Tabedo – Bagian 39
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Kemesraan badan yang dirasakannya tadi sore sangat membekas pada dirinya, hingga terulang dalam tidurnya. Vitlan dan bu Tina tenggelam dalam gumulan asmara yang membara. Nafas mereka saling memburu, hingga mereka berdua sampai ke puncak kenikmatan badani. Ia terbangun dan merasakan celana dalamnya basah.

Vitlan meraih jam tangan, yang diselipkannya di balik kasur tepi dipan. Waktu menunjukkan pukul setengah enam. Ia segera bangkit untuk mandi ke sumur yang ada di samping rumah. Siraman air yang jatuh membasahi kepalanya, terasa begitu segar di seluruh tubuhnya. Pagi itu, ia mandi lebih lama daripada waktu-waktu sebelumnya.

Selesai berpakaian dan beres-beres, Vitlan langsung pergi praktek. Ia singgah dulu, sarapan Ketupat, di Pasar Baru. Melihat orang di depannya memesan telur setengah masak, ia pun memesan pula, dua buah. Mumpung waktu masih pagi, ia sempatkan nongkrong sebentar di kedai Indra, yang sudah buka. Siswo datang dan mereka jalan bareng menuju tempat praktek.

Dua hari sebelum pelaksanaan Studi Wisata, Vitlan, ketua dan bendahara OSIS dipanggil ke kantor. Kepada mereka, kepala sekolah yang sekaligus ketua pembina OSIS, menanyakan kesiapan mereka dalam melaksanakan kegiatan Studi Wisata tersebut. Kepada Ketua Pembina, Vitlan menjelaskan bahwa semua persiapan telah lengkap, kecuali masalah kumsumsi selama Studi Wisata. Untuk itu Ketua Pembina menyuruh Vitlan berkoordinasi dengan ibu Tina, yang merupakan orang sana. Spontan raut wajah Vitlan berubah. Nampak kegelisahan di sana.

 Ia memalingkan wajah ke arah bu Tina, yang duduk di sebelah bu Lela. Mereka bertatapan, bu Tina senyum sambil mengedipkan mata. Jantung Vitlan berdegup, ia menunduk dan memalingkan wajahnya sambil melangkah menuju pintu.

”Lan, sini dulu,” terdengar namanya dipanggil dan ia pun menghentikan langkahnya, seraya memalingkan wajahnya.

”Sini dulu,” sambil menggamitkan tanggannya.

Vitlan berbalik, mendekat ke meja bu Tina dan berdiri di depannya. Bu Tina bangkit dari tempat duduk, berdiri mendekat.

”Besok siang, ibu tunggu di rumah ya,” katanya sembari menyelipkan sesuatu ke kantong Vitlan.

”Ya, Bu,” jawabnya pelan sambil mengangguk dan berlalu.

Sambil berjalan pulang, Vitlan merogoh kantong bajunya. Rupanya lembaran uang yang diselipkan bu Tina tadi ke kantongnya. Ia memindahkan uang itu ke kantong belakang celananya. Setengah berlari, ia menyusul Sumarno yang berjalan agak jauh di depannya.

”No, samo, No,” teriaknya pada Sumarno.

Sumarno, menghentikan langkahnya, sehingga mereka berpapasan. Kedua teman sekamar itu terlibat percakapan mengenai rencana studi wisata mereka. Meski mereka berbeda jurusan, namun akrab dan kompak. Semua pekerjaan rumah, mereka kerjakan bersama-sama.

 Sedang asyik cerita, sebuah truk melambat dekat mereka. Keneknya mendongakkan kepala mengatakan ada barang masuk.

”Ada barang masuk,” katanya.

Vitlan melambaikan tangan memberi kode berhenti. Truk menepi, yang di belakang ikut menepi. Mereka berdua langsung naik ke atas truk yang paling depan. Truk melaju dan berhenti di depan kedai Indra. 5 orang teman Vitlan yang nongkrong di sana ikut naik. Truk meneruskan perjalanan menuju gudang tambang.

Dalam waktu satu jam muatan, yang berupa kayu bulat penyangga lubang tambang batubara, selesai dipindahkan ke gudang. Dengan upah yang lu-mayan, Vitlan dan kawan-kawan, berjalan ke tempat ngumpul di depan kedai Indra.

Vitlan dan Sumarno, langsung ke kedai nasi untuk makan malam. Selesai makan, mereka kembali ke tempat ngumpul. Udara malam Sawah Lunto yang agak panas, membuat keringat membasahi seluruh tubuh. Di antara mereka, ada yang buka baju, ada yang sekadar buka beberapa buah kancing baju, sambil berkipaskan karton kemasan. Ada pula yang duduk di bok berkipaskan baju.

Setelah menghabiskan sebatang Ji Sam Soe, Vitlan dan Sumarno, pamitan pulang. Tiba di rumah, duduk sebentar, kemudian mandi. Selesai ganti pakaian, Vitlan mengambil sebatang rokok dan mengisapnya sembari berbaring di ranjangnya. Tak habis sebatang, ia sudah tertidur sambil menyandar di dinding kamar. Sementara rokok di jarinya, jatuh ke lantai dalam kondisi sudah tidak menyala lagi.

Tersentak dari tidur, sayup-sayup Vitlan mendengar suara tarahim subuh dari radio tetangga. Ia meraih jam tangannya yang terleta di samping tempat tidurnya. Sudah menjelang subuh. Ia bangkit keluar kamar untuk mandi. Sedang ia berkemas, terdengar suara adzan dari menara masjid. Ia membangunkan Sumarno yang masih tidur lelap, lalu shalat Subuh.

Selesai berdoa, ia menghidupkan kompor dan memasak air untuk membuat Teh Manis. Pagi itu, ia tidak masak nasi seperti biasanya. Dengan uang yang didapat dari membongkar muatan truk tadi malam, mereka berdua, sarapan ketupat gulai di kedai dekat kontrakan saja.

Hari itu, Vitlan pulang praktik agak cepat. Ia langsung saja ke rumah bu Tina. Ia mengetuk pintu depan, tidak ada jawaban. Menunggu sebentar, lantas  mengetuk lagi, tetap tidak ada jawaban. Sementara di balik kain gordiyn ruang tamu, bu Tina asyik memandangi Vitlan, yang berdiri di depan pintu ruang tamu. Ia begitu kagum dengan sosok Vitlan, yang tinggi semampai, dibalut seragam praktik berwarna abu-abu muda.

Melihat orang yang dicintainya, beranjak meninggalkan beranda rumah, ia secepatnya membukakan pintu. Vitlan menghentikan langkah dan berbalik. Dilihatnya bu Tina tersenyum menyambut kedatangannya dan menyilakannya masuk.

Begitu sampai di ruang tamu, bu Tina langsung memeluk dan menghujani Vitlan dengan ciuman. Ia membiarkan dirinya diperlakukan begitu. Ketika bu Tina mendaratkan ciuman di mulutnya, ia segera membalas. Desah napas bu Tina terasa begitu hangat, sehangat pelukannya. Bunyi sepatu menyentuh teras, kontan saja ia menghentikan ciuman dan melepasan pelukannya. Ia segera menyuruh Vitlan cepat-cepat mengambil posisi duduk di kursi dan beranjak ke ruang belakang.

Vitlan segera berdiri memberi hormat, begitu dilihatnya bu Lela muncul di depan pintu.

”Eee, Alan, sudah lama, mana bu Tina? tanyanya.

”baru saja, Bu. Bu Tina di dalam, bu,” jawab Vitlan.

”Ibu tinggal dulu ya,” lanjutnya

”Ya, Bu,” jawab Vitlan.

Bu Lela terus ke ruang belakang menemui bu Tina, yang sedang memasak air.

”Manga si Vitlan kamari, Tina? tanyanya.

”Ambo manyuruahnyo datang siang ko,” jawab bu Tina

”Manga tu?” lanjutnya.

”Itu, urusan studi wisata nanti,” jawabnya lagi.

”Ooo, alun salasai lai?” tanyanya lagi.

”Tingga masalah konsumsi salamo di sinan lai,” jelas bu Tina lagi.

”Ooo,” komentarnya seraya membalikkan badan, masuk ke kamar.

Persamaan kata:   tingga = tinggal     salamo = selama,        sinan = di sana,    lai = lagi

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (35)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

PAKAIAN DAN PERHIASAN

Menyamak Kulit Binatang/Bangkai untuk Berbagai Keperluan

Kulit binatang hasil sembelihan maupun kulit dari binatang yang mati atau bangkai bila dibiarkan akan menjadi masalah bagi kesehatan manusia dan lingkungan, karena lambat laun akan menjadi busuk dan berulat. Namun demikian, kulit binatang tersebut dapat dibuat menjadi bersih dan suci dengan cara menyamaknya.

Kulit binatang yang sudah disamak dapat dijadikan berbagai alat keperluan manusia, seper-ti pakaian (baju, jaket, celana), sandal dan sepatu, sarung (tangan, pisau, pedang, parang dan sen-jata tajam lainnya),tutup kepala, ikat pinggang, tenda/kemah, tikar/sajadah, selimut, dan tabung air yang dapat dibawa-bawa dalam suatu perjalanan/pengembaraan.

عن بن عبّاس رضي الله عنهما قال: تَصَدَقَ عِلِى مَوْلاَةٍ لِمَيْمُونَةَ بِشَاةٍ فَمَاتَتْ، فَمَرَّبِهَا رَسُولُ اللهُُُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَلاَّ أَخَذْتُمْ إِهَابَهَا، فَدَبَغْتُمُوْهُ، فَانْتَفَعْتُمْ بِهِ، فَقَالُوا: إِنَّهاَ مَيْتَةً، فَقَالَ: إِنَّمَا أَكْلُهَا (متّفق عليه)

Ibnu Abbas r.a. berkata; Seekor kambing diberikan kepada Maimunah sehubungan dengan pemerdekaan budak, lalu kambing tersebut mati, kemudian Rasulullah SAW lewat di situ lalu bersabda: “Mengapa kamu tidak mengambil kulitnya untuk disamak, kemudian kamu manfaatkan?” Mereka menjawab; “Kambing itu kan bangkai”. Beliau bersabda: “Yang haram hanyalah memakannya!”

عن يزيد بن حبيب؛ أَنَّ أَبَاالخَيْرِ حَدَّثَهُ قَالَ: رَأَيْتُ عَلَى ابْنِ وَعْلَةَ السَّبَئِيِّ فَرْواَ، فَمَسَسْتُهُ، فَقَالَ: مَالَكَ تَمَسُّهُ؟ قَدْ سَأَلْتُ عَبْدَ اللهِ بْنِ عَبَّاسِ، قُلْتُ: إِنَّا نَكُوْنُ بِالمَغْرِبِ، وَمَعَنَا البَرْبَرُ وَالمَجُوْسُ،تُؤْتَى بِالكَبْشِ قَدْذَبَحُوْهُ، وَنَحْنُ لاَ نَأْكُلُ ذّبَائِحَهُمْ، وَيَأْتُوْنَنَا بِالسِّقَاءِ يَجْعَلُوْنَ فَيْهِ الوَدَكَ؟ فَقَالَ بْنُ عَبَّاسِ: قَدْ سَأَلْنَا رَسُولَ اللهُُُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ ذَالِكَ؟ فَقَالَ: دِبَاغُهُ طَهُوْرُهُ (رواه مسلم)

Dari Yazid bin Abu Habib, bahwasanya Abul Khair pernah memberitahu kepadanya dengan mengatakan; Saya pernah melihat kantong/tas kulit dibawa oleh Ibnu Wa’lah As-Sabai, kemudian saya menyentuhnya, lalu ia berkata; “Mengapa kamu menyentuhnya?” Saya telah bertanya kepada Abdullah bin Abbas, saya katakan; “Kami pernah berada di Maroko bersama orang Bar-Bar dan Majusi, kami diberi seekor kambing yang telah mereka sembelih, namun kami tidak memakan sembelihan mereka, dan mereka membawakan kami wadah minuman yang terbuat dari kulit yang berlemak, kemudian Ibnu Abbas mengatakan, hal itu telah kami tanyakan kepada Rasulullah SAW, lalu beliau bersabda: “Menyamak kulit bangkai berarti membuatnya suci”.

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 38
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

”Lan, Lan, bangun. Sudah jam tujuh ini. Tak praktek waang,” kata Sumarno, memba-ngunkannya. 

”Aaahh,” jawab Vitlan sambil mengusap-usap mata dan bangkit dari tempat tidurnya.

Tanpa mandi, ia langsung berpakaian, minum segelas air hangat dari termos, ia segera berlari ke kantor PN TBO. Di jembatan dekat kelok S, ia bertemu dengan kelompoknya dan langsung bergabung dengan mereka, ke tempat praktek jaringan yang tidak jauh dari tempat kosnya.

Hari itu, mereka memasang jaringan listrik di rumah penduduk yang akan dijadikan tempat pesta perkawinan. Vitlan dan teman-teman prakteknya, sudah barang tentu sangat senang sekali, karena di lokasi praktek kali ini, mereka mendapat layanan istimewa dari tuan rumah berupa minuman, penganan dan makan siang gratis. Mereka mengistilahkan layanan ekstra seperti ini, dengan sebutan ”Perbaikan Gizi” anak sekolah, terutama bagi anak kos.

Sore harinya, waktu istirahat, Ia bersama dengan Sumarno, Bahrum dan Siswo, dipanggil wakil kepala sekolah ke ruangannya. Sebagai Pembina OSIS, kepada mereka ditanyakan persiapan studi wisata. Mendengar laporan mereka, wakil kepala sekolah merasa puas. Sewaktu keluar dari ruangan tersebut, beliau menyuruh Vitlan, berkoordinasi dengan ibu Tina, pembina OSIS yang bertanggungjawab mengenai persiapan logistik Studi Wisata.

Suatu sore, kebetulan hari libur, Vitlan pergi mengunjungi kediaman ibu Tina, yang tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Dengan perasaaan ragu dan rasa bersalah (karena beberapa waktu yang lalu, ia telah berlaku tidak sopan kepadanya), ia ketuk pintu rumah bu Tina.

”Bu, bu Tina (sapa Vitlan, antara terdengar dengan tidak).

”Ya, siapa?” terdengar jawaban sembari membuka pintu.

”Ouu, kamu Lan. Mari masuk,” kata bu Tina.

”Ya, Buk,” terus masuk, dengan menundukkan kepala.

Melihat Vitlan tegak mematung di hadapannya, bu Tina mendekat.

”Ayo, silakan duduk. Kok kamu bengong begitu,” sapanya lagi.

”Maafkan saya, Buk, atas tindakan saya tempo hari pada Ibuk,” kata Vitlan dengan tetap menunduk.

Bu Tina, menggeser posisi berdirnya ke depan Vitlan, memegang dagunya dan mengangkatnya. Mereka bertatapan. Sebentar, lalu Vitlan kembali menundukkan wajahnya.

”Tatap ibu,” kembali mengangkat dagu Vitlan.

Mereka kembali bertatapan. Dada Vitlan berdegup kencang, begitu melihat senyum mengambang di bibir bu Tina.

”Kamu tampan, Lan. Ibu menyukaimu,” katanya lembut.

Entah dari mana datangnya, tiba-tiba,

”Ibu juga cantik,” kata Vitlan membalas senyumnya.

Ibu Tina merangkul tubuh Vitlan, dan mereka berpelukan dan berciuman. Panasnya hawa dekapan dada bu Tina, membuat darah Vitlan terasa mengalir dengan derasnya. Seluruh tubuhnya terasa terbakar.

”Lan, ibu menyukaimu. Kamu sayang sama ibu kan?” bisiknya ke telinga Vitlan, dalam dekapan.

”Ya Bu, Alan juga sayang sama Ibu,” balas Vitlan.

Denyit bunyi pintu dibuka, menyadarkan mereka dan bu Tina melepaskan pelukannya. Mereka kemudian duduk di kursi tamu dengan posisi berhadap-hadapan. Bu Lela, teman sesama guru dengan bu Tina, yang sekaligus pemilik rumah, datang menghampiri dan duduk di samping bu Tina. Vitlan memberi hormat dan menyalami bu Lela. Ia menceritakan maksud keda-tangannya ke rumah itu.

Selesai membicarakan persiapan Studi Wisata dan ngobrol panjang lebar ke sana ke mari, Vitlan mohon diri pamit pada mereka. Dengan senyum merekah dan tatapan mata penuh arti, bu Tina melepas kepergian Vitlan.

Tiba di tempat kos, didapatinya Sumarno baru saja selesai mandi dan mau berpakaian. Melihat Vitlan senyum-senyum kecil, ia mengerenyutkan keningnya. Sambil mengenakan pakaian,

”Agak aneh waang den caliak sanjoko, senyum-senyum surang,” katanya heran.

”Ndak, ndak apo-apo. Biaso-biaso sajo,” jawab Vitlan.

”Biaso-biaso baa. Bantuak urang senewen waang den caliak,” lanjutnya.

”Cuma lucu sajo, taraso di ambo,” lanjut Vitlan, sembari duduk di dipan dan membuka sepatunya.

”Urang gilonyo, nan senyum-senyum surang,” katanya lagi sambil bersisir di depan kaca.

Vitlan memakai sendal, keluar ke kamar mandi dan kembali untuk sembahyang Maghrib. Ia mengambil tempat di samping dipannya. Sementara Sumarno sembahyang di sisi lain kamar mereka. Setelah itu, mereka makan bersama.

Selesai beres-beres, Sumarno langsung duduk dan mengambil buku pelajaran untuk berlajar. Sementara Vitlan duduk berselonjor di atas dipan, menikmati Ji Sam Soe kegemar-annya. Sejenak kemudian, ia keluar kamar dan duduk di bangku-bangku yang ada di bawah pohon Rambutan. Ia duduk bersandar di sandaran bangku, sementara kakinya naik ke atas meja taman.

Ia isap dalam-dalam rokoknya. Matanya menatap daun rambutan yang hanya nampak berwarna hitam. Kejadian tadi sore, kembali muncul dalam ingatannya, jelas sekali. Bagaimana dagunya dipegang bu Tina dan mereka berpelukan. Saling berkecupan dengan mesra. Hangatnya bibir dan dada gurunya itu, masih terasa.

Ingat kejadian itu, Vitlan senyum sambil geleng kepala. Ia senyum, karena merasa senang mendapat kehangatan baru, ketika hatinya sedang sedih dan kecewa, karena ditinggal tanpa sebab. Geleng-geleng kepala, karena kejadian itu sama sekali tak disangka-sangka dan diluar dugaannya. Itulah untuk pertama kalinya ia merasakan pelukan dan kehangatan tubuh dan bibir seorang perempuan dewasa.

 Dua batang sudah rokok diisapnya, ia bangkit masuk ke dalam kamar. Ia mengambil posisi duduk di sebelah kiri Sumarno dan membuka buku pelajaran. Hanya sebentar, kemudian bangkit dan berbaring di atas dipan. Bantalnya dilipat, sehingga posisi kepalanya menjadi lebih tinggi.

Vitlan menyalakan rokok, asap mengepul ke udara berbentuk bulatan-bulatan. Matanya menatap langit-langit kamar. Habis sebatang, tangannya meraih batang rokok kedua. Ia tenggelam dalam lamunannya. Hingga matanya mulai terasa perih. Kemudian terpejam. Sumarno tidak memedulikan perubahan tingkah temannya itu. Ia asyik dengan tugas sekolahnya.

Persamaan kata:

den = aku        caliak = lihat   sanjo = senja      surang = sendiri             taraso = terasa

senewen = gila

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (34)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

PAKAIAN DAN PERHIASAN

  • Berpakaian Tidak Mengundang Syahwat

Disamping enak dan nyaman dipakai, berpakaian haruslah dapat mencegah lahirnya fitnah di masyarakat.

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا: قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَاَذَّنِابِ البَقْرِ، يَضْرِبُوْنَ بِهَا النَّاسَ، وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ، مُمِيْلاَتٌ، رُؤُوْسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ البُخْتِ المَائِلَةِ، لاَيَدْخُلْنَ الجَنَّةَ وَلاَيَجِدْنَ رَيْحَهَا، وَإِنَّ رِيْحَهَالَتُوْجَدُ مَيَيِرَةِ كَذَا وكَذَا (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata:  Rasulullah bersabda: Ada dua golongan peng-huni mereka yang belum aku lihat, yaitu; orang-orang membawa cemeti bagai ekor sapi yang mereka gunakan untuk mencampuk orang lain, dan perempuan berpakaian tapi telanjang (karena pakaiannya ketat, tembus pandang, mini atau menampakkan bentuk tubuh), yang memikat hati laki-laki dan berjalan melenggok-lenggok. Rambut mereka (dibuat) seperti panuk unta. Mereka itu tidak akan masuk surga dan tidak dapat men-cium bau surga, padahal bau surga itu bisa tercium dari jarak yang sangat jauh.    

  • Pakaian Bebas Dari Najis

Satu hal yang ditekankan sekali oleh ajaran Islam dalam hal berpakaian adalah, pakaian itu sedapat-dapatnya haruslah senantiasa bersih (dalam arti kata bebas dari najis). Selain nyaman dipakai, pakaian yang bebas dari najis dapat digunakan untuk shalat setiap datang waktunya, tanpa harus membuka dan menggantinya dengan kain sarung, membasuh atau mencucinya terlebih dahulu. Misalnya pakaian yang terkena kencing, jilatan anjing dan sejenisnya. mungkin tidak ada masalah untuk dipakai. akan tetapi tidak dapat dipakai untuk shalat.

عَنْ أَبِي السَّمْحِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: يُغْسَلُ مِنْ بَوْلِ الجَارِيَةِ وَيُرَشُّ مِنْ يَوْلِ الغَلاَمِ (رواه أبوداود والنّسائ)

Dari Abu Samh r.a., ia berkata: Rasulullah SAW, bersabda: dicuci dari kencing bayi perempuan dan disiram dari kencing bayi laki laki.

عَنِ إبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: مَرَّ النَّبِيُِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَبْرَيْنِ ، فَقَالَ: إِنَّهُمَا لَيُعَذَّبَانِ، وَمَا يُعَذَّبَانِ فِي كَبِيرٍ؛ أَمَّاأَحَدُهُمَا فَكَانَ لاَ يَسْتَبْرِئُ مِنَ البَوْلِ، وَأَمَّا الآخَرُ فَكَانَ يَمْشِ بِالنَّمِيَّةِ (متّفق عليه)

Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata: Nabi SAW berjalan melewati dua kuburan, lalu beliau bersabda: Sesungguhnya kedua orang dalam kubur ini sedang disiksa, dan keduanya tidak tersiksa oleh karena dosa besarnya. Adapun yang satu, ia tidak menyelesaikan kencingnya (tersisa dan mengenai pakaiannya) dan yang kedua biasa mengadu-adu.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: إِذَا شَرَبِ الكَلْبُ فِى إِنِاءِ أَحَدِكُمْ فَلْيَغْسِلْهُ سَبْعًا (متّفق عليه)

Dari Abu Hurairah r.a., ia berkata: Rasulullah SAW bersabda: Jika anjing minum (menjilat) bejanamu, maka harus dibasuh tujuh kali dan salah satunya dengan tanah.

Larangan Perhiasan Emas Bagi Laki-Laki

Para peneliti dan ahli fisika telah menyimpulkan bahwa atom pada emas mampu menembus ke dalam kulit dan masuk ke dalam darah manusia, dan jika laki-laki mengenakan emas dalam jumlah tertentu dan dalam jangka waktu yang lama, maka dampak yang ditimbulkan yaitu di dalam darah dan urine akan mengandung atom emas dalam prosentase yang melebihi batas, dan apabila hal ini terjadi, maka akan mengakibatkan penyakit Alzheimer.

Alzheimer adalah suatu penyakit di mana orang tersebut kehilangan semua kemampuan mental & fisik serta menyebabkan kembali seperti anak kecil. Alzheimer bukan penuaan nor-mal, tetapi merupakan penuaan paksaan atau terpaksa.

Pemakaian emas dalam jangka waktu yang lama dapat memberi masalah pada organ rep-roduksi dan  mempengaruhi tingkat kesuburan dan kualitas sperma laki-laki.  

Di samping itu, sebagaimana dilansir oleh Genius Beauty, emas dapat membangkitkan dan merangsang setiap proses yang terjadi dalam otak manusia. Akibatnya, bisa terjadi masalah kesehatan yang berhubungan dengan sistem saraf secara keseluruhan. Salah satu efek ringan dari hal itu adalah depresi. Tidak semua orang dapat memakai emas. Bahkan silau emas dapat menyebabkan kejang bagi penderita epilepsi. 

Dengan menggunakan emas dalam bentuk perhiasan saja, sudah memberikan dampak negatif yang besar bagi manusia (laki-laki). Sudah barang tentu dampak negatif yang lebih besar akan dialami manusia bila menggunakan emas sebagai wadah makan dan minum.

عن البرّاءِ بن عازب رضي الله عنهما، قال: أّمَرَنَا رَسُولُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِسَبْعٍ،وَنَهَانَاعَنْ سَبْعٍ: عَمَرَنَا بِعِيَادَةِ المَرَيْضٍ، وَاتْبَاعِ الجَنَائِزِ، وَتَشْمِيْتِ العَاطِسِ، وَإِبْرَارِ القَسَمِ أَوِالمُقْسِمِ، وَنَصْرِالعَظْلُوْمِ، وَإِجَابَةِ الدَّاعِي، وَإِفْشَاءِ السَّلاَمِ، وَنَهَانَا عَنْ خَوَاتِيْمَ (أو: عَنْ تَخَتُّمِ) بِالذَّهَبِ، وَعَنْ شُرْبِ بِالفِضَّةِ، وَعَنِ المَيَاثِرِ، وَعَنِ القَسَّيِّ، وَعَنْ لُبْسِ الحَرِيْرِ، وَالإِسْتَبْرَقِ، وَالدَّيْبَاجِ (متّفق عليه)

Dari  Al-Barra bin ‘Azib r.a. katanya: Rasulullah SAW memerintahkan kepada kami tujuh hal dan melarang kami tujuh hal pula. Rasulullah SAW memerintahkan: 1. menjenguk orang sakit, 2. mengiringkan janazah, 3. mendoakan orang bersin, 4. menepati janji/sumpah, 5. meno-long orang yang teraniaya, 6. menghadiri undangan, dan 7. menyebarkan salam. Rasulullah SAW melarang kami: 1. memakai/menggunakan cincin emas, 2. minum dengan wadah perak, 3. memakai sprei sutera, 4. menggunakan pakaian pendeta (sutera campuran), 5. memakai pakaian sutera biasa, 6. memakai pakaian sutera tebal, dan 7. memakai pakaian sutera kembang.   

Dibolehkannya perempuan menggunakan perhiasan emas adalah karena perempuan memiliki sistim  pembuangan partikel berbahaya dari emas tersebut  keluar tubuhnya melalui haid (datang bulan), secara teratur setiap bulan. 

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 37
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Di suatu siang, sepulang dari praktek, Vitlan mendapati Udanya yang paling tua, sudah sejak tadi duduk di bangku-bangku halaman rumah kosnya. Ia segera menyapa memberi hormat. Adang, begitu ia memanggilnya, memerhatikannya dari ujung rambut hingga berhenti di ujung kaki.

Wajahnya yang semula tegang, berangsur tenang, kemudian,

”Dari maa waang?” tanya Adang

”Dari lapangan, Adang, praktek,” jawab Vitlan.

”Indak di bengke prakteknyo?” tanyanya.

”Tadi kelompok kami, praktek mameloki Lori nan macet di relnyo,  Adang,” jelas Vitlan.

”Tu ala elok Lorinyo?” tanyanya lagi.

”Ala, Adang. Lah bisa maelo gerobak baro, baliak.”

sambung Vitlan.

”Baraa urang kalian satu kelompok? tanyanya lagi.

”Ampek urang, limo jo pemandunyo,” jawab Vitlan.

”Samo ndak Lorinyo, jo Lori nan di Indaruang?” tanya Adang lagi.

”Lain, Adang. Lori di siko, sarupo jo Lokomotif. Jalannyo di ateh rel. Bedanyo, Lori ko dijalankan jo tanago listrik arus searah, nan mambantang di udaro. sapanjang relnyo. Mirip Trem,” sambung Vitlan.

”Aman tu?” tanyanya.

”Aman, karano siswa yang praktek di Lori jo di jaringan, wajib pakai pengaman. Satidak-tidaknyo pakai sepatu,” jelas Vitlan lagi.

Adang, manggut-manggut. Kemudian membuka sepatu kainnya dan memberikannya kepada Vitlan, sembari berkata,

”Ko sepatu untuak waang. Mari sepatu Adang tu, Waang main bao sajo. Bataratik saketek. Indak ta nantian dek waang, urang gaek mambalikannyo. Mama manyuruah Adang, manapuak waang ma, supayo tau diuntuang saketek,” katanya.

”Tapuaklah, tapuaklah (sambil menyodorkan mukanya pada Adang), kok baitu parintah Mama. Ambo lai tahu diuntuangnyo. Sabulan nan lalu, ambolah mangirim surek ka Mama, mintak dibalikan sepatu, karano sepatu ambo nan lamo, lah cabiak tapaknyo, indak bisa dipakai lai untuak praktek (lalu mengambilnya dan menyodorkannya ke muka Adang). Kapatang tu, katiko ambo kan ka mari, Ibu manyuruah ambo mambao sepatu tu (menunjuk sepatu Adang), nanti Ibu nan ka mambaritahu ka Adang, jaan sampai indak bisa praktek bisuak, makonyo ambo bao sepatu Adang tu.

”Yo, sudahlah. Lain kali jaan waang ulangi, Adang pai lai,” katanya.

”Yo,” jawab Vitlan sedih.

Mendapat perlakuan seperti itu, Vitlan merasa diperlakukan sangat tidak adil oleh mamanya. Sedih, marah, kesal, tidak terima, bercampur aduk dan berkecamuk dalam dirinya. Ingin berontak dan lari, muncul dalam pikirannya, tapi mau ke mana. Bekal ia tak punya, sekolah masih nanggung. Ia merebahkan diri di kursi lipat (dari jaringan benang plastik). Air matanya mengalir pelan di sudut matanya. Ia berusaha menyapu dengan punggung tangannya.

Siang itu, Vitlan bolos sekolah. Ia larut membenamkan diri dalam kerisauan yang dalam. Hatinya galau dan pikirannya kacau. Pelan ia angkat sepatu kain yang diberikan adangnya dan ditatapnya. Lama ia perhatikan sepatu tersebut. Hatinya semakin sedih. Begitu beda perhatian dan perlakuan mamanya terhadap adang dan dirinya.

Adang, anak pertama mama sungguh istimewa. Dia menamatkan SR (SD) dan SMP hanya 7 tahun dan selalu jadi juara I di sekolahnya. Kemudian setelah tamat SMA, langsung melanjutkan ke Akademi dan tamat dengan nilai tertinggi. Apa-apa keinginannya selalu dipenuhi. Sangat berbeda dengan dirinya. Pencapaian nilai tertinggi di sekolahnya, hanya sampai juara II.

Dalam kegundahan itu, Vitlan berbulat tekad dan pendirian, bahwa ia harus berhasil mencapai cita-citanya, secara sendirian tanpa bantuan orang tua. Di dalam batinnya, sudah tertanam prinsip dan semboyan: Kalau saudara-saudaranya sukses, karena dukungan penuh keluarga, ia mesti sukses dengan kekuatan diri sendiri. Harus dan harus.

”Alan, Alan, Alan. Adanya di rumah kau?” terdengar suara orang memanggilnya.

Mendengar panggilan dari suara yang sudah dikenalnya betul itu, Vitlan segera bangkit melongokkan wajahnya ke jendela. Di keremangan malam, ia melihat Besra Sitinjak, teman sebangkunya, melambaikan tangan mendekat.

”Hai, Bes. Kok cepat kali kau pulang?” sapanya.     

”Sudah hampir pukul delapan ni, ya pulanglah. Kau kenapa tidak masuk tadi” tanya Besra.

”Tidak enak badan aku, sejak pulang praktek tadi.” jawab Vitlan.

”Adanya praktek kau tadi?” Tanyanya lagi

”Ada. Kami di Lori tadi, di lapangan. Letih sekali aku rasa. Kau tadi di mana?” tanya Vitlan.

”Aku tadi di bengkel. besok di lapangan.” kata Besra.

”Aku besok di jaringan.” kata Vitlan.

”Lan, ngomong-ngomong tamat nanti, kau lanjut atau cari kerja?” tanya Besra.

”Kepingin aku, mau lanjut. Mama dan udaku, nyuruhku ke Jakarta. Tapi, aku kepingin melanjutkan kuliah ke Medan.” jelas Vitlan.

”Baguslah itu. Aku rencananya mau nyambung ke Medan juga. Tapi itu tergantung ito akulah. Di mana katanya, ke situlah aku.” jelas Besra dengan lobat Bataknya.

”Kampungmu di mana, Bes?” tanya Vitlan.

”Kampung asalku di Tarutung. Tapi aku lama di Siantar.” jawab Besra.

”Jauh tu dari Medan?” tanya Vitlan.

”Adalah 120 KM.” jawabnya.

”Jauh juga ya. Kau pernah ke Medan?” tanya Vitlan lagi.

”Pernah tiga kali kalau tidak salah. Waktu SMP dulu, sebelum itoku pindah ke sini.” katanya lagi.

”Aku pulang dululah ya, Lan.” pinta Besra, setelah beberapa saat kemudian.

”Yalah.” jawab Vitlan.

Selesai mandi, Vitlan melangkahkan kakinya ke pasar baru untuk makan malam. Selesai makan, ia singgah di kedai rokok Indra di depan kantor pos. Vitlan menarik isapan Ji Sam Soenya dalam-dalam. Kemudian ia melangkah gontai ke rumah Emy. Ia dapati Reno, adik Emy sedang berdiri di depan pintu.

Kepada Vitlan, Reno mengatakan bahwa Emy sudah pindah ke Padang Panjang dan melanjutkan sekolahnya di sana. Ketika ditanyakannya, adakah dia meninggalkan pesan atau surat, Reno mengatakan tidak ada, sambil menggelengkan kepalanya. Ia menarik dalam-dalam isapan rokoknya, kemudian membalikkan badannya beranjak dari tempat itu.

Vitlan melangkah gontai menyusuri jalannya tadi kembali ke tempat kos. Sampai di depan kedai Indra, ia disapa seseorang,

”Hei, ka maa ang Lan?” sapa Iwan,

”He waang Wan. Pulang.” jawabnya singkat, begitu tahu siapa yang menegurnya.

”Masih sanjo baru. Manga ang pulang?”

”Sadang dak lamak badan, Wan.” jawabnya.

” Siko lah dulu, manga capek-capek bana pulang?” lanjut Iwan.

”Indak ado do. Cuma ingin pulang sajo.” katanya sambil menghentikan langkahnya, menghampiri Iwan.

”Duduaklah siko dulu.” katanya sambil menggamit tangan Vitlan untuk duduk di sampingnya.

Ia menurut, kemudian mereka ngobrol bertiga dengan Indra. Tidak lama berselang datang Anto, Pian dan Eman. Kedai Indra yang tadinya sepi, berubah jadi riuh dengan senda gurau dan canda ria mereka.

”Nonton yok, filmnya lah kan main tu.” ajak Iwo yang datang bersama Bahrum.

”Ayok.” jawab mereka serentak, lalu beranjak dari tempat itu, menuju bioskop yang jaraknya selang dua bangunan dari situ.

Film yang diputar di bioskop pada malam itu, sebuah film spy yang dibintangi oleh Guilliano Gema, cukup membuat suasana hati Vitlan terhibur. Namun begitu ia membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya, rentetan kejadian yang dialaminya dari tadi siang, kembali memenuhi rongga batinnya. Tidak terasa air mata menetes dari sudut matanya. Ia menyeka pipinya dengan punggung tangannya. Kerisauan dan kesedihannya kembali memuncak.

Vitlan menghabiskan malam itu dengan isapan rokok dan tatapan hampa di langit-langit kamar. Sudah empat batang Ji Sam Soe dihabiskannya hingga akhirnya kelelahan menyelimuti matanya dan ia pun tertidur dalam kelelahan tersebut.

Persamaan kata:

maa = mana    waang/ang = kamu      bengke = bengkel        mameloki = memperbaiki

ala = sudah      elok = bagus    maelo = menghela      baro = bara             baraa = berapa

ampek = empat           limo = lima     siko = sini       sarupo = serupa             jo = dengan

ateh = atas       bao = bawa      sajo = saja       bataratik = beretika             saketek = sedik           t

nantian = nantikan      dek = oleh       manyuruah = menyuruh             cabiak = sobek           

ka = ke       jaan = jangan        pai = pergi       sadang =  sedang             dak =  tidak

bersambung

Bagikan: