Kajai Satu Nagari Satu Desa
Bagikan:

Oleh Yulizal Yunus

Kajai, sebagai Nagari dari perspektif adat hanya bisa dikenal dengan eksistensi KAN (Kerapatan Adat Nagari). Justru dari perspektif pemerintahan NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia), sudah tidak populer lagi nomenklatur Nagari Kajai, tetapi berubah nama menjadi Desa Balai Batu Sadaran. Satu desa satu nagari sebut Kades Nasirwan  Sutan Rajo Lelo.

Kajai Pespektif NKRI
Perubahan nama Nagari Kajai dalam perspektif Pemerintahan NKRI terjadi sejak tahun 1985. Ketika itu ada peraturan Gubernur, tiga desa di Nagari Kajai: (1) Desa Koto, (2) Desa Pantian dan (3) Desa Parik, dijadikan satu dengan nama “Desa Balai Batu Sandaran”. Saat itu Nagari Kajai masih menjadi wilayah kesatuan Masyarakat Hukum Adat (MHA) di X Koto DiAtas (Kecamatan) Kabupaten Solok. Kepala Desa Balai Batu Sandaran di Nagari Kajai itu, pada waktu itu pertama dipimpin Kepala Desa Ja’far Rangkayo Sati.

Artinya pemerintahan Desa Balai Batu Sandaran, awalnya penyatuan dari 3 Desa tadi berada dalam wilayah adat Nagari Kajai. Dahulu Nagari Kajai dipimpin oleh Wali Nagari. Wilayahnya 3 Jorong dipimpin Wali Jorong. Kemudian ketiga jorong itu menjadi desa, masing-masing dipimpin Kepala Desa. Perubahan dari nagari ini mengacu Undang-undang Nomor 05 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa Tiga Desa ini seperti tadi disebut disatukan menjadi satu Desa beranama Desa Balai Batu Sandaran dalam wilayah adat Nagari Kajai ini.

Desa Balai Batu Sandaran dalam wilayah adat Nagari Kajai kemudian berada dalam wilayah pemerintahan NKRI Daerah Tingkat II Sawahlunto. Bagian dari wilayah pemerintahan Kecamatan Barangin (sebelumnya Kecamatan Sawahlunto Utara). Kecamatan ini dibentuk berdasarkan PP No.13 tahun 1982, tanggal 19 Mei 1982 tentang Pembentukan Kecamatan-Kecamatan dalam wilayah Kotamadya Daerah Tingkat (Dati) II Sawahlunto dengan wilayah 8 kelurahan. Kemudian Kecamatan Sawahlunto Utara berubah menjadi Kecamatan Barangin berdasarkan Peraturan Pemerintah RI No.44 tahun 1990 tanggal 1 September 1990 tentang Perubahan Batas Wilayah Kotamadya Dati II Sawahlunto/ Sijunjung dan Kabupaten Dearah Tingkat (Dati) II Solok, diresmikan Menteri Dalam Negeri RI Rudini, 16 Oktober 1990.

Kecamatan Berangin (yang tadinya Kecamatan Sawahlunto Utara) wilayahnya meliputi 4 kelurahan dan 6 desa termasuk Desa Balai Batu Sandaran. Lima desa lainnya: Desa Santur, Desa Kolok Mudik, Desa Kolok Nan Tuo, Desa Talago Gunung dan Desa Lumindai. Sedangkan 4 Kelurahan adalah : (1) Kelurahan Saringan, (2) Kelurahan Lubang Panjang, (3) Desa Durian I dan (4) Kelurahan Durian II. Wilayah ini dilengkapi dengan 26 dusun, 13 RW dan 32 RT.

Wilayah Desa Balai Batu Sandaran, luasnya 12,95 km². Terdiri dari 3 dusun. Tiga dusun itu: (1) Dusun Baringin, (2) Dusun Gunung dan (3) Dusun Air Gantang. Penduduknya berjumlah 764 jiwa.

Orbitasi Kecamatan Barangin yang di dalamnya terdapat Nagari Kajai, secara geografi berada pada posisi 100,47° BT dan 0,46° LS. Derahnya dataran tinggi ± 261-650 m dari permukaan laut. Perbatasannya di antara dua sungai: (1) Batang Malakutan dan (2) Batang Sumpahan.

Perspektif Adat,  Asal Usul dan Toponimi
Hebatnya Kecamatan Barangin yang di dalamnya Nagari Kajai,  dalam perspektif adat mempunyai 4 organisasi adat di Nagari yakni: (1) Kerapatan Adat Nagari (KAN) Lumindai, (2) KAN Kajai, (3) KAN Talago Gunung dan (4) KAN Kolok.

Asal usul ninik Nagari Kajai datang dari Pariangan. Sampai di wilayah ninik pangulu dt nan 9 rapat di Batu Sandaran. Memutuskan pemberian nama Nagari Kajai.

Toponimi Kajai berasal dari dua pembahasaan: (1) peristiwa “kaja-kajai” kuda liar Bukit Dan (2) alam,  nama tumbuhan batang kayu besar “kajai” jenis pohon baringin berdaun lebar.

Ceritanya peristiwa kaja-kajai kuda, dikisahkan Ali Amran Sutan Cahayo,  cucu kamanakan 37 tahun juga oleh Dt.Gindo Rajo. Ceritanya, Dt. Rajo Lelo penghulu suku Caniago,  punya 3 ekor kuda. Tinggal di Koto Tingga, di Dusun Gunung. Kudanya itu lepas dari pautan dan menjadi liar. Ditangkap,  diikat lepas juga. Kuda itu manggalanja dan manggaduah, memakan tanaman masyarakat. Di halau dikejar, lari dan hilang. Ditemukan seseorang dikabarkan ke yang punya. Dilhat,  kuda pun lari, sampai “tagolek” (tergeletak) tempat itu bernama Kampuang Tagolek. Akhirnya masuk gua, yang punya menyaru dan disumpahi, menjadi batu. Gua itu di kaki Bukit Hutan Batu Tarogung ynG berbatu karang laut,  menandai nagari ini dulunya laut juga.

Jejak batu kuda itu ada di Selatan Masjid Nagari Nurul Hidayah. Menjadi bagian objek wisata nagari. Dari peristiwa kaja-kajai itu menjadi “Kajai” dan nagari ini disepakati namanya Nagari Kajai.

Cerita Kayu Gadang. Batangnya besar, kokoh dan rindang. Membuktikan kekokohan kayu itu dipanjat datuk dari Nagari Kubang. Dihonggo (digoncang,  digoyang) disebut “honggo kubang” kayu tak baroyak (bergoyang)  saking kokohnya. Kayu itu ditakiak (ditoreh) bergetah. Getah seperti kajai (karet) yang elastis. Dari getah Batang kajai itu,  disepakati nama nagari dengan Nagari Kajai.

Kesepakatan, diputuskan sebagai mufakat dari musyawarah Dt Nan 9 di Balai Batu Sandaran. Kesembilan Datuak itu tak dikenal lagi kerena tak ditemukan tambo.

Sebagai Nagari dalam perspektif adat,  mempunyai suku. Suku dipimpin pengulu.  Struktur dilengkapi urang nan barampek: Imam, Katik, Bila dan Qadhi. Mereka sebagai orang di muka,  masih memegang kendali penyelenggaraan 10 surau dan 1 masjid Nurul Hidayah. Sebagai masyarakat Islam,  erpenfaruh Tarekat Satari. Guru yang disebut berpengaruh dua Tuanku: Angku Taluk Bukttinggi danl Angku Salih dari Pariaman.

Pengimplementasi ABS SBK
Tim Penilai Nagari Kajai diturunkan Pemrov – Dinas Kebudayaan Provinsi Sumatera Barat. Turun ke Nagari Kajai, Senen 16 Desember 2024. Mereka dari unsur tungku tigo sajarangan: (1) cadik pandai – intelektual akademisi ialah Prof. Dr. Nursyirwan Effendi, Dr. Hasanudin Yunus Dt. Tan Patiah, MSi; (2) unsur ulama: Buya Dr. Gusrizal Gazahar Dt. Palimo Basa, Buya Mas’ud Abidin Jabbar dan Unsur adat: Prof. Dr. Rudha Thaib dan YY Dt. Rajo Bagindo. Tim Didampingi Kepala Dinas Kebudayaan Dr. Jefrinal Arifin, SH, MSi diwakili  beberapa staf Disbud Provinsi Sumatera Barat  Nofrizon, Erna,  Robi dan Riki lainnya

Aspek yang dinilai pada Nagari Kajai sebagai nagari pengimplementasi ABS SBK ada 8 perspektif adat “undang nagari” dan “undang dalam nagari”. Delapan perspektif itu: (1) Bakorong bakampuang, (2) Basuku banagari, (3) Balabuah batupian, (4) Basawah ba ladang, (5) Babalai bamusajik, (6) Bahuma babendang, (7) Bahalaman bapamedanan, (8) Bapandam bapakuburan/ bapusaro.

Pernilaian Nagari Kajai dilakukan di Balai-balai Kantor Kantor KAN  Kajai.  Sistemnya dengan cara duduk bersama temu wicara bercorak sarasehan. Diskusi, tanya berjawab intens tetapi santai dan hangat selama 5 jam. “Dengar curai papar” tentang Nagari Kajai tidak saja sifatnya di lahir menilai tetapi di batinnya adalah edukasi dan motivasi bagi kemajuan Nagari ke depan. Pernilaian dan edukasi tidak terlepas dari 8 aspek pernilaian tentang prestasi capaiannya sampai kini dan kemajuan ke depan.

Nagari Resort
Nagari Kajai sebagai Resort,  mempunyai pusat pelayanan (Service Center),  Market Town (pusat belanja)  dan Regional Sentre. Memberikan makna kepada pengunjung datang ke nagari ini.

Service Center bidang pemerintahan terdapat Kantor Kepala Desa sekaligus berfungsi Walinagari. Karena Nagari Kajai ini satu nagari satu Desa Balai Batu Sandaran. Bidang adat terdapat Kantor KAN, melayani masyarakat hukum adat.

Bidang Pariwisata, Nagari Kajai memiliki kawasan 20 Ha Agroturism kebun Serai Wangi. sebagai bahan farfum. Aspek kuliner makan bajamba dengan sambal adat “rendang bada badatiak”. Aspek situs,  ada Balaurong Adat Batu Sandaran, makam tuanku,  batu kudo lainnya. Batu kuda terdapat dalam terowongan, yang dari terowongan itu mengalir di bawah batu, melayani air minum mineral untuk masyarakat nagari.

Market Town, Nagari Kajai tidak jauh dari Kota Sawahlunto. Mereka bebelanja ke Kota di samping kedai pasar tradisional dan lapau lainnya.

Regionak center,  Nagari Kajai memilik tiga arah aset jalan sebagai tali ekonomi. Pertama jalan ke Kota Sawahlunto,  kedua lewat Nagari Kubang, dan ketiga tembus ke Silungkang. Meski medannya agak sulit, tetapi keunggulannya memiliki panorama alam lembah dan po pergunungan yang eksotik  jamil jidda, Indah benar.**

Bagikan:
Bagaimana Semestinya Menjadi Makmum Yang Baik
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


Shalat berjamaah adalah shalat bersama-sama di satu tempat, yang terdiri dari seorang i-mam dan satu atau sekelompok makmum. Imam shalat bertindak sebagai pimpinan dan koman-dan yang mengarahkan dan mengomandoi makmum. Sementara makmum merupakan pasukan yang sedang dipimpin dan dikomandoi oleh seorang imam.

Bagaimana Menjadi Makmum yang Baik

Pada kesempatan ini, kita akan membicarakan, bagaimana semestinya cara makmum dalam mengikuti shalat berjamaah bersama imam. Sebagai pedoman, mari kita ikuti petunjuk pelaksa-naannya dari Rasulullah SAW, sebagai berikut:
عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيّ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّمَا جُعِلُ الإِمَامُ لِيوُءتَمَّ بِهِ، فَإِذَا كَبَّرَ فَكَبِّرُوا، وَلاَ تُكَبِّرُوا حَتَّى يُكَبِّرَ، وَإِذَا رَكَعَ فَرْكَعُوا، وَلاَتَرْكَعُوا حَتَّى يَرْكَعَ، وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا : أَللهُمَ رَبَّنَالَكَ الحَمْدُ، وَإِذَا سَجَدَ فَسْجُدُوا، وَلاَتَسْجُدُواحَتَّى يَسْجُدَ، وَإِذَا صَلَّى قَائِمًا فَصَلُّوا قِيَامًا، وَإِذَا صَلَّى قَاعِدًا فَصَلُّوا قُعُودًا أَجْمَعِيْنَ (رواه أبو داود)

Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Dijadikan imam itu tidak lain, melainkan untuk dituruti. Apabila imam takbir, kalianpun takbir dan jangan-lah kalian bertakbir, sehingga imam itu bertakbir. Bila ia rukuk, hendaklah kalian rukuk dan janganlah rukuk, sehingga ia rukuk. Apabila ia membaca “sami‘allahu liman hami-dah”, maka kalian harus membaca “Allahumma rabbana lakalhamdu”. Apabila ia sujud, maka sujudlah kalian dan jangan sujud, sehingga ia sujud. Apabila ia shalat dengan ber-diri, maka kalian shalat sambil berdiri dan apabila ia shalat sambil duduk, shalatlah ka-lian sambil duduk.

  1. Makmum mestilah mengikuti sepenuhnya, apa yang dikerjakan imam shalat. Imam ada-lah komandan bagi makmum yang berada di belakangnya. Cara makmum mengikuti i-mam, adalah setelah imam itu selesai memberi aba-aba.
  2. Makmum mengucapkan takbir, setelah imam selesai mengucapkan takbir. Makmum tidak dibolehkan mengucapkan takbir, bersamaan dengan imam mengucapkan takbir.
  3. Makmum bergerak rukuk, bila imam sudah rukuk (sudah dalam posisi rukuk). Untuk me-nandai imam sudah dalam posisi rukuk, yakni dengan selesainya ia takbir. Makmum tidak dibenarkan bergerak untuk rukuk, bersamaan dengan gerakan imam.
  4. Makmum bangkit dari rukuk, pabila imam selesai mengucapkan “sami’allahu liman ha-midah.” dan berdiri tegak lurus, dengan membaca “Allahumma rabbana lakalhamdu.” Makmum tidak dibenarkan bangkit bersamaan dengan bangkitnya imam.
  5. Makmum bergerak sujud setelah imam meletakkan keningnya di tempat sujud. Hal ini da-pat ditandai dengan selesainya ia takbir. Makmum tidak dibenarkan bergerak untuk sujud bersamaan dengan gerakan imam mau sujud.
  6. Makmum baru boleh bangkit dari sujud, ketika imam telah berada pada posisi duduk atau berdiri sempurna dan selesai mambaca takbir. Makmum tidak dibenarkan bangkit bersa-maan dengan bangkitnya imam.
  7. Begitu juga ketika bangkit untuk berdiri pada rakaat ketiga. Makmum baru boleh bangkit setelah imam berdiri tegak dan selesai membaca takbir.
  8. Begitulah seterusnya, makmum mesti menunggu imam selesai dengan bacaan takbirnya, tanda perpindahan dari satu rukun shalat ke rukun shalat yang berikutnya.
  9. Selain kaharusan di atas, ada beberapa kewajiban yang mesti dapat dilakukan oleh mak-mum, terutama beberapa orang (2 atau 3) yang berdiri pas di belakang imam, yakni:
    a. Mengingat imam, bila: bacaan imam salah atau kurang, kekurangan atau kelebihan rukun shalat, dan
    b. Menggantikan posisi imam, bila imam berhalangan tetap sebagai imam, misalnya: Buang angin (kentut), pingsan dan lain-lain.

INGAT !!!
Perintah shalat adalah perintah “tegakkan olehmu” (اقيموا) yaitu:

  1. Menegakkan pelaksanaan aturan yang telah ditetapkan dan dicontohkan oleh Rasulullah SAW mengenai shalat, didalam shalat, dan
  2. Menegakkan isi komunikasi yang dibicarakan dengan Allah ketika shalat, dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga bermanfaat.

Bagikan:
Ibadah Puasa, Sebuah Proyek Pembinaan Manusia
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

Mukaddimah


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (البقرة: ١٨٣)
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. 2: 183)

Merujuk pada ayat di atas, kita mendapati sebuah proyek besar pembinaan manusia. Kenapa demikian? Karena dalam ayat itu, termuat pokok-pokok utama sebuah proyek, yakni: الصِّيَامُ (nama program), تَتَّقُونَ (tujuan akhir proyek), قَبْلِكُمْ (cara mengerjakan proyek), dan آمَنُواْ (pelaksana-nya). Untuk jelasnya, kita urai satu persatu.

Nama Proyek:
Nama proyek ini adalah: “Proyek Pembinaan Diri Manusia

Nama Program
Nama Program dari proyek ini adalah: الصِّيَامُ yang bila di bahasa Indonesiakan, artinya “menahan diri,” Kita biasa menyebutnya “puasa.”

Menahan diri (puasa), dapat memberikan arti sebagai: mengurangi, memberhentikan (baik untuk sementara maupun untuk selamanya), mengalihkan dan sejenisnya.


عَنْ أَبىِ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللّهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللّهُ صَلَّى اللّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا كَانَ يَوْمِ سَوْمُ أَحَدُكُمْ فَلاَ يًرْفَثْ وَلاَيَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنّىِ صَائِمْ (متّفق عليه)
Dari Abu Hurairah RA, bersabda Rasulullah SAW: apabila seorang dari kalian berpuasa, maka janganlah ia mengucapkan kata-kata kotor, dan janganlah berteriak-teriak. Jika ia dicaci atau dimaki oleh orang atau diajak berkelahi, maka katakanlah “Aku menahan diri”.

Kegiatan menahan diri meliputi dua sisi kehidupan, yakni:

  1. Sisi biologis seperti: makan, minum dan berhubungan seks, dan kebutuhan pisik lainnya.
  2. Sisi non biologis, seperti: ketaatan, cara berpikir, emosi, kejiwaan, nafsu, dan lain-lain.

Tujuan Akhir

Tujuan akhir ibadah puasa adalah: تَتَّقُونَ yang bila dialih bahasakan ke bahasa Indo-nesia, bermakna: “Agar dirimu terpelihara.” Tattaquun ini merupakan kata turunan dari “wa-qoo” yang berarti “pelihara.”

Target
Target merupakan tujuan antara yang ingin dicapai dari masing-masing bagian dari keselu-ruhan bagian yang ingin dicapai dari tujuan akhir program.

Tubuh manusia memiliki 13 perangkat kerja yang terdiri dari informasi, penentu kebijakan dan pengambil keputusan dan eksekutor. Perangkat ini terdiri dari: telinga, mata, hidung, lidah, kulit, otak, hati, mulut, tangan, kaki, kemaluan, emosi dan nafsu.

Pelaksanaan
Pelaksanaan ibadah puasa, kita disuruh melihat bagaimana orang-orang terdahulu melak-sanakannya. Ibadah puasa itu sudah ada sejak nabi dan rasul sebelumnya. Nabi Muhammad SAW hanya meneruskan risalah ini dengan caranya sendiri. Beliau sampai menyebutkan bahwa puasa yang terbaik itu adalah puasanya nabi Daud AS, (puasa sehari dan sehari tidak).

Obyek Puasa
Yang menjadi obyek atau sasaran utama ibadah puasa, adalah perut. Perut tidak diberi asupan makan dan minum, sepanjang hari dari subuh hingga terbenam matahari, selama satu bulan penuh.

Perut merupakan sarana untuk mengolah bahan makanan menjadi sumber pembangunan tubuh/pisik dan karakter manusia. Perut itu bersifat netral. Ia tidak mempersoalkan bahan makan-an yang masuk ke dalamnya, apakah bahan itu baik atau bahan itu buruk, semuanya akan diolah-nya menjadi sumber pembangunan manusia.

Pada dasarnya, perut itu merupakan bagian utama yang mesti menjadi perhatian bagi orang yang melaksanakan ibadah puasa, karena hal ini menyangkut pembangunan utama karakter ma-nusia, sebagaimana yang disabdakan Rasulullah SAW:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةً فِيْهِ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (متّفق عليه)
Barangsiapa yang tidak berubah perkataannya dan perbuatannya, maka Allah tidak me-merlukannya/berhajat kepadanya dengan menahan makan/lapar dan minum/haus (puasa).

Jadi, meskipun yang menjadi sasaran/obyek puasa itu, adalah perut (bersifat pisik), akan tetapi akibat yang dilahirkan adalah pembinaan pisik dan karakter manusia secara menyeluruh.


Pelaksana
Pelaksana ibadah puasa adalah آمَنُوا atau “orang-orang yang beriman.” Dimaksud de-ngan orang-orang yang beriman, adalah orang-orang yang meyakini dengan sepenuh hati, bahwa beribadah dengan menggunakan konsep Islam ini, ia akan mencapai tujuan hidup yang diingin-kannya.
Semoga bermanfaat

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (41)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

MENJAGA KESEHATAN DIRI

Secara umum, sejak seseorang bangun dari tidur pada pagi hari (katakanlah ia bangun pada pukul 04.30 WIB atau kira-kira 30 menit sebelum waktu shalat Shubuh) hingga ia istirahat tidur pada pukul 22.00 WIB, maka selama rentang waktu itu atau kira-kira 17,5 jam posisi kepalanya berada di atas jantungnya. Dengan demikian selama itu pula jantungnya harus bekerja keras untuk memompakan darah dan oksigen ke otaknya.

حَافِظُواْ عَلَى الصَّلَوَاتِ والصَّلاَةِ الْوُسْطَى وَقُومُواْ لِلّهِ قَانِتِينَ (البقرة: ٢٣٨)

Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa. Berdirilah karena Allah (dalam salatmu) dengan khusyuk.(QS.2:238)

وَالَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلَوَاتِهِمْ يُحَافِظُونَ ¤أُوْلَئِكَ هُمُ الْوَارِثُونَ ¤ الَّذِينَ يَرِثُونَ الْفِرْدَوْسَ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ ¤ (المؤمنون: ٩-١١)

dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan me-warisi, (yakni) yang akan mewarisi syurga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya.(QS.23:9-11)

Shalat yang dilaksanakan menurut alur dan tempo yang benar (tertib)

عن أبي هريرة قال: أَوصَانِيْ خَلِيْلِيْ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِثَلاَثٍ بِصِيَامٍ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتِيَ الضُّحَى وَأَنْ أُوْتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ (متّفق عليه)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya; Saya diberi oleh sahabat karibku Rasulullah SAW, dengan tiga perkara; berpuasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dua rakaat dan shalat witir sebelum tidur.

عن معذة أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا كَمْ كَانَ رَسُوْلُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّى صَلاّةَ الضُّحَى، قَالَتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيْدُ مَاشَاءَ اللهُ ((رواه مسلم)

Dari Aisyah r.a. katanya; Rasulullah SAW biasanya melakukan shalat Dhuha empat rakaat, lalu beliau menambahnya menurut kemampuan beliau atau atas kehendak Allah.

عن أبي ذر رضي الله عنه قال: أَذَّنَ مُؤَذِّنُ رَسُوْلُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالظُّهْرِ،  فَقَالَ النَّبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبْرِدْ، أَبْرِدْ (أَوْ قَالَ: التَّظِرْ، التَّظِرْ) وَقَالَ: إِنَّ شِدَّةَ الحَرِّ مِنْ فَيْحِ جَحَنَّمَ، فَإِذَا اشْتَدَّ الحَرُّ، فَأَبْرِدُوْا عَنِ الصَّلاّةِ، قَالَ أَلاَبُوْ ذَرِّ: حّتَّ رَأَيْنَا فَيءَ التُّلُلِ (متّفق عليه)

Dari Abu Dzar r.a., katanya; Muazzin Rasulullah SAW telah menyerukan azan pada waktu Zhuhur, lalu Nabi SAW bersabda : Tunggulah dingin, tunggulah dingin (atau tunggulah, tunggulah), lalu beliau bersabda; Sesungguhnya panas yang sangat itu dari uap jahannam, maka apabila panas sangat terik, tangguhkanlah shalat untuk menunggu dingin. Kata Abu Dzar, sehingga kami melihat bayang-bayang bukit.

عن أنس بن مالك قال: كُنَّا نُصَلِّى مَعَ رَسُوْلُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي سِدَّةِ الحَرِّ فَإِذَا لَمْ يَسْتَطِعْ أَحَدُنَا أَنْ يُّمَكِّنَ جَبْهَتَهُ مِنَ الأَرْضِ بَسَطَ ثَوْبَهُ فَسَجَدَ عَلَيْهِ (رواه مسلم)

Dari Anas bin Malik r.a.  katanya; pernah kami shalat bersama-sama Rasulullah SAW, ketika panas terik; apabila seseorang tidak dapat meletakkan dahinya ke tanah, dihamparkannya baju yang dipakainya lalu ia sujud di atasnya.

عن أنس بن مالك قال: خَرَجْنَا مَعَ رَسُوْلُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنَ المَدِيْنَةِ إِلَى مَكَّةَ فَصَلَّى رَكْعَتَيْنِ رَكْعَتَيْنِ حَتَّى رَجَعَ قُلْتُ كَنْ أَقَامَبِمَكَّةَ قَالَ عَشْرًا (رواه مسلم)

Dari Anas bin Malik katanya; kami bepergian bersama-sama Rasulullah SAW dari Madinah ke Makkah, maka beliau shalat dua rakaat dua rakaat sampai kembali. Tanyaku kepada Anas, berapa lama Rasulullah SAW berdiam di Makkah? Jawab Anas, sepuluh hari.

عن بن عمر أَنَّهُ نَادَى بِالصَّلاَةِ فِي لَيْلَةٍ ذَاتِ بَرْدٍ وَرِيْحٍ وَمَطَرٍ فَقَالَ فِى آخِرِ نِدَائِهِ أَلاَ صَلُّوا فِي رِحَالِكُمْ أَلاَ صَلُّوا فِي الرِّحَالِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ رَسُوْلُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ المُؤَذِّنَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةٌ بَارِدَةٌ أَوْذَاتُ مَطَرٍ فِى السَّفَرِ أَنْ يَقُوْلُ أَلاَ صَلُّوا فِى رِحَالِكُمْ (رواه مسلم)

Dari Ibnu Umar r.a. katanya; bahwa ia adzan pada suatu malam yang sangat dingin, hu-jan dan angin, diucapkannya di akhir adzan; “Baiknya kamu shalat di tempatmu masing-masing (2X), kemudian ia berkata, bahwa Rasulullah SAW memerintahkan orang yang adzan pada malam yang dingin atau hujan ketika dalam perjalanan dengan kalimat tersebut.

عن بن عمر قال: كَانَ رَسُوْلُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا عَجِلَ بِهِ السَّيْرُ جَمَعَ بَيْنَ المَغْرِبِ وَالعِشَاءِ ( رواه مسلم)

Dari Ibnu Umar r.a. katanya; Apabila perjalanan Rasulullah SAW memerlukan kecepatan, beliau menjamakan Maghrib dengan Isya.

عن أنس بن مالك قال: كَانَ رَسُوْلُ الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا ارْتَحَلَ قَبْلَ أَنْ تَزِيْغَ الشَّمْسُ أَخَّرَ الظُّرَ إِلَى وَقْتِ العَصْرِ ثُمَّ نَزَلَ فَجَعَلَ بَيْنَهُمَا فَإِنْ زَاغَتِ الشَّمْسُ قَبْلَ أَنْ يَّرْتَحِلَ صَلَّى الظُّهْرَ ثُمَّ رَكِبَ (رواه مسلم)

Dari Anas bin Malik katanya; Apabila Rasulullah SAW hendak bepergian dan berangkat sebelum matahari tergelincir, ditaakhirkannya Zhuhur lalu dijamakkannya  dengan Ashar, dan bila akan berangkat setelah matahari tergelincir, beliau shalat Zhuhur terlebih dahulu.

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 44
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Di sana, ada Iwan dan Man Keluk. Melihat Vitlan datang, Man Keluk menggeser duduknya memberikan tempat kepadanya. Vitlan mengeluarkan rokok, sembari duduk di sampingnya. Man Keluk mengambil bungkus rokok itu. Di lihatnya di dalam bungkus itu tinggal sebatang, ia mengurungkan niatnya mengambil rokok tersebut.

”Ambiak selah. Ambo masih ado ko” kata Vitlan, sambil mengangkat tangannya yang memegang rokok.

”Mokasih,” kata Man Keluk, sembari menyulutnya. 

”Ka maa rencana waang, satalah tamat ko?” tanyanya.

”Alun tahu lai, Man. Masih pikia-pikia,” jawab Vitlan.

”Jangan lupa, tayang pukul lima sore ini. Sebuah film spy yang dibintangi oleh aktor kawakan, Sean Connery,” teriak Iwan Kribo, melalui megaphone, memberitahu film yang akan main sore dan malam nanti, sambil menirukan suara tembak-tembakan, sebagaimana adegan yang terjadi di dalam film, membuat perbincangan mereka terhenti.

Iwan Kribo meneriakan iklan film-film yang akan tayang, sambil berjalan menyusuri jalan-jalan yang ada di kota Sawah Lunto. Ia sangat mahir, menirukan adegan-adegan yang ada dalam sebuah film. Bila film yang diiklankannya film koboi, ia akan menirukan derap langkah kuda diiringi suara ringkikannya, suara kereta api beserta bunyi pluitnya dan suara tembak-tembakan. Bila film silat, ia akan menirukan adegan silat. Begitu juga bila yang diklankannya film drama, ia akan menirukan suara rayuan, tangisan hingga suara desahan.

”Nonton yok, nanti malam!” ajak Iwan.

”Ayok,” balas keduanya.

”Ajak yang lainlah,” kata Man Keluk.

”Pastilah. Salero kito kan samo,” sela Vitlan.

”Kito nonton film nan terakhir yo,” kata Iwan.

”Sembaranganlah. Film terakhir jadi juo,” balas Vitlan.

” Kalau baitu, aden ikuiklah,” sela Indra.

”Berati lah barampek kito ma. Ambo pulang dulu di,” sambung Iwan, sambil meninggalkan mereka.

”Ambo pulang juolah,” sambung Man Keluk.

”Samolah. Ambo pun pulanglah,” kata Vitlan.

Sampai di rumah.

”Lan, iko ado titipan untuak waang,” sapa bu May, pemilik rumah, dari jendela.

”Mokasih, Buk,” jawab Vitlan setelah menerima titipan itu. Sebuah amplop berwarna kuning kecoklatan, seperti amplop dinas ukuran besar.

Tiba di kamar, Vitlan menghidupkan lampu dan menimbang-nimbang serta membolak-balik amplop tersebut. Ia mereka-reka isinya, karena isinya sedikit agak tebal, dari hanya sekadar surat. Dari bu Tina, gumamnya, setelah membaca nama pengirim. Di sudut kiri bawah amplop, ada tulisan dengan tanda seru digaris bawahi. ”Bukalah setelah kamu sampai di tujuan!!!” Vitlan mengurungkan niatnya untuk segera membuka amplop tersebut, kemudian mema-sukannya ke dalam kopernya.

Dalam hati, ia bertanya-tanya, apalah isinya, kok sampai ada pesan seperti itu. Ingin hatinya, untuk segera ke rumah bu Tina. Tapi niat itu diurungkannya. Sambil makan malam, pikirannya tetap tertuju pada pesan di amplop itu. Vitlan membiarkan piring dan periuk, di tempatnya. Saat itu, tidak ada keinginannya untuk segera mencucinya, sebagaimana biasanya ia lakukan setiap selesai makan.

Ia menyulut sebatang rokok dan mengunci pintu kamar, lalu berjalan ke pasar baru. Di jenjang kelok S, ia berpapasan dengan Armen, yang juga akan ke sana. Vitlan mengeluarkan bungkus rokok dan menawarkannya pada Armen. Ia mengambil sebatang dan menyalakannya dengan puntung rokok Vitlan.

Di depan kedai Indra, sudah berkumpul teman temannya. Ada sekitar sepuluh orang jumlahnya. Waktu sudah menunjukan pukul sembilan lewat seperempat. Mereka secara beramai-ramai, membantu Indra mengemasi barang dagangan dan menutup kedainya. Setelah itu, mereka bergerak ke bioskop yang hanya berjarak dua bangunan dari tempat itu. Sampai di dalam bioskop, mereka memilih tempat di sebelah depan. Ekstra film yang segera tayang, sudah mulai diputar. Satu dua, penonton masih ada yang masuk.

Film sudah diputar. Mereka ikut mereaksi jalannya cerita. Tiba pada adegan intip-intipan antara anak mudanya dengan bandit, mereka ikut memberi aba-aba, ”awas, di sebelah bela-kangmu” atau ”awas, di balik bangunan” bila banditnya sedang berada di belakang atau di balik dinding. ”Asyiiik,” kata mereka bila melihat adengan percintaan. Begitu juga bila melihat adegan-adegan seru lainnya. Suara mereka, hampir-hampir mengalahkan suara sound bioskop. Penonton lain hanya geleng-geleng kepala, melihat tingkah pola mereka.

Efek dari film yang ditontonnya, membuatnya semakin bertekad untuk menghadapi tantangan yang mungkin akan dihadapinya sendirian di hari-hari, setelah ia mengambil keputusan akan hari depannya. Dalam kesendiriannya malam itu, Vitlan mencoba meneguhkan hatinya, sehingga dapat tidur sambil tersenyum.

Setelah berkemas, ia menemui ibu kosnya untuk pamitan, sembari menyerahkan kunci kamarnya. Kemudian ia melangkahkan kakinya ke stasiun bus di pasar baru. Di sepanjang jalan, Vitlan berpapasan dengan bus dan truk, yang hari itu memadati ruas jalanan ke inti kota. Lebar jalan yang tidak begitu besar, membuat kendaraan berjalan lambat. Tiba di kelok S, Vitlan melihat di jalan sebelah bawah, dari deretan kendaraan itu ada beberapa bus. Satu di antaranya bus ALS. Ia bergegas dengan berlari mendekati bus tersebut dan melambaikan tangan ke stoker yang ada di pintu belakang. Bus segera menepi di seberang jembatan dan stokernya turun.

”Ke mana, Bang?” tanyanya

”Ke mana busnya, Bang?” Vitlan balik bertanya.

”Ke Medan,” katanya.

”Ikut, Bang,” kata Vitlan, terus naik ke atas bus.

”Kok lewat sini busnya, Bang?” tanya Vitlan, setelah duduk di sebelah stoker dan meletakan barangnya di balik sandara tempat duduk, yang biasa digunakan oleh supir untuk istirahat.

”Ada jalan rusak, putus menjelang Solok,” jelas stoker.

”Bang, berapa ongkos ke Medan, Bang,” tanya Vitlan.

”Tiga ribu sembilan ratus,” jawab stoker.

”Uangku cuma ada seribu lapan ratus, Bang,” kata Vitlan, sambil mengeluarkan uang yang ada di kantong celananya.

”Tak ada lagi uangmu, masak segini kau kasih ongkosnya,” kata stoker itu, menatap Vitlan.

”Ia, Bang. Itulah cuma uangku. Nanti kubantu-bantulah, Abang. Aku ingin sekali ke Medan, Bang,” harap Vitlan.

”Ada saudarmu rupanya di sana?” tanya stoker itu, dengan logat Mandailingnya.

”Ndak ada, Bang,” jawab Vitlan.

”Berani kali, kau. Tak ada saudara yang kau tuju,” lanjut stoker itu.

”Beranilah, Bang. Karena ndak saudaralah, makanya aku ingin merantau ke sana. Aku bisa mandiri, dalam mengerjakan apa saja, yang penting bagiku, halal,” jelas Vitlan.

”Hebat kali, kau. Siapa namamu?” tanyanya.

”Vitlan, Bang. Biasa dipangil Alan. Nama abang siapa?” kata Vitlan.

”Panggil saja aku, Sunan atau Unan,” jawabnya.

Bus bergerak meninggalkan Sawah Lunto menuju Batu Sangkar. Ruas jalan yang kecil, membuat bus tidak dapat melaju dengan maksimal. Menjelang tengah hari, bus tiba di sana, kemudian berbelok arah ke Padang Panjang terus ke Bukit Tinggi. Setelah menaikan beberapa penumpang, bus pun langsung meninggalkan Bukit Tinggi.

Keluwesan dalam bergaul disertai kecekatannya dalam bekerja, membantu Sunan mengangkat dan menyusun barang-barang bawaan penumpang, membuat Vitlan langsung dapat simpati dan segera menyatu dengan kru bus. Iapun langsung diajak makan bersama satu meja dengan mereka. Selain makan, Vitlan juga mendapat suguhan kopi dan puding telur setengah masak serta rokok. Suguhan seperti ini, terus didapatkannya setiap kali bus berhenti untuk beristirahat makan dan menunaikan ibadah, disepanjang perjalanan, hingga bus tiba di Medan.

Setelah membantu menurunkan semua barang bawaan penumpang, Vitlan berpamitan kepada bang Samin, bang Sutan dan bang Sunan.

”Makasih ya Bang, sudah memberi tumpangan padaku,” kata Vitlan dengan mata berkaca-kaca menyalami satu persatu dari mereka.

”Sama-sama Lan. Bila kau balik ke Bukit (Bukit Tinggi, red), jumpai kami saja ya,” kata bang Sutan.

”Ini sekadar beli rokok kau,” kata bang Samin, sembari menyelipkan sesuatu ke kantong bajunya.

”Makasih Bang,” katanya, kembali memeluk bang Samin.

 Perlahan Vitlan melangkah meninggalkan stasiun ALS dan berjalan menyusuri jalan Sisingamangaraja yang teduh oleh rindangnya pepohonan yang berada di kanan kiri jalan. ”Benar kata Besra. Medan ini dijuluki Paris van Sumatera,” katanya membatin.

Padanan kata:

Ambiak    = Ambil,     Selah   = Sajalah,        Pikia    = Pikir

bersambung

Bagikan: