Tabedo – Bagian 35
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Layaknya anak lelaki Minangkabau, ketika Vitlan berusia sekitar 10 tahunan, Datuak Palimo menyerahkannya berguru silat kepada, mak Ompang, temannya. Beliau menyerahkan sebuah pisau cap garpu dan selembar kain putih, sebagai persyaratan berguru silat. Di tempat itu Vitlan bergabung dengan anak lelaki lainnya. Vitlan belajar silat dua kali dalam sepekan, yakni setiap malam Rabu dan Sabtu setelah selesai shalat Isya hingga berakhir pukul setengah sepuluh malam.  

Pulang ke rumah dari surau sekitar pukul enam pagi, Vitlan bersama saudaranya yang lain pergi mandi ke luak yang terletak tidak jauh di belakang rumah. Selesai mandi, masing-masing mereka membawa air bersih untuk keperluan memasak dalam perian bambu. Perian-perian tersebut disandarkan berjejer di dinding sebelah dalam dapur. Setiap batang bambu, dapat memuat kira-kira sepuluh hingga dua belas liter air. Dengan sepuluh batang bambu, cukuplah untuk memenuhi kebutuhan air bersih selama satu hari.

Vitlan dan saudara-saudaranya yang sudah sekolah, mencuci sendiri pakaian dan sepatu sekolah mereka. Hari Sabtu setelah makan siang, mereka berjejer di tepi tebat (kolam) yang ada di bawah tebing dekat rumah menyucinya. Khusus sepatu sekolah yang terbuat dari kain, agar nampak putih bersih, setelah dibilas bersih lalu dibaluri dengan kapur tulis. 

Selesai makan siang, anak-anak biasanya membantu orang tua mereka di sawah dan di parak (kebun). Vitlan senangnya membantu Uwo berkebun sayur-sayuran di belakang dan samping rumah. Kebun itu cukup luas, ditanami aneka sayuran, seperti: Terung, Cabe, Bayam Petik, Pario, Petula, kacang-kacangan (kacang Panjang, kacang Pagar, kacang Belimbing, kacang Buncis), yang ditanam di sepanjang pagar. Ada juga Tomat, Jipang dan Labu dan lain-lain. Sementara ada Kangkung yang dipelihara di kolam kecil dekat kolam ikan.

Satu petak parak dengan ukuran kira-kira 20 kali 30 meter, ditanami Ubi Kayu. Satu petak sawah yang ada di samping kolam, ditanami secara bergantian antara: Pagi, Ubi Rambat/Jagung, Kacang Tanah/Kedelai).

Selepas shalat Ashar, Vitlan dan teman-temannya, menghabiskan waktunya dengan bermain Kejar-Kejaran, bola Kaki, Layang-Layang, Kelereng, Karet, Petak Umpat dan lain-lain. Sementara di bulan puasa permainan mereka berganti dengan main Motor-Motoran dan Meriam Bambu.

Motor-Motoran itu, rodanya terbuat dari bekas gulungan benang jahit, dan ada pula yang terbuat dari karet tapak sensal bekas. Motor-motoran itu diberi hiasan lampu warna-warni, dengan menggunakan bola lampu senter yang dibalut kertas warna merah, hijau, kuning dan biru, yang dihubungkan ke batu Batere yang diikatkan di batang motor-motoran tersebut, sehingga terlihat cantik di kala mereka konvoi di jalanan desa pada malam hari.

Di lain waktu, Vitlan sering dibawa oleh tuk Salih, adik Uwo pergi ke parak di bukit mengambil hasil hutan atau mengumpulkan buah kelapa yang baru dipetik dari beberapa pohon yang ada di sekitar rumah dan pematang sawah di tepi batang Selo. Sering juga disuruh untuk memijat dan membeli rokok untuknya.

Bila membeli rokok, Vitlan diminta untuk menyalakan rokok tersebut di kedai ketika membelinya. Agar tetap menyala, rokok tersebut diisap-isap oleh Vitlan sepanjang jalan dari kedai ke surau di mana tuk Salih berada. Melihat cucunya terbatuk-batuk sambil mengeluarkan air mata terkena asap rokok, tuk Salih tertawa lebar dan mengatakan ”yo baitu, Cu. Anak laki-laki tu harus pandai marokok, nak capek pandai mancari piti.”

Di samping memberi uang, tuk Salih juga sering mengajari Vitlan, merokok dengan menggunakan daun Nipah (rokok daun namanya), tanpa diberi tembakau. Dikondisikan seperti itu, lama kelamaan Vitlan mulai kecanduan merokok, meski usianya masih kanak-kanak. 

Setiap Ahad, mereka sekeluarga, dibantu oleh beberapa anggota pesukuan mereka, pergi ke ladang di sebuah bukit yang berjarak kira-kira 12 KM dari rumah mereka. Pukul 6 pagi mereka sudah berangkat dengan berjalan kaki, melewati jalan desa, sungai kecil, pematang sawah, ladang orang hingga guguk kecil. Setelah berjalan selama kurang lebih 2 jam, mereka sampai di ladang. Mereka baru pulang setelah waktu ashar.

Ketika harga sedang berpihak, mereka segera memanen kayu manis mereka. Sekali penen dapat menghasilkan 1,2 hingga 1,5 ton kulit kayu manis kering. Uang hasil panen ini, biasanya digunakan untuk keperluan sekolah, penambah modal usaha dan sisanya disimpan menjadi tabungan, dengan membeli perhiasan mas, seperti: kalung, cincin, gelang, anting-anting, yang sewaktu-waktu dapat diuangkan segera.

Tamat SD (setelah berganti nama dari SR), Vitlan menyambung pendidikannya ke Madrasah Tsanawiyah (MTs). Berbarengan dengan itu, ia telah pula mengkhatamkan pelajaran ngajinya di surau. Ia bersama 4 teman sekolah menempati sebuah kamar di sebuah surau dekat masjid raya kampungnya.

Di tempat ini, mereka tidak saja belajar bersama. Akan tetapi juga mengerjakan kesenangan remaja, seperti: main kartu, ngeluyur, menyuluh (mencari ikan di kali atau sungai dengan menggunakan senter atau lampu stromking), mencuri buah-buahan penduduk (perangai remaja seperti ini, sudah dimaklumi oleh masyarakat, karena mereka hanya mengambilnya sekadar untuk dimakan. Lagi pula mereka juga yang menjaga keamanan kampung), dan lain-lain.

Di saat musim panen tiba, mereka bersama warga desa lainnya, ikut memanen (menyabit dan mengirik) padi warga desa. Ketika panenan padi sudah selesai, masyarakat beramai-ramai mengadakan pertandingan layang-layang, yang diadakan di sawah yang sudah dipanen. Kegiatan ini diadakan beberapa hari, mulai dari babak penyisihan hingga babak final.

Peserta pertandingan layang-layang ini, diikuti puluhan hingga seratusan orang. Layang-layangnya pun beraneka ragam dan masing-masing mereka beri nama, seperti: Kinantan, Mujahir, Gagak hitam, Bondow, Baliang-Baliang, dan lain sebagainya. Hadiah yang disediakan oleh panitia, sangat menarik, seperti: kambing, sepeda dan uang tunai.

Di lain waktu, mereka aktif terlibat kegiatan gotongroyong, membersihkan jalan desa, mengangkat batu dan pasir dari sungai, untuk kepentingan pembangunan gedung, menimbun jalan yang rusak, dan kegiatan sosial masyarakat lainnya.   

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (32)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

TERTIB MAKAN DAN MINUM

  1. Tidak Menghabiskan Minuman dalam Sekali Kesempatan

Rasulullah SAW memberikan perbandingan cara minum manusia adalah dengan unta. Unta adalah sejenis hewan yang biasa digunakan sebagai kendaraan untuk mengem-bara di padang pasir. Allah melengkapi unta dengan kantong air yang dapat menyimpan air dalam jumlah banyak di lehernya. dengan adanya kantong air ini unta tidak perlu sering minum, dapat bertahan dalam waktu lama diperjalanannya. Air yang ada di dalam kantong airnya sedikit demi sedikit dapat direguknya masuk ke dalam perutnya apabila sang unta merasa haus. 

عن بن عبّاس رضي الله عنهما قال: قَالَ رَسُولُ اللهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَتَشْرَبُوا وَاحِدًا كْبِ البَعِيْرِ، وَلٰكِنِ اشْرَبُوا مَثْنَى وَ ثُلاًثَ، وَسَمُّوا إِذَا أَنْتُمْ شَرِبْتُمْ وَاحْمَدُوا إِذَا أَنْتُمْ رَفَعْتُمْ (رواه التّرمذىّ)

Ibnu `Abbas r.a. berkata: Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kamu minum sekaligus bagaikan onta, tetapi minumlah dua atau tiga kali. Dan bacalah nama Allah ketika akan minum dan bacalah hamdalah la selesai minum.

Berbeda dengan unta, manusia ketika minum, air yang diminumnya langsung masuk ke dalam perut. Minum dalam volume besar (apalagi minumnya sambil berdiri pula) akan mengakibatkan terjadinya cidera pada dinding usus. Cidera ini tentu saja memberi resiko tersendiri bagi usus dan kesehatan manusia secara keseluruhan.

Dengan didahului dengan membaca asma Allah (bismillah), Rasulullah SAW me-nuntunkan minum dua sampai tiga teguk sekali minum, berhenti untuk mengambil nafas kemudian minum lagi dua sampai tiga teguk. Minum dengan cara seperti ini akan membuat air masuk ke dalam perut secara perlahan dan bertahap, sehingga udara yang terdapat di dalam perut akan keluar dengan sempurna dan usus akan terasa nyaman.

Sementara minum dengan cara meneguk terus menerus hanya dalam satu kesempatan sam-pai air yang berada dalam wadah habis, sangat beresiko seperti: perut terasa padat dan kembung, karena ada udara yang tertahan di dalamnya.

  • Tidak Bernafas dalam Bejana

Perilaku buruk lain yang dilarang oleh Rasulullah SAW ketika minum adalah bernafas dalam tempat minum dan meniup minuman.

عن أبي قتادة رضي الله عنه، عَنِ النَبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، نَهَى أَنْ يَتَنَفَّسَ فِى الإِنَاءِ (متّفق عليه)

Dari Abu Qatadah r.a., ia berkata; Rasulullah SAW, telah melarang orang bernafas dalam tempat minumnya.

عن ابن عبّاس قال: نَهَى رَسُولُ اللهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُّتَنَفْسَ فِى الإِنَاءِ أَوْ يُنْفَخَ فِيْهِ (رواه مسلم)

Dari Abbas r.a. ia berkata; Rasululullah SAW melarang bernafas dalam bejana yang digunakan untuk minum atau meniup minuman tersebut.

Ketika seseorang bernafas, maka udara yang dihirupnya akan disaring terlebih dahu-lu oleh hidung. kemudian udara yang sudah disaring tersebut masuk ke paru-paru. Setelah itu orang tersebut akan membuang udara dari paru-parunya keluar.

Udara yang keluar dari paru-parunya itu merupakan ampas yang mengandung ko-toran, bakteri dan partikel bebas lainnya. Udara kotor ini akan bercampur lagi dengan sisa-sisa kotoran yang tertinggal di rongga hidung. 

Bila seseorang minum sambil bernafas di dalam tempat minumnya, maka tanpa ia sadari udara yang sudah bercampur baur dengan berbagai kotoran, bakteri dan partikel bebas lainnya itu akan masuk ke dalam wadah tempat minumnya kemudian masuk dan bercampur dengan air minumnya.

Bila air ini diminum, sudah barang tentu akan memberikan akibat buruk bagi kese-hatan orang yang meminumnya.

Tidak berbeda jauh dengan hal di atas, meniup air minum yang ada dalam wadah tempat minum akan menimbulkan akibat yang hampir sama buruknya. Udara yang keluar dari rongga perut juga merupakan ampas yang bercampur dengan berbagai kotoran, bakteri dan partikel bebas lainnya.

Meniup air minum atau minuman berarti meniupkan racun ke dalam air minum atau minuman tersebut. Bila air minum atau minuman tersebut diminum, itu berarti sama saja dengan memasukkan racun  ke dalam perut.

  • Menutup Wadah Tempat Makanan dan Minuman

Rasulullah SAW mengajar dan menuntunkan agar menutup wadah tempat makan dan minum.

عن جابررضي الله عنه عنَ رَسُولُ اللهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: غَطُّواالإِنَاءِ، وَأَوْكِئُواالسِّقَاءَ، وَأَغْلِقُواالأَبْوَابَ، وَأَطْفِئُواالسِّرَاجَ، فَإِنَّهُ الشَّيْطَانَ لاَ يَحُلُّ سِقَاءً، وَلاَ يَفْتَحُ البَابًا، وَلاَ يَكْسِفُ إِنَاءً، فَـإِنْ لَمْ يَجِدْ أَحَدُكُمْ إِلاَّ أَنْ يَعْرُضَ عَلَى إِنَائِهِ عُودًا وَيَذْكُرَاسْمَ اللهِ فَلْيَفْعَلْ، فَـإِنَّ الفُوَيْسِقَةَ تُضْرِمُ عَلَى أَهْلِ البَيْتِ بَيْتَهُمْ (رواه مسلم)

Jabir r.a., berkata: Rasulullah SAW bersabda: Tutuplah wadah-wadahmu, dan ikatlah tempat airmu, dan tutuplah pintumu, dan padamkanlah lampu. Karena syetan tidak membuka ikatan, atau pintu tertutup, dan tidak membuka tutup wadah walaupun tiada dapat tutup kecuali lidi yang diletakkan di atas tempat minum dengan menyebut nama Allah, maka harus dikerjakannya, karena tikus penjahat dapat membakar api pada orang seisi rumah.

عن جابررضي الله عنه قال:جّاءَ أَبُو حُمَيْدِ، رَجُلٌ مِنَ الأَنْصَارِ، وَمِنَ النَّقِيْعِ، بِـإِنَاءِ إِلَى النَبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ   النَبِيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: أَلاَّ خَمَّرْتَهُ، وَلَوْ أَنْ تَعْرُضَ عَلَيْهِ عُوْدَا (متّفق عليه)

Dari Jabir r.a. ia berkata, Abu Humaid , seorang sahabat Anshor datang dari Annaqi’ membawa segelas susu kepada Nabi SAW, maka Nabi SAW bersabda kepadanya: “Mengapa tidak anda tutupi, walau sekedar meletakkan lidi di atasnya?

Menutup wadah tempat makan dan minum menjadi penting:

  • Agar makanan dan minum terhindar dari gangguan hama dari hewan seperti; tikus, lalat, dan banatang dan serangga lainnya yang dapat membahayakan kesehatan manusia.
  • Agar makanan dan minuman terhindar dan terjaga dari debu, kotoran dan berbagai partikel lainnya yang mengandung kuman dan bakteri, yang dapat membahayakan kesehatan manusia.

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 34
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Sementara di kamar lain.

”Kau kok meleceh kali samaku tadi hah,” tuding Icha pada Cicik sembari menggoyang-goyang tubuh Cicik di dalam pelukannya.

”Eee, perasaan …, siapa yang meleceh,” jawab Cicik dengan nada mengejek.

”Kaaulah,” kata Icha, kesal.

”Ah, perasaan kau saja nya itu,” tangkis Cicik, tanpa berusaha melepaskan rangkulan Icha.

”Iiiihh, geramnya akuuu. Purak-purak tidak tahu pulak lagi tuh,” geram Icha.

”Jadi kenapa rupanya, kau kok sewot kali Cha,” kata Cicik.

”Iyalah, siapa yang tidak sewot dibilang tak pandai masak di depan Bang Alan,” kata Icha.

”O ooo, itu rupanya. Jadi ecek-eceknya malulah ya, ketahuan tak pandai masak di depan sang kekasihnya yaaa?” ajuk Cicik sambil mengguncang-guncang tubuh Icha.

”Kaaan …, mulai lagi kan?” serang Icha.

”Oup iya, iya. maaf yaaa, tadi cuma becanda,” jelas Cicik.

”Becanda kok kek gitu,” balas Icha sembari melepaskan rangkulannya dari tubuh Cicik dan membalikkan tubuhnya membelakangi Cicik.

”Jangan merajuklah sayang,” bisik Cicik sembari membalikkan tubuh dan memeluk Icha. Icha diam, tidak berusaha menghindar. Suasana menjadi hening dan beberapa saat kemudian kedua gadis itu tertidur dalam keadaan berpelukan.

!!!

Mati Suri

Jam dinding di rumah besar itu, menunjukkan angka lima kurang sedikit. Beberapa saat lagi waktu shalat subuh tiba. Suasana makin mencekam. Nafas Datuak Palimo, terdengar pelan dan satu-satu, makin pelan, kemudian lenyap sama sekali. Tangis Bundo yang sedang hamil tua beserta seisi rumah pecah. Gema adzan subuh melepas kepergian beliau ke hadirat Yang Maha Kuasa.

Berita tentang kematian beliau, segera menyebar. Satu demi satu anggota keluarga dan kerabatnya, berdatangan. Selesai subuh, keluarga inti Datuak Palimo sudah datang, menyusul Bako beliau. Semua persiapan pelaksanaan fardhu kifayah, mulai dipersiapkan.

  Sebelum mayat dimandikan, para pihak melakukan perundingan sejenak membahas peran dan partisipasi mereka dalam pelaksanaan fardhu kifayah tersebut.

Ditengah perundingan yang berlangsung, Da-tuak Palimo, perlahan membuka mata dan menyingkapkan selendang tipis yang menutup kepalanya. Ia memalingkan pandangannya ke sebelah kanan, di mana Bundo duduk bersimpuh. Tangannya bergerak perlahan meraih tangan Bundo. Bundo menangis,

”Da, Datuak, … ”, memanggil sembari menempelkan wajahnya ke wajah Suaminya, sesungguk-kan.

Percakapan berhenti. Semua mata tertuju ke Bundo yang sedang memeluk kepala Datuak Palimo. Umi mendekat ke sebelah Bundo, dan mengusap kepalanya.

”Sabar, Nak,” katanya menghibur menantunya.

”Datuak, lai hiduik juo, nyo Mi,” katanya kepada mertuanya yang dipanggilnya, Umi, sembari mengangkat kepalanya.

”Lai hiduik juonyo, Pangulu. Nak,” gantian memeluk kepala, Datuak, anaknya, yang dipanggilnya, Pangulu.

”Umi, apo nan tajadi, Mi,” tanyanya kepada uminya keheranan.

”Syukurlah. Nak. Lai hiduik juo kironyo, Pangulu,” jawab, Umi.

Mendengar itu, semua yang hadir di rumah itu, serentak berdiri mendekat. Mereka mengucap syukur, karena kematian tidak jadi menjemput Datuak. Beberapa saat kemudian, satu persatu dari mereka menyalami Datuak, mohon diri untuk berlalu dari rumah itu.

 Perlahan Datuak bangkit menyibakkan kain yang menutupi dirinya, beliau duduk memandangi dirinya yang berada di atas kasur di ruang tengah rumah. Beliau menanyakan apa yang terjadi pada dirinya, kepada Bundo. Bundo mengatakan bahwa beliau sempat dinyatakan meninggal, sejak menjelang waktu shalat subuh. Karena itu, sanak famili, jiran tetangga dan orang-orang berdatangan.

Datuak bercerita bahwa beliau bermimpi diajak oleh seseorang yang sama sekali tidak dikenalnya. Waktu itu beliau menurut saja ajakan tersebut, hingga sampai di suatu tempat yang sangat luas, seperti padang rumput tidak bertepi. Ia menjadi was-was, ke mana sebenarnya mau dibawa. Lantas beliau menolak untuk meneruskan perjalanan dan berbalik. Orang tersebut mencengkram tangannya. Beliau berontak dan lari meninggalkannya. Anehnya ia tidak berusaha untuk mengejar dan membiarkan beliau kembali.

Beberapa hari kemudian, Datuak Palimo sudah kembali beraktifitas seperti sediakala, menekuni usaha panglong yang digelutinya. Beliau sudah kembali masuk keluar hutan mencari kayu untuk dijadikan papan dan balok.

Selagi beliau berada di lokasi penggergajian, seorang kerabat memberitahukan kepadanya, bahwa Bundo telah melahirkan anaknya yang keempat, seorang putra. Tanpa menunggu, beliau berkemas dan bergegas pulang.

begitu tiba di rumah, Datuak Palimo langsung meminta bayi dalam pelukan Bundo dan memangkunya. Beliau melantunkan beberapa kalimat Allah di kedua telinga bayi tersebut. Mengiringi aqiqahnya, beliau memberikan nama Vitlan Gumanti kepadanya.

!!!

Vitlan tumbuh menjadi bocah laki-laki yang kelihatannya normal. Berbadan tegap dengan tinggi seimbang. Berwajah tampan dengan rambut hitam tebal dan kulit sawo matang, membuat ibu-ibu dan para gadis di kampung itu, suka menggendongnya dan membawanya bermain.

Begitupun, Vitlan kecil mudah terserang demam dan mimisan, bila cuaca terlalu panas atau terlalu dingin. Melihat kondisi ini, Ibu (panggilan kepada adik mama) membawanya tinggal bersamanya di kota Padang.

Ketelatenan ibu merawatnya, membuat ketahanan pisik Vitlan menjadi semakin membaik. Ia berangsur mulai tahan berpanas-panasan dan main hujan. Provokasi ibu dan etek (saudara jauh mama) menjadikan Vitlan penggemar sayuran dan buah. Ia akan merajuk untuk makan, bila tidak ada sayur. Sayur kegemarannya adalah Bayam dan bunga Pepaya. Apalagi bila dibuat pecal dan anyang.

Vitlan memiliki teman sebaya, Andi, anak etek Ani. Ia tidur berdua dengan Andi di sebelah atas ranjang bertingkat. Ranjang itu terbuat dari dari besi pipa. Sementara di sebelah bawah, ditempati oleh uda Tino dan dua adiknya. Andi tumbuh jadi anak pemberani, suka berkelahi, sehingga anak-anak sebaya yang tinggal dan bermain di lingkungan sekitar, semua takut dan tidak ada yang berani melawannya.

Suatu ketika, Vitlan dan Andi, tidak nampak di rumah maupun di sekitarnya. Hari sudah menjelang senja dan di langit bergayut mendung tebal. Ibu dan etek mulai nampak khawatir. Mereka meminta uda Tino mencari ke lapangan dekan stadion. Pak Etek yang baru saja pulang dari pekerjaannya, ikut sibuk mencarinya.

Hujan mulai turun disertai badai. Uda Tino dan pak Etek, pulang dengan tangan hampa. mereka tambah gusar. Di tengah hujan lebat dan badai tersebut, Vitlan dan Andi muncul di depan pintu. Tubuh mereka basah kuyup. Di tangan Andi ada sejinjingan ikan laut segar. Ibu dan Etek berhamburan memeluk mereka. Ditanya ke mana, mereka mengatakan pergi main ke tepi laut dan ikut membantu nelayan, mengutip ikan tangkapan mereka dari pukat.

Pak Etek tidak dapat menyembunyikan kemarahannya. Beberapa lecutan lidi mendarat di kaki mereka. Kemudian disuruh mandi dan berganti pakaian. Sebagai hukuman tambahan, Vitlan dan Andi tidak boleh keluar pekarangan selama beberapa hari. Beban pekerjaan yang biasanya dikerjakan bersama, dibebankan kepada mereka berdua.

Atas permintaan Uwo (mama dari ibu), ibu pindah mengajar ke kampung. Beliau membawa serta Vitlan, yang waktu itu mau naik ke kelas dua SR (sekolah rakyat), kemudian memasukkannya ke salah satu SR yang tidak berapa jauh dari rumah.

Lain di kota, lain pula di kampung. Seperti anak lelaki lainnya, selain belajar di sekolah, pada malam hari, Vitlan belajar mengaji di surau. Pukul enam sore, ia sudah harus makan, kemudian berangkat ke surau dan tidur di sana. Baru kembali ke rumah setelah aktifitas subuh sekitar pukul enam pagi.

Di surau itu, mereka belajar membaca dan seni baca al-Qur`an, Fiqih, Akhlaq, Sejarah Islam, Pidato dan khutbah, adat dan tradisi budaya sehari-hari Minangkabau, seperti: pasam-bahan kato dan pantun adat. Tidak kurang juga keterampilan berpuisi dan musik.

bersambung

Bagikan:
ULU AMBEK
Bagikan:

Oleh Hasanuddin Hasanuddin

Ulu ambek seperti sebuah pantomim persilatan. Akan tetapi, esensinya ternyata pertaruhan harga diri dan pertarungan eksistensial antar perguruan atau antar nagari. Di samping itu, ulu ambek adalah represetasi konflik, tetapi sekaligus mediasi transformasi konflik itu menuju dinamika harmoni. Jadi, sebuah kearifan lokal manajemen konflik. Mengapa?

Ulu ambek merepresentasikan pertarungan. Kata ulu ambek bermakna lalu-ambek atau serangan-tangkisan. Ulu ambek dipertunjukkan oleh dua orang dari perguruan atau nagari yang berbeda (berbeda dari pertunjukan silat yang dilakukan oleh dua orang ang seperguruan). Pertunjukan dilakukan di atas laga-laga (laga-laga berarti tempat berlaga, tempat bertarung, tempat menentukan kalah menang, tempat menyaksikan siapa pemenang dan siapa pecundang). Pergi ber-ulu ambek disebut sebagai pai manapa (pergi menguji kepandaian dengan berlaga) dan konsekuensi ulu ambek adalah buluih (dipermalukan, baik secara personal/ pemain maupun komunal/ nagari)

Namun, dalam dinamikanya makna ulu ambek bertranformasi menjadi mediasi transformasi konflik. Ulu ambek dimaknai dengan ‘menghambat dari hulu (nya)’, berarti mencegah sejak awal mula. Laga-laga (tempat bertarung) diganti dengan pauleh (tempat menyambung silaturrahim), dan ‘pai manapa’‘pergi menguji kepandaian dengan berlaga’ diganti dengan ‘pai baralek‘ ‘pergi memenuhi undangan hajatan’. Dan, pertunjukan ulu ambek diawasi oleh janang dan raja janang (para penghulu/ ninik mamak) agar tidak terjadi saling mem-buluih-kan.

Ulu ambek merefleksikan filosofi dasar Minangkabau yang rasional, egalitarian dan dinamis. Ia mencerminkan konsep harga diri dan budi sekaligus. Harga diri egalitarian menempatkan seseorang/ kelompok/ nagari setara satu sama lain. Untuk mempertahankan kesetaraan, seseorang atau suatu kelompok/ nagari harus mampu bersaing terus menerus. Ketidakmampuan dalam mengekspresikan diri sama dan setara dengan orang lain adalah cerminan “orang kurang” atau “lebih rendah” dari orang lain. Keadaan demikian dipandang sebagai aib atau “malu” yang tidak boleh terjadi. Namun, persaingan dapat membawa kepada konflik dan disharmoni sosial. Oleh sebab itu, diperlukan budi, yaitu konsep tenggang menenggang demi menjaga harmoni. Representasi budi adalah norma-norma etik yang realisasinya dalam bentuk aturan dan pengawasan.

Oleh karena ulu ambek sangat berpotensi menjadi sumber konflik komunal horizontal (sebagaimana terjadi antara Mangguang dan Mudiak Padang pada 1930-an, yang berakibat ulu ambek dilarang dipertunjukkan), maka ulu ambek harus diawasi secara ketat oleh para penghulu. Implementasinya, ulu ambek harus dipimpin oleh janang sebagai penanggung jawab pertarungan. Janang terdiri atas dua orang yang masing-masing mewakili pangka dan alek. Janang dianalogikan sebagai wasit. Sebagai wasit, janang disumpah agar betindak adil. Oleh sebab itu, pertunjukan tersebut tidak bisa diselenggarakan tanpa seizin ninik mamak atau penghulu nagari sebagai pemilik (karena ulu ambek adalah suntiang ‘mahkota’ mereka) dan tanpa janang.

Ulu ambek menujukkan bagaimana perbedaan, persaingan, dan konflik adalah potensi dinamik yang niscaya dipelihara, namun harmoni adalah keniscayaan yang tak kalah pentingnya pula. Perbedaan dan potensi persaingan dan konflik tidak boleh dimatikan atau sebaliknya dibiarkan memuara menjadi anarkhis. Persaingan dan konflik dapat dimemediasi dan ditransformasikan menjadi konflik yang elegan, estetis, dan etis. Hal itu merupakan kearifan lokal Minangkabau dalam manajemen konflik dalam mengawal berlangsungnya dinamika sosio kultural secara dialektik dan harmonis. Kearifan lokal itu dapat memberi sumbangan bagi pengelolaan kemajemukan Indonesia yang akhir-akhir ini ditandai oleh ‘hiruk pikuk’ oleh konflik komunal horizontal yang memprihatinkan (Hasanuddin, Sastra Minangkabau FIB Universitas Andalas).

Bagikan:
Hidup Sehat Ala Rasulullah SAW (31)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

TERTIB MAKAN DAN MINUM

  1. Minum Madu

Madu adalah cairan yang menyerupai sirup, akan tetapi madu lebih kental dan memiliki rasa yang manis. Madu dihasilkan oleh lebah dan serangga lainnya dari sari bunga. Sejak lama madu telah digunakan oleh manusia sebagai sumber enerji, minuman, obat dan berbagai keperluan perawatan kecantikan.

ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلاً يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاء لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ (النحل: ٦٩)

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan (QS. 16: 69)

  • Kandungan Madu

Madu mengandung gula yang cepat diserap oleh sistem pencernaan, karena itu madu dapat juga disebut sebagai sumber energi instan.

Madu mengandung lebih dari lima belas jenis gula di antaranya adalah fruktosa (gula buah) glukosa (gula anggur), sukrosa (gula tebu), dan maltosa (gula gandum).

Selain itu madu mengandung berbagai vitamin yang barangkali telah memenuhi seluruh vitamin yang dibutuhkan oleh manusia, yaitu : A, B1, B2, B3, B5, B6, D, K, E, Uric Acid, dan asam nikotinat.

Di dalam madu juga terdapat kandungan mineral dan garam. Seperti; besi, sulfur, magnesium, kalsium, kalium, sodium, klorin, tembaga, krom, nikel, lead, silica, mangan, alumininum, aurum, lithium, thin, zink, dan titanium.  .

Di dalam madu juga terkandung bermacam-macam enzim dan asam yang sangat penting untuk kehidupan dan aktivitas tubuh manusia, misalnya: enzim amylase, enzim katalase, enzim fosfolirase, dan beberapa enzim lainnya.

Adapun macam-macam asam yang terkandung dalam madu adalah: formic acid, lactic acid, atric acid, tartaric acid, oxalid acid asam fosfat, dan asam glukomat. Di dalam madu juga terkandung hormon-hormon  yang berfungsi menggiatkan dan memacu kerja organ-organ tubuh.

Madu memiliki aroma atau bau yang khas sesuai dengan dari mana asal sari bunga diambil/dihisap oleh lebah madu, seperti madu dari bunga kemuning, durian, mangga, rambutan, kapuk randu, kelengkeng, dan lain-lain.

  • Madu sebagai Minuman

Madu merupakan minuman terbaik dari segala minuman yang ada di bumi ini. Madu memiliki rasa yang berbeda-beda. Hal itu dikarenakan perbedaan bunga yang diisap oleh lebah. Selain rasa, warna madu juga dibedakan berdasarkan jenis bunga. Madu   dapat disimpan untuk jangka waktu lama, karena madu itu tidak akan pernah basi dan kadaluarsa.

Sebagai minuman, selain dapat diminum langsung, madu juga dapat diminum dengan mencampurnya dengan bahan-bahan lain, seperti anggur, susu, jeruk manis dan jeruk nipis, teh, jahe, dan lain-lain.

عن أنس رضي الله عنه قال:لَقَدْ سَقَيْتُ رَسُولُ اللهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِقَضَ حِيْ هٰذَا الشَّرَابَ كُلَّهُ: العَسَلَ،وَالنَّبِيْدَ، وَالمَاءَ، وَاللَّبَنَ (رواه مسلم)

Dari Anas r.a. katanya; saya telah membuatkan minuman untuk Rasulullah SAW, dengan gelas saya ini dari campuran madu, rendaman anggur, air dan susu.

  • Tidak Memakai Bejana Emas Dan Perak Untuk Minum

Rasulullah SAW telah melarang laki-laki memakai perhiasan emas. Beliau juga melarang makan dan minum menggunakan bejana (piring dan gelas) yang terbuat dari emas dan perak.

لاَ تَشْرَبُوا فِي آنِيَةِ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلاَ تَأْكُلُوا فِي صِحَافِهَا (متّفق عليه)

Janganlah kalian minum dari bejana emas dan perak dan jangan pula kalian makan dari piring-piring emas dan perak.   

عن أمّ سلمة قالت: قَالَ رَسُولُ اللهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الَّذِي بَسْرَبُ فِى إِنَاءٍ الفِضّـةِ إِنَّمَا يُجَرْجِرُ فِى بَطْنِهِ نَارَ جَحَنَّمَ (متّفق عليه)

Dari Ummu Salamah, ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: Orang yang minum pada bejana perak, tidak lain hanyalah menuangkan api jahannam ke dalam perutnya.

Larangan Rasulullah SAW tersebut mengisyaratkan bahwa ada bahaya yang meng-ancam keselamatan manusia bila menggunakan bejana yang terbuat dari emas dan perak untuk keperluan makan dan minum.

Meski belum ditemukan dampak negatif penggunaan wadah perak untuk keperluan makan dan minum, namun peringatan Rasulullah SAW, wajib dipatuhi. Oleh karena itu kajian-kajian dan penelitian khusus perlu dilakukan terus agar diketahui seberapa jauh dampak buruk penggunaan perak sebagai wadah makan dan minum bagi kesehatan.

  • Larangan Minum Sambil Berdiri

Rasulullah SAW melarang seseorang agar tidak minum sambil berdiri. Rasulullah SAW mengatakan minum sambil berdiri itu sesuatu yang jelek atau buruk.

عن أبى هريرة رضي لله عنه قال: رَسُولُ اللهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: لاَيَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِّنْكُمْ قاَئِماً (رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah r.a., katanya; Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah seseorang minum sambil berdiri”.

عن أنس رضي الله عنه، عن النبيِّ صلى الله عليه وسلم: أَنَّهُ نَهِى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِماً . قَالَ قَتَادَةِ : فَقُلْنَا لأَنَسٍ : فَاْلأَكْلُ ؟ قَالَ :ذَلِكَ أَشَرُّ أَوْ أخْبَثُ (رواه مسلم)

Dari Anas radhiyallahu anhu dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam : “Sesungguhnya Nabi Muhammad SAW, melarang seseorang untuk minum berdiri”. Qatadah (seorang tabi’in) berkata : “Kami bertanya kepada Anas, ‘Bagaimana dengan makan sambil berdiri?’ Anas menjawab, ‘Yang demikian itu lebih jelek dan lebih buruk.’  

Larangan Rasulullah SAW tersebut pastilah memiliki sebab yang mendasar bagi ke-hidupan manusia, baik dilihat dari nilai adab, manfaat dan keindahan.

Dari apa yang dilakukan para ahli melalui pengkajian dan penelitian mereka, diketa-hui bahwa;

Tubuh manusia memiliki jaringan penyaring (filter), yang disebut dengan Sfringer. Sfringer ini merupakan suatu struktur berotot (maskuler) yang dapat membuka dan menu-tup. Sfringer ini akan terbuka bila seseorang berada pada posisi duduk, dan akan menutup dengan sendirinya bila orang tersebut berdiri. 

Bila seseorang minum dalam posisi duduk, maka air yang diminum akan masuk me-lalui sfringer. Air minum akan berproses di dalam tubuh (diolah lagi) hingga masuk ke kantong kemih un-tuk seterusnya disalurkan ke pos-pos penyaringan yang berada di ginjal.

Bila seseorang minum sambil berdiri, maka air akan langsung masuk hingga ke kan-tong kemih tanpa melalui sfringer. Air minum yang tidak melalui penyaringan ini lambat laun akan mengakibatkan terjadinya pengendapan limbah di sepanjang saluran ureter. Pro-ses pengendapan inilah yang akan melahirkan masalah pada ginjal, seperti penyakit Kristal ginjal dan susah buang air kecil.

Semoga bermanfaat

Bagikan: