Tabedo – Bagian 10
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Ia memencet. kemudian membasuh mukanya dengan air yang dibawanya. Akan tetapi mukanya terasa semakin gatal dan perih. Icha menjerit memanggil begitu dilihatnya Vitlan muncul di kejauhan.

“Bang Alan, tolong Icha Bang,”teriaknya.

Mendengar suara yang tak asing lagi baginya, Vitlan berlari mendekat, dan
“Mukamu kenapa ?” sapa Vitlan melihat wajah Icha yang dipenuhi bintik-bintik seperti bisul mau pecah.
“Tidak tahu bang,” jawab Icha sambil menangis menatap Vitlan dalam-dalam.
Vitlan mencoba memegang pipi Icha, tapi Icha menepis tangannya sambil menjauh.

“Lho, kamu kenapa ?” sapa Vitlan heran.
Icha lari, lari dan lari menjauh.
“Cha, Icha, hei Icha, bangun,” kata Cicik mengguncang-guncang tubuh Icha.
“Jangan dekati Icha, jangan, jangan,” igau Icha.
“Hei Icha, kau kenapa?” kata Cicik lagi sambil memukul-mukul pipinya.
Icha terbangun, kebingungan. Dadanya sesak seperti orang dikejar-kejar.

Keringat membasahi wajah dan tubuhnya. Cicik memeluk erat sauda-ranya itu dan mengusap keringatnya dengan penuh kasih sayang. Perlahan kesadarannya pulih.
“Astaghfirullah, astaghfirullah, astaghfirullah”, ucapnya sambil mengusap-usap wajahnya.
“Kau kenapa?”, sapa Cicik lagi.
“Ambilkan air minum segelaslah”, kata Cicik kepada Raudah yang ikut terbangun.

Raudah berlalu ke luar kamar dan sebentar kemudian kembali dengan segelas air hangat yang diambilnya dari thermos air. Cicik menuntun Icha minum. Setelah Icha terlihat tenang, Cicik kembali menanyainya.

“Kau kenapa?” dengan tetap memeluknya.
“Aku mimpi buruk Cik,” jawab Icha.
“Mimpi apa kau rupanya?” selidik Cicik.
“Aku rasanya pergi ke bukit yang banyak bunganya. Waktu aku mau naik ke dangau yang ada di taman itu, aku tertusuk duri,”
“Terus, trus,” desak Cicik.
“Kak Cicik ini bagaimana, sabarlah,” sela Raudah sembari memukul pelan bahu Cicik.
“Terus setelah duri itu kucabut, mukaku terasa gatal-gatal dan keluar bintik-bintik merah keku-ningan berisi cairan bening. Aku menjerit dan bang Vitlan datang, begitu ia mau memegang pipiku, aku menolak dan menjauh,” jelas Icha.
“Aneh juga mimpimu ya,” komentar Raudah.
“Apa ya artinya,” tanya Icha heran.
“Manalah kutahu. Aku kan bukan tukang ramal,” jawab Raudah.
“Apa ya, tapi sudahlah, itu kan cuma mimpi,” balas Cicik yang cara berpikirnya lebih rasional.

Jarum jam dinding menunjukan pukul 2.15 dini hari. Icha beranjak ke belakang ke kamar mandi. Ia berwudhuk dan ke ruang shalat untuk mengerjakan shalat tahajjuj, kemudian berdoa.

“Ya Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kasihilah hamba, sayangilah hamba. Ya Allah yang Maha Pengampun, ampunilah segala dosa dan kesalahan hamba. Ya Allah Yang Maha Memberi Petunjuk, tunjukilah hamba ke jalan lurus, jalan yang Engkau ridhoi. Ya Allah Yang Maha Pelindung, lindungilah hamba dari segala mara bahaya.
Ya Allah, hanya kepada Engkau kami mengabdi dan hanya kepada Engkau kami minta tolong. Kabulkanlah doa hamba. Robbana atina fiddun ya hasanah wafil akhirati hasanah waqina azabannar. Walhamdulillahi Rabbil ‘alamin.

Kembali ke kamar, didapatinya kedua sepupunya itu telah kembali tidur dengan pulas. Icha pun merebahkan badannya di ranjang, berdo’a dan sejenak kemudian tertidur pulas.

!!!

Sesampai di rumah, Vitlan mendapati Mak sudah terangguk-angguk di kursi di depan steling karena menahan kantuk, padahal waktu baru lewat pukul setengah sebelas malam.

“Mak, tidurlah ke dalam, biar Alan yang jaga kedai,” kata Vitlan menepuk-nepuk bahu Mak.

“Eeh sudah pulang waang Lan. ialah, Mak ngantuk kali memang,” jawab mak setelah tahu bahwa Vitlan telah pulang. Kemudian masuk ke kamarnya.

Vitlan merapikan letak kursi-kursi yang sudah tidak berada ditempat semestinya. Kemudian ia duduk dan menyulut sebatang ji sam soe. Belum berapa lama ia duduk datang pebelanja memesan 4 bungkus nasi goreng, 3 bungkus mie tiau dan 3 bungkus mie kuning goreng. Dengan cekatan Vitlan mulai mengolah bahan-bahan yang akan digunakan untuk memasak pesanan tersebut. Satu demi satu masuk ke dalam kuali. Gerakan tanggannya sangat lincah mengaduk-aduk adonan di dalam kuali, persis bagaikan penari yang berlenggak-lenggok di atas pentas. Keringat mengalir dari dahi dan tengkuknya. Sebentar-sebentar ia melap muka dan tengkuknya yang kuyup karena keringat.

Belum selesai ia menyiapkan pesanan tersebut datang lagi dua orang gadis di seberang jalan memesan 5 bungkus nasi goreng.

“Lama tak nampak, ke mana, Bang,” sapa mereka.
“Ada kesibukan sedikit, di luar,” jawab Vitlan, sambil tetap mengaduk-aduk masakan.
“Tadi, ada kelihatan tu 3 gadis sama Abang, pacarnya ya, Bang,” selidiknya.
“Biasaaa, penggemar,” seloroh Vitlan.
“Ah, Abang ini, macam betul saja,” sela seorang dari mereka.
“Yaaa, masak pacar tiga orang,” kilah Vitlan.
“Yang satu, pacar. Yang duanya, temannya. Bisa kan?” selidik si gadis.
“Anak mana, Bang?” tanya si gadis lagi.
“Mau tahu saja,” jawab Vitlan sambil senyum, seraya menyerahkan pesanan kedua gadis itu.

Pukul setengah satu malam Vitlan menutup kedai nasinya. Ia beruntung sekali, malam itu jualannya habis terjual. Selesai menutup kedai dan merapikan semua peralatan Vitlan beranjak ke luar ke kedai sebelah.

“Mak Etek, ji sam soe sabungkuihlah,” kata Vitlan kepada penjual rokok.
“Lah batutuik kadai Lan?” kata penjual rokok yang dipanggil mak Etek tersebut.
“Alah, Alhamdulillah, habih mak Etek,” jawab Vit-lan sambil menghidupkan rokoknya.
“Lah ka lalok lai waang,” lanjut mak Etek.
“Alun lai mak, sabanta lailah. Mak Etek alun tutuik lai,” balas Vitlan.
“Kok baitu ambo tutuik pulo lah,” jawab mak Etek.

Vitlan membantu mak Etek menutup kedainya, dan setelah mak Etek selesai mengunci pintu dan beranjak ke rumahnya yang terdapat di belakang kedainya, Vitlan pun masuk ke rumah dan langsung ke kamar mandi mengambil wudhuk, kemudian naik ke lantai dua shalat Isya lalu tidur.

Pukul 5 subuh Mak bangun. Selesai shalat subuh ia beranjak naik ke lantai dua bermaksud membangunkan Vitlan. Begitu dilihatnya Vitlan tidur begitu pulas ia urungkan niatnya dan mengambil kunci laci steling di atas meja belajar terus turun kembali ke lantai dasar.

Ia membuka laci dan melihat setumpuk uang. Mata Mak berbinar dan ia bergerak ke steling jajanan, membuka pintu bagian bawahnya dan melihat bahan jualannya kosong dan berarti dagangannya laku habis terjual tadi malam. Reflek didekapkannya uang dalam genggamannya ke dadanya.
“Alhamdulillah ya Allah, daganganku habis terjual tadi malam,” gumam Mak sebagai tanda syukur.

Padanan kata:
Sabungkuih = sebungkus
Lah/alah = sudah
Batutuik/tutuik = tutup
Kadai = kedai
Habih = habis
Lalok = tidur
Waang = kamu
Alun = belum
Sabanta = sebentar
Lai = lagi
Baitu = begitu
Ambo = saya/aku
Pulo = pula

bersambung

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (5)
Bagikan:

Oleh: AR Piliang

Bersuci Sebelum Shalat

Bersuci adalah kegiatan membersihkan diri dari segala macam hadats (hadats kecil dan hadats besar), sebagai syarat untuk melaksanakan ibadah shalat.

Bersuci merupakan sebuah keharusan bagi setiap orang yang akan melaksanakan ibadah shalat. Bersuci bukan hanya sebagai syarat yang diharuskan ketika hen-dak menghadap Allah SWT., akan tetapi juga melam-bangkan kecintaan akan hidup bersih dan sehat.

Bersuci dapat dilakukan dengan 3 (tiga) cara, sesu-ai dengan kondisi dan kebutuhannya, yakni:

  1. Wudhuk,
  2. Mandi, dan
  3. Tayammum.

Berwudhuk

Berwudhuk adalah cara bersuci tingkat perta-ma sebagai syarat untuk bisa melaksanakan ibadah shalat. Berwudhuk dilakukan bila seseorang berada dalam kondisi berhadats kecil yang disebabkan oleh kentut, buang air kecil, buang air besar, keluar ma-dzi, memegang kotoran atau sesuatu yang kotor, terkena najis, dan lain-lain yang setara dengannya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلاةِ فاغْسِلُواْ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُواْ بِرُؤُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَينِ وَإِن كُنتُمْ جُنُباً فَاطَّهَّرُواْ وَإِن كُنتُم مَّرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاء أَحَدٌ مَّنكُم مِّنَ الْغَائِطِ أَوْ لاَمَسْتُمُ النِّسَاء فَلَمْ تَجِدُواْ مَاء فَتَيَمَّمُواْ صَعِيداً طَيِّباً فَامْسَحُواْ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ مَا يُرِيدُ اللّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَـكِن يُرِيدُ لِيُطَهَّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ (المآئده: ٦)

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah muka-mu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedu-a mata kaki, dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau me-nyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang ba-ik (bersih). sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, te-tapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyem-purnakan ni’mat-Nya bagimu, supaya kamu bersyu-kur.


عن حمران ؛ مولى عثمان ين عفان رصي الله عنه؛ عن عثمان ين عفان رصي الله عنه دَعَابِوَضُوءِ، فًتَوَضَّأَ، فَغَسَلَ كَفَيْهِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ مَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ، ثُمَّ غَسَلَ وَجْهَهُ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اليُمْنىَ إِلَى المِرْفَقِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ يَدَهُ اليُسْرَى مِثْلَ ذاَلِكَ، ثُمَّ مَسَحَ رَأسَهُ، ثُمَّ غَسَلَ رِجْلَهُ اليُمْنَى إِلىَ الكَعْبَيْنِ ثَلاَثَ مَرَّاتٍ، ثُمَّ غَسَلَ اليُسْرَى مِثْلَ ذَألِكَ، ثُمَّ قَالَ؛ رَأَيْتُ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَوَضَّأَ نَحْوَوُضُوْئِى هٰذاَ، ثُمَّ قَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ مَنْ تَوَضَّاَ نَحْوَوُضُوْئِى هٰذاَ، ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ رَكْعَتَيْنِ، لاَ يُحَدَّثُ فِهِيْمَا نِفْسَهُ، غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رواه مسلم)

Dari Humran, budak Utsman bin Affan r.a.; Bahwasanya Utsman bin Affan meminta air untuk berwudhuk; dibasuhnya dua telapak tangannya tiga kali, kemudian berkumur-kumur dan menghirup air dengan hidung lalu menghembuskannya.

Setelah itu dia memba-suh wajahnya tiga kali, kemudian membasuh tangan kanan sampai siku tiga kali, kemudian membasuh tangan kirinya dengan cara seperti itu, kemudian mengusap/menyapu kepalanya, lalu membasuh kaki kanan hingga dua mata kaki tiga kali, kemudian membasuh kaki kirinya dengan cara seperti itu; lalu Ia berkata: “Beginilah kulihat Rasul-ullah SAW berwudhuk, dan katanya pula; Bersabda Rasulullah SAW: Barangsiapa yang berwudhuk (seperti wu-dhukku ini) kemudian shalat sunat dua raka’at dengan khusuk niscaya diampunkan kesalah-an-kesalahannya yang kecil yang pernah dikerjakannya.

Urutan pelaksanaan wudhuk adalah:

  1. Membasuh tangan yang diikuti dengan menggosok-gosok sela-sela jari dan kuku. Ini dilakukan agar kotoran dan bakteri yang ada di sekitar telapak tangan dan sela-sela jari dan kuku akan hilang bersama jatuhnya air dari tangan.
  2. Dengan tangan yang sudah bersih, kemudian berkumur-kumur. Ini dilakukan agar sisa-sisa makanan dan bakteri yang terdapat di dalam mulut dibuang keluar.
  3. Kemudian dilanjutkan dengan menghirup/ memasukkan air ke dalam lubang hidung. Ini dilakukan agar kotoran-kotoran dan bakteri yang terdapat di rongga hidung dapat dibu-ang keluar.
  4. Membasuh muka, selain untuk membersihkannya, juga untuk memberikan kesegaran dan menjaga kelembaban kulit wajah.
  5. Membasuh tangan kanan dan tangan kiri yang dimulai dari ujung jari sampai di ujung siku, selain untuk membersihkan, juga untuk mengalirkan debu, bakteri yang ada di tangan ke ujung siku.
  6. Mengusap (bukan membasuh) sebahagian kepala adalah mengusapkan telapak tangan yang basah dengan air mulai dari kening terus ke bagian belakang kepala dan berakhir di daun telinga, memberikan rasa sejuk pada bagian kepala. Tidak perlu dibasuh, kare-na akan menyulitkan.
  7. Membasuh kaki kanan dan kaki kiri hingga batas mata kaki, untuk menghilangkan ko-toran dan debu yang hinggap di kaki.

Secara umum, bagian tubuh yang dikenai kegiatan wudhuk adalah bagian tubuh yang biasa terbuka (kecuali pada perempuan). Berwudhuk, tidak saja membuat kulit muka, tangan dan kaki menjadi lembab, akan tetapi juga memberikan rasa sejuk, nyaman dan rileks pada tubuh. Suasana seperti ini, sangat terasa pada saat tengah dan sore hari (ketika shalat Zhuhur dan Ashar).

Berwudhuk tidak saja dilakukan untuk keperluan shalat, akan tetapi juga dianjurkan ketika akan tidur dan setelah melakukan hubungan suami isteri.

Berwudhuk ketika hendak tidur, akan memberikan suasana relaks, yakni suasana te-nang dan jauh dari ketegangan, sehingga sangat memungkinkan seseorang akan dapat segera tertidur dan tidur dalam keadaan lelap.

Kegiatan bersenggama melibatkan tenaga, pikiran dan perasaan (emosi). Berwudhuk setelah melakukan persenggamaan, akan membantu mengurangi tingkat kelelahan dan me-ngembalikan sebahagian kebugaran, sehingga tubuh terasa lebih segar, perasaan relaks dan ketenangan pikiran.


عن البرّاءبن عازب رضي الله عنهما، أَنَّ رسول الله صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قال: إِذَا أَخَذْتَ مَضْجَعَكَ؛ فَتَوَضَّأْ وُضُوْءَكَ لِلصَّلاَةِ؛ ثُمَّ أضْطَجِعْ عَلَى شِقِّكَ الأَيْمَنِ (رواه مسلم)

Dari Al-Barra’ bin Azb r.a., katanya; bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda: Apa-bila kamu akan tidur, berwudhuklah seperti wudhuk untuk shalat, lalu berbaringlah diatas lambung kananmu.

عن أبي سعيد الخدرى رصي الله عنه؛ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؛ إِذَا أَتَى أَحَدُكُمْ أَهْلَهَ، ثُمَّ أَرَادَ أَنْ يَّعُوْدَ؛ فَلْيَتَوَضَّأْ (رواه مسلم)
Dari Abu Said Alkhudriyyi r.a.,ia berkata; Bersabda Rasulullah SAW: “Apabila sese-orang di antara kamu menyetubuhi isterinya, kemudian ia hendak mengulanginya, hendak-lah ia berwudhukdulu.”

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Hidup Sehat ala Rasulullah SAW (3)
Bagikan:

0leh: AR Piliang

Mencuci Tangan Selesai Makan


Keharusan mencuci tangan tidak saja dilakukan sebelum seseorang mengerjakan suatu pekerjaan, akan tetapi mesti dilakukan juga setelah selesai mengerjakan pekerjaan tersebut, khususnya setelah selesai makan.

Ketika seseorang makan (terutama memakan makanan yang basah, dan atau yang berkuah dan berlemak) dengan menggunakan tangan, maka di jari dan di selaselanya akan lengket sisa-sisa makanan, kuah, dan lemak.

Beberapa kemungkinan buruk dapat terjadi bila setelah makan, tangan tidak dicuci sama sekali atau dicuci seadanya atau hanya dilap saja kemudian pegi tidur, antara lain:

Tangan yang ada sisa-sisa makan yang lengket padanya atau setidak-tidaknya masih tersisa aroma makanan akan mengundang binatang pengerat dan serangga untuk menggigitnya. Bila ini terjadi, tentu saja akan membawa akibat buruk seperti luka dan bengkak karena gigitan dan bisa serangga.

Bagi yang punya kegemaran mengisap-isap jemari ketika tidur, ia secara reflex akan memasukkan tangannya ke mulutnya. Sisa-sisa makanan yang lengket di jemarinya dan telah kering dengan sendirinya, dan kemungkinan telah pula basi dan terkontaminasi debu, kuman dan bakteri, akan dengan sendirinya masuk ke dalam perutnya. Kondisi seperti ini bisa menimbulkan sakit perut dan masalah kesehatan lainnya.

Bila sisa-sisa makanan yang lengket di jemari itu bahan yang mengandung efek ekstrim seperti cabai, lada dan jahe, maka bila jemari itu menyentuh bagian tubuh yang sensitif, ketika menggarut dan atau mengusap akan membuat bagian sensitif itu akan cidera, perih bahkan luka.

Sebagai antisipasi agar tidak terjadi hal di atas, maka Rasulullah SAW menganjurkan sangat untuk mencuci tangan setelah makan.
عن أبى هريرة قال: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ نَامَ وَفِى يَدِهِ غَمَرٌ وَلَمْ يَغْسِلْهُ، فَأَصاَبَهُ شَيْءٌ فَلاَ َلُوْمَنَّ إَلاَّ نَفْسَهُ (رواه أبوداود)
Dari Abu Hurairah r.a., katanya; Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang tidur, sementara di tangannya masih ada sisa makanan dan dia tidak mencucinya, lalu dia ditimpa musibah, maka janganlah dia mengumpat kecuali kepada dirinya sendiri.

Mencuci Tangan Merupakan Cara yang Paling Efektif Mencegah Penyakit.

Beberapa jenis oenyakit sangat akrab dengan kehidupan manusia seperti: diare, sakit perut, disentri, cacingan, batuk, gatal-gatal, demam berdarah, malaria, muntaber dan lain-lain. Penyakit-penyakit ini biasa dikenal dengan sebutan penyakit berbasis lingkungan. Disebut berbasis lingkungan karena penyakit-penyakit ini berkaitan erat dengan kondisi kebersihan dan kesehatan lingkungan.


Diare merupakan penyakit yang paling banyak diderita dan menimbulkan kematian pada anak-anak dan balita. Penyakit diare umumnya berasal dari/ditimbulkan oleh tangan anak yang kotor/tidak bersih setelah anak memegang berbagai benda ketika bermain dan kegiatan lainnya, kemudian langsung memegang makanan tanpa mencucinya terlebih dahulu.


Mencuci tangan adalah cara yang paling efektif dalam mencegah berbagai penyakit yang disebutkan di atas. Dengan mencuci tangan, kuman, bakteri, cacing, virus dan protozoa akan hanyut bersama air pencuci tangan.

Berkumur-Kumur
Berkumur-kumur merupakan bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat. Berkumur-kumur adalah satu kegiatan dengan cara memasukkan air ke dalam mulut, kemudian menggon-cang-guncangkannya di dalam mulut. Kegiatan ini dilakukan untuk mengeluarkan dan membu-ang sisa-sisa makanan yang tertinggal di sela-sela gigi, bakteri dan kuman yang bersarang di rongga mulut (terutama selama tidur).
Kegiatan berkumur-kumur ini dilakukan berulang sampai tiga kali, dengan harapan rongga mulut seseorang akan bersih dan bebas dari bakteri dan kuman. Selain untuk membersihkan mu-lut dari baktri dan kuman, berkumur-kumur juga dapat mengurangi bau yang tidak sedap yang keluar dari mulut.


Kegiatan berkumur-kumur ini juga dianjurkan untuk dilakukan setiap kali seseorang akan berwudhuk.
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، فِى صِفَةِ الوُضُوءِ، ثُمَ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاَثًا يُمَضْمِضُ وَيَنْثـُرُ مِنَ الكَفِّ الَّذِي يَأ خُذُ مِنْهُ المَاءَ (روه أبوداود والنساءي)
Dari Ali r.a. tentang sifat wudhuk; Kemudian Nabi SAW berkumur-kumur dan membersihkan hidung tiga kali. Beliau berkumur-kumur dan membersihkan hidung itu dari tangannya yang digunakan untuk mengambil air.
عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، فِى صِفَةِ الوُضُوءِ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفِّ وَاحِدٍ يَفْعَلُ ذٰلِكَ ثَلاَثًا (متّفق عليه)
Dari Abdullah bin Zaid r.a. tentang sifat wudhuk; Kemudian Nabi SAW memasukkan tangannya, lalu berkumur-kumur dan mengisap air ke hidung dari satu tangan; (Beliau) berbuat demikian tiga kali.

Menghirup Air Dengan Hidung
Manusia bernafas selama 24 jam penuh setiap hari. Maka selama itu pula ia akan menghi-rup udara, mulai dari udara bersih dan segar, sampai udara yang dipenuhi oleh berbagai kotoran, debu, asap, dan partikel lainnya yang beterbangan di udara, yang mengandung bermacam-macam bakteri dan kuman. Sebahagian dari kotoran, debu, asap dan partikel lainnya itu akan tinggal dan menempel di rongga hidung.
Memasukkan air ke hidung (menghirup) merupakan cara efektif untuk mengeluarkan sega-la macam kotoran, bakteri dan kuman yang berada di rongga hidung tersebut. Cara memasukkan air ke hidung adalah dengan cara mengambil air dengan tangan, kemudian menempel kannya ke hidung, dan seterusnya menghirup air tersebut dengan hidung, hingga terasa denyutnya di kepala kemudian membuangnya keluar.
Guna memastikan bahwa rongga hidung sudah bebas dari kotoran, maka kegiatan menghi-sap air dengan hidung ini dapat dilakukan secara berulang-ulang hingga tiga kali pada setiap ke-sempatan.
Selain untuk membuang kotoran, kuman dan bakteri, kegiatan menghisap air ke hidung ini, dapat meringankan gangguan demam dan influenza. Bahkan menurut penelitian para ahli, dapat menyembuhkan beberapa penyakit, seperti: Sinusitis dan sakit kepala sebelah atau migrant.
عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، فِى صِفَةِ الوُضُوءِ، ثُمَ تَمَضْمَضَ وَاسْتَنْثَرَ ثَلاَثًا يُمَضْمِضُ وَيَنْثـُرُ مِنَ الكَفِّ الَّذِي يَأ خُذُ مِنْهُ المَاءَ (روه أبوداود والنساءي)
Dari Ali r.a. tentang sifat wudhuk; Kemudian Nabi SAW berkumur-kumur dan membersihkan hidung tiga kali. Beliau berkumur-kumur dan membersihkan hidung itu dari tangannya yang digunakan untuk mengambil air.

عَنْ عَبْدِاللهِ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، فِى صِفَةِ الوُضُوءِ، ثُمَّ أَدْخَلَ يَدَهُ فَمَضْمَضَ وَاسْتَنْشَقَ مِنْ كَفِّ وَاحِدٍ يَفْعَلُ ذٰلِكَ ثَلاَثًا (متّفق عليه)
Dari Abdullah bin Zaid r.a. tentang sifat wudhuk; Kemudian Nabi SAW memasukkan tangannya, lalu ber-kumur-kumur dan mengisap air ke hidung dari satu ta-ngan; (Beliau) berbuat demikian tiga kali.

Gosok Gigi
Aktifitas makan dan minum, akan menyisakan sisa-sisa makanan dan minuman di dalam mulut dan lengket di gigi, terutama di sela-sela gigi. Dalam rentang waktu tertentu, sisa-sisa ma-kanan dan minuman yang lengket tersebut akan hancur dan membusuk, yang secara otomatis akan mendatangkan kuman dan bakteri, serta bau busuk.
Menggosok gigi, sebagaimana yang dianjurkan Rasulullah SAW, merupakan sebuah upaya efektif untuk menyikat dan menghilangkan kotoran dan bakteri yang terdapat dan lengket di per-mukaan dan sela-sela gigi. Bersih mulut dan bersih gigi akan membuat mulut dan nafas seseo-rang menjadi sehat dan segar serta terbebas dari bau tak sedap.
Begitu pentingnya menggosok gigi ini, sampai-sampai Rasulullah SAW menganjurkan (bila saja tidak memberatkan) agar seseorang menggosok giginya setiap kali akan melaksanakan shalat.
عَنَْ اَبِى هُرَيْرَةَ رَضِيَاللهُ عَنْهُ عَنْ رَسُولُ اللهُ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ؛ لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلٰى أُمَّتِى لأَمَرْ تُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ وُضُوءٍ (رواه مالك وأحمد والنّسائي)
Dari Abu Hurairah r.a. dari Rasulullah SAW, bahwasanya beliau pernah bersabda; Sekiranya tidak akan memberatkan bagi ummatku, niscaya aku perintahkan mereka menggosok gigi tiap-tiap berwudhuk.

”.

Semoga bermanfaat

Bagikan:
Tabedo – Bagian 4
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Di rumah Cicik,

Setelah melepas kepulangan Vitlan ketiga gadis itu segera masuk dan duduk kembali di kursi tamu.

“Lain kali kalian harus lebih hati-hati,” nasihat Ibu kepada mereka.

“Ya Buk, tapi kami tidak menduga sama sekali kalau sampai dijahili anak kecil itu, Buk,” timpal Cicik.

“Untung ada yang menolong kalian, dan sekarang ayo tidur, sudah larut, nanti kesiangan,” balas ibu seraya berlalu ke kamar.

Bertiga mereka membereskan dan merapikan rumah, lalu masuk ke kamar. Sembari ganti pakaian.

“Bang Vitlan itu ganteng ya?” kata Cicik.
‘Bukan hanya ganteng, tapi juga baik hatinya,’ sambung Raudah.

Icha hanya diam. Selesai ganti pakaian ia langsung naik ke atas ranjang, meraih guling dan memeluknya, terus memejamkan mata. Cicik dan Raudah melakukan hal yang sama.
Malam itu Icha tidak dapat tidur. Pikirannya menerawang, bayangan Vitlan dan kejadian-kejadian yang dialaminya bersama kedua saudaranya silih berganti muncul di pelupuk matanya. Kadang ia tersenyum bila terbayang wajah, tatapan, senyuman, dan genggaman tangan Vitlan. Di lain kesempatan ia menjadi cemas, apakah pertemuan tadi hanya akan sampai disitu saja, dan tidak akan berlanjut di hari-hari mendatang. Apakah ia akan dapat bertemu lagi dengan orang yang baru saja hadir di hatinya.

Jam dinding telah menunjukan waktu pukul 03.30 WIB dinihari. Mata Icha tak kunjung terpejam. Ia bangkit dan mengambil tas, mengeluarkan buku hariannya, dan mulai menulis.
“Hari ini merupakan hari kedua aku berada di kota Medan. Kehadiranku di Medan adalah memenuhi permintaan makcik untuk membantu pekerjaan beliau mengelola catering untuk keperluan berbagai macam pesta.Tadi pagi aku bangun pukul 05.00 WIB. Selesai shalat shubuh, aku sudah disibukan oleh pekerjaan rumah membantu makcikku di dapur. Kemudian ke pajak berbelanja. Pulang dari pajak menyiapkan pesanan, kemudian mengantarkannya. Aku letih dan lelah sekali.
Tadi sore aku hanya dapat tidur sejenak, dan aku ingin segera dapat tidur lagi begitu selesai shalat maghrib. Akan tetapi kedua sepupuku memaksaku untuk menemani mereka nonton pentas musik. Aku jadi bersemangat mendengarnya, dan aku sangat ingin untuk melihat dan menyaksikan penampilan pemusik-pemusik kota Medan beraksi.
Kami berangkat ke tempat acara, dan aku sangat menikmati acara malam ini. Aku tak menduga sama sekali kalau sampai dijahili oleh orang lain, anak kecil lagi, sebagaimana aku tak pernah menduga akan bertemu dengan seorang lelaki tampan bernama Vitlan Gumanti.
Aah, ia telah mengusik hidupku, ia telah membuatku tak dapat tidur, Ia telah membuatku tersenyum dan gelisah. Aku memikirkannya, Aku mencemaskannya, aku merindukannya, aku menginginkannya, di sisiku, di hatiku.
Ooh Ibu, mungkinkah anakmu terbakar asmara. Ooh Makcik mungkinkah aku telah jatuh cinta. Ooh sepupuku, mungkinkah kalian merasakan hal yang sama seperti halnya diriku, pada lelaki yang sama ?
Ach, apa mungkin aku hanya berkhayal?
Tapi …

bersambung

Bagikan:
Tabedo – Bagian 3
Bagikan:

Oleh: Phillar Mamara

Cicik menceritakan semua peristiwa yang mereka alami ketika menonton pentas musik tadi kepada ibunya. Sedang mereka ngobrol tersebut, Icha muncul membawa baki minuman. Cangkir minuman dihidangkan, dan Icha duduk di samping Raudah. Dengan sudut matanya ia berusaha melirik Vitlan, namun Vitlan menunduk saja.
“Silakan diminum nak,” sapa ibu Cicik.
“Terima kasih Buk,” jawab Vitlan sembari mengangkat gelas minuman itu ke mulutnya.
“Terima kasih nak, telah menolong anak-anak ibu dan bersusah-susah mengantarkan mereka pulang,” kata ibu Cicik kepada Vitlan, setelah mendengar penjelasan anaknya.
“Ndak apa-apa Buk, cuma kebetulan,” timpal Vitlan merendah.
Tak lama berselang,
“Permisi pulang Buk, sudah larut,” pinta Vitlan.
“Ya nak Alan, sekali lagi terima kasih ibu ya,” balas ibu Cicik.
“Assalamu’alaikum,” kata Vitlan sembari menyalami ibu Cicik.
“Wa’alaikum salam,” jawab ibu Cicik dan ketiga gadis itu.
Vitlan kemudian berjalan keluar rumah, diantar ketiga gadis tersebut hingga ke pintu pagar.
“Main-main ke sini ya Bang,” tawar Cicik.
”Insya Allah,” jawab Vitlan sembari menyalami mereka satu persatu.
Sekali lagi jantung Vitlan berdetak kencang, ketika bertatapan dengan Icha. Hawa panas mengalir melalui genggaman tangannya. Hati Vitlan bagai terbakar, dan darahnya terasa mengalir deras.
“Hati-hati ya Bang!” kata Icha setengah berbisik begitu Vitlan melangkah meninggalkan mereka.
Sementara Ibu Cicik memperhatikan Vitlan dengan seksama sampai Vitlan naik ke becak dan ketiga anak gadisnya kembali masuk kedalam rumah.
Vitlan pulang sendirian naik beca dayung. Ia disambut olok-olokan teman-temannya sesampai di rumah.
“Hei, paten anak Mamak ya,” canda Mak menyambut kemunculan Vitlan.
Vitlan hanya senyum kecut menyikapi candaan tersebut. Ia mengacungkan tinju kepada ketiga temannya, ia langsung ke belakang.
“Hei, hei, hei, tunggu dulu,” kata Mak sambil menggamit lengan Vitlan duduk di kursi terdekat.
“Cerita dulu sama Mamak, kek mana kisah pertemuan dua sejoli di pesta musik tadi,” goda Mak.
“Sebentar awak ganti pakaian dulu ke atas,” kilah Vitlan sembari melepaskan diri dari pegangan Mak.
Jamil, Maman, dan Surya tersenyum geli melihat Vitlan yang salah tingkah. Mak melepaskan pegangan tangannya, dan Vitlan pun berlalu. Sebentar kemudian Vitlan telah muncul kembali dengan piyama hijau lumut berbis putih dan bergambar sekuntum mawar merah jambu di dada kanannya.
Ia memang tampan sekali dan penuh pesona. Tinggi semampai, 174 cm. Rambut ikal disisir rapi, terjulai mencapai kedua bahunya. Tidak heran kalau banyak gadis-gadis yang tergila-gila padanya. Namun ia tidak pernah tertarik untuk meladeni mereka. Maka menjadi wajar saja bila Mak dan teman-temannya heran dan masygul ketika melihat Vitlan akrab dengan tiga orang gadis yang baru dikenalnya pada malam itu. Bahkan ia sampai rela menyediakan dirinya untuk mengantar ketiganya ke rumah mereka.
Vitlan duduk di depan Mak dan teman-temannya. Ia sulut dalam-dalam dji sam soenya. Ia hanya senyum simpul saja menyikapi rasa ingin tahu Mak
“Jadi bagaimana ceritanya Lan,” desak Mak.
Lagi-lagi hanya senyuman tersungging dari bibir Vitlan
“Jadi, ndak boleh Mak tahu cerita yang sebenarnya Lan,” desak Mak.
“Aah, ndak ada apa-apa kok Mak,” jawab Vitlan singkat, sambil menekankan punggungnya ke sandaran kursi, sehingga wajahnya tengadah ke langit-langit.
Ia menyulut dan menghembuskan asap rokoknya ke atas. Melihat sikap Vitlan demikian, Mak menghentikan interogasinya.
Pukul 01.00 WIB tengah malam, Jamil, Maman dan Surya mohon diri.
“Buk, kami pulang ya, yok Lan, sampai jumpa besok”, kata mereka serentak, dan berlalu.
“Ya”, jawab Mak, “Yok”’, jawab Vitlan sembari mengangkat tangannya.
Vitlan membantu mak menutup kedai, dan selanjutnya naik ke atas dan tidur.

bersambung

Bagikan: