Tabedo – Bagian 41
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Pukul setengah tujuh, semua personil yang akan berangkat studi wisata, sudah hadir di halaman sekolah. Setelah mendapat pengarahan dari kepala sekolah, satu persatu nama siswa dipanggil untuk segera naik ke atas bus. Tepat pukul tujuh bus bergerak menuju obyek yang menjadi tujuan kegiatan studi wisata.

Menjelang pukul dua belas tengah  hari, rombongan tiba di tujuan. Bus berhenti pas di depan gerbang STM Payakumbuh. Kepala sekolah berikut staf dan seluruh siswa berdiri menyambut dan menyalami satu  persatu, seterusnya menggiring rombongan ke dalam pekarangan sekolah.

Selesai upacara penyambutan, pengurus OSIS setempat, membawa mereka ke kelas yang telah dipersiapkan untuk masing-masing, siswa laki-laki, dan perempuan. Sementara guru-guru pendamping diinapkan di ruang guru dan ruang kepala sekolah.

Selama tuan rumah melaksanakan shalat Jum-at dan makan siang, rombongan memanfaatkan waktu tersebut untuk beristirahat. Ada yang tidur siang, ada yang ngobrol dan ada yang duduk-duduk di taman, di emperan dan ruang istirahat. Vitlan sendiri lebih memilih tidur, karena hampir sepanjang perjalanan, sibuk melayani siswa yang lain.

Sebuah aturan diterapkan oleh tuan rumah, yakni: setiap dua orang siswa tuan rumah, mesti mendampingi satu teman dari siswa tamu untuk dijadikan teman ketika makan siang dilaksanakan. Vitlan mendapat teman makan ketua dan seksi keamanan OSIS  tuan rumah. Siswa yang tidak mendapat tamu, dipersilakan memilih kelompok makan yang disenanginya.

Dengan format seperti itu, suasana makan menjadi meriah dan jalinan keakraban terbangun dengan cepat. Riuh rendah gelak tawa menyertai cerita dan canda mereka. Tidak ada lagi tamu dan tidak ada lagi tuan rumah. Mereka sama-sama bergerak membereskan sampah makanan mereka. Kemudian kembali ke tempat duduk semula, meneruskan obrolan dan sesekali terdengar kelakar sesama mereka.

Hari mulai menapak senja. Satu persatu dari mereka membubarkan diri. Sebahagian dari siswa yang menjadi tamu, mohon diri untuk mandi dan bersalin. Sementara bagian terbesar dari siswa tuan rumah pulang ke rumah masing-masing.

Selepas makan malam, mereka berkumpul di halaman sekolah. Di sana sudah tersusun dengan ra-pi kursi dan bangku sekolah. Sebagian dari mereka duduk dan sebagian lainnya berdiri melingkar di sisi tempat duduk. Sebuah pentas disiapkan untuk peng-isi acara.

Tarian persembahan tampil diiringi musik dari tape recorder, disajikan dengan baik sekali oleh tuan rumah dilanjutkan dengan tari piring. Setelah ucapan selamat datang dari wakil kepala sekolah tuan rumah yang dibalas dengan salam perkenalan dari tamu, vocal group yang dikomandoi oleh Siswo tampil membawakan tiga buah lagu, antara lain: Pagi Yang Indah Sekali, Angin Laut dari Koes Plus dan Bila Hari Telah Senja dari albumnya The Mercy’s. Kemudian secara berturut_turut ada pembacaan puisi dan pantun yang ditampilkan secara bergantian dari kedua pihak.

Suasana malam yang cerah penuh cahaya bintang di langit, membuat suasana malam sambung rasa tersebut semakin berkesan. Tepat pukul sebelas malam, acara usai dan para siswa tamu masuk ke ruang kelas untuk istirahat. Sementara siswa yang bertugas sebagai tim keamanan yang didampingi oleh dua orang polisi, berjaga-jaga di seputar sekolah. Siswa lainnya, ada yang tidur di sekolah dan yang rumahnya dekat dari sekolah diperbolehkan pulang.

Tidak lama berselang, datanglah sekelompok pemuda mendekati siswa yang berjaga di depan gerbang sekolah. Junlah mereka sekitar enam, tujuah orang. Seorang pemuda, tinggi kerempeng dengan rambut gondrong, bertopi lebar dari anyaman daun pandan, bercelana dan jaket jean. Jaketnya tidak dikancingkan, yang menampakan singlet merah bertuliskan L.A. Lelaki yang sepertinya pimpinan kelompok itu, menyorongkan potongan kayu sebesar ibu jari kaki, ke siswa penjaga gerbang:

”Ado acara apo di siko, rami-rami?”

”Ado tamu siswa studi tour dari Sawah Lunto.” jawabnya.

”Kami pemuda setempat, baa kok indak tahu?” tanyanya lagi.

”Iko acara sekolah, Bang.” jawabnya.

”Baraa banyak yang datang ka siko? lanjutnya bertanya.

”Ado tigo bus, Bang.” jawabnya lagi.

”Baraa hari mereka di siko?” lanjutnya.

”Sampai hari Minggu pagi, Bang.” jawabnya.

”Mintak kami dulu, uang rokoknya untuak keamanan kalian.” lanjut lelaki itu.

”Sabanta yo, Bang.” jawabnya lalu bangkit  beranjak ke dalam dan sebentar kemudian kembali lagi dengan didampingi dua orang polisi yang ditugasi menjaga mereka.

”Uang keamanan apa. Kalian dari mana?” tanya polisi pada mereka.

”Anak sini, Pak.” jawab lelaki itu gelagapan dan berusaha menjauh, setelah tahu yang dihadapinya aparat berseragam.

”E e e, sini dulu.” kata polisi sambil menarik krah baju pemuda itu dan mendudukkannya di bangku sekolah yang sengaja diletakkan di situ.

”Apa maksudmu dengan uang keamanan hah?” sergah polisi tanpa melepas genggamannya.

”Maaf maaf, Pak.” jawabnya sambil meletakkan tangan di dadanya.

”Mau jadi preman kalian di sini ya. Mentang-mentang anak sini, berlagak jago kalian. Ayo ikut saya ke kantor polisi.” gertaknya.

”Ampun Pak. Tolong Pak, jangan ditangkap kami Pak.” pinta mereka menghiba.

”Baik, kali ini, saya lepas kalian. Ingat! lain kali jangan dibuat lagi, ya. Minta maaf kalian dulu sama mereka.” kata polisi kepada mereka.

”Ya Pak. Makasih Pak.” kata pemuda-pemuda itu sambil menyalami polisi dan siswa yang berada di situ, kemudian berlalu di keremangan malam.

Selesai Vitlan melakukan absensi, wakil kepala sekolah yang bertindak sebagai ketua rombongan studi wisata, memberikan pengarahan, agar siswa menjaga ketertiban, sopan santun, giat bertanya sebanyak mungkin sesuai jurusan masing-masing.

Tiba di lokasi, mereka disambut oleh kepala divisi Hubungan Masyarakat (Humas) proyek yang didampingi oleh tiga orang dari divisi mesin, elektro dan sipil. Ka Humas proyek, membawa mereka ke ruangan pertemuan. Beliau menjelaskan segala sesuatu yang berkenaan dengan pembanguan proyek melalui sebuah peta besar yang terpampang di dinding bagian depan ruangan. Kemudian beliau juga menjelaskan, bahwa untuk pembelajaran di lapangan, rombongan akan dipandu ketiga orang tadi  sesuai jurusannya.

Pukul 11.45 WIB, ketiga kelompok belajar tadi sudah berkumpul kembali di tempat semula. Setelah mengucapkan terima kasih atas penerimaan dan layanan yang mereka terima, ketua rombongan mohon pamit.

Perasaan puas terlihat jelas di wajah mereka. perasaan ini mereka luapkan dengan bernyanyi lagu lagu gembira sepanjang perjalanan pulang. Bus berhenti sejenak di depan kedai nasi untuk mengambil pesanan nasi bungkus untuk makan siang.

Di bawah pohon rindang dekat sebuah masjid, mereka turun untuk makan siang. Rasa gembira, puas dan lapar, berpadu menjadi satu, membuat suasana makan siang mereka hari itu terasa lebih istimewa. Selesai shalat jamak di masjid, mereka melanjutkan perjalanan kembali dengan mengambil arah berbeda dan tiba di sekolah sekitar pukul dua siang.

  Lelah berjalan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain di area proyek PLTA, selama himpir setengah hari, membuat para siswa kecapaian dan mengantuk. Mereka tidur di dalam ruangan dan ada pula yang memanfaatkan bangku-bangku taman di bawah rindangnya pohon Sri Payung.

Vitlan, Siswo, Bahrum memanfaatkat emperan kelas  yang teduh untuk istirahat. Mereka menggelar tikar pandan dan merebahkan tubuh di sana. Ditiup angin sepoi-sepoi membuat mata mereka segera terpejam tidur.

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (38)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

MENJAGA KESEHATAN DIRI

Melakukan Perjalanan/Shafar

Melakukan perjalanan atau safari merupakan suatu kegiatan bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain, atau dari satu negeri ke negeri yang lain, baik yang berdekatan maupun berjauhan. Perjalanan ini dapat dilakukan dengan berjalan kaki dan dapat pula dengan menggunakan kendaraan.

Ada berbagai macam jenis dan penyebab orang melakukan perjalanan antara lain:

  • Berniaga

Perjalanan dilakukan orang karena adanya kegiatan perniagaan untuk menjual dan membeli barang dagangan ke dan dari kota atau negeri lain. atau hanya untuk menjual atau membeli saja.

  • Ziarah

Ziarah adalah perjalanan yang dilakukan seseorang yang disebabkan adanya keinginan untuk mengujungi saudara, keluarga atau tempat-tempat tertentu untuk melakukan suatu kegiatan, misalnya ziarah ke makam orang-orang ternama atau orang-orang shalih seperti makam para sunan di Jawa.

  • Ibadah

Orang melakukan perjalanan karena ingin melakukan ibadah ke suatu tempat tertentu, se-perti ibadah haji ke tanah suci Makkah.

  • Wisata

Orang melakukan perjalanan karena ingin menikmati suasana keindahan alam, bangunan, lukisan, seni dan budaya masyarakat di suatu negeri, sambil perjalanan karena ingin menik-mati suasana keindahan alam, bangunan, lukisan, seni dan budaya masyarakat di suatu nege-ri, sambil bersantai menikmati ombak bergulung di tepian pantai, semilir angin yang bertiup, pertunjukan dan atraksi, berbelanja aneka barang dan perhiasan.

  • Penjelajahan

Orang melakukan perjalanan karena ingin melakukan penjelajahan ke berbagai belahan du-nia, ingin menemukan sesuatu yang dapat memuaskan jiwa.

  • Petualangan

Orang melakukan perjalanan karena ingin berpetualang ke berbagai tempat, terutama yang mengundang  naluri untuk menaklukannya.

  • Kegiatan Olahraga

Orang bepergian melakukan perjalanan karena adanya kegiatan olahraga seperti piala dunia sepakbola, grand prix, terjun payung, grand slam, dan lain sebagainya.

  • Penelitian

Orang bepergian melakukan perjalanan karena ingin melakukan penelitian di suatu tempat, misalnya meneliti suatu kerajaan kuno, kejayaan masa lalu, dan lain-lain.

  • Muhibah

Orang bepergian melakukan perjalanan karena kunjungan muhibah ke suatu negeri atau tempat tertentu seperti kunjungan muhibah tim kesenian Minangkabau ke Negeri Sembilan Malaysia, dan lain-lain.

Dilihat dari segi kesehatan, bepergian melakukan perjalanan itu menunjukan dua hal penting yakni:

  1. Bepergian melakukan perjalanan itu, terutama perjalanan yang jauh dan memerlukan waktu lama, serta kegiatannya yang menantang dan penuh resiko, akan membutuhkan enerji yang besar dan banyak, kekuatan dan daya tahan tubuh yang prima.
  2. Membiasakan bepergian melakukan perjalanan seperti dimaksud pada poin 1, akan membuat tubuh menjadi sehat dan kuat serta memiliki daya tahan tubuh yang prima pula.

Banyaknya keuntungan yang didapat dari melakukan perjalanan, khususnya dalam Pembi-naan kesehatan dan kebugaran tubuh, Allah dan RasulNya menganjurkan manusia untuk suka melakukan perjalanan.

وَجَعَلْنَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ الْقُرَى الَّتِي بَارَكْنَا فِيهَا قُرًى ظَاهِرَةً وَقَدَّرْنَا فِيهَا السَّيْرَ سِيرُوا فِيهَا لَيَالِيَ وَأَيَّاماً آمِنِينَ (سبأ:١٨)

Dan Kami jadikan antara mereka dan antara negeri-negeri yang Kami limpahkan berkat kepadanya, beberapa negeri yang berdekatan dan Kami tetapkan antara negeri-negeri itu (jarak-jarak) perjalanan. Berjalanlah kamu di kota-kota itu pada malam hari dan siang hari dengan aman. (QS.34:18)

أَوَلَمْ يَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَيَنظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ كَانُوا أَشَدَّ مِنْهُمْ قُوَّةً وَأَثَارُوا الأَرْضَ وَعَمَرُوهَا أَكْثَرَ مِمَّا عَمَرُوهَا وَجَاءتْهُمْ رُسُلُهُم بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِن كَانُوا أَنفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ (الروم:٩)

Dan apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi dan memperhatikan ba-gaimana akibat (yang diderita) oleh orang-orang sebelum mereka? orang-orang itu adalah le-bih kuat dari mereka (sendiri) dan telah mengolah bumi (tanah) serta memakmurkannya lebih banyak dari apa yang telah mereka makmurkan. Dan telah datang kepada mereka rasul-rasul mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata. Maka Allah sekali-kali tidak berlaku zalim kepada mereka, akan tetapi merekalah yang berlaku zalim kepada diri sendiri. (QS.30:9)

فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِن فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيراً لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (ألجمعة:١٠)

Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung.(QS.62:10)

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 40
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Bu Tina datang membawa baki berisi 3 gelas Teh Manis panas, sebuah mangkok air cuci tangan dan selembar lap tangan. Ia meletakkan ketiga gelas tersebut di hadapan masing-masing.

”Silakan diminum,” tawarnya, sembari membuka tutup botol makanan yang ada di atas meja tamu.

”Jadi, mengenai konsumsi kita selama berada di Paya Kumbuah, sebagiannya akan ditanggung oleh tuan rumah,” kata bu Tina, membuka pembicaraan.

”Yang mana saja, yang mereka tanggulangi?” tanya bu Lela.

”Berita yang didapat dari mereka, adalah: makan malam hari Jumat dan Sabtu, sarapan pagi Sabtu dan Minggu,” jelas bu Tina.

”Makan siang hari Sabtu, Bu?” tanya Vitlan.

”Sabtu siang, kita kan di lapangan, studi tour. jadi makannya kita beli di tempatlah,” jelasnya

”Sementara makan siang hari Jumat dan Minggu, kita beli,” imbuhnya.

”Bagaimana dengan dana yang sudah kita persiapkan, apa kita gunakan untuk beli oleh-oleh?” tanya Vitlan lagi.

”Itulah makanya ibu panggil kamu ke sini, guna membicarakannya.” kata bu Tina.

”Bagaimana, bu Lela. apa pendapat Ibu?” tanya bu Tina kepada sahabatnya.

”Bagaimana bila sebagiannya kita gunakan untuk biaya pembuatan cinderamata, misalnya hiasan dinding atau jam dinding dan sebagainya,” kata bu Lela.

”Haa saya punya usul, bagaimana bila kita buatkan cinderamata juga. Tapi dari Batubara, yang merupakan ciri khas kota kita, misalnya: papan nama kepala dan wakil kepala sekolah atau asbak rokok atau ukiran dari batubara. Bagaimana?” kata Vitlan.

”Saya setuju tu. sebagian lagi, kita serahkan kepada mereka untuk keperluan konsumsi dan makan ringan acara hiburan nanti,” timpal bu Lela.

”Lan, coba kamu hitung, berapa kira-kira biayanya itu? sela bu Tina.

”Jadi apa saja yang mau kita buat, Bu. papan nama kepala dan wakil kepala sekolah, dan asbak rokok? tanya Vitlan.

”Ya. tapi asbak rokoknya kalau bisa yang berukuran agak besar agar bisa diletakkan di meja tamu,” kata bu Tina.

”Baik Buk. nanti saya tanya ke sana dulu. kalau begitu, saya pamit dulu Buk, Assalamu’alaikum,” kata Vitlan kepada kedua gurunya itu.

”Wa’alaikumussalam, ibu tunggu kabarnya secepatnya, ya Lan, lanjut bi Tina.

”Ya Buk,” jawab Vitlan, segara berlalu.

Setelah sholat Ashar, berdua dengan Siswo, Vitlan berkunjung ke rumah salah seorang pejabat PN TBO, yang juga guru di sekolahnya. Kebetulan sekali beliau sedang santai dengan putrinya di ruang tamu.

”Assalamu’alaikum, Pak,” sapa mereka.

”Wa’alaikumussalam, masuk, Lan, Wo. Imbau om Ical  nak. ado kawannyo datang,” menyuruh anaknya.

”Sabananyo kami paralu jo Bapak, ma,” kata Vitlan.

”Ha, paralu apo tu?” jawab pak Syafwan (begitu gurunya itu dipanggil). 

”Baiko, Pak. Sahubuangan dengan kegiatan Studi Wisata, Pembina OSIS, mamintak supayo awak tu mambuek cendramato babantuak papan namo kapalo, wakil kapalo sikolah jo asbak rokok dari batubaro yang marupokan khas Sawah Lunto, masiang-masiang ciek.” kata Vitlan.

”Rancak bana tu mah, Lah bapasan?” tanya pak Syafwan.

”Alun lai, Pak. Mancari bahan bakunyo nan susah, Pak. Kan harus dipasan ka urang di tambang.” jelas Vitlan.

”Nan kan mangarajoannyo lah ado?” lanjut pak Syafwan.

”Lai, Pak. Ado rang gaek kawan, nan ka mangarajo-annyo.” sela Siswo.

(sambil mengerenyitkan keningnya dan menatap mereka bertiga), sesaat kemudian. ”Sudah, bia Bapak sajo nan mambueknyo. Kalian siapkan sajo nan lain.” tegas pak Syafwan.

(Dengan raut wajah gembira dan sedikit keheranan, Vitlan memalingkan wajahnya menatap Siswo dan Ical, yang duduk di sebelah kanan dan kirinya), ”Makasih, Pak. Makasih, Pak.” kata Vitlan dan Siswo serentak.

Selepas maghrib, Vitlan segera bergegas ke rumah bu Tina.

”Assalamu’alaikum,” sambil mengetuk pintu.

”Wa’alaikumussalam, siapa?” terdengar suara jawaban dari dalam.

”Alan, Buk.” jawab Vitlan.

”Tunggu sebentar ya, Lan.” lanjutnya

”Masuk, Lan.” jawab bu Tina membuka pintu.

”Bu Lela, maa nyo?” tanya Vitlan.

”Ado di balakang. Kami sadang masak.” jawab bu Tina.

”Sabanta sajo Buk, cuma mangabari masalah cinderamata sajo.” kata Vitlan.

”Masuk dulu.” kata bu Tina, sembari menggamit tangan Vitlan ke pangkuannya.

Darah Vitlan berdesir, merasakan hangat dada bu Tina di tangannya. Ia menurut saja, ketika dituntun ke kursi tamu.

”Sabanta yo, Lan.” katanya sembari berlalu ke belakang.

Vitlan duduk dan membentangkan kedua tangannya ke sandaran kursi. Merasa gerah, ia membuka kancing bagian atas bajunya dan mengambil buku tulis yang terselat di atas meja, lalu mengipaskannya ke lehernya. Bu Tina kembali ke depan dan memindahkan peralatan yang ada di atas meja dan meletakannya di atas bufet.

”Makan di sini, ya.” katanya sambil berlalu.

Bu Tina dan bu Lela kembali ke depan, sambil membawa perlengkapan makan dan meletakkannya di atas meja tamu. semua sudah lengkap.

”Ayo kita makan.” kata bu Tina, sembari menyerahkan piring yang sudah berisi nasi kepada Vitlan.

Selesai makan, bu Tina lansung mengintoregasi Vitlan dengan pertanyaan,

”Bana Lan, apo berita nan ingin Alan sampaikan. Bia kami dangakan.” tanyanya

”Baiko caritonyo Bu. Tadi sore tadi, Alan pai ka rumah pak Syafwan, menyampaikan ide tentang cinderamata itu ka beliau. Beliau menyambut baik ide itu, sampai-sampai mengatokan, ”bia beliau sajo nan manyadiokannyo.” jelas Vitlan.

”Jadi, pak Syafwan mambueknyo?” selidik bu Tina.

”Iyo, Buk. dalam duo tigo hariko siap, kata beliau.” jawab Vitlan.

”kalau baitu, uang untuak cinderamato tu, rancaknyo dipangakan yo?” komentar bu Tina.

”Tasarah Ibuk lah.” jawab Vitlan.

”Sudah, balikan untuak makan di pajalanan sajo.” sela bu Lela.

”O iyo yo. Rancak untuak bali makanan, nan ka dikulek-kulek di ateh oto. Kalau baitu, salasai sudah parsiapan awak ma. Tingga pelaksanaan sajo lai.” lanjut bu Tina.

”Kalau baitu, Alan baliak lai, Buk. Assalamu’alaikum.” kata Vitlan bangkit mohon diri.

”Wa’alaikumussalam.” jawab mereka berdua.

Keluar dari rumah bu Tina, Vitlan tidak langsung pulang ke tempat kostnya. Ia meneruskan langkahnya ke tempat biasa ia nongkrong dengan teman-temannya. Tiba di lokasi, ia dapati hampir semua teman nongkrongnya ada di sana.

”Dari maa waang Lan?” sapa mereka.

”Ado paralu stek.” jawab Vitlan sambil mengambil posisi duduk di sebelah Bahrum.

”Ado barang masuak sabanta lai.” kata Atan.

”Cocok kali lah itu, alah kampih saku ma.” komentar Vitlan.

Tak berapa lama, truk-truk yang membawa kayu log, masuk dan berhenti di hadapan mereka. Mereka segera naik, dan truk-truk melaju kembali menuju gudang tambang. Kira-kira satu jam, muatan truk selesai mereka pindahkan ke dalam gudang. Mereka kembali ke tempat nongkrong tadi untuk membagi hasil keringat mereka dan seterusnya membubarkan diri.

Vitlan dan Bahrum jalan beriringan, kemudian berpisah di kelok S. Setiba di rumah ia langsung ke sumur untuk mandi dan bersalin. Ia menyalakan sebatang rokok, sembari menghenyakkan pantatnya   di kepala difan dan bersandar ke dinding kamar. Kelelahan membuatnya cepat mengantuk. Vitlan mematikan rokok dan meletakkan sisanya di asbak. Lalu membaringkan badan dan seketika langsung tertidur.

Vitlan dan bu Tina beriringan berjalan di pematang sawah, hingga sampai di tepian sebuah sungai. Mereka menyeberanginya dan berhenti di sebuah pondok kecil di kaki bukit. Vitlan menurunkan kaki celana dan membersihkannya dari serpihan rerumputan yang lengket padanya. Ia mengambil posisi duduk bersandar pada tiang pondok, merogoh kantong dan mengeluarkan kretek Ji Sam Soe. Mengambilnya sebatang dan menyulutnya.

Bu Tina mendekat dan mengambil rokok yang belum sempat dinyalakannya dan meletakkannya di lantai pelupuh. Ia mengangkat tangan Vitlan dan melingkarkannya di tengkuknya. Mereka berpelukan. Bu Tina mengecup dan melumat bibir Vitlan dengan penuh gairah, membuat Vitlan sulit bernafas. Ia coba membalas, lalu berhimpitan di lantai. Nafas bu Tina memburu, menandakan ia sudah mendekati puncak gairah. Satu demi satu kancing bajunya membuka. Pelukannya semakin erat.

Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh pelepah kelapa yang jatuh di samping pondok. Keduanya bangun dan merapikan pakaian mereka yang acak-acakan. Bersamaan dengan itu, Vitlan pun terbangun dari tidurnya. Ia duduk bersandar di dinding kamar. Nafasnya masih memburu, ia menjangkau cangkir teh dan meneguknya beberapa deguk.

Ia mengambil sisa rokok, yang tadi diletak-kannya di asbak dan menyulutnya. Asapnya mengepul ke udara dan pecah di langit-langit kamar. Vit-lan merebah begian depan celana dalamnya, basah. Jarum jam dinding menunjuk angka tiga lewat seperempat. Ia menghisap rokoknya sambil rebahan, berusaha untuk tidur kembali, namun matanya tak hendak terpejam. Vitlan bangkit mengambil termos air dan menuangkan ke dalam cangkir dan menambahkan sedikit gula, lalu menyerumputnya.

Mendekati subuh, kantuk mulai terasa menyerangnya. beberapa kali, mulutnya menguap. Ia lalu merebahkan kembali tubuhnya di dipan dan tak lama berselang tertidur, hingga matahari mulai meninggi. Sumarno sengaja tidak membangunkannya, karena hari itu memang hari libur akhir pekan sekolah.

Menjelang tengah hari, Vitlan baru terbangun. Seluruh tubuhnya terasa pegal-pegal. Ia segera bangkit kemudian mandi dan mencuci pakaian. Setelah bersalin, ia mengajak Sumarno ke pasar baru membeli sambal dan lauk. Lagi banyak uang, Vitlan membeli satu potong gulai Tunjang dan satu potong asam padeh ikan. Sementara untuk Sumarno, ia belikan dua porsi gulai Cincang. Saking lahapnya, mereka makan, hingga nasi yang dimasak Sumarno untuk dua kali makan, ludes siang itu.

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (36)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

MENJAGA KESEHATAN DIRI

Memakai Alas Kaki

Rasulullah SAW sangat menganjurkan ummatnya memakai alas kaki ke mana saja, teruta-ma dalam melakukan perjalanan dan menghadapi peperangan.

عن جابررضي الله عنه قال: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ فِى غُزْوَةِ غَزَوْنَا هَااسْتَكْثِرُوا مِنَ النِّعَالِ فَأإِنَّ الرَّجُلَ لاَ يَزَالُ راَكِبًا نَاانْتَعَلَ ( رواه مسلم)

Dari Jabir r.a., katanya: Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda pada suatu peperangan yang kami lakukan: Perbanyaklah memakai sandal, karena selagi seseorang itu memakai sandal, senantiasa ia seperti orang yang berkendaraan.

Beberapa alasan orang dianjurkan memakai alas kaki antara lain:

  1. Untuk Kenyamanan Berjalan/Berlari

Memakai alas kaki (sandal dan sepatu) akan memberikan kenyamanan kepada sese-orang ketika ia berada di rumah, bermain, berolahraga, bekerja, dan bepergian terutama ketika ia melakukan perjalanan jauh serta berperang.

  • Mencegah Cidera

Selain untuk kenyamanan, memakai alas kaki diperuntukkan guna menjaga kaki dari cidera ketika melakukan suatu pekerjaan. Beberapa pekerjaan yang ada: di bengkel, pabrik, tambang, bangunan, dam, dan lain-lain yang selalu berhubungan dengan alat berat dan beri-siko seperti: memotong dan menyambung/mengelas, mengangkat dan menurunkan, mendo-rong dan menarik, mendongkrak, mengikat dan membuka ikatan, mengepak dan membong-kar/membuka, mengebor, mencangkul dan membabat, memanjat, dan lain-lain, rentan ter-hadap cidera seperti: tertimpa, terjatuh, terjepit, terbentur, tertusuk, dan lain-lain, dapat mengakibatkan memar, luka, terkilir dan patah, bahkan buntung.

Memakai alas kaki (sandal dan sepatu) untuk pekerjaan seperti di atas sangat berman-faat dan dianjurkan guna mencegah cidera atau paling tidak untuk mengurangi akibat yang ditimbulkan apabila terjadi kecelakaan kerja.

  • Mencegah Penyakit

Banyak pula aktifitas yang bila dikerjakan dapat mengundang datangnya penyakit, terutama aktifitas yang berada di luar ruangan. Tempat-tempat yang rentan mengundang penyakit antara lain:

  • Tempat yang banyak terdapat kotoran hewan seperti kandang ternak, kebun, sawah dan ladang, septic tank (tempat kotoran manusia.
  • Tempat yang banyak terdapat limbah seperti: pabrik, saluran pembuangan limbah, tempat pembuangan sampah, parit, dan tempat lain yang sejenis.
  • Tempat-tempat lain di luar rumah juga rentan mengundang penyakit.

Oleh karena itu memakai atau menggunaka alas kaki menjadi keharusan bagi setiap orang yang berada dan melakukan kegiatan di luar rumah.

Selain itu pada sebahagian orang, memakai alas kaki tidak hanya dijadikan sebatas keper-luan yang telah disebutkan di atas, akan tetapi juga sebagai gaya hidup/mode. Untuk yang satu ini, maka lahirlah berbagai mode dan bentuk alas kaki (sandal dan sepatu).

Memakai Celak Mata

Kemudian perbuatan yang dianjurkan oleh Rasulullah SAW agar selalu dikerjakan oleh ummatnya adalah memakai celak mata. Menurut Rasulullah SAW, memakai celak mata dapat menjaga kesehatan mata dan meningkatkan daya lihat  atau ketajaman penglihatan mata.

عن بن عبّاس قال: قّالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَلبَسُوا مِنْ ثِيَابِكُمْ البَيَاضَ، فَـإِنَّهَا مِنْ خَيْرِ ثِيَابِكُمْ، وَكَفِّنُوْا فِيْهَامَوْتَاكُمْ، وَإِنْ خَيْرَأَكْحَالِكُمُ الإِثْمِدُ، يَجْلُوالبَصَرَ، وَيُنْبِتُ الضَّعْرَ (رواه ابوداود)

Dari Ibnu Abbas, katanya, Bersabda Rasulullah SAW: “Pakailah pakaian warna putih, karena itu adalah pakaianmu yang terbaik, dan kafanilah orang yang telah meninggal dengan kain putih. Dan sesungguhnya celak yang paling baik adalah  al-Itsmid (nama celak mata) yang dapat membuat penglihatan lebih tajam dan menumbuhkan rambut.

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 39
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Kemesraan badan yang dirasakannya tadi sore sangat membekas pada dirinya, hingga terulang dalam tidurnya. Vitlan dan bu Tina tenggelam dalam gumulan asmara yang membara. Nafas mereka saling memburu, hingga mereka berdua sampai ke puncak kenikmatan badani. Ia terbangun dan merasakan celana dalamnya basah.

Vitlan meraih jam tangan, yang diselipkannya di balik kasur tepi dipan. Waktu menunjukkan pukul setengah enam. Ia segera bangkit untuk mandi ke sumur yang ada di samping rumah. Siraman air yang jatuh membasahi kepalanya, terasa begitu segar di seluruh tubuhnya. Pagi itu, ia mandi lebih lama daripada waktu-waktu sebelumnya.

Selesai berpakaian dan beres-beres, Vitlan langsung pergi praktek. Ia singgah dulu, sarapan Ketupat, di Pasar Baru. Melihat orang di depannya memesan telur setengah masak, ia pun memesan pula, dua buah. Mumpung waktu masih pagi, ia sempatkan nongkrong sebentar di kedai Indra, yang sudah buka. Siswo datang dan mereka jalan bareng menuju tempat praktek.

Dua hari sebelum pelaksanaan Studi Wisata, Vitlan, ketua dan bendahara OSIS dipanggil ke kantor. Kepada mereka, kepala sekolah yang sekaligus ketua pembina OSIS, menanyakan kesiapan mereka dalam melaksanakan kegiatan Studi Wisata tersebut. Kepada Ketua Pembina, Vitlan menjelaskan bahwa semua persiapan telah lengkap, kecuali masalah kumsumsi selama Studi Wisata. Untuk itu Ketua Pembina menyuruh Vitlan berkoordinasi dengan ibu Tina, yang merupakan orang sana. Spontan raut wajah Vitlan berubah. Nampak kegelisahan di sana.

 Ia memalingkan wajah ke arah bu Tina, yang duduk di sebelah bu Lela. Mereka bertatapan, bu Tina senyum sambil mengedipkan mata. Jantung Vitlan berdegup, ia menunduk dan memalingkan wajahnya sambil melangkah menuju pintu.

”Lan, sini dulu,” terdengar namanya dipanggil dan ia pun menghentikan langkahnya, seraya memalingkan wajahnya.

”Sini dulu,” sambil menggamitkan tanggannya.

Vitlan berbalik, mendekat ke meja bu Tina dan berdiri di depannya. Bu Tina bangkit dari tempat duduk, berdiri mendekat.

”Besok siang, ibu tunggu di rumah ya,” katanya sembari menyelipkan sesuatu ke kantong Vitlan.

”Ya, Bu,” jawabnya pelan sambil mengangguk dan berlalu.

Sambil berjalan pulang, Vitlan merogoh kantong bajunya. Rupanya lembaran uang yang diselipkan bu Tina tadi ke kantongnya. Ia memindahkan uang itu ke kantong belakang celananya. Setengah berlari, ia menyusul Sumarno yang berjalan agak jauh di depannya.

”No, samo, No,” teriaknya pada Sumarno.

Sumarno, menghentikan langkahnya, sehingga mereka berpapasan. Kedua teman sekamar itu terlibat percakapan mengenai rencana studi wisata mereka. Meski mereka berbeda jurusan, namun akrab dan kompak. Semua pekerjaan rumah, mereka kerjakan bersama-sama.

 Sedang asyik cerita, sebuah truk melambat dekat mereka. Keneknya mendongakkan kepala mengatakan ada barang masuk.

”Ada barang masuk,” katanya.

Vitlan melambaikan tangan memberi kode berhenti. Truk menepi, yang di belakang ikut menepi. Mereka berdua langsung naik ke atas truk yang paling depan. Truk melaju dan berhenti di depan kedai Indra. 5 orang teman Vitlan yang nongkrong di sana ikut naik. Truk meneruskan perjalanan menuju gudang tambang.

Dalam waktu satu jam muatan, yang berupa kayu bulat penyangga lubang tambang batubara, selesai dipindahkan ke gudang. Dengan upah yang lu-mayan, Vitlan dan kawan-kawan, berjalan ke tempat ngumpul di depan kedai Indra.

Vitlan dan Sumarno, langsung ke kedai nasi untuk makan malam. Selesai makan, mereka kembali ke tempat ngumpul. Udara malam Sawah Lunto yang agak panas, membuat keringat membasahi seluruh tubuh. Di antara mereka, ada yang buka baju, ada yang sekadar buka beberapa buah kancing baju, sambil berkipaskan karton kemasan. Ada pula yang duduk di bok berkipaskan baju.

Setelah menghabiskan sebatang Ji Sam Soe, Vitlan dan Sumarno, pamitan pulang. Tiba di rumah, duduk sebentar, kemudian mandi. Selesai ganti pakaian, Vitlan mengambil sebatang rokok dan mengisapnya sembari berbaring di ranjangnya. Tak habis sebatang, ia sudah tertidur sambil menyandar di dinding kamar. Sementara rokok di jarinya, jatuh ke lantai dalam kondisi sudah tidak menyala lagi.

Tersentak dari tidur, sayup-sayup Vitlan mendengar suara tarahim subuh dari radio tetangga. Ia meraih jam tangannya yang terleta di samping tempat tidurnya. Sudah menjelang subuh. Ia bangkit keluar kamar untuk mandi. Sedang ia berkemas, terdengar suara adzan dari menara masjid. Ia membangunkan Sumarno yang masih tidur lelap, lalu shalat Subuh.

Selesai berdoa, ia menghidupkan kompor dan memasak air untuk membuat Teh Manis. Pagi itu, ia tidak masak nasi seperti biasanya. Dengan uang yang didapat dari membongkar muatan truk tadi malam, mereka berdua, sarapan ketupat gulai di kedai dekat kontrakan saja.

Hari itu, Vitlan pulang praktik agak cepat. Ia langsung saja ke rumah bu Tina. Ia mengetuk pintu depan, tidak ada jawaban. Menunggu sebentar, lantas  mengetuk lagi, tetap tidak ada jawaban. Sementara di balik kain gordiyn ruang tamu, bu Tina asyik memandangi Vitlan, yang berdiri di depan pintu ruang tamu. Ia begitu kagum dengan sosok Vitlan, yang tinggi semampai, dibalut seragam praktik berwarna abu-abu muda.

Melihat orang yang dicintainya, beranjak meninggalkan beranda rumah, ia secepatnya membukakan pintu. Vitlan menghentikan langkah dan berbalik. Dilihatnya bu Tina tersenyum menyambut kedatangannya dan menyilakannya masuk.

Begitu sampai di ruang tamu, bu Tina langsung memeluk dan menghujani Vitlan dengan ciuman. Ia membiarkan dirinya diperlakukan begitu. Ketika bu Tina mendaratkan ciuman di mulutnya, ia segera membalas. Desah napas bu Tina terasa begitu hangat, sehangat pelukannya. Bunyi sepatu menyentuh teras, kontan saja ia menghentikan ciuman dan melepasan pelukannya. Ia segera menyuruh Vitlan cepat-cepat mengambil posisi duduk di kursi dan beranjak ke ruang belakang.

Vitlan segera berdiri memberi hormat, begitu dilihatnya bu Lela muncul di depan pintu.

”Eee, Alan, sudah lama, mana bu Tina? tanyanya.

”baru saja, Bu. Bu Tina di dalam, bu,” jawab Vitlan.

”Ibu tinggal dulu ya,” lanjutnya

”Ya, Bu,” jawab Vitlan.

Bu Lela terus ke ruang belakang menemui bu Tina, yang sedang memasak air.

”Manga si Vitlan kamari, Tina? tanyanya.

”Ambo manyuruahnyo datang siang ko,” jawab bu Tina

”Manga tu?” lanjutnya.

”Itu, urusan studi wisata nanti,” jawabnya lagi.

”Ooo, alun salasai lai?” tanyanya lagi.

”Tingga masalah konsumsi salamo di sinan lai,” jelas bu Tina lagi.

”Ooo,” komentarnya seraya membalikkan badan, masuk ke kamar.

Persamaan kata:   tingga = tinggal     salamo = selama,        sinan = di sana,    lai = lagi

bersambung

Bagikan: