Tabedo – Bagian 33
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

”Abang belum mandi kan?” tanya Icha kepada Vitlan.

”Belum,” jawab Vitlan.

Icha mengambilkan handuk dan memberikannya kepada Vitlan.

”Masak apa Mak Tuo?, tumis kerang. Uiiihh sedaaap,” kata Cicik sembari jemarinya mencicipi seekor kerang yang terletak dalam mangkok di atas meja dapur.

”E e e … main kudap saja, tuh tangan ntah dari mana tuh,” tegur ibu Icha.

”E … maaf, maaf, lupa,” jawab Cicik manja.

”Dah, angkat makanan itu ke meja makan, gih,” kata ibu menyuruh.

Cicik dan Icha mengangkat piring, mangkok dan kelengkapan makan lainnya ke atas meja makan yang ada di ruang tengah.

Vitlan tertegun mencium aroma masakan begitu melintas di ruang tengah.

”Hmmm sedapnya,” desah Vitlan begitu hidungnya, mencium aroma masakan (sembari melirik ke meja makan), ketika melewati ruang tengah.

Selesai bersalin pakaian, Vitlan kembali ke dapur.

”Saya ke masjid dulu ya Buk,” kata Vitlan.

”Ya nak Alan, hati-hati, agak gelap jalannya. Adin dah duluan ke masjid tadi, kata ibu Icha.

”Ya buk,” jawab Vitlan sambil berlalu ke masjid.

Shalat jamaah telah dimulai, ketika Vitlan sampai di masjid. Ia langsung masuk ke shaf. Selesai shalat, anak-anak berkumpul di salah satu bagian belakang ruang masjid. Mereka mengaji dipandu oleh seorang guru mengaji, yang mereka panggil Ustadz. Tak banyak jamaah yang mengikuti shalat dan tinggal duduk-duduk di masjid. Ada kira-kira 6 sampai 8 orang. Vitlan bangkit mendekati mereka.

”Vitlan, Pak,” katanya mengenalkan diri sambil menyalami satu persatu orang tua yang ada di masjid itu.

”Bang Alan, Bang Alan”, teriak Adin.

Vitlan melambaikan tangan, sembari memberi aba-aba agar Adin tetap di tempatnya.

”Teman-Teman, itu abang saya, Ustadz, itu abang saya baru datang dari Medan,” kata Adin kepada teman-temannya dan Ustadz mereka.

Teman-teman Adin memalingkan mukanya ke arah Vitlan. Ustadz melambaikan tangannya dan Vitlan membalasnya diiringi senyuman.

Selesai shalat Isya, Adin dan teman-temannya tegak berkerumun di depan pintu masjid. Dengan sabar mereka tunggu Vitlan selesai berdoa. Begitu    bangkit dari duduknya, Adin segera mendekat dan menyalaminya. Kemudian secara bergantian satu persatu teman Adin menyalami Vitlan. Mereka pulang beringingan.

”Assalamu’alaikum,” terdengar suara keras Adin sambil membuka pintu depan.

”Alaikum salam,” sahut ibu, Icha dan Cicik seren-tak.

”Ayok makan sekalian,” ajak ibu seraya beranjak diikuti mereka ke meja makan.

Selesai makan Vitlan ke beranda, duduk dan menyalakan rokok. Selesai merapikan meja makan, Icha dan Cicik ikut ke beranda.

”Wah enak sekali masakannya, apalagi tumis kerangnya, pedasnya pas kali,” komentar Vitlan.

”Iya Bang, keluarga ibu kami semuanya pandai masak,” jawab Cicik.

”Kalau yang di sebelah Abang, pandai masak ndak ya” goda Vitlan, sembari melirik Icha yang duduk di sebelahnya.

”Tidak tahu juga ya, soalnya belum pernah lihat masak tuh,” jawab Cicik.

”Enak saja bilang belum pernah lihat. Tuh yang masak di rumah di Medan, siapa?” bela Icha geram, karena merasa disepelekan.

”Itukan Cuma bantu Ibuk,” balas Cicik, sambil memalingkan pandangan ke arah lain.

’Boleh, nanti tengok ya Icha masak sendiri,” jawab Icha (sembari menggeretakkan gigi) tambah geram melihat lagak Cicik.

”Iyalahhhh… buktikan saja,” balas Cicik.

”Lihat saja nanti, macam yang pandai kali masak,” jawab Icha, sambil berusaha mendekat.

Cicik beranjak dan pindah duduk ke sebelah lain Vitlan.

”Hei, anak-anak, sudah tu, ayo pindah ke dalam, dah malam, tak baik masih di luar,” ingat ibu Icha, kemudian berlalu ke kamar.

”Ya Bu,” jawab mereka sembari mengemasi meja beranda dan beranjak ke ruang dalam, dan duduk di depan TV. Suasana diam, semua mata memandang ke layar TV.

Beberapa saat kemudian.

”Abang ke kamar duluan ya,” pinta Vitlan kepada kedua gadis itu, sambil berdiri melangkah menuju kamar.

”Ya, Bang,” jawab mereka.

”Yok, kita kekamar juga yok,” kata Icha sambil mematikan TV dan menarik tangan Cicik. Ia berdiri menurut.

Tiba di kamar, Vitlan langsung merebahkan tubuhnya di atas ambal. Sambil memandangi langit-langit kamar, ingatannya melayang jauh ke kota Medan. Teringat ia akan beberapa kejadian yang menimpa dirinya. Terngiang kembali apa yang diucapkan bang Sihombing sesaat ia sampai kembali di rumah setelah ditahan Koramil.

”Begini saja Lan, untuk sementara waktu kau menjauh sajalah dulu. Abang khawatir kau akan ditahan lagi, karena kau diincar terus sekarang ini.”

”Sudahlah Lan, Kau turuti sajalah kata-kata Abang. Saat ini bukan waktu yang tepat untuk berjuang seperti yang kau inginkan. Percuma Lan, percuma.”

Ia membatin,

”Apakah ini jalan untuk menjauh dari persoalan dan dari kejaran aparat, seperti yang dibilang bang Hombing ya. Tapi, bagaimana dengan Mak. Andai rumah Mak, dipotong, dan tidak diganti rugi, dengan apa, ia akan membangunnya lagi. Di mana Mak akan jualan lagi. Bila Mak ndak jualan, darimana ia mendapatkan uang untuk biaya hidup, uang sekolah adik-adik. Kalau rumah Mak ndak bisa dibangun lagi, lantas mereka tinggal di mana?”

Lama ia menerawang sampai pelan-pelan matanya mulai meredup, terpejam dan akhirnya tertidur pulas.

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat Ala Rasulullah SAW (28)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

TERTIB MAKAN DAN MINUM

  1. Makan Yang Manis Ketika Perut Kosong

Makanan utama yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW ketika perut kosong seperti setelah berpuasa seharian adalah kurma basah. Kurma basah tentu saja lebih cepat dicerna oleh lambung bila dibandingkan dengan kurma kering maupun buah lainnya.

Tentu saja tetap ada pilihan selain kurma di daerah-daerah yang tidak memiliki po-hon kurma atau tidak memroduksi kurma, seperti Indonesia. Gula Aren, barangkali dapat disetarakan dengan kurma basah sebagai makanan ketika perut kosong atau berpuasa.

Gula Aren diyakini memiliki kandungan makro dan mikronutrien lebih banyak di-bandingkan dengan gula putih/pasir . Mikronutrien yang ada dalam gula aren antara lain : Garam mineral, vitamin B1, B2, B3, B6, B12, dan Vitamin C.

Menurut Jeff Gunnent; Dalam bukunya Parma Culture Plants (2004), salah satu un-sur yang terkandung dalam gula aren memiliki fungsi untuk mengontrol dan membersihkan saluran pencernaan, mulai dari bagian lambung dan tenggorokan. Riboflavin yang merupa-kan salah satu unsur yang terdapat dalam gula aren, berfungsi melancarkan metabolisme dan mengoptimalkan fungsi sel, sehingga stamina tubuh tetap terjaga.

Gula Aren juga bermanfaat untuk penderita diabetes, membuat intensitas istirahat lebih baik, cocok dimasukkan kedalam makanan untuk diet, mencegah Anemia, mengan-dung Antioksidan,dan dapat meningkatkan daya tahan tubuh. 

عن أنس رضي الله عنه قال: كَانََ رَسُولُ اللهُُُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّى عَلَى رُطَبَاتٍ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَتُمَيْرَاتٌ، فَإِنْ لَم تَكُنْ تُمَيْرَاتٌ حَسَاحَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ (رواه أبوداود و التّرمذى)

Anas r.a., berkata: Adanya Rasulullah SAW berbuka sebelum shalat maghrib dengan tiga kurma ruthob (yang masih basah), bila tidak ada, maka dengan kurma, bila tidak ada, maka dengan tiga teguk air.

  • Mengulum Jari Tangan Setelah Makan

Rasulullah SAW menyuruh ummatnya makan dengan tangan kanan. Kemudian beliau juga memerintahkan agar orang yang makan menjilati atau mengulum jari-jari tangannya terlebih dahulu sebelum tangan tersebut dibasuh (dicuci).

Ternyata setelah diteliti secara ilmiah, setiap jari mengandung enzim dan acid yang berguna untuk membantu proses pencernaan, memudahkan buang air dan menyembuhkan sembelit. Ketika seseorang makan dengan tangannya, maka tangan tersebut akan mengeluarkan enzim dan acid tersebut.

Mengulum dan menjilati jari-jari tangan sebelum tangan dibasuh, berarti menghabiskan enzim dan acid yang masih lengket di jari-jari tersebut.

عن ابن عبّاس رضي الله عنهما قال:قَالَ رَسُولُ اللهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامً، فَلاَ يَمْسَحُ يَدَهُ حَتَّى يَلْعَقَهَا أَوْ  يُلْعِقَهَا (متّفق عليه)

Dari Ibnu Abbas r.a., ia berkata; Rasulullah SAW bersabda: Apabila seseorang selesai makan maka janganlah dia membersihkan tangannya sebelum mengulumnya.

عن جابر رضي الله عنه، أَنَّ النَّبِي صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  أَمَرَ بِلَعْقِ الأَصَابِعِ وَالصَّحْفَةِ، وَقَالَ: إِنَّكُمْ لاَ تَدْرُوْنَ فِى أَيَّهِ البَرْكَةُ (رواه مسلم)

Dari Jabir r.a. katanya; bahwasanya Nabi SAW, memerintahkan menjilati jari-jari dan piring setelah makan, dan katanya: Kalian tidak tahu makanan yang mana yang mengandung berkah.

  • Minum Susu

Untuk melengkapi kebutuhan gizi bagi ma-nusia, Allah menyediakan minuman segar dan menyehatkan dalam perut binatang ternak, terutama susu sapi, susu kambing, dan domba.

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُّسْقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهِ مِن بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَّبَناً خَالِصاً سَآئِغاً لِلشَّارِبِينَ (النحل:٦٦)

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum dari pada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya (QS. 16: 66)

وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُّسقِيكُم مِّمَّا فِي بُطُونِهَا وَلَكُمْ فِيهَا مَنَافِعُ كَثِيرَةٌ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ (المؤمنون: ٢١)

Dan sesungguhnya pada binatang-binatang ternak, benar-benar terdapat pelajaran yang penting bagi kamu, Kami memberi minum kamu dari air susu yang ada dalam perutnya, dan (juga) pada binatang-binatang ternak itu terdapat faedah yang banyak untuk kamu, dan sebagian daripadanya kamu makan (QS. 23: 21).

  • Susu Sapi

Susu sapi merupakan susu utama dari hewan ternak yang dimanfaatkan oleh manusia. Susu sapi dapat diminum secara langsung maupun setelah diolah terlebih dahulu.

Kandungan gizi yang terdapat dalam susu sapi terdiri dari protein, mineral (Kalsium, Kalium, Yodium,  Potassium, dan Fospor), serta vitamin A, B12, riboflavin, vitamin D, dan niacin.

Susu sapi sangat bermanfaat untuk pertumbuhan dan perawatan kesehatan tubuh seperti:

  • Pembentukan Otot
    Protein yang terkandung dalam susu sapi segar cukup tinggi dan cocok untuk membentuk otot, menaikan berat dan tinggi badan secara alami.
  • Menghaluskan kulit
    Mengonsumsi susu sapi segar secara teratur setiap hari dapat meningkatkan kesehatan dan kecantikan kulit secara alami.
  • Melancarkan pencernaan
    Mengonsumsi susu sapi segar secara teratur setiap hari dapat melancarkan pencernaan dan mencegah sembelit atau susah buang air besar.
  • Mencegah pembentukan batu ginjal

Susu sapi dapat juga digunaan untuk mencegah pembentukan batu ginjal dalam tubuh.

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 32
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

”Kok bisa ceritanya sampai di situ, tadi?” tanya Ci-cik.

”Gara melihat tingkah si Adin tadi,” lanjut Icha.

”Ooo paham, paham. Dah, lanjutkanlah ceritanya Bang,” pinta Cicik.

”Jadi, di dekat rumah Abang itu kan ada tebing, tingginya kira-kira sepuluh meter. Di bagian atas tebing itu banyak rumpun bambu. Di sana banyak menumpuk sampah daun-daunan dari pokok Embacang, Rambutan, Nangka dan Jeruk Bali. Di atas tumpukan sampah itu banyak berjatuhan buah Embacang muda yang bijinya masih putih. Abang mau mengambil buahnya yang letaknya agak jauh sedikit dari jangkauan. Pelan-pelan Abang geser kaki Abang lebih dekat. Tiba-tiba ”Byarrr” (Vitlan mengeraskan suaranya sembari kedua tangannya bergerak secara tiba-tiba ke atas).

”Auuu …”, teriak  Cicik dan Icha terperanjat, sembari kedua tangan mereka memegang dada mereka.

”Abang jatuh melorot ke dalam sungai,” kata Vitlan.

”Abang ini pun,” sergah Cicik masih dalam suasana keterkejutan oleh ulah Vitlan. Sementara Icha, yang masih melipat tangan di dadanya, hanya terdiam  menatap Vitlan.

Merasa bersalah, Vitlan cepat-cepat minta maaf dan menenangkan kembali suasana.

”Maaf, maaf, Abang tak sengaja,” pinta Vitlan.

”Tak apa-apa, tak apa-apa,” jawab Cicik dan Icha, kembali tersenyum.

”Terus …,” tanya Cicik.

”Dilanjutkan ini?” tanya Vitlan.

”Ya, iyalah,” jawab keduanya.

”Woi, woi, ada orang jatuh ke banda!” teriak seorang bapak yang sedang lewat di jalan di seberang sungai, sambil berlari mendekat.”

”Sementara itu, Abang berusaha keluar dari sungai dengan pakaian basah kuyup, sambil nangis-nangis. Abang dituntun oleh bapak tersebut ke tepi jalan. Ibu Abang berlari menuruni anak tangga ke bawah tebing, Abang nangis di pelukan ibu. Abang dimandikan di kolam di halaman surau yang terdapat di sisi lain di bawah tebing itu,” lanjut Vitlan.

”Trus,” desak mereka.

”Terus, Abang dituntun pulang, telanjang bulat. terang Vitlan, yang disambut kedua gadis itu de-ngan cekikikan, yang ditahan sambil menutup mulut dengan telapak tangan mereka.

”Kalian kok ketawa?” tanya Vitlan.

”Lucu,” jawab Icha.

”Geli,” kata Cicik.

”Apanya yang lucu, apanya yang geli?” tanya Vitlan.

”Geli…lah, membayangkan Abang telanjang bulat,” kata Cicik. 

”Kan masih anak-anak, kek si Adin itu,” kata Vitlan.

Ibu Icha muncul di depan pintu, dengan keranjang di tangan kirinya.

”Ibu ke Tanjung ya,” katanya, sambil menuruni anak tangga.

”Ya, Buk,” jawab mereka serentak.

Tak berapa lama kemudian tukang ojek datang dan membawa ibu Icha berlalu.

”Terus, yang jatuh dari sepeda kek mana pula ceritanya, Bang?” tanya Icha.

”Sampai di sini saja dulu ya, ceritanya nanti kita sambung,” jawab Vitlan. 

”Aaach, Abang, tak eenak,” desah mereka berdua.

Sejenak kemudian, 

”Eeh, janjinya, kapan?” tanya Cicik pada Icha.

”Boleh, kapan?, sekarang?, nanti siang?’, atau nanti sore?, kapan saja boleh,” tantang Icha.

”Enaknya kapan ya?, …. aah tunggu mak Tuo pulang dululah ya,” kata Cicik.

”Eh, janji apa itu?” timpal Vitlan.

”Adalah, Abang Alan, tenang saja di boncengan,” jawab Cicik.

”Ayok,” jawab Icha.

Cicik menggamit tangan Icha.

”Kami mandi dulu ya, Bang,” kata Cicik kepada Vitlan, sambil berlalu ke ruang dalam.

Vitlan bangkit dari kursi, terus masuk ke dalam kamar. Sampai di kamar, direbahkannya tubuhnya di atas ambal. Matanya menerawang ke langit-langit kamar. Tak lama kemudian ia pun tertidur.

”Bang, bang, bang Alan,” panggil Icha mengetuk pintu kamar.

Tidak ada jawaban.

”Bang, bang Alan”, panggil Cicik dengan suara dan ketukan yang sedikit lebih keras.

Vitlan membuka mata, bangun melangkah ke pintu dan membukanya.

”Ayok Bang, kita jalan-jalan ke Tanjung,” kata Cicik.

”Sebentar ya, Abang ke kamar mandi dulu,” jawab Vitlan segera berlalu.

Vitlan kembali ke kamar untuk berganti baju. Ia mengambil dan mengenakan kemeja tangan panjang berwarna biru dongker berliris-liris kecil putih. Sedikit wewangian menambah sempurnanya penampilannya. Ia melangkah ke beranda. di mana Icha dan Cicik menunggu, duduk bersama ibu.

”Kami pergi ya Buk, pergi ya Mak Tuo, pergi ya Buk,” kata mereka beriringan.

”Yok,” kata Icha, menggamit tangan Cicik. menuruni anak tangga. Vitlan mengiring di belakang.

Dengan 3 buah ojek, mereka menelusuri jalanan menuju Tanjung Balai. Kondisi jalan yang berlubang-lubang, membuat tubuh mereka terguncang-guncang di atas ojek. Sampai di Tanjung, mereka langsung menuju tempat yang diceritakan Icha.

”Silakan duduk, mau pesan apa Bang, Kak?” sapa pelayan kedai makanan ramah.

”Aku mie Pangsit. Kau pesan apa Cik. Abang apa Bang?” tanya Icha kepada mereka, sembari mengambil kursi untuk duduk.”

”Aku mie Pangsit juga,” jawab Cicik, sembari duduk di kursi di depan Icha.

”Abang ini pesan apa,” tanya pelayan kepada Vitlan.

”Mie pangsit … boleh juga,” jawab Vitlan mengambil posisi duduk di sebelah kanan Icha.

”Minumnya apa?” tanya pelayan.

”Pokat kocok” jawab Vitlan.

”Es buah, ya es buah,” jawab Cicik dan Icha.

Tak lama antaranya, pesanan mereka datang.

Mereka segera menyantap hidangan yang sudah tersedia di atas meja. Sebentar-sebentar Icha melirik Vitlan dan ia membalasnya. Vitlan senyum dan Icha balas tesenyum.

Betapa bahagianya hati Icha berada di samping Vitlan, lelaki pujaan yang telah merebut seluruh jiwanya. Tak ingin ia berpisah walau sejenak. Selera makannya telah pulih. Dengan besemangat ia lahap makanannya. Sate kerang dan sate udang yang tersedia di atas meja satu persatu berpindah tempat ke lambungnya. Mulut Icha komat kamit menahan rasa pedas.

”Bang, minta es buah satu lagi,” pinta Icha kepada pelayan.

Cicik terbelalak. Vitlan memperhatikan ulah tingkah Icha, dengan sudut matanya. Dalam hati, ia  bersyukur telah bisa membuat Icha tersenyum lagi, bergairah dan punya semangat hidup lagi, setelah ditimpa cobaan hidup yang cukup berat.

Selesai makan bertiga mereka menuju tepian sungai Asahan. Di sana mereka menghabiskan waktu hingga senja hari sembari menyaksikan kapal dan perahu nelayan lalu lalang di permukaan sungai. Puas menikmati panorama sungai Asahan dengan segala aktifitasnya, mereka pun pulang. Menjelang maghrib mereka sampai di rumah.

”Assalamu’alaikum,” sapa mereka, begitu sampai di tangga beranda.

”Alaikum salam,” jawab suara dari dalam rumah.

”Dah pulang kalian,” sapa ibu Icha, membukakan pintu.

”Sudah, Buk,” jawab mereka.

”Jalan-jalan ke mana saja Kalian?” tanya ibu Icha.

”Tidak ada Mak Tuo, Cuma makan-makan dan duduk-duduk di tepi sungai,” jawab Cicik.

”Sudah mau Maghrib, mandilah kalian,” kata ibu Icha.

”Sudah mandi tadi mau berangkat, Buk,” jawab Icha.

Padanan kata:

Banda = kali (sungai kecil)

bersambung

Bagikan:
Tabedo – Bagian 20
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Telah lebih sepekan Vitlan berada di Adinegoro. Dia rindu pulang ke rumah. Dengan sebuah tas sandang yang berisi beberapa buah buku dan dua stel pakaian, ia keluar ruang yang biasa digunakannya bersama teman-temannya untuk tidur, masuk ke ruang sekretariat. Tidak ada orang di sana. Terus, ia keluar ke bawah pohon Seri menemui teman-temannya yang lain, asyik main karambol.

”Mau ke mana kau Lan?” sapa Wahab.
”Aku pulang ke rumah dulu, nanti malam atau besok aku balik,” jawab Vitlan, sembari menepuk bahu Wahab, Salim, Junaidi, dan melambaikan tangan pada yang lainnya sambil berlalu meninggalkan mereka.
”Yok,” balas teman-temannya sembari mengangkat tangan.

Waktu menunjukkan pukul setengah enam sore, ketika bemo yang membawa Vitlan berhenti di seberang rumahnya.

”Pinggir, Bang”, kata Vitlan kepada supir bemo.

Bemo berhenti, Vitlan turun dan membayar ongkos, kemudian berlari menyeberang jalan. Sampai di depan rumah.

”Assalamu’alaikum,” sapa Vitlan.
”Alaikum salam,” jawab Mak.
”Syukurlah Waang sudah pulang Lan. Tuh ada surat untuk Waang di laci,” lanjut Mak, sambil menunjuk steling.

Vitlan melangkah menuju steling, menarik laci dan mengambil surat tersebut, kemudian duduk di kursi dekat steling.
”Kapan datangnya Mak?” tanya Vitlan kepada Mak sambil membuka surat tersebut.
”Kemarin sore,” jawab Mak.

Vitlan membacanya.

Medan, 9 – 11 – 80
’Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Bang Vitlan, tolong abang datang segera ke rumah. Ada masalah penting yang mau Cicik bicarakan sama Abang tentang Icha. Kondisinya sangat mengkhawatirkan Bang. Kami tunggu kedatangan Abang.
Wassalam,
Cicik

Vitlan menutup surat dan mendesah. Dia merogoh kantong celana dan mengeluarkan bungkus rokok. Mengambilnya sebatang lalu menghisapnya. Kemudian berlalu ke lantai atas. Sambil berjalan,

”Apa ya yang sedang terjadi dengan Icha?” gumam Vitlan dalam hati.

Sampai di kamar Vitlan membaringkan tubuhnya di ranjang. Asap rokok mengepul bergulung-gulung ke langit-langit kamar. Ia membatin mengira-ngira apa yang sedang terjadi dan dialami Icha.

”Allahu akbar Allahu akbar,” terdengar azan berkumandang.

Vitlan bangkit, mengambil handuk dan berlari ke kamar mandi di lantai dasar. Selesai mandi, segera kembali ke lantai dua untuk mengerjakan shalat maghrib. Selesai shalat, berpakaian, pakai sepatu, menghias wajah dengan bedak kertas yang jadi kegemarannya, mengeluarkan sisir dari kantong belakang celana lalu merapikan rambutnya yang gondrong sebahu. Kemudian turun terus ke depan.

”Mak, awak pergi sebentar ya, ke rumah Cicik di Amaliun,” pinta Vitlan sama Mak.
”Ya, hati-hati Waang ya,” jawab Mak.
”Ya Mak,” jawabnya lalu melangkah ke pinggir jalan.
”Bang, Bang,” teriak Vitlan kepada abang becak yang nongkrong dekat simpang.
Abang becak mendekat.
”Ke mana Lan,” tanya abang becak.
”Amaliun Bang,” pinta Vitlan lalu naik ke atas becak.

Sampai di alamat yang dituju. Vitlan turun dan membayar ongkos becak.

”Bang Giman, nanti kira-kira jam sembilan atau tengah sepuluh tolong jemput aku ke sini ya!” pintanya pada tukang becak yang bernama Giman tersebut.
”Ya Lan,” jawab Giman lalu pergi.

Vitlan membuka pintu pagar dan berjalan menuju pintu dan mengetuknya.

”Assalamu’alaikum,” sapanya.
”Alaikum salam,” jawab suara dalam.
Terdengar suara langkah kaki mendekat dan membuka pintu.
”Eee … Nak Alan, mari masuk,” sapa ibu Cicik seraya menyambut uluran salam Vitlan.
”Makasih, Buk,” jawab Vitlan seraya masuk.
”Duduk, Nak,” kata ibu Cicik sambil berlalu ke ruang dalam.

Vitlan duduk, dan tak lama berselang ibu Cicik keluar bersama Cicik dan Raudah.

”Apa kabar, Bang,” sapa Cicik dan Raudah serempak dan bergantian menyalami Vitlan.
”Alhamdulillah Sehat, bagaimana kalian,” jawab Vitlan.
”Baik-baik saja Bang,” jawab mereka berdua, kemudian duduk di kursi tamu yang agak panjang di sebelah kiri Vitlan.

Sementara ibu Cicik duduk di kursi di sebelah kanan Vitlan.

”Yod, gih bikin minuman untuk abangmu gih,” kata ibu Cicik pada Raudah, yang dipanggil Yod. Ia segera bangkit berjalan ke dalam.
”Awak pulang tadi ke rumah, lalu ada surat dari Cicik, ada apa rupanya sama Icha,” Vitlan membuka pembicaraan.
”Iya Bang, kemarin Cicik ke rumah Abang, tapi Abang tidak di rumah. Kata Mak Abang, Abang sudah lebih seminggu tak pulang. Ke mana saja Abang sampai lebih seminggu?” tanya Cicik.
”Ada kegiatan di organisasi Abang,” jawab Vitlan.
”Ooohh…., begini Bang, kira-kira dua bulan yang lalu, pengadilan menjatuhkan hukuman sama Om Mahidin, ayah si Icha, 18 tahun penjara. Dia dituduh menyelewengkan ratusan juta dana yang ada di kantornya. Di antara mereka bersaudara, Icha yang paling terpukul dengan kejadian itu. Dia shock sekali Bang, dan sekarang tak mau keluar rumah. Dia mengurung diri terus,” papar Cicik.

Vitlan tercenung, lama, suasana jadi diam. Cicik dan ibunya saling pandang. Ia keluarkan sebatang rokok, lalu menghisapnya.

Kemudian…,

”Sekarang Icha ada di mana?” tanya Vitlan.
Dengan sedikit ragu Cicik menjelaskan,
”Dia sekarang di rumah nenek di Tanjung Balai, Bang. Rumah yang di Kisaran yang selama ini mereka tempati disita Bang. Mobil dan barang-barang berharga semua ikut disita. Mereka tak punya apa-apa lagi sekarang Bang,” lanjut Cicik.
”Kami tak menduga sama sekali bakal terjadi seperti ini sama keluarga abang kami itu,” timpal ibu Cicik.
”Jadi apa yang bisa saya lakukan,” tanya Vitlan.

Raudah masuk menenteng baki berisi sebuah teko dan empat buah cangkir keramik bermotif bunga, dan meletakkannya di atas meja. Dia lalu berbalik ke dalam dan keluar lagi dengan dua piring berisi gorengan dan meletakkannya satu di depan Vitlan dan satu lagi di depan Raudah. Ada pisang kepok goreng, pisang raja goreng, sukun goreng, ubi dan tapai goreng. Cicik menuangkan teh manis panas ke masing-masing cangkir.

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (15)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

Makan dan Minum

Protein

Protein adalah zat gizi yang dibutuhkan tubuh sebagai:

  • Protein sebagai Zat Pembangun:

Protein itu merupakan bahan pembentuk berbagai jaringan tubuh baru, yang selalu terjadi di dalam tubuh, antara lain:

  • Pada masa pertumbuhan. Proses ini terjadi mulai lahir sampai menjadi dewasa muda. Dalam masa ini proses pembentukan jaringan terjadi secara besar- besaran.
  • Pada masa hamil. Di dalam tubuh wanita yang sedang hamil terjadi pembentukan jaringan-jaringan baru janin yang sedang dikandungnya dan jaringan uri.
  • Penggantian jaringan–jaringan tubuh yang rusak dan dirombak. Pada waktu orang sakit keras atau pada berbagai penyakit menahun terlihat orang menjadi kurus disebabkan banyak jaringannya yang rusak.
  • Waktu latihan–latihan dan olahraga terjadi pula pembentukan jaringan baru, terutama jaringan otot.

Zat Pengatur

Protein turut memelihara dan mengatur proses-proses yang berlangsung dalam tubuh. Hormon yang mengatur proses pencernaan dalam tubuh, membentuk enzim yang berperanan besar untuk kelangsungan proses pencernaan dalam tubuh. Mengatur tekanan osmosa, pada keseimbangan cairan dan PH (asam – basa darah). Protein membantu mengatur keluar masuknya cairan, nutrient (zat gizi) dan metabolit dari jaringan masuk ke saluran darah.

Protein sebagai Pemberi Tenaga

Para peneliti telah menemukan bahwa komposisi protein mengandung unsur karbon, dengan demikian maka jelas protein dapat berfungsi sebagai sumber energi. Dalam keadaan tersedianya karbohidrat yang tidak mencukupi maka untuk menyediakan energi, sejumlah karbon yang terkandung dalam protein akan dimanfaatkan seperlunya sehingga berlangsung pembakaran dan sejumlah protein lainnya digunakan memenuhi fungsi yang sebenarnya yaitu untuk pembentukan jaringan.

Sumber protein berasal dari hewan biasa disebut dengan protein hewani seperti: daging, ayam, hati, dendeng dan lain-lain. Sumber protein berasal dari tumbuh-tumbuhan biasa disebut dengan protein nabati seperti: kedelai dan produk kedele (tempe, tahu, toge, oncom), kacang-kacangan (kacang hijau, kacang merah, kacang tanah), telur, susu dan keju.

Vitamin dan Mineral

•Vitamin

Vitamin adalah sekelompok  senyawa organik amina yang sangat penting dan sangat dibutuhkan oleh tubuh. Vitamin berfungsi untuk membantu pengaturan atau proses kegiatan tubuh (setiap proses metabolisme dalam tubuh). Vitamin ini digunakan tubuh untuk dapat bertumbuh dan berkembang secara normal.

Bila manusia, hewan dan makhluk hidup lainnya tidak mendapatkan asupan vitamin, maka tidak akan dapat melakukan aktifitas hidup. Kekurangan vitamin bisa menyebabkan dan meningkatkan peluang serta faktor resiko terkena penyakit.

Fungsi lain dari vitamin adalah untuk menjaga kebugaran tubuh, menghambat proses penuaan, dan untuk mempercepat proses penyembuhan penyakit.

Ada banyak macam jenis vitamin, di antaranya adalah:

  • Vitamin A.

Dalam bahasa kesehatan disebut dengan retinol. Sumber vitamin A bisa kita dapatkan dari beragam jenis produk makanan seperti ikan, susu, sayuran yang berwarna hijau, dan jenis buah-buahan seperti wortel, pisang, pepaya. Manfaat vitamin A adalah untuk menjaga kesehatan mata (penglihatan), mencegah terjadinya infeksi, turut membantu dalam menjaga kesehatan tubuh. Ada beberapa jenis penyakit yang bisa disebabkan karena kekurangan zat ini yaitu rabun, menurunnya daya tahan tubuh, katarak, kulit menjadi kurang sehat.

  • Vitamin B.

Vitamin yang kedua ini terdiri dari Vitamin B1, B2, B6 dan B12. Sumber dari vitamin B ini bisa kita dapatkan dari sayuran hijau, gandum, beras, hati, daging. Kegunaan dan faedah dari vitamin B ini membantu dalam proses tumbuh kembang anak. Berperan dalam memperkuat tulang maupun gigi, meningkatkan imunitas tubuh, asupan vitamin B yang cukup dan baik akan bermanfaat bagi tubuh untuk mampu menangkal serangan virus penyakit. 

  • Vitamin C.

Dalam dunia kesehatan dikenal dengan istilah asid askorbik (asam askorbat). Fungsi vitamin C yaitu memperkuat tulang dan gigi, sebagai pembentuk dan pengekal kalogen, menjadi antioksidan yang sangat baik bagi tubuh, menjaga dan membantu pertumbuhan serta memperbaiki jaringan yang rusak. Sumbernya bisa kita dapatkan dari produk buah-buahan terutama adalah jeruk dan juga tomat, nanas, serta sayuran segar.

Kekurangan vitamin C akan bisa menyebabkan gusi berdarah, nafsu makan ber-kurang, dan lesu dan lemas. Berbagai jenis buah-buahan sehat untuk ibu hamil juga banyak kandungannya zat gizi ini.

  • Vitamin D.

Vitamin D juga merupakan salah satu jenis vitamin yang banyak ditemukan pada beragam jenis makanan hewani, contohnya ikan, telur, susu, serta produk olahannya, seperti keju. Bagian tubuh yang paling banyak dipengaruhi oleh vitamin ini adalah tulang. Zat ini dapat membantu metabolisme kalsium dan mineralisasi tulang. Sel kulit akan segera memproduksi vitamin D saat terkena cahaya matahari (sinar ultraviolet). 

Penyakit dan  gangguan masalah kesehatan karena kekurangan vitamin D ini adalah gangguan pertumbuhan gigi, osteomalasia pada dewasa, Pada orang tua bisa menyebabkan osteoporosis, yaitu kerapuhan tulang akibatnya berkurangnya kepadatan tulang

  • Vitamin E.

Manfaat vitamin E untuk kesehatan antara lain adalah untuk pencegahan penyakit kulit, menutup luka, mencegah dan mengobati  kemandulan atau sulit hamil. Dan pada ibu hamil dapat berfungsi untuk mencegah keguguran. Sumber vitamin E bisa didapatkan dari hati, biji-bijian, buah, sayuran dan kacang-kacangan.

Semoga bermanfaat

Bagikan: