lokasi Surau Gadang yang kemudian jadi masjid. Waktu APRI, pernah dibombardir, surau ini tak bergeming, seperti tahan peluru. Lama masanya, lokasi dipindahkan ke Masjid Raya Suayan Tinggi, terkesan punya arsitektur khas juga.

Lalu Tabuah teknologi kayu pusako Surau Sonsai sepanjang 30 meter tadi itu dipotong tiga. Pangkalnya dipakai tabuah di Masjid Raya. Potongan tengah dipakai tabuah masjid Nurul Hidayah. Ujungnya dipakai tabuah di Masjid Taqwa Suayan Sariak. Dulu ketika tabuah Sonsai berbunyi, terdengar sampai ke Taram. Masyarakat Taram berucap: tuh tabuah Suayan berbunyi!

Negeri Banyak Mejan versi Menhir

Sebagai Nagari tua, Suayan punya banyak situs mejan versi menhir. Masyarakatnya tidak kenal menhir, disebutnya mejan. Apakah mungkin mejan itu makam tokoh adat dan agama? Pertanyaan ini berkaitan dengan asal nama Suayan tadi. Akar “kata sawwa bihi l-ardhi (سوي به الارض) artinya dafanahu fiha (دفنه فيها) – telah menguburkannya di tanah ini. Lalu untuk menandainya ada menhir teknologi mejan kubur atau turbah (penandai tanah kubur). Apakah teknologi mejan zaman batu itu, menhir yang berakar dari kalimat Arab, sawwa l-nahhat al-timtsal (سوي النحات التمثال) artinya para pemahat memahat patung? Patung itu mejan versi menhir itu?

Terlepas dari benar atau tidak yang jelas menhir itu cukup banyak di Suayan disebut oleh masyarakatnya sebagai mejan. Di antaranya:


1.Mejan tinggi sekitar setengah meter di depan rumah ibu Lis Suayan Tinggi
2.Mejan tinggi sekitar 5 meter di depan rumah ibu Er, kata Edi (60) lokasi lahan suku caniago payung Datuk Parpatiah Lego.
3.Mejan di Parak Er, setinggi 2,5 meter. Diperkirakan satu kesatuan dalam peta segi tiga lokasi mejan depan rumah ibu Lis dan ibu Er dan di Parak Er.
4.Mejan tinggi sekitar 4,5 meter dikelilingi banyak mejan kecil dan sedang. Kata Edi tertanam di lahan suku Caniago payung Datuak Paduko Rajo. Dahulu tempat perkumpulan tradisi alek “batuka lapek” (bertukar kue lapek) untuk menunjukkan kekeramatan masing-masing perserta pesta tradisi itu. Habis itu disediakan kolam mandi yang dipasang talang runcing, semua mencebur kesana tak ada yang terluka, sebuah kekeramatan, kata Fauzan Dt. Marajo Nan Elok.
5.Mejan tinggi 5 meter di lokasi parak Sabri sekarang di Suayan Randah
6.Menhir tinggi sekitar 4,5 meter tercabut tergeletak di simpang tiga jalan kampung di sekitarnya terdapat pula beberapa mejan kecil dan sedang tidak jauh dari masjid Nurul Hidayah Suayan Randah yang dulu punya tabuah potongan tengah dari tiga potongan Tabuah Sosai 30 meter tadi.
7.Ada juga mejan di sebuah masjid modern, sayang menhir itu ditempatkan di sebuah kolam yang digenangi air dilapis pula dengan semen terkesan menghilangkan aslinya.

Selain itu juga terdapat tekonologi zaman batu megalitik jejak arkeologis dalam bentuk keperluan rumah tangga. Bentuknya lesung batu penumbuk padi dan atau penumbuk kopi. Terdapat lesung batu di halaman rumah pusaka kaum Jambak M.Damris Dt. Putiah. Demikian pula, lesung batu tak jauh dari halaman rumah ibu Lis di Suayan Tinggi. Lesung batu hasil produk teknologi megalitik itu sebenarnya teramati pada banyak di lakasi lain di Suayan Randah dan Suayan Tinggi. Pada umumnya lesung batu itu tidak jauh dari mejan versi menhir itu.

Rombongan SAKO’s Journey:
Situs Jadikan Cagar Budaya kalau tak mau lenyap

Rombongan SAKO’s Journey di antaranya GG. Dt. Parpatiah, Hanafi Zen St. Bagindo, AR Piliang Malin Marajo, S.Katik Malano, YY Dt.Rajo Bagindo, Januarisdi Rio Mandaro, Hasanuddin Yunus Dt. Tan Patiah, MD. Dt. Putiah, J.Angku Janiah, Bundo/ Ny. Hanafi, Bundo/ Ny. GG Dt. Parpatiah, Bundo/ Ny. Sepit Sugiarti Ningsih, Bundo Yapriati lainnya.

Kunjungan diterima dan didampingi ninik mamak Nagari Suayan. Di antaranya Fauzan Dt. Marajo Nan Elok, Dt. Ompek, Dt. Khudum, Dt. Manggung Sati, Angku Sati, Malin Sati serta keluarga kaum MD Dt. Putiah ibu Mis dan Ibu Ros serta isteri Dt. Putiah lainnya.

Dalam menelusuri berbagai situ, terpikir oleh tim SAKO’s Journey situ-situs Nagari Suayan ini menunjukkan bahwa nagari ini terkesan nagari tua. Situsnya penting dipelihara.

Direkomendasikan melalui walinagari Suayan ke Bupati 50 Kota, situs-situs Suaya ini segera dilihat dan ditetapkan sebagai benda-benda cagar budaya dan selanjutnya patut mendapat penanganan Dinas yang membidangi kebudayaan di tingkat kabupaten serta selanjutnya dilola dan dilindungi oleh Badan Cagar Budaya Sumatera Barat dan Riau.

Kalau tidak segera dilindungi, situs ini akan terancam lenyap. Indiskasinya terdapat fakta, mejan versi menhir di Suayan ini sudah ada yang tercabut dan rebah bergeser dari tempat semula. Ada juga fakta dirusak menjadikannya fungsi batu asahan untuk mengasah alat perkakas pertanian.

Demikian pula lesung batu sudah bergeletakan tidak terletak lagi pada lokasi semula. Masyarakat tidak dapat dipersalahkan, karena memang mereka tidak tahu fungsi situs ini sebagai bagian kekayaan nagari mereka dan kalau dilola dengan baik dapat menjadi investasi ekonomi kreatif karena akan dikunjungi sejarawan dan wisatawan. Ironis! Memang.

Bagikan: